
Hari ini sesuai janji yang sudah di tetap kan oleh Dr Albern, Sinta akan melakukan pemeriksaan tahan awal, apa ia masih punya harapan untuk sembuh atau sebalik nya.
Max yang sudah menunggu sedari tadi pun tidak sabar ingin cepat cepat mengantar Sinta, ia juga berharap Sinta punya peluang untuk sembuh.
" Selamat pagi Nyonya Sinta, " ucap Max yang selalu bersikap ramah
" Selamat pagi Max, ohh ia kamu jangan panggil saya nyonya ya, panggil Sinta saja, lagian kita juga seumuran " jawab Sinta, sejak bicara dengan dengan zahra, senyum nya yang hilang kini telah kembali, ia juga semakin terlihat cantik, dan juga semangat nya untuk sembuh juga sangat menggebu.
" Baik lah " jawab Max singkat
Max dan Lia pun membantu Sinta untuk masuk ke dalam mobil, walau Sinta merasa merepotkan, Max dan Lia justru senang melakukan nya.
" Maaf lagi lagi aku hanya bisa merepotkan kalian " ucap Sinta, ketika Max sudah melajukan mobil nya.
" Saya tidak merasa di repotkan, kamu bagaimana Lia, apa kamu merasa di repotkan " sambung Max yang ingin semakin dekat dengan Sinta dan Lia
" Saya juga tidak merasa di repotkan kok Mba, justru saya senang bisa membantu Mba Sinta " jawab Lia, dan Sinta pun akhir nya bisa lega, ia dikelililingi orang orang yang baik.
Max pun melajukan mobil nya ke rumah Sakit, Dr Albern sudah menunggu kedatangan mereka.
Dr. Albern
" Selamat pagi dokter, ini Sinta yang akan berobat dengan dokter, dan ini Lia perawat yang membantu Sinta " ucap Max ketika sudah berada di ruangan dr Albern.
" Selamat datang Nyonya Sinta, akhir nya saya bisa berjumpa secara langsung dengan Kamu, pak Sigit sudah menceritakan semua tentang Kamu, jadi Kamu jangan takut, saya akan melakukan sebisa dan semampu saya untuk membantu kamu" ucap dr Albern ramah, selain ke ahlian nya, dr Albern juga terkenal dengan keramahan nya.
__ADS_1
" Terimakasih dokter, saya tidak ingin mengecewakan mereka, tolong bantu saya untuk sembuh dokter, saya tidak ingin menjadi perempuan yang hanya menghabiskan waktu di kursi roda, dan saya tidak ingin menyusahkan orang orang yang berada di dekat saya " jawab Sinta, dan Dr Albern pun sangat mengerti bagaimana perasaan Sinta.
" Kita sama sama berjuang ya, jika kaki kamu masih bisa di sembuhkan, saya akan membantu kamu sampai kamu sembuh total " jawab Dr Albern kembali.
Setelah selesai saling menyapa Dr Albern pun membawa Sinta ke ruangan khusus untuk pemeriksaan awal, peralatan di rumah sakit ini benar benar canggih. sehingga dr Albern begitu mudah melihat kondisi Sinta yang mengalami lumpuh paraplegia, yaitu kelumpuhan yang terjadi pada setengah tubuh bawah dan khusus nya terjadi pada kedua tungkai Sinta.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan tahap awal, di bantu perawat yang bertugas membantu dr Albern, Sinta pun di bawa kembali ke ruangan dr Albern, untuk menunggu hasil pemeriksaan yang sudah mereka lakukan, dan setelah melakukan pemeriksaan lanjut, beruntung Sinta tidak mengalami lumpuh permanen, dan ia pun di nyatakan punya peluang untuk di sembuhkan.
" Bagaimana dokter, apa saya punya harapan untuk sembuh " tanya Sinta yang menunggu dr Albern di ruangan nya, sembari melihat pemandangan gedung bertingkat dari jendela ruangan dr Albern.
Dokter Albern pun menghampiri Sinta, lalu duduk bersimpuh di hadapan Sinta, sambil memberikan senyuman manis yang ia miliki, membuat Sinta merasa kagum, apa yang di ceritakan oleh Max ternyata benar, dr Albern benar benar tampan, wajah nya bisa menceriminkan kepribadian nya, Sinta dapat melihat bahwa dr Albern benar benar lelaki yang baik.
" Saya turut bahagia, kamu masih punya peluang untuk sembuh, seperti janji saya, saya akan merawat kamu dengan baik sampai kamu bisa sembuh total dan bisa berjalan dan berlari sesuka hati kamu " ucap dr Albern, membuat Sinta begitu bahagia dan terharu, ia bahkan tidak sadar sampai mengeluarkan air mata yang berhasil mengalir di wajah cantik nya.
"* Flashback "*
Sewaktu Sigit mengirim email ke rumah sakit tempat dr Albern bertugas, Sigit juga melampirkan foto Sinta, setelah dr Albern membuka email Sigit, dr Albern pun merasa simpati dengan Sinta, hanya melihat foto Sinta yang tersenyum berhasil membuat ia penasaran, Dr Albern bisa merasa Sinta gadis yang baik, dan Dr Albern pun akhir nya setuju untuk membantu Sigit mengobati Sinta.
-----------------"---+--+-+--+-----------------"
" Terimakasih dokter, saya benar benar sangat merasa bahagia, akhir nya saya punya kabar baik untuk sahabat sahabat saya di Singapura, saya janji saya akan menuruti semua perintah dokter, saya tidak akan pernah membuat dokter merasa susah" ucap Sinta penuh semangat, benar saja, Dr Albern pun akhir nya bisa melihat langsung senyum manis Sinta.
" Gadis pintar, mulai sekarang kamu harus seperti ini, saat bertemu dengan saya kamu harus selalu tersenyum, saya tidak suka mengobati pasien dengan wajah cemberut dan bersedih " sambung Dr Albern, ia tidak ingin terlalu menunjukkan rasa simpati nya, ia takut membuat Sinta merasa tidak nyaman saat di dekat nya.
" Iya dokter, saya akan selalu tersenyum seperti ini " ucap Sinta sambil memberikan senyum nya untuk dr Albern, dan Dr Albern pun tidak bisa berkata apa apa, ia hanya menjawab Sinta dengan senyuman manis di bibir nya.
__ADS_1
Dr Albern pun mengantar Sinta ke Max dan Lia yang sedari tadi mendoakan terbaik untuk Sinta.
" Mba Sinta, bagaimana Mba, apa Mba bisa di sembuhkan " tanya Lia, ketika melihat dr Albern mendorong kursi roda Sinta dari ruangan nya.
" Alhamdulillah Mba, saya punya peluang untuk di sembuhkan " jawab Sinta dengan wajah bahagia, membuat lia dan Max merasa lega
" Mba Lia tolong bawa Sinta ke depan, saya ingin bicara dengan Max sebentar" ucap dr Albern, dan Lia pun langsung menuruti perintah nya.
" Apa yang bisa gue bantu bro " tanya Max yang merupakan sahabat baik dr Albern, hanya saja Max lebih senang membantu pasien diluar rumah sakit, seperti menjadi supir untuk mengantar pasien dari hotel ke rumah sakit, begitu juga sebalik nya, keinginan nya bukan lah menjadi seorang dokter, itu sebab nya Max tidak pernah terjun ke rumah sakit untuk mengobati pasien yang sakit.
" Bagaimana menurut lo " tanya Dr Albern yang sudah berada di ruangan nya.
" Bagaimana apa nya " tanya Max pura pura tidak mengerti, padahal ini sudah termasuk ke rencana mereka, max pura pura menjadi supir pribadi untuk Sinta, hanya untuk menilai dan melihat sikap asli Sinta, apa Sinta benar benar wanita yang baik.
Dr Albern sengaja menawarkan Max untuk Sigit agar menjadi supir pribadi Sinta selama berada di L.A, dan Sigit pun menyetujui nya.
" Lo gak usah pura pura tidak mengerti, lo tau apa maksud gue " sambung dr Albern kembali, dan Max pun hanya tertawa melihat sahabat nya yang begitu serius
" Gue heran lihat lo, begitu banyak nya pasien wanita yang berobat dengan lo kenapa lo hanya tertarik dengan Sinta, sampai ngorbanin gue, lo tidak lupa kan kalau gue juga seorang dokter " jawab Max yang tidak mengerti kenapa dr Albern begitu penasaran dengan Sinta
" Siapa yang lupa kalau lo seorang dokter, tapi lo gak pernah menggunakan gelar lo untuk orang yang membutuhkan, sampai sekarang gue juga heran kenapa lo tidak menjalan kan tanggung jawab lo sebagai dokter " sambung dr Albern kembali, membuat Max menyerah, Max tidak suka jika harus di beri pertanyaan kenapa ia tidak menjalankan tanggung jawab nya sebagai dokter.
" Oke,, menurut gue Sinta gadis yang baik, puas lo " ucap Max dan ingin bergegas meninggalkan dr Albern.
" Tolong lo jaga dia bro, gue juga tidak mengerti, kenapa gue begini, gue berharap dia bisa sembuh, gue sangat suka lihat dia tersenyum dan gue tidak ingin senyum nya hilang dari wajah cantik nya " ucap Dr Albern kembali, dan Max pun mengerti setelah sekian lama akhir nya sahabat nya itu jatuh cinta kembali, setelah masa lalu nya yang pahit, Dr Albern sama sekali tidak pernah untuk membuka hati lagi, itu sebab nya begitu banyak pasien wanita yang cantik cantik datang berobat dengan nya, hanya Sinta yang berhasil menarik perhatiaan nya.
Max pun hanya mengedipkan mata nya, pertanda setuju untuk selalu menjaga Sinta, dan Max pun akhir nya meninggalkan Dr Albern, lalu menyusul Sinta dan Lia yang sudah menunggu dirinya.
__ADS_1