Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 64


__ADS_3

"Melihat situasi sekarang, pernikahan adalah sesuatu yang tidak mungkin." Ungkapan Gege membuat Farah benar-benar down.


Sesekali selama percakapan mereka, Farah menutupi wajahnya dengan satu tangan, merasa frustasi. Dengan sedih Farah berkata, "Jika seperti ini rasanya cinta.... Apakah selalu terasa sesakit ini? Bagaimana orang bisa bertahan? Kau tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya sore ini untukku saat Ryan memelukku, membisikkan kata-kata cinta kepadaku dan menciumku kemudian Ryan menarik diri, tertawa, dan gemetar."


"Ryan gemetar, lalu bagaimana denganmu?" tanya Gege.


"Aku ingin muntah. Setelahnya, Ryan bersikap sangat baik dan lembut. Sikapnya hanya membuat semua terasa lebih buruk lagi. Jika ini yang namanya cinta, maka aku tidak menyukainya." Farah mengangkat kepalanya, dan cahaya redup menunjukkan air mata di ujung hidung Farah. Sambil menyeka air matanya dengan lengan yang terbakar matahari, Farah berkata, "Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menangis, jadi kau bisa melupakan tentang air mata ini." Butiran air mata yang kedua menggantikan yang sebelumnya. "Yang ini juga." Farah menyunggingkan seringaian sedih. "Ini tidak akan terjadi kepadaku setiap kali aku mencium pria, kan?"


"Apakah kau berencana untuk mencium banyak pria?".


"Kau gila" ucap Farah terkekeh pelan.


Farah tidak mau menangis. Air mata, yang sebenarnya sesuatu hal yang lazim, adalah bukti ungkapan manusia terhadap kesedihan dan kewarasannya, dan kekosongan yang ada di dalam diri Farah sepertinya tidak ada hubungannya dengan proses manusia normal. Farah tidak merasa seperti kehilangan seseorang yang disayanginya, atau merasa tungkainya lumpuh ia lebih bisa mengatasi semua itu. Ini seperti mati sebelum dilahirkan. Rasa sakit terasa di mana-mana, menembus kulitnya. Tapi yang ada di dalam dirinya hanya bayangan jiwanya yang beku, yang tidak mau mengakui penderitaan mendalam yang dirasakannya. Tapi, penderitaan ini sudah cukup buruk. Ia tidak mau merasakan penderitaan yang lebih buruk lagi.


"Mungkin aku akan mencium banyak pria, jika aku bisa mencari cara bagaimana membuat mereka diam tidak bergerak."


"Kau tidak akan sulit membuat pria untuk bekerja sama. Tanya saja kepada siapa pun. Kau akan mendapati dirimu berbaring lebih daripada sengatan lebah." Ujar Gege.


"Apakah kau mau menciumku, Ge?" tanya Farah, dan hampir tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresi wajah Gege.


"Hanya satu ciuman kecil?"


"Ya Tuhan." Mata Gege membelalak sedikit, dan cahaya membuat iris mata Gege terlihat lebih berkilau. "Aku tidak pernah memberikan ciuman kecil?"


"Baiklah kalau begitu. Pengemis tidak bisa banyak meminta. Aku akan menerima apa pun yang kau tawarkan. Kau tahu, jika kau mendebat lagi, aku akan merasa sangat sedih. Kau sendiri yang bilang kepadaku bahwa semua pria pasti mau memenuhi permintaanku yang satu itu." Ucap Farah.

__ADS_1


"Jika kau pikir aku bisa menyingkirkan Ryan dari pikiranmu dengan ciumanku...."


"Aku tidak berpikir begitu, aku tidak berpikir begitu!" Wajah malu-malu Farah berkilat nakal. "Aku hanya ingin membandingkan."


"Nakal," tegur Gege sambil menyeringai, dan dengan perlahan turun dari susuran beranda. "Aku akan mengatakan sesuatu kepadamu. Aku akan menciummu, untuk menjernihkan kebingungan yang ada di kepalamu."


Jantung Farah berdetak cepat, saat ia melompat turun dengan bantuan Gege, meskipun bibirnya menyunggingkan seringaian, dan ketika Gege berbalik ke arah Farah, ia tidak bisa lagi menahan cekikikannya. Mencoba menghentikan cekikikannya sama seperti berusaha mendorong buih ke dalam botol, dan tawa masih mewarnai suara Farah, saat ia berkata, "Kau mau aku berdiri di mana?"


"Tidak masalah jika kau berdiri di tempatmu sekarang," jawab Gege.


"Dan kau mau aku melakukan apa?".


"Tidak ada," lanjut Gege. "Aku yang akan melakukannya. Apa pun yang harus dilakukan."


"Apakah dia harus memejamkan mata?"


Farah ingat bahwa Gege hanya akan menekankan bibir di atas bibirnya, jadi belaian tangan Gege di pipinya membuat matanya terbuka karena terkejut. Kepala Gege sedikit menunduk, dan Farah melihat tatapan Gege semakin fokus. Satu tangan Gege terangkat untuk menyingkirkan rambut dari kening Farah, dan mata Gege menggelap saat ujung jarinya menyusuri bagian yang sensitif di telinga Farah.


Dengan pria lain, Farah pasti akan merasa ketakutan, tapi ini adalah Gege dan ia tahu dengan cara yang murni dan tanpa nafsu. Tangan Gege membelai wajah Farah, mencari dan dengan perlahan menenangkan syarafnya yang tegang, tahu di mana, betapa lama, berapa banyak belaian yang dibutuhkannya. Kulit Farah merona di bawah sentuhan Gege.


Di hidung Farah, tangan Gege menyeka air mata yang terlupakan. Air mata yang berkilauan itu berkumpul di ujung jari Gege dan pemuda itu menyapukannya dengan perlahan di bibir Farah dan meniupnya hingga kering. Satu tangan Gege menopang bagian belakang leher Farah tangan yang lain menangkupkan pipi Farah, saat Gege menunduk untuk mencium Farah.


"Dan, sekarang," desah Gege, "Kau harus membuka mulutmu." Ibu jari Gege mulai bergerak perlahan di atas otot rahang Farah yang membeku


"Ini hanya aku, Farah, Buka mulutmu untukku." Ciuman lembut menekan bibir Farah, dan bibir itu membuka untuk membiarkan Gege menjelajah lebih dalam.

__ADS_1


Ketika Gege membiarkan Farah melepaskan pagutan bibir mereka, Farah memberinya tatapan bingung yang akan menetap berbulan- bulan di dalam mimpi Gege. Kemudian Farah memalingkan wajah untuk menatap pemandangan yang mulai memudar oleh gelapnya malam, bernapas dengan cepat, dengan hati-hati Gege meletakkan tangan di pinggang Farah dan mengubur wajahnya di kulit samping leher Farah. Gege berdiri seperti itu selama beberapa saat, kemudian melepaskan Farah sepenuhnya, dan bersandar di beranda dengan kaki disilangkan.


Bagi Farah ciuman tadi terasa seperti portal yang terbuka dan ia bisa melihat sekilas kehidupan Gege yang lain. Itu adalah ciuman mengejutkan singkat, ringan, menggoda, dan dibumbui oleh kenikmatan yang tak terduga. Jika diberikan waktu lebih banyak, Gege mungkin bisa membangkitkan respons dari Farah.


Apakah Gege merasakan kenikmatan yang sama seperti yang diberikannya kepada Farah? itu adalah pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh orang yang memiliki pengalaman lebih luas daripada dirinya. Tidak mungkin ia bisa membandingkan ciuman Ryan dengan cluman Gege.


Bagi Ryan, ciuman selalu menjadi pemuasan kebutuhan. sedangkan bagi Gege, ciuman itu hanya sekadar menjadi tugas yang menjemukan. Dalam kebisuan, tangan Gege menemukan dan mulai membelai lekukan dalam lengan Farah. Farah menepiskan tangan Gege. "Kau sudah menegaskan maksudmu. Jangan berlebihan. Aku tahu kapan aku diberi pelajaran."


"Termasuk pelajaran untuk tidak memberikan bibirmu pada semua pria yang ada di hadapanmu?" tanya Gege dengan nada bergurau. "Tapi bagaimana pendapatmu?"


"Kau tahu benar apa yang dipikirkan olehku," kata Farah dengan tegas. "Dan jangan berpura-pura kau tidak mengetahuinya. Sekarang aku ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya. Maksudku, setelah berciuman".


"Yah, aku tidak akan menunjukkan itu kepadamu. Kau pasti sudah memiliki bayangan sendiri."


"Tentu saja, aku punya bayangan. Tapi, ya Tuhan, bagaimana jika hal itu membuatku syok? Bagaimana jika aku kabur dari ranjang pengantinku dalam keadaan setengah gila?"


"Itu," kata Gege dengan nada pelan, "kemungkinan besar akan benar-benar terjadi."


Mungkin tidak banyak orang yang pernah menjelaskan tentang fakta kehidupan dengan kata-kata permulaan: "Sekarang, dengar-dan perhatikan, bisa kan?-aku tidak mau mengulanginya lusinan kali. Terlebih lagi, jika kau tidak suka dengan apa yang kukatakan kepadamu, jangan mengeluh dan memarahiku. Bukan aku yang mendesain dunia ini."


Seharusnya, Farah tahu bahwa kosakata Gege untuk hal semacam itu tidak sama dengan Farah, dan setelah beberapa kali pengalaman mengejutkan, Farah berkata, "Ge, tolonglah, apakah kau harus menggunakan kata-kata itu"


Dengan penuh kesabaran Gege bertanya kepada Farah, kata-kata seperti apa yang lebih dipilih Farah dan saat Farah mengatakannya dengan ragu-ragu, Gege meringis dan berkomentar, "Mana ada wanita dewasa yang menggunakan kata-kata yang itu untuk merujuk pada bagian tubuhnya sendiri? Farah, bayi sekali pun sudah tidak menggunakan kata-kata itu sejak ulang tahun mereka ketiga."


Percakapan selanjutnya mampu meredakan ketegangan mereka berdua. Farah semakin sering mendebat, tapi Gege bisa membuat Farah patuh jika memang menginginkannya. Tapi ia curiga, Gege tidak akan berterus terang mengenai informasi yang satu ini jika Gege dalam keadaan sepenuhnya sadar, dan hal itu mencegah Farah kabur dari beranda karena malu.

__ADS_1


Pada akhirnya, percakapan mereka selesai, dan meskipun Gege tidak memberikan penjelasan lebih lanjut terhadap beberapa hal yang dianggapnya tidak penting, penjelasan Gege cukup mendetail, jelas, dan bervariasi. Setelah Gege menjelaskan semua hal yang perlu diketahui mengenai pertanyaan yang diajukan Farah, Farah membelalakkan mata selebar mungkin sehingga Gege terpaksa berkata, "Ya ampun. Dengan apa yang kau ketahui, kau akan membuat suamimu kabur dari ranjang pengantin kalian dalam keadaan setengah gila."


...♤♤♤...


__ADS_2