Takdirku Turun Ranjang Dengan Suami Kakak Ku

Takdirku Turun Ranjang Dengan Suami Kakak Ku
BAB 171


__ADS_3

Sinta yang mendengar lamaran Fahri pun tidak bisa untuk menerima nya, bagaimana mungkin ia dapat menikah di atas penderitaan wanita lain, dan ia juga bisa merasa bahwa cinta Fahri tidak seperti cinta nya, ia tidak ingin menikah atas dasar terpaksa dan karena merasa di kasihani.


" Maaf mas aku tidak bisa menikah dengan mas, mas tidak pernah mencintai aku, bagaimana bisa aku menikah dengan lelaki yang tidak benar benar mencintai aku, dan aku juga mengerti siapa aku di mata dan di hati mas, jangan pernah memberi harapan bahagia untuk ku, pergi lah mas, jangan seolah menjadi cahaya dalam hidup ku, aku udah ikhlas hidup seperti ini, bahagia ku tidak di takdirkan dengan Mas " ucap Sinta menolak lamaran Fahri, ia bisa merasakan Fahri masih menganggap dia seperti saudara perempuan nya


" Kenapa Sinta, Mas ingin menjaga kamu, ijinkan Mas menjadi suami kamu, agar Mas selalu bisa untuk menjaga dan merawat kamu, mas tidak bisa tinggalkan kamu sendiri disini, tolong mengerti dengan mas " jawab Fahri kembali


" Aku tidak ingin menjebak hidup mas dengan pernikahan, aku tau Mas pasti tidak akan bahagia, Mas tidak usah berkorban untuk ku, aku ini hanya wanita lumpuh, lelaki mana yang akan hidup bahagia dengan wanita lumpuh seperti aku, lebih baik mas kejar zahra, dia yang terbaik untuk Mas, biarkan aku hidup sendiri " jawab Sinta kembali.


Fahri pun tidak tau harus berbuat apa, ia ingin mencari zahra, namun bagaimana bisa ia meninggalkan Sinta dengan kondisi seperti ini.


Sementara zahra memilih untuk melanjutkan hidup nya, ia masih berada di Singapura, ia tidak bisa menggugat cerai Fahri, karena ada benih yang ia bawa dalam rahim nya.


" Kamu yang kuat ya nak, mama Yakin, mama akan bisa rawat kamu sendiri, bantu mama ya sayang untuk baik baik dalam perut mama" ucap zahra sambil mengelus perut nya yang sudah mulai terlihat buncit itu, wajar saja usia kandungan zahra kini sudah memasuki bulan ke 5


Iren dan Sigit pun mendapat kabar gembira, Rumah sakit yang mereka hubungi pun telah merespon email yang mereka kirimkan, dokter terbaik spesial tulang disana bersedia untuk merawat Sinta hingga sembuh.


" Alhamdulillah sayang, akhirnya mereka merespon juga, kita harus cepat membawa Sinta kesana, untuk di periksa bagaimana selanjutnya" ucap Sigit yang sangat merasa bahagia mendapat balasan email nya.

__ADS_1


" Alhamdulillah Iren sangat senang sayang, tapi siapa yang akan membawa Sinta kesana " tanya Iren, sudah jelas Sigit tidak akan membiarkan dirinya pergi.


" Kita pergi ke apartemen Sinta dulu Sayang, kita juga harus konfirmasi terlebih dahulu, mas takut dia tidak setuju, kamu tau sendiri belakangan ini Sinta bagaimana, kita gak bisa memaksa dia " ucap Sigit, tidak lama kemudian mereka pun langsung berangkat menuju apartemen Sinta.


" Hai Sin, bagaimana kabar lo " tanya Iren yang sudah tiba di apartemen Sinta.


" Gue baik baik aja ko Ren," jawab Sinta singkat


" Gue bawain makanan kesukaan lo ni, lo makan ya , biar gue siapin " ucap Iren kembali yang tau benar apa makanan kesukaan Sinta.


" Gue belum lapar, nanti gue makan " jawab Sinta yang masih terkesan dingin


" Sinta, gue mohon lo makan ya, sedikit saja, gue gak ingin lihat lo seperti ini, tolong jangan nyiksa diri sendiri, gue sayang banget sama lo, gue gak mau kehilangan sahabat seperti lo, dan lo tau gak kalau gue rindu banget lihat lo tersenyum, rindu kerja bareng dan rindu ngelakuin hal lain bareng lo" ucap Iren yang berusaha membujuk Sinta, namun dengan kelembutan Iren berhasil meluluhkan hati Sinta yang sudah berubah seperti batu


Perlahan Iren pun menyuapi Sinta, hingga tidak terasa Sinta pun menghabiskan bubur nya. Fahri akhir nya merasa lega, sudah berapa hari Sinta sama sekali tidak mau makan sebutir nasi pun dari tangan nya.


" Terimakasih ya Ren, setidak nya Sinta mau makan dari tangan kamu, kakak lega, berapa hari ini dia sama sekali tidak mau makan " ucap Fahri yang sedari tadi merhatikan mereka.

__ADS_1


" Iren juga senang kak, Iren juga ingin melihat Sinta cepat sembuh, selain jenguk Sinta, Iren dan mas Sigit kesini ingin membahas sesuatu dengan Sinta dan kak Fahri " ucap Iren yang ingin secepat nya menyampaikan tujuan mereka


" Kalian ingin bahas apa, Kok kayak nya Serius banget, " sambung Fahri kembali


" Gue dan Iren sudah mencari rumah sakit dan dokter terbaik yang khusus menangani masalah tulang dan kelumpuhan, Alhamdulillah dokter nya setuju untuk merawat Sinta hingga sembuh, dengan catatan Sinta harus melakukan pemeriksaan tahap awal dengan tujuan apa ada harapan untuk sembuh, jika memang ada harapan, Sinta akan di rawat dengan baik, sampai benar benar sembuh total, namun rumah sakit nya tidak disini, rumah sakit nya di Amerika Serikat, masalah biaya gue dan Iren yang akan nanggung semua, sekarang keputusan ada di tangan Sinta, kami tidak bisa memaksa sesuatu yang tidak ingin lo lakukan, tapi kami berharap lo setuju untuk berobat kesana " ucap Sigit menjelaskan atas semua yang sudah mereka lakukan untuk membantu Sinta.


Sinta pun bisa mengerti atas niat Iren dan Sigit, ini kesempatan nya untuk bisa menjauh dari Fahri, dia tidak ingin menahan Fahri karena keadaan nya, Sinta sama sekali tidak terima jika harus menjadi alasan hancur nya rumah tangga Fahri dan Zahra.


" Ini kesempatan bagus, mas mohon kamu harus setuju berangkat kesana, Mas yang akan mengantar dan menemani kamu selama disana " ucap Fahri bersemangat, Iren dan Sigit pun sangat merasa bahagia ada Fahri yang bersedia menemani Sinta.


" Tidak, jika kalian ingin aku pergi, maka kalian harus biarkan aku berangkat sendiri, sudah cukup aku menjadi beban untuk kalian, dan aku tidak ingin menambah nya lagi " ucap Sinta membantah, dia ingin benar benar menjauh dari Fahri


" Apa yang kamu katakan Sinta, bagaimana bisa kami biarkan kamu berangkat sendiri " sambung Fahri kembali.


" Ini sudah menjadi keputusan ku, jika kalian ingin aku pergi, maka kalian harus setuju " jawab Sinta kembali


Iren dan Sigit pun bisa mengerti apa maksud Sinta, dan mereka setuju untuk membiarkan Sinta untuk pergi dan akan menyewa seorang perawat untuk mendampingi sahabat nya itu.

__ADS_1


" Ok, kita setuju, tapi dengan satu syarat, lo harus setuju untuk berangkat dengan perawat yang akan menemani dan menjaga lo disana, dan lo harus selalu ngabarin kita, apa pun itu, biar kita tidak mencemas kan lo disini " ucap Iren, dan Sinta pun setuju dengan Syarat yang diberikan Iren sahabat nya itu.


__ADS_2