Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 71


__ADS_3

Hari sudah sangat larut saat mereka berhenti di sebuah hotel yang bernuansa hangat.. Farah sangat lelah sehingga ia nyaris tidak memperhatikan Ryan. Di hotel, ia disediakan pelayan, makanan hangat, tempat tidur nyaman dan penghangat ruangan.


Kelelahan membuat Farah tidak bisa menikmati pemandangan di sepanjang jalan tadi. Hujan sudah berhenti meskipun pemandangan di luar masih tertutup oleh kabut.


Kaki Farah terasa kaku, punggungnya seperti habis dipukuli dengan rotan, dan kantuknya sudah hilang sehingga ia bisa kembali merasakan ketakutan dan keputusasaan. Pelayan membawakannya teh, roti panggang, steak sapi dan telur, yang disantapnya di dalam kamar hotelnya yang nyaman.


Sudah berbulan-bulan, dan rasanya bertahun-tahun, sejak terakhir kali Farah berada di situasi yang menjadikan dirinya layaknya wanita terhormat. Farah bertanya-tanya dalam hatinya, Mungkin, di suatu tempat di negeri yang tidak ramah ini ada orang yang baik padanya. Tante Okta mungkin ada di sini.


Mengingat niat menggebu-gebu Tante Okta, tidak mungkin mereka mendadak membatalkan kepergiannya saat itu untuk mencari Farah yang hilang, tidak peduli betapa pun besarnya keinginan Tante Okta untuk melakukannya. Itu adalah satu poin ironis lain, yang berhasil ditebak oleh Ryan dengan sangat tepat. Jika ada cara untuk melakukannya, ia pasti akan melarikan diri dari Ryan dan mencari Andreas. Ia memiliki banyak alasan untuk waspada terhadap Andreas, terlebih dengan kebohongan yang telah disebarkan pria itu tentang dirinya, dan keterangan mengerikan. yang disampaikan oleh Keith bahwa Andreas menjadi penyebab kematian adik perempuan Ryan.


Namun, hanya Andreas satu-satunya orang yang bisa mengatakan kepada Farah di mana tantenya berada. Sebagai bagian keluarga konglomerat yang cukup dikenal, pasti tidak sulit menemukan Andreas. Seharusnya, ia berterima kasih kepada Ryan karena telah memberinya ide.


Tiba-tiba saja Ryan datang ke dalam kamar hotel. Faray berusaha menyingkirkan kesedihannya, saat Ryan menatap langsung matanya, mengambil mantelnya dari belakang kursi dan membentangkannya.


"Ayo," hanya itu yang dikatakan Ryan. Farah tidak beranjak sama sekali.


"Apakah kau sudah selesai?" tanya Ryan.

__ADS_1


"Iya."


"Lalu? Ayo, kita pergi." ucap Ryan. Farah pun lalu berdiri, tetapi tidak melangkah menuju pintu.


"Ada apa?" ujar Ryan.


Farah bisa mendengar kelelahan dari suaranya sendiri, saat ia berkata, "Kau terlalu terburu-buru. Saat makan tadi, aku nyaris tertidur dengan hidung terantuk ke piring berisi steak sapi. Jika kau bisa membiarkan aku tidur sepanjang sore ini-"


"Tidak."


"Kalau begitu, sejam saja."


Sekalipun punggungnya sudah sangat kaku, tetapi Farah masih berusaha menegakkan tubuhnya. "Jika kau tidak keberatan, aku ingin tahu ke mana sebenarnya tujuan kita."


Ryan menghampiri Farah dan memakaikan mantel di bahunya, dan Farah harus menahan dorongan untuk mendorong Ryan darinya.


"Aku akan memberi tahumu........." ucap Ryan seraya mengancingkan mantel-nya, "jika suasana hatiku sedang baik."

__ADS_1


"Kau memang keterlaluan," jawab Farah dengan sinis sambil menahan amarahnya. "Apakah akan mengacaukan rencana yang berkaitan dengan dunia internasional dan membuat negara ini mengalami huru hara jika aku meminta waktu lima menit untuk menyisir rambutku?"


"Sisir saja rambutmu di dalam mobil," hanya itu jawaban Ryan, saat menggandeng lengannya, dan membawanya menuju pintu Farah berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Ryan.


"Tunggu dulu. Ryan, aku hanya meminta waktu lima menit untuk ke kamar mandi." Farah merasa pipinya memerah.


"Demi Tuhan, kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi? Aku tidak tahu kodemu," kata Ryan.


Dalam sikap terburuknya, Ryan masih memiliki kesopanan yang tidak mungkin hilang. Pada akhirnya Ryan mengatakan dengan lembut kepada Farah jika ia mengizinkan Farah istirahat sejam, tapi tidak lebih lama dari itu.


Bukan secara kebetulan jika Farah tidak diberikan kamar yang ada di lantai dasar, dengan jendela yang menghadap ke bagian belakang hotel, dan beranda lebar yang ditopang dengan pilar-pilar yang kokoh, yang di bawahnya terdapat lapangan yang sepertinya sengaja di desain untuk bermain tennis. Farah mungkin akan berhasil melarikan diri jika saja tidak ada petugas hotel yang tidak sedang memberikan makan angsa di kolam yang sengaja dibuat di taman hotel, dan petugas itu mengumpulkan angsanya di sisi kolam.


Itu adalah usaha melarikan diri yang sangat menyedihkan: bahkan terburuk dari usaha yang sebelumnya. Angsa-angsa yang bingung meluapkan kemarahannya kepada Farah dan mengelilinginya, saat ia duduk di atas rumput yang basah. Seekor angsa jantan membentangkan sayapnya dengan marah dan berdiri di depan Farah.


Tidak lama kemudian, Farah melihat orang-orang mulai berdatangan ke arahnya: para petugas hotel. para tamu yang memang sedang berada di bawah, bell boy, dua orang wanita yang membawa anjing, dan akhirnya Ryan, yang menarik Farah berdiri dari atas rumput yang basah , lalu membawanya melewati pagar. Namun, ini sosok Ryan yang berbeda, bukan orang asing bermata dingin yang pagi ini memasukkannya ke mobil dengan paksa. Ini adalah Ryan yang tersenyum dan ramah, yang meminta maaf pada pemilik hotel saat memberikan ganti rugi atas kerusakan serta kegaduhan yang dibuat Farah.


Ketika si pemilik hotel dengan marah bertanya apa yang dilakukan seorang wanita muda dengan melompati atap hotelnya, senyuman Ryan semakin lebar dan terlihat meyakinkan. Tangan yang diletakkan Ryan di bahu Farah terlihat seperti sikap melindungi; hanya Farah yang bisa merasakan tekanan kuat dari tangan Farah itu. Rahang Farah menegang karena menahan marah dan malu, saat ia mendengarkan Ryan mengatakan pada pemilik penginapan bahwa Farah adalah putri bungsu keluarga kaya yang kabur dari rumah (nada suara Ryan menyiratkan bahwa Farah adalah anak yang terlalu dimanjakan), lalu Ryan melanjutkan dengan menjabarkan dirinya sendiri sebagai sepupu Farah yang baru saja menyelamatkannya dari rencana kawin lari yang akan membawa bencana karena pria yang akan dinikahinya adalah pria miskin, seorang penjudi dan bajingan.

__ADS_1


"Hah, dari semua tindakanmu yang keterlaluan- Berani sekall kau!" teriak Farah akhirnya bersuara karena tidak sanggup menanggung malu karena tatapan sinis yang diarahkan padanya. Karena terlalu lelah dan tidak peduli dengan perkataannya sendiri, Farah berbalik ke istri pemilik hotel, yang setidaknya terlihat lebih mengkhawatirkan kondisi Farah yang mungkin terluka akibat jatuh dari atap tadi daripada atap yang jebol. "Itu tidak benar! Aku mohon kau percaya kepadaku. Pria itu adalah seorang mafia! Dia menculikku dan menawanku selama berbulan-bulan di sebuah pulau! Dia tidak mau membebaskan aku meskipun aku sudah berkali-kali memohon padanya!".


...♤♤♤...


__ADS_2