
Tidak munafik, saat kaki zahra melangkah pergi dari rumah sakit. air mata nya sudah tidak bisa untuk ia tahan, semua kenangan indah bersama Fahri seakan muncul kembali dalam ingatan nya, apalagi perasaan bahagia yang masih jelas di ingatannya saat duduk di pelaminan bersama Fahri
Zahra yang berlari sambil menangisi nasib nya tidak sengaja bertemu dengan Iren dan Sigit yang baru mendapat kabar bahwa Sinta kecelakaan
" Kak Zahra " ucap Iren yang tidak sengaja berpapasan dengan nya
Zahra pun langsung menghentikan langkah nya dan menghapus air mata nya agar tidak menimbulkan pertanyaan dari Iren dan Sigit
" Iren, mas Sigit mau lihat Sinta " jawab Zahra yang sudah tau tujuan Iren dan Sigit
spontan mata Iren dan Sigit bertemu merasa terkejut dan yakin sudah terjadi sesuatu
" Iya kak, kakak mau kemana " tanya Iren kembali yang sudah bisa merasakan sesuatu yang aneh terjadi
" Kakak mau pulang, kalian masuk saja, kasihan mas Fahri sendirian di dalam " jawab zahra yang semakin membuat Iren dan Sigit yakin dengan perasaan mereka
Zahra pun langsung pergi meninggalkan Iren dan Sigit
Setiba nya di kamar Sinta, Iren dan Sigit melihat Fahri yang merasa prustasi, bagaimana tidak, ia sudah menyakiti hati zahra di tambah dengan kondisi Sinta yang masih koma belum menyadarkan diri
" Kak Fahri bagaimana keadaan Sinta " tanya Iren yang sudah berada di sisi sahabat nya itu
" Seperti yang kamu lihat Ren, dia belum menyadarkan diri, ini semua salah kakak, kakak yang sudah menyebabkan Sinta bisa kecelakaan " jawab Fahri yang merasa kalau itu semua adalah kesalahan nya
" Kakak jangan menyalahkan diri, kita tidak tau apa sebenar nya yang sudah terjadi, kita doakan saja mudah mudahan tidak terjadi apa apa dengan Sinta " sambung Iren kembali
__ADS_1
Sigit yang bisa merasakan perasaan Fahri, langsung mengajak Fahri keluar untuk menenangkan pikiran serta mencari tahu apa yang sudah terjadi dengan sahabat nya itu
" Sayang, kamu tunggu disini sebentar ya, mas ingin ngajak Fahri keluar" ucap Sigit meminta ijin, Iren pun bisa mengerti apa maksud dari suami nya itu, karena hanya dengan Sigit Fahri akan selalu bisa menceritakan semua masalah nya.
" Lo mau makan apa biar gue pesan " tanya Sigit ketika sudah berada di kantin rumah sakit tersebut
" Pesan air mineral saja bro gue lagi gak selera makan " jawab Fahri, dan Sigit pun langsung menuruti permintaan nya
Setelah itu, Sigit hanya menatap Fahri dengan tatapan yang mengandung begitu banyak pertanyaan, bukan Fahri namanya jika ia tidak bisa menebak apa maksud dari tatapan sahabat nya itu
" Lo gak usah lihat gue begitu, gue bisa ngerti apa yang mau lo dengar " ucap Fahri, dan Sigit langsung mempersilahkan tangan nya memberi kode untuk Fahri menceritakan semua kejadian yang belum ia ketahui
" Kepala gue serasa mau pecah, gue gak nyangka akan ngalamin masalah serumit ini, berurusan dengan wanita benar benar membuat gue gila, disaat gue ingin berusaha untuk berbaikan dan memperbaiki hubungan gue dengan zahra, saat itu pula Sinta kecelakaan dan koma sampai sekarang, sumpah gue benar benar bingung, gue benar benar laki laki brengsek yang tidak pantas untuk di cintai " ucap Fahri menjelaskan masalah yang ingin di dengar oleh Sigit
" Terus " tanya Sigit kembali, karena ia belum mendapat jawaban yang di inginkan hati nya
Gue gak sadar kalau zahra ngikutin gue dari belakang, sampai dia harus mendengar kata kata yang sangat menyakitkan di hati nya, tiba tiba pagi ini dia minta berpisah, sumpah gue bingung, gue gak tau apa yang harus gue lakukan " sambung Fahri kembali sambil mengacak ngacak rambut nya
" Jadi lo setuju untuk berpisah dengan zahra " tanya Sigit kembali
" Jujur bro gue gak bisa jawab apa apa saat dia minta pisah dan gue juga gak bisa untuk nahan dia, lo tau sendiri saat ini yang ada dalam hati gue hanya Sinta di tambah Sinta sekarang lagi koma, ahhh,, kacau,, semua benar benar kacau,, gue juga gak tega lihat zahra, dari mata nya gue bisa lihat kalau hati dia benar benar hancur please bantu gue, apa yang harus gue lakukan " jawab Fahri yang benar benar sangat merasa kebingungan, seperti buah simalakama
" Sekarang Lo coba untuk jujur dengan hati lo sendiri, sekarang ini siapa yang benar benar paling lo cemas kan" tanya Sigit yang ingin membantu solusi untuk sahabat nya itu
" Tentu saja Sinta yang lagi gue cemaskan " jawab Fahri singkat
__ADS_1
" Masalah Sinta, gue dan Iren juga mencemaskan dia, karena kondisi dia sekarang memang hal yang wajar untuk di cemas kan," jawab Sigit yang seakan mencoba memberi sebuah perbandingan
" Gue mencinta dia, itu sebab nya gue mencemaskan dia " sambung Fahri kembali
" Apa lo yakin kalau lo benar benar mencintai Sinta?" tanya Sigit kembali yang ingin memecahkan kebingungan Fahri
" Kalau gue gak yakin, buat apa gue nungguin dia semalaman bahkan sampai gue biarin istri gue minta pisah" jawab Fahri yang ingin membenarkan perasaan nya
" Ok. gue bisa terima jawaban lo.
sekarang gue benar benar ingin mastikan satu hal dan mudah mudah han dari pertanyaan gue, lo bisa nentukan pilihan lo, dan lo gak akan merasa menyesal dengan pilihan yang sudah lo pilih.
Tolong lo simak baik baik !!!
* Sewaktu Sinta meminta untuk menjauh dari hidup lo dan zahra bahkan menyuruh lo untuk memperbaiki hubungan lo dengan zahra, apa yang lo lakukan?
" Gue..." ucap Fahri yang mencoba untuk menjawab pertanyaan Sigit, namun Sigit belum mengijinkan nya untuk menjawab pertanyaan nya, karen itu bukan inti pertanyaan yang akan di ajukan oleh Sigit untuk Fahri
* Biar gue jawab sendiri ini belum waktu nya untuk lo menjawab pertanyaan gue, menurut cerita yang sudah gue dengar dari semua penjelasan yang sudah lo ceritakan, bahwa lo menuruti semua apa yang di minta oleh Sinta, karena sebenar nya lo masih mencintai Zahra, jika lo memang benar benar tidak mencintai zahra lagi, maka lo gak akan menuruti permintaan Sinta untuk memperbaiki hubungan lo dengan zahra, melainkan lo akan meminta Sinta untuk bertahan dan lo gak akan biarkan dia untuk pergi sampai lo sendiri yang akan meminta berpisah untuk zahra
dan nyata nya lo biarkan dia pergi dan berusaha untuk memperbaiki hubungan lo dengan zahra dengan cara ngelakuin kewajiban lo sebagai suami, suami yang sudah tidak mencintai istri nya lagi sampai kapan pun dia tidak akan pernah bisa untuk menggauli istri nya lagi
*Kedua, disaat zahra meminta untuk berpisah dengan lo, apa yang lo lakukan? setau gue lo gak melakukan apa apa, kenapa, jika lo benar benar setuju untuk berpisah maka yang ngelakuin ini seharus nya lo sendiri bukan zahra, karena jika suami yang benar benar sudah tidak mencintai istri nya lagi, maka sang suami akan lebih memilih untuk berpisah dari pada harus hidup dengan wanita yang sudah tidak ia cintai lagi, sementara yang lo lakukan hanya menghindar dan mencoba mencari kebahagiaan lain yang justru hanya menyusahkan diri lo sendiri, jelas itu bukan karena lo tidak mencintai zahra lagi, melainkan karena lo hanya merasa kecewa, karena lo tidak bisa mendapatkan apa yang lo inginkan dari zahra
* Ketiga, menurut gue lo itu sebenarnya tidak mencintai Sinta melainkan hanya mengagumi, karena lo bisa merasa nyaman di saat lo lagi merasa kecewa, jika lo benar benar mencintai dia, seharus nya lo bisa membuka hati lo sejak 5 tahun lalu, tapi karena dari awal lo memang sudah menganggap dan memandang Sinta hanya sebatas saudara perempuan untuk lo sampai kapan pun rasa itu gak akan bisa di ubah dan rasa nyaman yang lo rasakan sekarang itu hanya sebatas dukungan yang di berikan oleh seseorang yang sudah lo anggap seperti saudara, dan gue gak yakin dengan hati lo yang mencintai Sinta, dan yang lo lakuin sekarang ini menunggu Sinta semalaman, semua orang yang mengenal Sinta juga akan bisa melakukan nya, itu tidak bisa lo jadikan alasan karena mencintai
__ADS_1
Inti dari pertanyaan gue, setelah mendengar semua penjelasan yang gue ucapkan panjang lebar, dan yang juga sudah menyaksikan bagaimana semua kisah hidup dan percintaan lo, apa yang lo harus lakukan sekarang?
Apa lo masih bingung dengan perasaan lo, ingat penyesalan itu selalu datang belakangan dan kita juga akan merasa menyesal jika seseorang itu sudah pergi, dan gue gak mau lo rasain itu bro" ucap Sigit yang benar benar bisa membuka hati dan pikiran Fahri