Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 62


__ADS_3

Pasir terasa hangat, saat kaki mereka terkubur hingga ke pergelangan kaki. Ryan menghentikan langkah mereka di depan sebuah kerang besar yang setengah terkubur di pasir. Kupu-kupu bertengger di atas kerang tersebut, sayapnya yang transparan terbuka dan tertutup dengan gerakan lembut. Ryan mengambil kerang tersebut dan memberikannya kepada Farah, saat Farah mengulurkan tangan, merasakan tekstur yang keras dan lembut dengan jarinya, kupu-kupu yang ada di atas kerang terbang menjauh. Tangan Ryan terentang di bawah tangan Farah, memberikan sokongan, saat Farah menatap ke dalam cangkang kerang tersebut. Warna yang indah membuat Farah takjub, warna putih mutiara dengan tepian bersemu pink, kemudian di bagian dalamnya, tempat di mana sinar matahari tidak bisa menjangkaunya, warna yang tampak di sana adalah campuran cantik antara ungu dan merah tua.


Dengan tangan yang bertumpuk, mereka membawa kerang itu ke telinga Farah, dan mendengarkan suara gaungan di dalamnya. Sinar matahari menyentuh bahu Farah, air laut terciprat ke bibirnya. Bulu keemasan di dada Ryan tertiup embusan angin, dan Farah ingin sekali menggesekan pipinya ke kelembutan bulu tersebut. Sambil tersenyum, Farah mengangkat kepalanya dan mereka berjalan lagi. Ryan membawa kerang itu, di atas tangan yang ditangkupkan, sementara tangan yang lain melingkari pinggang Farah. Kepala Farah disandarkan di bahu Ryan, dan rambut Farah yang berkibar tertiup angin, membelai dada dan leher Ryan.


Taman firdaus.


Mereka menemukan anak sungai yang berasal dari mata air. Saat Farah dan Ryan berjalan menuju ke daratan, dua ekor burung pelikan mendarat di antara bebatuan besar di sana dan membentangkan sayap mereka, sebelum mencipratkan air. Dedaunan dari pohon mahogani menjadi penghalang sinar matahari. Membuat daerah di dekat kolam yang tersembunyi itu terasa lebih teduh. Batu kapur berdiri di sisi terjauh kolam, dengan aneka tanaman berbunga liar berwarna merah dan ungu menjalar di sana.


Dengan langkah pendek Farah berjalan ke bawah keteduhan pohon, saat Ryan meletakkan kembali kerang yang dipegangnya dan mengikuti Farah dengan langkah yang lebih mantap. Kolam itu berisikan mata air hangat yang bisa Farah rasakan di kakinya, dan saat mereka menyeberanginya mereka mendapati bahwa kolam itu cukup dalam, dan Farah bersandar dengan nyaman ke dalam dekapan Ryan saat gelombang air menyapu pahanya. Aroma bunga liar berwarna merah tua, yang tergantung di batu kapur yang menjorok ke kolam dan aroma lumut segar menggoda hidung Farah.


Farah menghirup napas dalam-dalam dan meresapinya. Sinar matahari yang jatuh melalui celah dedaunan yang ada di atas mereka, menyinari Farah. Rambut tebal Farah jatuh tergerai ke atas ***********, seperti air terjun yang jatuh dari batu di belakang mereka, dan Ryan bisa merasakan napas Farah di bawah pergelangan tangannya, saat Ryan memeluk Farah dari belakang, itu adalah gambaran yang sangat menyenangkan untuk Ryan, saat kulit indah Farah menempel dengan bahan gaunnya yang tipis dan basah karena sapuan air. Farah terlihat seperti makhluk baru, setengah manusia, setengah bunga, sementara bagian bawah gaun Farah mengambang seperti kelopak bunga.


Ryan membalikkan Farah ke hadapannya, dan Farah bersandar di dinding batu kapur yang tertutup bunga menjalar, mengangkat dagunya, membiarkan sinar matahari menyentuh bagian paling lembut dan tak terjangkau di lehernya. Punggung Farah melengkung dengan anggun di bawah kehangatan tangan Ryan. Tubuh mereka bersentuhan, Ryan terasa keras dan berotot, Farah yang terasa lembut dan pasrah, berpelukan dalam penyatuan jiwa, gairah Ryan dan respons Farah sama murni dan besarnya. Bibir Farah membuka sedikit, saat ia menghirup aroma udara yang semerbak.


Ryan mengamati wajah cantik Farah, teringat saat-saat kelam ketika dewa kematian nyaris merenggut nyawa Farah, dan ciuman Ryan terasa murni dan mendamba. Tapi api gairah di antara mereka mulai melembut dan tekanan bibir Ryan meningkat.... Kemudian Ryan menarik diri, menikmati keindahan wajah Farah, mempelajari lekukan leher Farah dengan belaian jarinya.


Farah memiringkan kepalanya di bawah sentuhan Ryan, tidak sengaja menyapukan bibirnya sendiri ke bibir Ryan dan menarik diri, terkejut oleh gelombang gairah yang tiba-tiba bangkit di dalam dirinya. Terpenjara oleh kelembutan, Farah menahan dorongan untuk menyentuhkan lagi bibir Ryan dengan bibirnya. Kelopak mata Farah terbuka, dan tatapannya bertemu dengan tatapan Ryan yang menggoda.


Ryan bergumam, "Cium aku lagi." Lalu, dengan nada yang lebih lembut, "Kumohon...."


Melakukan kontak lebih dulu terasa janggal untuk Farah, mungkin karena Ryan lebih berpengalaman daripada dirinya. "Kumohon," ulang Ryan, dan berdiri dalam kesunyian.


Ryan menyentuh bibir bawah Farah, dengan lembut membelainya dengan ibu jari. Air hangat menyentuh paha Farah dengan dorongan murni; matahari bersinar dengan konstan di atas mereka, membentuk lingkaran cahaya. Akhirnya, Farah mengangkat dagunya, menatap mata Ryan selama beberapa saat, sebelum memejamkannya, dia menekankan mulutnya di mulut Ryan dalam ciuman yang mendamba. Ketika Ryan memutuskan ciuman itu, tubuh Farah gemetar sehingga Ryan harus menopangnya dengan tangan, dan pipi Farah merona merah.


Seolah Farah merasa telah membuat pengakuan yang akan mengejutkan Ryan, Farah berkata, "Aku tidak pernah yakin apakah aku melakukannya dengan cara yang benar."

__ADS_1


Dengan tertawa parau, Ryan menarik Farah dan memeluknya dengan erat. "Kalau begitu, kau akan merasa yakin saat kau melihatku terlalu terlena untuk mengayuhkan dayung dan membawa kita pulang,"


"Itu bukan jawaban," jawab Farah.


Sambil membelai rambut Farah dengan telapak tangannya. Ryan berkata, "Oh, sayangku, aku minta maaf." Ryan menyapukan bibirnya di rambut Farah yang kemerahan. "Aku tidak tahu kau menginginkan jawaban yang sebenarnya."


Ujung jari Ryan menyusuri garis leher Farah yang bergetar. "Tidak ada cara yang salah atau benar. Puaskan dirimu sendiri. Hanya itu yang perlu kau lakukan denganku, Farah. Mengamatimu menyentuh awan sudah bisa membawaku ikut ke sana bersamamu."


Dengan satu gerakan anggun, Ryan mengangkat Farah dari dalam air, mendekapnya di dada, dan menggendongnya. Ryan menurunkan Farah di atas permukaan batu, kemudian berdiri di depan Farah, Farah mengulurkan tangan, terlena oleh sensasi panas dan keras dari batu yang ada di bawah pahanya. Tapi gaun Farah terasa berat karena basah dan menempel di pinggulnya, air menembus masuk ke dalam gaun Farah dan bergulir di pahanya dengan sensasi yang menggoda. Farah mengumpulkan bagian bawah gaunnya dan memerasnya, tapi usaha Farah untuk tetap menutupi kakinya tidak berhasil.


"Aku harus membawamu pulang," ujar Ryan. "Kau"-tatapan Ryan menyusuri sekujur tubuh Farah yang ramping dan berlekuk indah, terus turun ke bawah hingga ke kaki Farah yang pucat, gundukan betis Farah dan cara kaki Farah terbuka sedikit di atas batu, "basah."


Farah menjatuhkan bagian bawah gaunnya yang sudah terperas, mengangkat kelopak matanya yang berbayang untuk menatap Ryan sambil berusaha mengatakan komentar yang cerdas tentang keinginan Ryan membawanya pulang, tapi yang bisa diucapkan Farah hanyalah, "Iya, bawa aku...." Dan tiba-tiba saja Farah sudah berada di dalam dekapan Ryan, dengan ciuman yang membuat Farah seolah menggantungkan hidupnya di tangan Ryan. Mulut Farah penuh dan terbuka untuk menerima belaian lidah Ryan.


Dorongan yang kuat dan primitif mengendalikan tangan Farah saat balas memeluk Ryan, telapak tangannya menekan punggung Ryanbsementara tangan yang lain menjelajahi leher dan rambut Ryan, untuk membuat kontak fisik mereka semakin panas. Farah menelan ciuman Ryan seperti sup madu, yang memuaskan sekaligus membuat Farah semakin lapar, sampai Farah merasa tidak berdaya.


Farah menekankan tubuhnya ke tubuh Ryan dengan kelembutan sensual. Tangan Ryan terasa lembut di tubuh Farah, yang saat Ryan menangkupkan telapak tangan di bokong Farah, menarik Farah mendekat, membuka kaki Farah dengan tangan yang lain, menyentuhkan kehangatan Farah yang mendamba dengan kejantanan Ryan. Farah terkesiap, dengan sensasi yang dirasakannya, dan Ryan menangkap kepala Farah yang terkulai lemah, mendorongnya ke belakang agar Ryan bisa menjelajahi leher Farah yang putih dan terekspos, merasakan Farah menelan di bawah bibirnya, membelai nadi yang berdenyut cepat, merasakan getaran yang ditimbulkan oleh erangan pelan yang meluncur dari bibir Farah yang terbuka.


Saat mulut mereka saling mencari dan menemukan satu sama lain, Farah menyerahkan dirinya sepenuhnya, bergeser mendekat, dan napas Ryan semakin memburu.


"Farah... Kucing kecilku yang manis.... aku tidak membawamu ke sini untuk ini."


"I-ini?"


"Untuk bercinta denganmu. Aku tidak membawamu ke sini untuk bercinta denganmu."

__ADS_1


"Tidak? Ryan?" ujar Farah dengan suara yang pelan dan pårau. "Jika kau tidak bercinta denganku, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"


Ryan mencium Farah, dengan penuh cinta dan kelembutan, dengan belaian memabukkan yang membuat Farah merasa lumer, dan berkata, "Jika aku bercinta dengamu," tangan Ryan menjelajah ke belakang gaun Farah-"aku ingin semakin dekat denganmu...." Ryan menyentuhkan keningnya dengan kening Farah, mengangkat salah satu tangannya ke pipi Farah dan membelainya dengan punggung jarinya.


Kemudian, Ryan memisahkan diri sedikit dari Farah dan dengan jarinya Ryan menarik garis leher gaun Farah, dan bagian depan itu turun, menyingkap kulit Farah yang tidak pernah terkena paparan sinar matahari. Ryan mencium kulit yang lembut itu, dan Ryan terkesima oleh keindahan sensualitas Farah, saat Farah memejamkan mata dan bersandar di tangan Ryan yang menopang punggungnya.


Sekaranglah waktunya untuk berhenti, dan Ryan tahu itu, tapi sebelum akal sehat dan tekad bisa menguasai dirinya, telapak tangan Ryan menyelinap ke dalam gaun Farah, melingkari bahu gadis itu, dan tindakan sederhana itu membuat gaun Farah terlepas dan jatuh ke seputar pinggul. Seruan terkejut terlontar dari bibir Farah, dan di antara warna-warni tropis di sekitar mereka, kulit Farah yang lembut dan berwarna pink memperlihatkan kekontrasan. Rasa malu membuat Farah secara insting menutupi ***********, tapi Ryan menangkap pergelangan tangan Farah, masing-masing dengan satu tangan, dan bergumam, "Tidak, Sayang. Jangan."


Tangan Ryan bergerak bersama tangan Farah yang terperangkap, menekan Farah ke belakang, ke dinding batu kapur yang dipenuhi tanaman menjalar dan bunga yang bermekaran. Bunga berwarna merah rubi menyentuh pipi Farah dan bertebaran di antara rambut dan lengan Farah.


Cengkeraman tangan Ryan mengendur dan tangan itu bergerak perlahan ke sepanjang lengan Farah, kemudian membelai dua bola kenyal gadis itu. Sentuhan ringan ujung jari Ryan menghidupkan seluruh syaraf Farah, tapi ada kesan sakit dan siksaan yang terdengar dari suara Farah.


Tangan Ryan mengabaikan bola kenyal Farah sejenak dan mencari pergelangan tangan Farah yang kecil, setelah menemukannya Ryan membawanya kembali ke bola kenyal Farah. Sambil menangkupkan telapak tangan Farah yang jauh lebih kecil, Ryan berbisik sambil tersenyum, "Tunjukan kepadaku, Farah. Tunjukan bagaimana kau ingin aku menyentuhmu tubuhmu."


Tangan Farah menekan tangan Ryan agar menekan lebih kuat, dan tangan Ryan terentang di atas bola kenyal Farah untuk memberikan belaian memabukkan, ibu jari Ryan melingkari puncak bola kenyal yang mendamba. Napas Farah berpacu, begitu pula dengan Ryan, dan kulit Farah bergelenyar oleh embusan napas panas Ryan, saat mulut pria itu berkelana di lekukan lehernya, dengan rambut Ryanbmenggelitik kulitnya.


Farah merasakan bulu mata Ryan menyentuh kulitnya, diikuti dengan bisikan kata-kata cinta, kemudian bibir Ryan menggoda puncak bola Farah dan lidah Ryan menjilat dengan nikmat sampai jantung Farah berdetak dengan cepat dan Farah tahu hanyalah kebutuhan untuk memberikan dirinya sendiri pada keagungan mulut Ryan.


"Betapa lembutnya dirimu, Farah-selembut kelopak bunga," gumam Ryan.


Ryan menyeret Farah ke dalam pelukan. Farah bisa merasakan denyut Ryan, saat bola kenyal yang telanjang bergerak di kulit Ryan dan tekanan keras pinggul pria itu terasa di paha dalamnya. Tangan Farah menangkap rambut Ryan, menarik kepala pria itu agar mendekat padanya, dan Farah membuka dirinya terhadap belaian ciuman Ryan yang panas dan bergairah.


Gaun basah Farah terasa hangat dan menempel di paha serta perutnya, menggoda kulit Farah yang sensitif di sana dan rasa mendamba di bagian bawah tubuhnya, di mana ia merasa berdenyut cepat dengan janji yang manis, dan Farah membisikkan nama Ryanbdalam permohonan dan erangan, sementara detak jantungnya semakin cepat dan keras.


Farah merasakan Ryan membaringkannya di atas batu dengan sangat lembut, kemudian paparan sinar matahari dan udara yang hangat menerpanya, saat tubuh Ryan menjauh. Karena syok dengan perubahan itu, Farah membuka matanya, dan melihat Ryan sedang bersandar dengan menopangkan tangan pada batu, sementara tangan yang lain menutupi wajah pria itu. Kulit yang terlihat di antara sela- sela jari Ryan terlihat merona, dan rambut kecokelatan Ryan jatuh ke kening dengan gaya liar dan menggoda. Dan dengan bergetar--Ryan tertawa. Farah bisa melihat di mata Ryan ada perasaan mendamba yang tak terpuaskan.

__ADS_1


"Farah, Kau mengajukan pertanyaan sederhana dan mendapatkan jawaban yang besar. Jika aku bercinta denganmu, maka itu juga yang akan kulakukan kepadamu selanjutnya."


...♤♤♤...


__ADS_2