Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 10


__ADS_3

Sudah satu pekan Farah dan Tante Okta berada di Singapura. Tante Okta selalu menemaninya kemana pun Ia pergi selama mereka berkunjung di sini, kecuali hari ini, sang tante terlihat malas untuk pergi keluar kamar, menghindari keramaian dan suara bising yang berlangsung di luar. Selama satu pekan, Andreas pun menjamu mereka dengan sangat baik. Pria itu mengenalkan beberapa temannya. Farah sudah bertemu dengan mereka saat makan malam di sebuah mansion milik pengusaha ternama di Singapura, tempat yang juga di.tinggali oleh Andreas dan entah bagaimana pria itu juga berhasil membuat Farah dan Tante Okta tinggal di sana.


Saat ini Farah hanya di temani pergi oleh Andreas. Sejauh ini, bagi Farah, Andreas adalah seorang pria yang memperhatikan penampilan walau rambutnya sudah terlihat uban di beberapa sisi.


"Apa kau sudah mempersiapkan segalanya?" Tanya Andreas tiba-tiba.


Farah menoleh dengan kening berkerut. "Mempersiapkan segalanya seperti apa maksudnya, Pak?".


"Perjalana ke Manhattan"


Farah menatap Andreas dengan sorot terkejut. "Aku tidak berencana pergi ke Manhattan".


"Kau akan pergi ke Manhattan. Dua hari lagi kau akan pergi ke sana dengan tantemu. Semua akan baik-baik saja, Kau bisa percaya padaku. Aku dan tantemu sudah membicarakannya".


Farah lantas berhenti melangkah. Ia menatap Andreas dengan kebingungan. Andreas nampaknya menyadari sorot wajah Farah hingga pria itu berubah kuatir.


"Astaga. Apa mungkin kau benar-benar tidak mengetahuinya?"


Saat Andreas melangkah mendekat ke arah Farah, reflek Farah berbalik dan lari menjauh. Jantungnya berdetak cepat saat Ia menyeruak melewati kerumunan orang. Untuk pertama kalinya, Farah merasa ukuran tubuhnya yang mungil membantunya. Farah berlari secepat yang Ia bisa. Ia kembali ke mansion milik pengusaha Singapura yang merupakan teman Andreas, tempat Tante Okta sedang bersantai di dalam kamar. Sepanjang berlari, Ia berharap dengan penyangkalan bahwa perkataan Andreas hanya sebuah bualan belaka.


Tak lama kemudian, Farah telah sampai di depan kamar Tante Okta. Ia mengatur napas agar lebih tenang. Farah meletakkan tangannya di daun pintu dan masuk dengan perlahan ke ruangan bernuansa biru muda.


Sang tante, pelindungnya, sekaligus walinya sedang duduk di atas karpet, Wanita itu terlihat sibuk memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. Tatapan terkejut Tante Okta terlihat jelas di mata Farah, seperti tatapan seseorang yang merasa bersalah.


"Tante... Tadi Pak Andreas bilang padaku kalau....." Farah menatap sang tante dengan lekat. "Kalau kita akan pergi ke Manhattan"

__ADS_1


Tante Okta lantas berdiri. Wajahnya sarat akan kekuatiran. Dengan ragu, Tante Okta mengulurkan tangannya pada Farah. "Maafkan akud sayang..."


Mereka sudah seperti Ibu dan putrinya. Di antara mereka tidak pernah terlontar tuduhan, pengelakan atau kebohongan. Farah bisa melihat sorot takut di mata Tante Okta. Ada pertarungan antara rasa kasih dan perasaan di khianati di dalam diri Farah.


"Tante Okta, kau tahu kan... Kau tidak bisa melakukannya. Kau sama sekali tidak bisa melakukannya".


"Dokumen kepergian kita sudah di siapkan, Andreas sudah mengaturnya untuk kita".


"Ayahku tidak akan pernah mengizinkan aku untuk pergi ke negara sejauh itu, Tante. Bahkan itu sudah beda benua!" Ujar Farah.


"Kau tahu? Secara hukum, ayahmu sudah menyerahkanmu dalam pengasuhanmu". Ucap Tante Okta. "Farah.. Dengarkan aku." Tante Okta memegang kedua pundak Farah dengan menatapmya serius. "Seorang temanku telah menawarkan diri untuk menanggung seluruh biaya hidup kita. Bahkan dia juga yang meminta Andreas untuk menemani kita pergi ke Manhattan".


"Tidak". Baru pertama kalinya Farah berbicara dengan tegas pada Tante Okta. "Aku tidak mau pergi, Tante. Aku akan kembali ke negaraku".


"Aku ingin, tapi bukan berarti kita harus pindah ke negara lain, Tante". Ujar Farah dengan lembut. "Kita bisa pindah ke ibu kota, ke tempat ayahku dan Zac. Kita bisa tinggal di sebuah rumah yang dekat dengan rumah mereka".


"Ayolah sayang.. Apa yang kau harapkan di sana? Kau harus bergaul dengan orang-orang yang sebaya denganmu, yang sekelas denganmu dan seharusnya kau memiliki banyak pengagum. Bagaimana kau bisa mengenal seorang pria berkelas jika kau tetap tinggal di rumah peninggalan kakek nenekmu? Aku tidak membiarkan kau bergaul dengan para tetangga, karena aku berpikir lebih layak bergaul dengan orang-orang berkelas. Dan di Manhattan, temanku memliki koneksi dari kalangan tertinggi!". Ujar Okta dengan sorot mata menggebu-gebu. "Kau adalah seorang gadis yang cantik. Terlalu sayang jika kau harus terus menghabiskan waktumu di lingkungan yang liar dan kasar."


Farah menghela napas. "Aku tetap tidak mau pergi, Tante. Aku tidak akan pergi".


Tante Okta menatap Farah. Air mata akhirnya menetes jatuh ke pipi. Wanita itu melangkah pelan dan duduk di tepi tempat tidur. "Kalau begitu, aku juga tidak bisa pergi"


"Aku minta maaf... Aku hanya ingin kehidupan yang terbaik untukmu"


Farah lalu menghampiri Tante Okta. "Pergilah tanpa aku, Tante".

__ADS_1


Tante Okta menggelengkan kepala menyatakan ketidaksetujuannya. "Tidak. Aku tidak bisa meninggalkanmu begitu saja.


Tante Okta lantas melarikan pandangannya keluar melalui sebuah jendela. "Kalau begini, lebih baik kita kembali pulang saja".


...●●●...


Setelah berpikir panjang selama satu pekan, pada akhirnya Farah mengikuti keinginan Tante Okta. Ia akan ikut pergi ke Manhattan.


"Ayahmu pasti akan mengirimkan selusin intel ke Manhattan untuk mengejarmu, Farah, segera setelah dia mendengar kepergianmu ini" Ujar seorang gadis muda yang merupakan pelayan di rumah Tante Okta.


"Aku akan kembali tahun depan. Hanya enam bulan aku di sana. Aku hanya ingin menemani Tante Okta saja. Dia sudah mengurusku sejak aku bayi. Kalaupunn dia tidak ingin pulang, aku yang akan pulang kemari seorang diri".


"Yah semoga saja ayahmu mengerti. Apa kau berencana menghubunginya sesaat sebelum pesawat lepas landas?"


Farah terkekeh pelan. "Ya. Rencanaku seperti itu. Setidaknya jika ayahku mengamuk dan memerintahkan anak buahnya untuk menyusulku ke bandara, aku sudah berada di atas awan hehehehhee".


Pelayan muda itu terkekeh seraya menggelengkan kepala. "Kau benar-benar nekat. Aku bahkan tidak bisa membayangkan raut seram di wajah ayahmu ketika dia mengetahuinya".


Farah menyeringai. Pelayan muda itu lalu beranjak berdiri. "Kopermu dan koper Tante Okta sudah berada di bagasi mobil. Kalian bisa langsung berangkat".


Farah lantas ikut beranjak berdiri dan memeluk pelayan muda tersebut. "Aku pasti akan merindukanmu"


"Kalau kau pulang kembali, jangan lupa bawakan aku oleh-oleh yang banyak sebagai imbalan karena aku akan merawat kamarmu dengan baik dan menjaganya dengan rapi hehehee"


...♤♤♤...

__ADS_1


__ADS_2