Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 17


__ADS_3

Farah terbangun dari tidurnya di ruangan yang sunyi yakni kamar Ryan. Keringat mengalir ke luar dalam bentuk butiran jagung dari pori-porinya, selimut membelit kaki Farah mulai dari paha sampai pergelangan kaki. Farah lalu berusaha untuk duduk dan menyeka keringatnya dengan menggunakan ujung selimut.


Farah lalu menatap ke sebuah jendela dengan ukiran yang indah terbuka lebar hingga angin sepoi-sepoi menggoyangkan gorden putih transparan. Farah menghela napas dengan kasar. Hari ini akan terasa lebih buruk daripada kemarin. Kemarin, segalanya diliputi dengan kelelahan, teror, rasa sakit dan serbuk obat yang membuatnya melayang. Pagi ini, Farah merasa tubuhnya sudah cukup segar untuk menghadapi kenyataan. Kemarin memang hari yang buruk, tapi mungkin hari ini akan semakin buruk. Tidak ada seorang pun yang bisa menjalani waktu yang menyenangkan di sebuah markas mafia, tak seorang pun kecuali para mafia itu sendiri.


Sekarang, Farah bisa memikirkan tentang Tante Okta yang pasti akan histeris setelah mengetahui Ia menghilang. Ia pun merasa sedih memikirkan apakah Ia akan bertemu dengan Tante Okta lagi, atau ayahnya, atau Zac, Ben dan Austin. Apa yang mungkin mereka pikirkan? Bahwa Ia telah diculik oleh agen misterius? Atau mungkin Zac bisa berpikir Ia di culik mafia? Apakah mereka akan mencarinya dengan panik dan kuatir? Farah mengusap wajahnya merasa frustasi saat memikirkan banyaknya kemungkinan.


Farah lalu turun dari tempat tidur dan menuju jendela yang terbuka. Ia menatap sejauh yang Ia bisa. Sekeliling mereka hanya hutan rimbun namun tak di pungkiri oleh Farah, markas Dark Devil sungguh menakjubkan!


Tiba-tiba pintu terbuka dan Gege masuk ke kamar. Di tangan pria muda itu terdapat sebuah nampan dengan gelas serta sebuah kain yang tergantung di bahunya. Bayangan akan mengalami siksaan yang lebih brutal berkelebat di dalam pikiran Farah membuatnya terlonjak hingga melangkah ke samping untuk menghindari Gege.


"Kata Ryan kau sedang tidak enak badan" ujar Gege. "Minum ini".


"Apa itu?"


"Jantung ikan paus yang di blender dicampur dengan ludah dari.... Astaga, minum saja bisa kan? Itu teh chamomile yang dicampur dengan madu. Minuman itu bagus untuk menenangkan tubuhmu, tapi tidak akan membantu banyak jika kau tidak makan".


Farah yang merasa sangat haus terpaksa menenggak habis teh yang di bawa oleh Gege. Ternyata minuman itu terasa lezat di lidahnya yang kering.


Farah lalu memberikan kembali gelas teh nya pada Gege seraya menatap pria muda itu. "Aku harap kau bisa maklum dengan sikapku. Bagaimana bisa aku mempercayai minuman yang kau bawa untukku. Kau membiarkan Keith....."


"Aku tak memiliki kuasa untuk melarang Keith memberimu serbuk itu".

__ADS_1


"Kau juga membawaku ke kamar Ryan untuk membiarkan pria itu memperkosaku". Timpal Farah.


Gege melihat Farah dari kepala hingga kaki dan menilainya dari balik kemeja yang dikenakannya. Menyingkap setengah bola kenyalnya, rambutnya yang tidak karuan.


"Apa kau benar-benar diperkosa?" Tanya Gege pelan.


"Tidak!".


Gege mengangguk. "Lalu apa yang kau keluhkan?"


Farah diam tak menjawab dan hanya menatap Gege dengan wajah cemberut.


Gege menatap Farah yang sepertinya tak tertarik untuk berbicara dengannya. "Sepertinya kau belum benar-benar berpikir jernih sekarang. Baiklah... Aku akan beritahu satu hal padamu, yang harus kau pikirkan sekarang adalah bagaimana kau harus bermulut manis di depan Ryan. Dan... Sekarang kau ingin ganti pakaian atau tetap diam di situ dengan kemeja terbuka seperti itu?"


Farah mendelik tajam pada Gege. "Kau tahu aku tidak memiliki pakaian apapun yang bisa kupakai! Apa perlu kuingatkan kalau kemarin kau merobek pakaianku? Dan seharusnya kau meminta orang suruhanmu sekalian bawa koperku ketika mereka menculikku!"


"Apa yang kau harapkan dari dua begundal jalanan? Aku menyewa mereka untuk mencuri dokumen Andreas yang diinginkan oleh Ryan, lalu tanpa aku ketahui mereka juga membawamu dengan segudang informasi yang menyebut bahwa kau wanitanya Andreas. Seharusnya kau berterima kasih padaku karena terpaksa membawamu kemari, setidaknya nasibmu tidak akan lebih buruk disini dibandingkan bersama mereka."


Gege lalu melemparkan sebuah kain dan melemparkanya ke arah Farah. "Itu untukmu dan itu baru! Anggaplah kau beruntung. Keith sempat memiliki ide untuk mendandanimu seperti laki-laki. Tapi kurasa Ryan mencegahnya. Aku akan kembali dalam beberapa menit. Cepat ganti bajumu!". Gege lalu melangkah keluar kamar.


Farah lantas meraih kain tersebut dan ternyata itu adalah sepotong gaun yang terbuat dari sutra dengan warna baby blue. Gaun itu juga dilengkapi dengan tali yang diikat tepat di bawah dada. Gaun itu terlihat elegan dengan aksen renda di bawahnya. Farah lalu membuka kemeja milik Keith, lalu segera memakai gaun tersebut ke tubuhnya Gaun itu pas di tubuh Farah, kecuali di satu bagian.

__ADS_1


Gege kembali masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu, melihat Farah berdiri dengan kaku seraya melilitkan kemeja Keith di lehernya. "Ada masalah apa lagi?" Tanya Gege saat Ia melihat postur tubuh Farah yang berdiri kaku dan canggung.


"Gaunnya kekecilan".


Gege lalu berjalan ke bagian belakang punggung Farah dan mendapati bahwa resleting di bagian atas masih terbuka. Gege lalu membantu menarik resleting itu hingga tertutup ke atas. Gege lalu melirik ke arah depan dan tangannya pun berkacak pinggang. "Aku lupa bahwa kedua bolamu itu berukuran besar".


"Kau tidak bisa terus menutupi area dadamu dengan kemeja, Keith pasti akan meminta kembali kemejanya. Apa kau ingin tampil lebih sopan? Ayo aku akan mencarikan scarf untukmu".


Gege lalu membuka pintu kamar dan mengajak Farah untuk keluar. Farah lalu mengikuti Gege hingga Ia melihat koridor panjang yang kosong. Farah berdiri diam beberapa saat, hingga Gege kembali menyuruhnya untuk segera mengikutinya ke dalam sebuah kamar yang entah milik siapa, Farah tentu tidak mengetahuinya.


Farah lalu memperhatikan Gege yang sedang membuka sebuah laci di dalam lemari pakaian yang besar dan panjang. Gege lantas menemukan sebuah scarf dan memberikannya pada Farah.


"Ini. Pakailah! Walau aku tidak mengerti kenapa kau sangat cemas. Itu hanya belahan dada."


Farah lalu melotot menatap Gege."Aku tidak tahu berapa banyak pria mata keranjang di markas mafia seperti ini!" Farah mendengus kesal.


"Oh baiklah, lupakan saja. Yang jelas aku tidak termasuk ke dalam golongan pria mata keranjang yang kau maksud" Gege terkekeh. "Oke, sekarang kurasa kau harus makan. Apa kau suka bubur gandum?"


Farah menggelengkan kepala. "Kurasa perutku belum bisa di ajak bekerja sama untuk di masuki oleh makanan". Tolak Farah walau tak dipungkiri saat ini Ia merasa lapar!


...♤♤♤...

__ADS_1


__ADS_2