Takdirku Turun Ranjang Dengan Suami Kakak Ku

Takdirku Turun Ranjang Dengan Suami Kakak Ku
BAB 176


__ADS_3

Hari terus berlanjut, kehidupan Iren dan Sigit semakin hari semakin romantis, Sejak kehamilan Iren, Sigit semakin memanjakan nya.


Setelah selesai melakukan USG, Iren dan Sigit pun kini mengetahui jenis kelamain calon buah hati mereka, usia kandungan Iren yang sudah memasuki bulan ke 6 semakin menambah perut buncit nya, membuat Sigit dan si kembar pun merasa gemes dengan perut buncit Iren, tapi sayang sekali, keinginan Fahri yang ingin menjodohkan calon buah hati nya dengan Zahra pun harus gagal, karena buah hati mereka memiliki jenis kelamin yang sama.


" Mama dedek bayi kapan keluar dari perut mama" tanya Rasya sambil mengelus lembut perut Iren


" Iya Ma Rini sudah gak sabar ingin lihat dedek bayi, Rini ingin ajak dedek bayi main main, lihat ma dedek bayi gerak dalam perut mama " sambung Rini kembali, dan Iren pun bisa merasa jelas gerakan buah hati nya, rasanya calon baby nya ingin cepat cepat keluar, menyaksikan keindahan dunia bersama keluarga bahagia nya.


" Sabar ya sayang, dedek bayi belum waktu nya untuk keluar, doa in dedek bayi nya ya biar sehat dalam perut mama " ucap Iren sambil mengelus rambut si kembar bergantian


" Terus dedek bayi cewek apa cowok ma " tanya Rini kembali yang sangat mengharapkan punya adek seorang perempuan


" Dedek bayi nya cowok sayang, nanti akan ada 3 laki laki tampan yang jaga kakak Rini, pertama ada papa, kakak Rasya dan ada dedek Bayi yang masih dalam perut mama " sambung Iren, dan Rini pun bisa langsung mengerti apa yang di maksud oleh mama Cantik nya itu


" Horee,," jawab Rini bahagia sambil melompat seperti mendapat mainan yang baru


" Rini,,Nanti kakak akan jaga kamu, dan dedek bayi, jadi gak ada yang berani ganggu kalian, ada kakak yang akan melindungi kamu dan dedek bayi " sambung Rasya, membuat Iren sangat merasa bahagia, memiliki keluarga yang sangat hidup bahagia itu


" Anak anak Mama memang paling Pintar, Mama sangat bersyukur memiliki kalian di hidup Mama, sini sayang peluk Mama, kalian harus tau kalau Mama sangat mencintai kalian" ucap Iren sambil memeluk Rasya dan Rini


" Mama,, Apa benar Mama bukan Mama kandung kami " tanya Rini membuat jantung Iren serasa berhenti berdetak, bagaimana bisa Rini bisa mempertanyakan pertanyaan itu


" Siapa yang bilang sayang, kalian anak anak Mama, sampai kapan pun kalian akan tetap jadi anak anak Mama " jawab Iren tanpa di sadari nya air mata nya pun menetes membasahi wajah cantik nya.


" Teman sekolah Rini bilang, kalau dedek bayi sudah Lahir, Mama tidak akan sayang kami lagi, soalnya kami bukan anak kandung mama " Lanjut Rini, membuat Hati Iren semakin sedih, anak anak kesayangan nya harus mendengar apa yang tidak perlu untuk mereka dengar.

__ADS_1


" Sayang kalian masih ingat gak, waktu mama dan Papa ajak kalian ke makam Mama Tasya " ucap Iren yang ingin meluruskan semua masalah dengan anak anak nya.


" Ingat Ma " jawab Rasya Rini serentak


" Kemaren Papa bilang kalau kalian harus bersyukur karena punya dua Mama yang sangat menyayangi kalian, jadi mulai sekarang, apa pun yang di bicarakan orang, kalian jangan pernah dengar dan masukin hati, yang harus kalian tau itu bahwa kalian punya dua Mama yang sangat menyanyangi dan mencintai kalian, jadi tidak perduli siapa yang Mama kandung dan bukan Mama kandung, bagi mama kalian akan menjadi anak kandung mama selama nya, Mama dan Papa akan selalu menyanyangi kalian seumur hidup Mama dan Papa." jawab Iren dan Rasya dan Rini pun hanya bisa mengangguk seolah mengerti apa yang di maksud oleh Iren


Setelah itu Iren pun melanjutkan aktifitas nya untuk belajar bersama Rasya dan Rini, jujur saja Iren masih belum bisa berhenti memikirkan pertanyaan Rini, ia takut kejahilan teman teman Rini akan mengganggu pikiran putri kesayangan nya itu.


Sejak mengetahui Iren hamil, Sigit selalu pulang kantor lebih awal, Sigit selalu menjadi suami yang sigap, ia tidak ingin membuat Iren merasa susah tanpa dirinya.


" Bro gue pulang duluan, lo urus kantor sampai lo pulang " ucap Sigit yang sudah biasa meninggalkan Fahri dengan sisa pekerjaan mereka


" Siap " jawab Fahri, sejak kejadian itu Fahri sudah semakin santai, ia juga sudah tidak terlalu sering untuk menganggu Sigit


" Papa pulang " teriak Rasya dan Rini


" Anak Anak Papa, Sini sayang, papa sangat merindukan kalian " jawab Sigit sambing menggendong si kembar, yang sudah tumbuh besar itu, walau sedikit kesusahan, Sigit selalu melakukan nya, ia ingin menjadi ayah yang baik untuk semua anak anak nya bersama Iren.


" Sayang " ucap Sigit, sembari mencium kening Iren, seperti ini kebiasaan yang sudah mereka lakukan setiap hari nya.


Setelah selesai membersihkan diri, Sigit dan keluarga kecil nya akan makan malam bersama, setelah itu, Iren dan Sigit akan menyisakan waktu untuk bermain dengan si kembar sampai si kembar tertidur dengan nyenyak.


Iren yang sudah selesai memakain baju tidur untuk ibu hamil itu pun terlihat sangat menggemas kan, waktu nya untuk Sigit bermanja dengan istri cantik nya itu.


" Sayang, Mas boleh gak tidur di pangkuan kamu sebentar " tanya Sigit manja, ia selalu bertanya lebih awal, ia tidak ingin melakukan sesuatu yang dapat membuat Iren merasa tidak nyaman.

__ADS_1


" Hemm Suami Iren memang paling pintar dalam merayu, sini sayang, bantal empuk sudah menanti " jawab Iren, sambil membaguskan posisi nya, agar tidak mengganggu perut nya yang sudah buncit itu, dengan cepat Sigit pun langsung meletakkan kepala nya di paha Iren yang semakin gemuk itu.


Tidak lain Sigit hanya mengelus dan mencium perut buncit Iren, ini merupakan posisi ternyaman untuk nya, ia bisa memeluk Iren sambil mencium calon buah hati mereka yang masih berada di dalam perut istri kesayangan nya itu.


" Sayang anak kita gerak gerak " ucap Sigit polos, ini pertama kali bagi nya, menjaga istri nya saat hamil, sedangkan dulu ia malah sering membiarkan Tasya sendiri, sehingga ia tidak tau apa yany di alama oleh Tasya dan Sikembar dulu ketika masih berada di dalam perut Alm Tasya.


" Ia sayang, anak kita sangat bahagia, memiliki seorang Papa yang sangat memanjakan nya, padahal dia masih di dalam perut " jawab Iren sambil mengelus lembut rambut Sigit yang masih menempelkan telinga nya di perut buncit nya.


" Sayang, Anak Papa, kamu ngapain disana nak, sabar ya sayang, jangan tendang perut mama keras keras, nanti mama sakit, kamu kan sudah janji jaga mama dari dalam dan papa akan jaga mama dari luar, sabar ya sayang, jangan nakal, papa sangat mencintai kamu " ucap Sigit, sambil mengelus lembut perut Iren, spontan calon buah hati mereka pun tenang.


" Anak Pintar, Anak baik, sehat sehat ya nak, ingat jangan nakal, kasihan mama sayang " sambung Sigit kembali, dan Iren pun hanya tersenyum melihat suami nya yang gagah dan tampan itu bersikap layak nya seorang anak kecil yang sangat menggemas kan


" Sayang, nanti anak kita juga tampan kayak Mas kan " tanya Sigit polos, membuat Iren tidak kuat menahan tawa nya


" Ya ampun sayang, gak ada pertanyaan lain selain ini, Kok sekarang Mas yang jadi menggemaskan, pengen Iren gigit " ucap Iren, dengan cepat Sigit menyodorkan tangan nya untuk di gigit oleh Iren, dengan senang hati Iren pun menggigit kuat lengan Sigit hingga meninggalkan bekas gigitan di lenggan nya.


" Kamu sangat cantik sayang, terus seperti ini, Mas sangat suka lihat wajah kamu saat tertawa begini " ucap Sigit mesra dan Iren pun selalu bisa tersipu malu oleh rayuan yang di ucapka suami tampan nya itu


" Sayang, Iren ada sesuatu yang sangat menganjal di pikiran Iren " ucap Iren yang masih belum bisa melupakan pertanyaan Rini


" Apa itu sayang, Mas kan Sudah bilang, jangan terlalu mikirin sesuatu secara berlebihan, Mas tidak mau kamu kenapa kenapa " jawab Sigit panik.


" Rasya dan Rini semakin hari semakin tumbuh besar dan pintar, Iren takut, mereka tidak bisa menerima kenyataan, bahwa Iren bukan ibu kandung mereka, kasihan Rini yang selalu di jahili teman teman sekelas nya, Iren takut pikiran mereka bisa terganggu, Mas..Iren sangat mencintai mereka, Iren tidak mau mereka berpikir aneh aneh, Mereka takut Iren tidak akan menyangi mereka lagi, Iren takut nanti mereka tidak bisa menerima adek mereka " jawab Iren cemas, dan Sigit pun langsung membawa Iren ke dalam pelukan nya.


" Sayang, kamu jangan berfikir sesuatu yang bisa membuat kamu stres, Mas yakin dengan kasih sayang yang kamu berikan untuk mereka, Rasya dan Rini pasti tidak akan pernah untuk berfikir seperti itu, kamu tau tidak, kalau kamu itu merupakan ibu terbaik di dunia ini, dan kamu sudah melakukan semua apa itu tanggung jawab seorang Ibu, justru anak anak kita nanti semua akan bangga memiliki seorang Mama yang cantik, pintar, penyanyang lagi, dan lebih beruntung Mas lagi yang bisa menjadi suami dan ayah dari anak anak kamu " jawab Sigit, lagi lagi jawaban Sigit selalu berhasil menenangkan hati Iren, itu sebab nya Iren selalu berbagi dengan nya, Iren juga sangat beruntung bisa menjadi Istri dan ibu dari anak anak Sigit.

__ADS_1


__ADS_2