
Perjalanan ke bandara memerlukan waktu sekitar dua jam lebih dari kota tempat Farah tinggal. Namun, Farah sama sekali tidak bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan karena sakit kepala yang melandanya. Sambil menguatkan dirinya sendiri, Farah hanya bisa tersenyum untuk menanggapi percakapan bersemangat yang di lakukan oleh Tante Okta. Farah menyembunyikan air mata dan ketakutan di dalam dirinya.
Setiba di bandara, Andreas membantu Tante Okta dan Farah mengeluarkan koper-koper mereka dari dalam bagasi mobil. Farah memijat pelipisnya perlahan, berharap gerakan jari jemarinya bisa sedikit meringankan rasa sakit di kepala. Tante Okta sudah memberikannya aspirin untuk menghilangkan nyeri, namun sepertinya reaksi obat itu tidak terlalu mempan untuknya.
"Apa kau masih sakit kepala?" Tanya Tante Okta menatap Farah dengan raut wajah kuatir.
Farah memaksakan sebuah senyum terbit di bibirnya. "Sedikit. Tidak masalah, Tante" Ujar Farah. Farah lantas meraih dua kopernya dan menariknya masuk ke dalam bandara. "Ayo kita check in dulu".
Tante Okta dan Andreas pun mengikuti Farah dari belakang. Ketiganya tak membuang waktu lama, mereka segera check in dan menuju ke ruang tunggu. Andreas memesan kelas bisnis, tentu saja ruang tunggu bagi para penumpang kelas itu disediakan khusus dengan banyak pilihan makanan yang tersedia.
Farah menyandarkan punggungnya di sofa. Ia memejamkan matanya sejenak. "Minumlah teh hangat ini" Ujar Tante Okta seraya menaruh secangkir teh di atas meja.
Farah membuka mata dan menganggukkan kepala. Ia segera meneguk pelan teh tersebut. Cairan teh hangat itu terasa menenangkan ketika mengaliri kerongkongan. "Sepertinya aku harus cuci muka dulu agar sedikit lebih segar". Ucap Farah seraya menaruh kembali cangkir teh hangat tersebut ke atas meja.
"Ya. Pergilah ke restroom dan basuh wajahmu itu. Lupakan make up yang sudah menempel" Tante Okta melontarkan guyonan hingga membuat Farah terkekeh pelan.
Farah lantas beranjak berdiri dan mencari lokasi restroom di area ruang tunggu. Ia menatap papan petunjuk yang tergantung di atas, Farah menghela napas karena sepertinya lokasi restroom berada di ujung ruangan.
__ADS_1
Farah mendorong pelan pintu restroom dan melongokkan kepalanya ke dalam. Kosong. Tidak ada siapapun. Cermin-cermin berjajar di hiasi oleh lampu kekuningan di setiap sisinya. Farah lalu menuju ke washtafel dan menyalakan kran air. Ia menangkupkan kedua tangannya untuk menampung air dan segera membasuh wajahnya. Farah menatap pantulan dirinya di cermin. "Kau bisa dalam masalah sesaat setelah ayahmu tahu kau pergi ke benua lain tanpa seizinnya nona". Farah berbicara pada dirinya sendiri. Ia lantas menghela napasnya dan melangkah menunu tissue roll yang tergantung di dinding untuk mengeringkan wajah.
Saat Ia membalikkan badan, mata Farah melotot saat mendapati seorang pria berwajah panjang dengan janggut yang cukup tebal melemparkan seringaian padanya. Dalam sekejap Farah tidak sadarkan diri karena hantaman di sisi kepalanya yang sama sekali tidak Farah lihat pergerakannya.
...●●●...
Kesadaran Farah kembali karena aroma bunga. Farah membuka matanya untuk melihat kegelapan yang hanya di terangi oleh secercah sinar matahari. Farah mengerjapkan mata berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam pupil matanya.
Farah mencoba bergerak hati-hati, dan Ia tersadar jika Ia sama sekali tidak bisa bergerak. Saat selimut yang menutupi kakinya tersingkap, Ia menyadari bahwa lututnya tertekuk dan tidak ada cukup ruangan untuk meluruskan kakinya. Saat Farah mencoba berteriak, ada sesuatu yang berbau busuk menyumpal mulutnya, membuat kata-kata yang terlontar dari mulutnya tidak terdengar sama sekali.
Diikat, disumpal dan di masukkan ke dalam sebuah kotak sempit. Farah merasakan bahwa Ia sekarang sedang berada di dalam mobil menuju ke suatu tempat yang tidak di ketahuinya.
"Aku masih belum mendengar wanita itu bergerak. Apakah aku telah membunuhnya? Dia terlihat sangat rapuh".
"Tidak. Dia fidak bisa bergerak karena dia diikat sangat erat daripada sapi yang akan dijual hahhaha" Timpal pria lain.
Dengan putus asa, Farah memaksakan dirinya untuk tidak menangis. Jika mereka berani mendekatiku.... Aku akan menahan napas hingga aku mati"
__ADS_1
Tak lama kemudian mobil berhenti. Seseorang lalu membuka penutup kotak. Terdengat suara seseorang yang berbeda dari dua suara pria sebelumnya. "Dengar, aku tidak punya waktu!". Kotak tiba-tiba di dorong ke samping dan Farah mendapati dirinya di lempar begitu saja. Farah merasakan lututnya kaku saat Ia berusaha meluruskan kakinya. Farah berusaha fokus menatap ke sekitar, Ia kini berada di tempat terbuka.
Wajah pria yang menghantam kepalanya saat di bandara kini nampak lagi di hadapannya. Suara seseorang yang Farah merasa familiar terdengar lagi. "Kau sangat mengecewakanku. Kau sangat bodoh membiarkan orang mengikuti jejakmu, sebaiknya kau tinggalkan tempat ini secepat yang kau bisa dan masukkan wanita itu ke mobilku!"
Pria berwajah panjang itu menggendong Farah dengan erat. Pria itu berjalan, lalu berhenti, lalu berjalan lagi, lalu berhenti, seperti orang yang sedang bimbang. Pria itu lalu menoleh ke belakang tanpa membalikkan badan.
"Sial kau! Aku sangat menginginkan wanita ini, tidak akan lama". Ujar pria itu dengan nada memohon.
"Ya. Aku tahu. Jika melihat tampangmu, mungkin itu hanya akan berlangsung selama sepuluh detik". Ujar pria muda itu. "Dan setelah aku menunggu kalian berdua selama tiga jam, aku tidak punya waktu lebih meskipun hanya sepuluh detik".
Sekarang, giliran teman pria berwajah panjang itu yang berbicara. "Berbaik hatilah. Kau tahu? Sangat sulit menyelinap ke area tunggu penumpang kelas bisnis dan kelas utama"
Pria muda itu mengibaskan tangan ke udara tanda tak peduli dengan apapun yang di lontarkan oleh dua pria yang di tugaskan olehnya. Pria muda itu lalu melemparkan sebuah tas hitam yang mendarat tepat di kaki mereka. "Itu bayaran pekerjaan kalian".
Sebelum melihat wajah pria muda itu, Farah sudah mengetahui siapa dia. Enam bulan lalu di sebuah club terpencil, Ia pernah mendengar suara yang sama, saat pemilik suara itu mencengkramnya, menarik gaunnya dan mendorong tubuhnya hingga tersungkur ke tanah. Farah mengangkat wajahnya dengan sorot tidak berdaya untuk menatap manik mata bodyguard Keith Smith, Gege.
Pemuda itu balas menatap Farah dengan tanpa rasa tertarik, tanpa rasa kasihan dan jelas sekali seperti tidak mengenalinya. Dengan sikap tidak peduli, Gege lantas duduk di kursi belakang kemudi. Farah menatap tampilan dirinya yang terlihat noda kotor di setiap sudut. Dada Farah mulai bergetar dan menjalar turun hingga ke kakinya. Kaki dan tangannya di ikat kuat dengan tali tambang sehingga menggores kulit pergelangan kaki dan tangannya. Farah mencuri tatap Gege yang sedang menyetir. Sebenarnya kenapa dia menculikku?
__ADS_1
...♤♤♤...