
"Ada beberapa hal yang harus kau pelajari tentang cinta, jika kau berpikir begitu. Cinta adalah pedang bermata dua, Farah. Aku tidak masalah jika kau adalah kekasih Andreas. Yang tidak bisa aku terima adalah bahwa saat kau berada di dalam pelukanku, mungkin kau hanya sedang berpura-pura."
Meskipun enggan, itu adalah sesuatu yang bisa dimengerti oleh Farah. Ciuman Gege yang meskipun dilakukan dengan sangat berhati-hati, telah mengajarinya hal itu. "Kenapa kau lebih percaya pada gosip di pelabuhan, daripada aku?"
"Sialan, Farah, tidak bisakah kau melihat bahwa kau adalah orang terakhir yang bisa kupercayai? Aku ingin percaya bahwa kau bersalah, dengan begitu aku akan memiliki alasan untuk tidak membiarkanmu pergi. Meskipun ada bagian dalam diriku yang selalu tahu siapa kau sebenarnya". Ujar Ryan, Kemudian Ryan melanjutkan ucapannya dengan suara yang lebih pelan, "Aku hampir bisa melepaskanmu, setelah kau sakit parah di pulau pribadi Keith, karena aku diliputi perasaan bersalah yang sangat besar."
"Tapi, pada saat itu aku ingin tetap tinggal," ujar Farah sambil menatap tangannya yang mengepal.
"Aku tahu. Tapi kenapa? Kau terisolasi, tersiksa, dan berada jauh dari semua yang kau kenal...." Ryan terdiam, seolah menyadari dirinya yang kehilangan kendali. Ketika Ryan mulai bicara lagi, suaranya terdengar lebih tenang. "Kau tahu aku menginginkanmu. Berapa banyak responsmu kepadaku yang didasari oleh rasa takut terhadap apa yang akan kulakukan kepadamu jika kau menolak menurutiku?"
Farah hendak bicara, tetapi Ryan menyela dengan berkata. "Tidak, aku tahu kau tidak tahu, kau tidak bisa menjawabnya. dan begitu pula dengan aku. Tidak ada cara untuk bisa merasa yakin. Itu sebabnya, seharusnya aku membebaskanmu. Sebagai ganti rugi, itu memang masih belum cukup, aku tahu itu..... aku berusaha untuk mendengarkan sisa-sisa rasa keadilan dalam diriku."
"Sisa-sisa rasa keadilan," ulang Farah, seolah kata-kata itu harus direnungkan lagi. "Frase itu pasti memiliki arti. Dan rasanya tidak cocok dikatakan olehmu." Farah berbalik dan menemukan Ryan sudah berdiri di samping meja, eskpresi wajah Ryan tidak seperti yang pernah ia lihat sebelumnya.
"Sisa-sisa rasa keadilan. Aku tidak percaya kau memilikinya. Aku bahkan tidak tahu apakah kau memiliki hati nurani, saat kau menjadikan aku mainan sesuka hatimu."
Di luar jendela, angin berembus dan membuat daun di pohon walnut bergoyang-goyang, bayangannya sampai ke wajah Ryan. "Kau tidak perlu menggunakan simbolisme; aku bukan Keith. Kau ingin aku mengerti bahwa kau menganggap permintaan maafku tidak tulus dan hanya omong kosong."
"Aku menganggap permintaan maafmu lebih tipis daripada kertas!" ujar Farah dengan sengit. "Malam itu di kamar tidur, kau menyerangku."
Ryan bertanya-tanya berapa tahun akan berlalu sebelum ia bisa mengingat kejadian itu tanpa membuat hatinya teriris. Dengan sangat lembut, Ryan berkata, "Aku hanya bisa berharap bahwa seiring berjalannya waktu aku akan bisa mengisi hatimu sepenuhnya dengan cintaku sehingga kau akan bisa melupakan semua sakit hatimu akibat perlakuan kasarku."
"Dan?"
"Dan aku akan memotong tanganku sebelum aku menyakitimu lagi. Selamanya." Sudut mata Ryan mulai terangkat dan menyiratkan senyuman. "Sayang, berbaik hatilah sedikit. Kau sedang mendengarkan permintaan maafku,"
Jika saat ini ada seratus pria yang tersenyum padanya, tidak ada satu pun yang akan bisa memengaruhinya sedalam dan sebesar kilau senyuman di mata Ryan. Otot di sekitar mulut Farah memohon kepadanya untuk membalas senyuman itu. Syukurlah pergelangan tangannya masih mengingat tali yang diikatkan Ryan di sana kemarin.
"Mendengarkan tidak sama dengan menerima." Begitu kata-kata itu terlontar, Farah menyadari betapa kekanakan kedengarannya. Ia selalu berharap bisa melontarkan komentar yang cerdas. Terutama di saat-saat seperti ini. Dengan mengumpulkan kembali harga dirinya. Farah berkata, "Sepertinya kau selalu berpikir lebih ke depan daripada aku, jadi aku punya pertanyaan untukmu. Apa sebenarnya yang kau inginkan?"
__ADS_1
Daun-daun bergoyang di luar kaca jendela; dengan tatapan selembut perkataannya, Ryan berujar, "Aku ingin bangun setiap pagi dengan embusan napasmu di bahuku. Aku ingin duduk dan mengobrol denganmu di depan perapian saat hujan." Dengan lebih lembut lagi, "Aku ingin tidur dengan punggungmu bergelung di tubuhku, dan kedua bola kenyalmu berada di bawah telapak tanganku."
Tatapan hangat Ryan beralih ke bibir bawah Farah, ke denyut pelan yang ada di lehernya, lalu ke gundukan bola kenyalnya. Mata keemasan itu telihat tegang saat kembali ke mata Farah. "Farah, jika aku tidak bisa bersamamu sekarang, aku tidak tahu apakah aku masih bisa hidup sehari lagi. Semua hal yang sebelumnya menjadi penghalang bagiku untuk memilikimu sudah lenyap. Sepertinya menguap bersama angin di atas kapal Dark Devil dalam perjalanan ke Amerika. Ketika aku mendengarmu tertawa di geladak, ketika aku berbalik untuk melihatmu, aku tidak yakin aku sanggup menahan diriku untuk tidak datang kepadamu.... Sayang, aku membutuhkanmu. Apakah kau mau ikut denganku ke tempat tidur?"
Keterusterangan Ryan mengejutkan Farah, begitu pula dengan kesiapan Ryan untuk menunjukkan perasaan pria itu terhadapnya. Hal terakhir yang diharapkannya dari Ryan adalah permohonan yang terus terang dan nyaris bergetar ini. Sebagai jawaban darah Farah berdesir.
"Aku rasa tidak," ujar Farah, berusaha membuat eskpresinya terlihat dingin. "Aku baru saja bangun dari tempat tidur, dan aku tidak menemukan satu pun alasan kenapa aku ingin kembali lagi ke sana." Pertahanan diri Farah goyah saat Ryan tersenyum padanya dan beranjak untuk menutup pintu. Farah berlari ke belakang sofa yang ada di dekat jendela.
Tindakan Farah membuat Ryan terkejut. Itu jelas sekali ter- lihat. Ryan duduk di kursi terdekat dan mengamati Farah dengan lekat.
"Kau tidak perlu takut, Farah. Aku bisa melihat tidak mudah bagiku untuk meyakinkanmu, dan semua ini butuh penyesuaian, tapi kau tidak lagi berada di markas Dark Devil. Satu teriakan darimu bisa membuat seluruh penghuni rumah ini dan setengah pengurus kebun berlari ke sini."
"Kau adalah sang pewaris keluarga Crandall. Pelayanmu pasti akan mematuhimu!" ujar Farah, dan seketika itu juga merasa malu. Bahkan dalam situasinya saat ini, tindakannya tadi terlihat terlalu berlebihan.
"Kau akan melihat," tebak Ryan. Senyuman tersungging di bibir Ryan. "Mereka pasti akan mencegahku jika aku mencoba untuk memerkosa seorang wanita. Apa pun yang kau pikirkan tentang aku, semua orang yang ada di rumah ini sangat menjunjung kehormatan. Mereka mengenalku seumur hidupku-aku sempat merasa khawatir mereka akan membuatmu terjaga selama berjam-jam untuk menceritakan kisah masa kecilku."
Farah menatap Ryan. Kemudian, "Sebenarnya, mereka memang menceritakan satu atau dua kisah masa kecilmu."
"Bukan. Topi bayi."
"Mereka pasti akan menceritakan ubin alfabet itu." Ryan menghela napas. "Bagaimanapun juga, kau bisa lihat. Kau aman di sini." Ryan menyunggingkan senyuman paling menawan yang menembus langsung ke hati Farah. "Aku punya ide."
Farah mengamati Ryan bangun dari kursi sambil berusaha untuk berkonsetrasi pada apa pun, selain janji sensual yang dipancarkan tubuh Ryan, saat pria itu melintasi ruangan dan mulai mençari sesuatu di laci meja. Dari sebuah kotak berwarna gading, Ryan mengeluarkan kartu dan meletakkannya di atas papan, sebelum berjalan menghampir Farah.
"Ibuku tidak pernah merapikan laci selama dua puluh lima tahun," ujar Ryan. "Jangan lari. Perhatikan saja." Ryan meletakkan papan itu di atas meja kecil berkaki tiga yang ada di samping sofa. "Bagi dua."
Tiba-tiba Ryan terlihat tenang, dan ada kesan jail di mulut erotis Ryan yang melengkung. Dengan hati-hati, Farah menatap kartu itu, kemudian beralih ke wajah Ryan. "Kenapa?".
"Aku akan menjelaskannya kepadamu sebentar lagi. Lakukan saja dulu."
__ADS_1
Farah menunduk dan membagi tumpukan kartu di meja menjadi dua bagian. "Sekarang apa?" tanya Farah sambil memperhatikan bagian belakang kartu dengan curiga, yang memperlihatkan gambar anjing sedang berdiri di atas bola, dengan mengenakkan topi tinggi.
"Sekarang," ujar Ryan sambil menggeser kartu yang ada di meja, "kita akan mencabutnya. Satu orang mencabut satu kartu dan pemenangnya boleh membuat pilihan tentang pengaturan perdamaian kita."
"Itu adalah hal paling konyol yang pernah ku-",
"Lakukan sajalah, Sayang," potong Ryan, dengan nada suara yang bagi Farah terdengar terlalu ceria dan santai. "Kita harus menemukan cara untuk menyelesaikan masalah di antara kita. Apakah kau punya ide yang lebih baik?"
"Kau bisa setuju untuk meninggalkan aku sendirian." Senyuman Ryan yang kali ini terasa baru untuk Farah, senyuman yang mampu membuat napas Farah tercekat dan bergairah.
Ryan mengangkat tangan untuk merasakan kehangatan leher Farah, jari-jari Ryan membelai lembut lekukan lehernya. "Cinta, hanya ini kesempatan yang akan kuberikan kepadamu. Sebaiknya kau cabut saja kartu itu."
Jantung Farah berdetak tidak beraturan. "Bagaimana aku tahu kau akan mengikuti pengaturanku, jika aku menang?".
"Karena aku tidak akan mengusulkannya jika aku tahu aku tidak bisa menang." Telapak tangan Ryan merosot ke punggung tangan Farah. Jari-jari Ryan terentang di atas jari-jarinya, menautkan dan menangkupkan telapak tangannya, sebelum membawa tangan Farah ke atas meja. Dengan perintah lembut "Lakukanlah."
Saat ia menepiskan tangan Ryan, rona kemerahan menjalar ke pipi Farah. Jari-jari Farah menggantung ke atas kartu, lalu dengan cepat mencabut salah satunya. Kartu sembilan keriting. Ryan melihat tumpukan kartu yang tersisa, seolah sedang memikirkan sesuatu, lalu mencabut kartunya sendiri.
"T-tunggu!". Farah menjejerkan semua kartu itu, mengambil salah satunya, dan mengamatinya dengan teliti. Sepertinya tidak ada yang berbeda dengan kartu itu; tapi Farah mengocoknya dan menyebarkannya lagi.
Tiba-tiba saja, mata Ryan dipenuhi tawa. Ryan membuka kartunya yang ternyata Jack hati.
"Ini tipuan. Aku tahu itu!" seru Farah mengambil semua kartu itu dan membawanya ke depan jendela yang terang, untuk mengamatinya satu per satu di bawah sinar matahari. Ia menatap setiap kartu itu dengan saksama. Ia meletakkan empat kartu berjejeran dan mengamatinya lagi. Sama saja. Gambar anjing di belakangnya persis sama. Kartu-kartu itu jatuh dari tangan Farah dan ia menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
"Apakah aku harus menanggalkan pakaianku," ujar Farah dengan suara tercekat, "atau sudah cukup jika aku hanya bersandar di dinding dan mengangkat rokku?"
Ryan beranjak ke belakang Farah. Tangan Ryan diletakkan di atas bahu Farah, kemudian bergeser dengan perlahan ke kulit telanjang di dasar lehernya. Ibu jari Ryan menemukan tengkuk Farah, membelainya dengan sangat lembut. Farah bisa merasakan pergeseran rambutnya, saat bibir Ryan menyentuh rambutnya secara acak.
"Yang aku inginkan," kata Ryan dengan lembut, "adalah berjalan- jalan denganmu di luar. Apakah kau mau ikut denganku?".
__ADS_1
...♤♤♤...