
Tanggalkan pakaianmu," ujar Ryan
Farah berdiri, tidak bergerak, menunduk ke arah tangannya yang terjalin, menyadari napasnya yang cepat dan tidak beraturan.
"Kau tidak mendengarku, kucing kecil? Tanggalkan pakaianmu. Tidak perlu merasa malu. Lakukan hal yang sama denganku seperti yang kau lakukan dengan Andreas."
Dengan bingung Farah berkata, "Andreas?"
Tangan Ryan terulur dan menarik Farah ke tubuh pria itu sehingga Farah bisa merasakan setiap tarikan dan embusan napas Ryan, serta tarikan otot yang menegang di perut dan pinggul Ryan. Ryan beraroma manis dan segar, dari napas Ryan masih samar-samar tercium bau wine. Senyuman sudah menghilang dari mulut pria itu.
"Andreas! Dasar kau pelacur murahan," maki Ryan.
"Andreas. Apakah kau sudah melupakan nama, itu? Bagaimana kau bisa melupakannya jika kau sangat mengenal setiap inci tubuh busuknya? Permainan di antara kita sudah berakhir. Bagaimana kau melayani Andreas? Kali ini aku ingin kau menunjukkannya kepadaku. Aku ingin kau menunjukkan semua kemampuanmu kepadaku...."
Tekanan tubuh Ryan di dada Farah terasa menyesakkan, dan napas Farah semakin cepat, menguras kelembapan dari tenggorokan dan giginya yang bergemeletuk. Di bawah tangan Ryan lengan Farah terasa sedingin es.
Farah membisikkan nama Ryan sekali, saat pria itu membaringkannya di atas tempat tidur dan menindihnya ke kasur. Tangan Ryan sudah bergerak ke bahu Farah, ibu jari Ryan membelai tulang leher Farah yang tidak tertutup. Lutut Ryan menyangga salah satu paha Farah, dan saat Ryan mencondongkan tubuh ke depan untuk ******* bibir Farah yang lembut, Farah memalingkan kepalanya hingga wajahnya terbenam di rambutnya sendiri.
Tangan Ryan yang mencari-cari di antara helaian lembut rambut Farah, berhasil menemukan dagunya dan menarik wajahnya untuk kembali menghadap ke Ryan, sampai Ryan bisa melingkupi bibir lembapnya dengan ciuman panas, yang mengirimkan percikan api ke sekujur tubuhnya. Ciuman Ryan menjadi semakin panjang, dalam, dan bergairah, sampai Farah merasa lembap dan tidak berdaya, tidak lagi mampu melawan tuntutan bagian bawah tubuh Ryan, dan justru merasa membutuhkan Ryan agar menyatu dengannya.
Cinta-gairah yang dirasakan Farah untuk Ryan membuatnya tidak sadar saat Ryan mengangkat tubuh dan mulai menaikkan roknya. Rasa malu sirna oleh kelembutan Ryan; angin malam yang mengirimkan aroma bunga terasa seperti larutan alkali di pahanya yang tersingkap.
Sambil menutupi pipinya yang memerah dengan tangan yang gemetar dan menggigil, Fara berbisik, "Ryan, lampunya.... kumohon, tidak bisakah kau mematikannya dulu...."
__ADS_1
Ada kesunyian yang mengejutkan saat Ryan berhenti bergerak. Sepertinya Ryan juga berhenti bernapas. Dengan pinggul Farah yang terpaku di atas kasur di antara kedua lutut Ryan, Ryan meraih pergelangan tangan Farah dan menariknya menjauh dari wajahnya. Satu tangan Ryan memegang tangan Farah, sementara tangan Ryan yang lain mulai menyingkirkan helaian rambut yang menempel di bibir, bulu mata, dan pipinya. "Buka matamu, Farah"
Otak Farah yang berkabut terlalu lambat bekerja untuk mematuhi perintah Ryan..
"Lihat aku! Aku sudah menahan diriku sendiri selama berbulan-bulan dengan mengajari seorang pelacur proses pemanasan dalam percintaan, tapi aku peringatkan kau, jangan teruskan sandiwaramu sebagai seorang gadis perawan yang masih polos."
Ryan melepaskan tangan Farah yang lumpuh dan tidak berdaya dari cengkeramannya yang kuat, telapak tangan Farah terlihat pucat saat tergeletak di dekat rambut Farah. Dengan perlahan. Ryan menyusuri jarinya, mulai dari cekungan dalam siku Farah sampai ke sepajang urat nadi Farah yang tampak kebiruan. Saat mencapai pergelangan tangan Farah, Ryan menggenggamnya dan membawa tangan itu ke mulut, untuk memberikan ciuman sensual ke setiap inci telapak tangan Farah, kemudian membelainya dengan menggunakan ibu jari.
Saat Ryan melepaskan tangan Farah, ia berkata, "Farah, Kau membuat kesalahan yang sangat bodoh. Yang aku inginkan darimu hanyalah kejujuran." Tangan Ryan membuka telapak tangan Farah dan menautkan jari-jari mereka, kemudian menekan tangan itu ke atas kasur.
"Berubahlah untukku. Tunjukkan kepadaku siapa dirimu yang sebenarnya." Ryan mengangkat tangan mereka yang saling terjalin, membelai tulang pipi Farah dengan sisi jarinya.
Dengan lembut Ryan berkata, "Apa ini? Aku harap ini bukan air mata."
"Tidak. Itu bukan air mata." Suara Farah terdengar bergetar Kemudian, dengan lebih pelan, "Apakah aku mengganggu agenda penyiksaanmu jika aku ingin membersihkan hidungku?"
Ryan lalu melepaskan tangan Farah dan memberikan ujung seprai. "Anggap saja seprai itu adalah saputangan yang sangat besar." Mata kecokelatan Ryan mengamati Farah yang sedang membersihkan hidungnya yang berair dengan seprai linen, "Sampai sekarang, kau belum banyak bicara," nilai Ryan.
Farah diliputi dorongan untuk melemparkan dirinya ke dada Ryan, untuk menangis, untuk mengatakan segalanya kepada Ryan, untuk memohon kepada Ryan agar memercayainya. Tapi melakukan semua itu dalam suasana hati Ryan yang sekarang, mungkin hanya akan mengundang vonis mati untuk Zack. Mungkin. Hanya mungkin. Hanya ada satu hal yang jelas. Pada saat ini, Farah tidak bisa mengharapkan kemurahan hati Ryan lebih daripada sebelumnya.
"Aku minta maaf," ujar Farah dengan suara serak, merasakan dirinya hancur berkeping-keping. Seperti biasanya, suaranya tidak bisa diajak bekerja sama; yang keluar bukanlah suara gadis yang ketakutan dan gemetar, tapi suara yang tegas dan menantang.
Farah tidak bisa menahan diri untuk bercetus, "Tapi diperkosa dan dimaki dengan kata- kata kasar tidak mendorongku untuk buka mulut. Yang bisa kukatakan hanyalah aku tidak bersalah, tapi karena penyangkalan hanya akan membuatmu bertindak lebih kasar, aku tidak yakin akan ada gunanya jika aku....."
__ADS_1
"Wah, wah," Timpal Ryan dengan sinis. "Jadi kau mau membela diri, ya? Jadi, bukan kau yang membuat gambar itu?"
Sunyi. Kemudian, Farah berkata, "Oh, kenapa tidak kau lemparkan saja aku ke jurang dan menyelesaikan semua ini?"
"Di bagian dunia yang ini," jelas Ryan, "kami hanya mengorbankan gadis perawan. Ceritakan kepadaku tentang gambar itu. Siapa yang membayarmu untuk membuatnya?"
Terasa kesunyian yang lebih lama.
"Tidak akan ada satu pun orang di Dark Devil yang akan membelamu, jika mereka tahu tentang pengkhianatan yang kau lakukan, sayangku. Ceritakan kepadaku tentang gambar itu".
"Tidak ada yang bisa kukatakan. Aku menggambarnya setelah aku melihat kalian semua di club. Keith memotong tangan seseorang. Gege mengatakan dia ingin menggorok leherku. Dan kau-kau-"
"Iya?"
"Kau membuatku gugup. Bahkan sampai sekarang, kau masih membuatku gugup. Aku tidak bisa mengatakan lebih dari itu. Kau tidak akan mau mendengarkan aku, sekali pun aku menceritakannya. Tidak peduli apa pun yang aku lakukan, kau akan menganggapnya hanya sebagai taktik untuk membela diri; jika aku bicara, jika aku tidak bicara. Jika aku menangis, jika aku tidak menangis. Apa pun yang aku katakan, pasti akan kau anggap sebagai kebohongan. Suara Farah sudah berubah menjadi bisikan tercekat, lalu menjadi isakan, saat ia berkata, "Aku rasa aku tidak pantas diperkosa."
Ryan menatap Farah, semua emosi tersembunyi di balik sepasang mata kecokelatan itu. Tiba-tiba, Ryan melepaskan Farah. la mengamati Ryan menghadap ke dinding, tangan Ryan yang mengepal ditopangkan di sana.
Ryan berdiri membeku, dengan satu lutut sedikit ditekuk, bahu pria itu terlihat kaku dan tegang, seolah ada kekuatan besar di dalam diri Ryan yang sedang berusaha dikendalikannya.
Dari posisi itu, Ryan berkata, "Aku tidak akan pernah mem- biarkanmu kembali pada Andreas. Tidak akan pernah."
Air mata amarah yang bercampur dengan frustrasi mengalir di pipi Farah dan jatuh ke bagian depat gaunnya, saat ia bangun dari atas tempat tidur. "Aku tidak mau kembali ke Andreas. Lalu apa?!", tanya Farah dengan putus asa, "yang akan kau lakukan kepadaku?!"
__ADS_1
Dengan perlahan, Ryan berbalik ke arah Farah, menatap gadis itu dengan raut wajah yang rumit. "Yah, apa lagi yang bisa kulakukan, Farah? Aku akan membawamu ke New York sebagai tawananku."
...♤♤♤...