
Waktu pun seakan cepat berlalu, Iren yang baru memejam kan mata dan sekarang dia sudah selesai bersiap diri untuk menemui kekasih nya
Iren tampak begitu cantik menggunakan dres warna hitam bercorak, penampilan nya yang semakin sexy di lengkapi make up yang tidak menor yang sangat cocok di wajah nya
"Aku gak ingin membuat kamu malu bertemu dengan ku mas" ucap Iren dalam diri, dan masih mampu untuk tersenyum walaupun dia tau dia akan terluka.
Iren segera bergegas keluar dari kamar nya, dia ingin pamit dengan Sigit yang kebetulan bersebelahan kamar dengan nya
"Tokkk..tokk....tokkkk..."
Sigit yang keluar dari kamar spontan merasa kagum dengan kecantikan Iren, namun dengan cepat di tepis nya perasaan nya itu, bagaimana pun dia masih merasa kessal dengan Iren
"Kak aku pamit keluar dulu, aku gak lama kok, kalo ada apa apa kak bisa telfon aku" ucap Iren
"Hmmmm" jawab Sigit ketus
Iren pun bergegas meninggalkan Sigit, tanpa di sadari Sigit memutuskan untuk mengikuti nya
__ADS_1
setidak nya jika terjadi apa apa dia bisa menjawab pertanyaan dari mertua nya.
"Katanya mau mutusin pacar, dandanan seperti itu namanya mau kencan ,,dasarrr" Ketus Sigit sambil mengangkat sebelah alis nya.
Iren sedang menunggu taxi Online yang sudah ia pesan, sementara Sigit memutuskan untuk menyewa mobil dari hotel, agar ia bisa lebih mudah membuntuti Iren
Taxi pun melaju sesuai alamat yang Iren berikan, namun Sigit merasa tidak asing dengan jalan yang di laluinya.
Setiba nya Iren di perusahaan Andi bekerja, Sigit pun merasa feeling nya benar, karna ia sedang berada di perusaan miliknya yang dia berikan ke paman nya
"apa yang di lakuin Iren disini," pertanyaan itu muncul tiba tiba di otak Sigit
Iren pun berjalan menuju resepsionis menanyakan Andi kekasih nya.
"Permisi mbak, bisa bicara dengan Mas Andi" ucap Iren sopan.
"Maaf mbak, apa sudah ada buat janji" jawab resepsionis itu
Kebetulan Andi belum pindah ke kantor cabang milik mertua nya, karna masih ada yang harus ia selesaikan sebelum pindah ke perusahaan cabang yang akan segera menjadi miliknya
__ADS_1
"Belum mbak,,soalnya mendadak,," sambung Iren
" Maaf mbak, sebaik nya mbak buat janji terlebih dahulu, saya takut sembarang mengijinkan orang nanti saya kena marah" jawab resepsionis itu kembali, menolak untuk membantu Iren
" Mbak saya bukan sembarang orang,, saya pacar nya, jadi tolong panggilkan Mas Andi buat saya, sebut nama saya Bahwa ada perempuan yang bernama Iren ingin berjumpa dengan dia " tegas Iren membuat resepsionis itu merasa kessal
Spontan resepsionis tersebut tersenyum picik, mendengar ucapan Iren
" Gak usah berhayal mbak, gak malu ngaku ngaku jadi pacar dari suami orang" jawab resepsionis itu
Bwarrrr,,,,serasa tersambar petir,,dan syok nya jantung Iren mendengar omongan Resepsionis di depan nya
Air mata Iren pun tidak bisa ia tahan, Iren sudah tidak bisa berkata apa apa lagi, hanya air mata yang mengalir di pipi nya, yang menjadi jawaban betapa pilu dan sakit hatinya
Sigit yang menyaksikan kejadian di depan mata nya itu tidak tinggal diam, ia segera menggenggam tangan Iren, dan ia merasa kesal dengan resepsionis perusahaan itu, yang tidak membiarkan Iren berjumpa dengan Andi, walaupun memang itu bukan kesalahan resepsionis tersebut.
" Tinggal panggilkan saja kok susah banget sih mbak, cepat panggilkan yang bernama Andi, suruh dia cepat kesini."
ucap sigit yang membuat resepsionis bernama Bela itu kessal
__ADS_1
Bela memang tidak kenal dengan Sigit, wajar saja, karena Sigit tidak pernah memperlihatkan wajah nya di perusahaan nya tersebut, dan pak Anto pun tidak pernah bercerita siapa pemilik perusahaan itu sebenarnya.