
"Kakak bisa keluar gak kalo gak aku teriak ini" ucap Iren dengan nada suara yang sudah lumayan tinggi, membuat nya merasa kessal dengan Sigit yang sedang berusah melihat tubuh indah miliknya.
Sigit segera terbangun dari hayalan nya, dan langsung meninggalkan kamar Iren.
Iren segera memakai baju dan BRA nya, ia takut Sigit akan masuk lagi ke kamar nya.
Dugaan Iren pun benar, tidak lama kemudian Sigit mengetok pintu kamar Iren kembali ia ingin meminta maff karna telah sembarang masuk ke kamar Iren.
"Tokk,,tokk,,,tokk" Ren ini kak Sigit, kakak boleh masuk gak" ucap Sigit dengan nada suara merasa bersalah dan membuat hati Iren luluh untuk membuka kan pintu kamar nya
"Kenapa kak, tumben ke kamar Iren" Tanya Iren cuek yang masih merasa malu karna Sigit sudah melihat sebagian tubuh nya
"Kakak boleh masuk"
__ADS_1
"Ya udah masuk aja,"
Iren mengajak Sigit untuk duduk di sofa yang ada di dalam kamar nya, dan kini mereka sudah duduk bersama, membuat hati Sigit bahagia, ia merasa aksinya ada kemajuan.
"Ren kakak minta maff ya, tadi kakak gak tau kalau Iren lagi ganti baju, kakak gak ada lihat apa apa kok, sumpah" ucap Sigit sambil menganggkat ke dua jari nya dan berusaha menyakin kan Iren.
Iren tidak bisa egois jika ia harus membenci Sigit dengan masalah sepele begitu, lagi pula Sigit sudah menjadi suami nya, dan Sigit juga berhak atas tubuh yang Ia miliki.
"Kali ini Iren maaf kan, lain kali kalo kakak mau ke kamar Iren, ngomong dulu jangan cuman ketuk pintu, Iren kira tadi bik Ani, soalnya cuman bik Ani yang mau masuk ke kamar Iren," Ucap Iren sambil menyinggung perasaan Sigit
" Ya boleh lah, lagian kan disini ada Si kembar, masak Iren larang kakak mau lihat mereka,"
"Kalau kakak mau liat kamu gimana" ucap Sigit kecoplosan dan langsung menutup mulut nya pakai kedua tangan nya.
__ADS_1
Iren menatap Sigit dengan muka penuh curiga, ia mulai kwatir Sigit akan meminta hak dia sebagai suami
"Kalau mau lihat Iren kan gak mesti di kamar" jawab Iren polos ia tidak ingin membuat Sigit menanyakan Kewajiban nya sebagai Istri.
Sigit lalu memegang kedua tangan Iren, dan membuat jantung Iren berdegup kencang, Iren berusaha menahan rasa yang bergejolak di dada nya dan melepaskan tangan nya dari genggaman Sigit.
Sigit berusaha menahan tangan Iren agar tidak terlepas dari genggaman nya.
"Ren,, kakak tau kakak salah, sejak kita menikah kakak udah buat kamu marah kessal dan merasa gak nyaman tinggal disini, namun sekarang kakak ingin memperbaiki semua kesalahan kakak sama kamu, tolong beri kakak kesempatan" ucap sigit sambil menganggkat tangan Iren ke wajah nya.
Iren bisa merasakan ketulusan hati Sigit, ia juga merasa bersalah jika ia harus lama lama mengacuhkan Sigit, sama saja ia tidak menjalan kan amanah alm kakak nya untuk jadi istri yang baik buat suami nya.
"Iren gak marah kok sama kakak, jadi kakak tenang aja, gak usah merasa bersalah begitu"
__ADS_1
"Apa kamu mau memberikan kakak kesempatan untuk menjadi suami yang bertanggung jawab sama kamu dan juga jadi ayah yang baik untuk anak anak kita"
"Gimana kakak mau bertanggung jawab, sementara kakak gak ada rasa cinta untuk ku" jujur saja sampai detik ini aku masih teringat ucapakan kakak untuk tidak mengharap kan apa pun dari kakak, dan aku yakin aku bisa melakukan itu" jawab Iren yang ingin menguji perasaan suami nya itu