Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 35


__ADS_3

Farah berjalan mundar mandir di dalam kamar Ryan, sambil menyelimuti tubuhnya yang terasa dingin dan memeluk mantel wol warna cokelat milik Ryan. Dada Farah berdebar saat Ia terus menerus memikirkan rencananya. Dengan menggunakan perahu kecil yang masih diikat di bawah itu ia bisa pergi dari markas Dark Devil.


Farah bertanya-tanya apakah nanti Ryan akan mengingat kata-kata terakhir yang dikatakan pria itu padanya adalah: Sebaiknya kau pergi meninggalkan kabin ini sebelum aku tidak bisa menahan diri lagi. Semoga harimu menyenangkan. Mungkin, hanya sekadar mungkin, ini akan menjadi hari yang lebih menyenangkan untuk Farah daripada yang diduga oleh Ryan. Dan entah bagaimana, pada waktunya nanti, ia akan belajar menerima kenyataan bahwa ia tidak akan pernah bertemu dengan Ryan lagi. Dan Gege, dan Gio. Tidak. Tidak boleh. Tidak boleh ada keraguan. Ia tidak boleh peduli pada mereka. Farah hanya berpikir, Tante Okta akan bertemu lagi dengan keponakannya yang hilang.


Farah menunggu sampai terdengar suara lonceng yang mengatakan padanya sudah waktunya makan malam, sebelum berlari menuruni tangga untuk duduk santai di ruang tengah dan mengamati situasi. Semua orang berkumpul di sebuah aula dan tidak lama kemudian, Will dan asistennya datang dengan membawakan makanan. Mereka harus bolak- balik tiga kali dari dapur menuju aula dengan mendorong troli yang berisi makanan hangat.


Will dan asistennya akan makan bersama para anak buah Dark Devil, dan selama kurang lebih tigabpuluh menit dapur pasti dalam keadaan kosong. Sambil bernapas dengan cepat, Farah memaksakan dirinya menunggu beberapa saat untuk berjaga-jaga jika Will melupakan sesuatu dan kembali lagi ke dapur. Kemudian, Farah menarik mantel untuk menutupi rambutnya dan melangkahkan kaki ke koridor yang menghubungkannya ke area dapur.


Farah berpapasan dengan seorang anak buah Dark Devil yang bertugas menjadi pengawas tidak berminat menghentikannya untuk mengobrol.

__ADS_1


Begitu berada di dapur, dengan cepat Farah mencari dan mencuri pisau, sebuah lap, minyak tanah dan sekotak korek api.


Farah membungkus korek api, pisau, seplastik kecil minyak tanah dengan lap, dan mengeratkan mantelnya kemudian memasukkan bungkusan itu ke dalamnya. Farah berlari keluar dapur dengan kepala tertunduk, dan menabrak dada Kevin, sang kepala keamanan.


"Oh. Tuhan! Oh, ya ampun!" teriak Farah, langsung melangkah mundur dengan wajah terkejut. "Semua orang menduga," ujar Kevin, "saat ini seseorang sudah mengajarimu cara mengutuk. Jangan *******-***** tanganmu di depanku, gadis kecil. Aku tidak akan menyakitimu. Kau terlihat bersalah. Memangnya apa yang sedang kau lakukan di dapur?".


"Tidak ada! Sama sekali tidak ada! Aku hanya terkejut melihat- mu. Aku pergi ke dapur untuk mengambil sepotong kue. Karena sebentar lagi sepertinya akan datang badai. Aku kelaparan, dan aku pikir cuaca buruk akan membuat Gege lebih banyak bergelung di dalam selimutnya daripada mengantarkan makanan untukku."


"Tidak Terima kasih, tapi aku sudah tidak selapar tadi" ujar Farah merasa sangat canggung untuk berbohong kepada Kevin, dan akan menjadi bencana jika ia harus berbohong kepada Gege "Udara dingin seperti ini hmmm.. Aku pikir sebaiknya aku berbaring, dan tidur. Jika kau melihat Gege, tolong katakan padanya untuk tidak membawakan makanan ke kamar". Setelah mengatakan itu, Farah menundukkan kepala sedikit dan melangkah dengan cepat meninggalkan Kevin.

__ADS_1


Setelah kembali ke kamar, Farah menutup pintu dan bersandar di sana dengan perasaan lega. Untung saja pengalaman hidup meyakinkan Kevin bahwa wanita bertubuh kecil sepertinya cukup lemah. jika tidak pria itu pasti akan mencurigainya. Namun, bagaimana jika Kevin menceritakan pertemuan mereka pada seseorang dan didengar oleh Will atau Dennis, yang tahu ia memiliki rencana untuk melarikan diri? Mungkin keberadaannya tidak terlalu dipedulikan oleh Kevin sehingga pria itu akan langsung melupakan pertemuan mereka tadi atau mungkin saja tidak.


Farah berdoa sebentar, lalu mencoba memikirkan ulang rencananya, yang membuatnya teringat untuk melakukan segala sesuatu secara terencana. Jadi, dengan terencana ia memeriksa untuk memastikan jendela tertutup, dan dengan telinga ditajamkan untuk mendengarkan suara langkah kaki di luar kamar, ia membuka laci meja kerja Ryan. Di dalamnya, ia menemukan surat, yang diikat dengan rapi, satu paket peta, peralatan menulis, sebuah bolpoin bertinta hitam dengan ukiran nama Ryan, dan berbagai hal lainnya.


Sambil berusaha mengabaikan rasa bersalah karena telah mencuri, Farah mengeluarkan bundelan lap dari balik jaketnya dan menempatkannya bersama tumpukan surat Ryan, buku catatan terlalu besar untuk dibawa, peta terlalu tebal. Tidak ada waktu untuk membaca apa isi surat itu dan mengungkapkan misteri di dalamnya. Cukup baginya untuk mengetahui bahwa surat itu milik Ryan.


Namun sisi liar Farah berpikir bahwa surat itu untuk digunakan demi kepentingan negara pria itu. Di sisi lain, jika ternyata surat itu hanyalah tagihan pengeluaran Ryan tahun lalu, maka Ryan hanya akan tertawa jika mengetahui surat itu menghilang. Bagaimanapun juga, Farah lebih memilih Ryan tertawabdaripada murka saat mengetahui pencurian yang dilakukannya. Tentu saja, yang terburuk adalah jika ia masih berada di sini, di markas Dark Devil, saat Ryan mengetahui apa yang hendak dilakukannya. Rencana ini sebaiknya berhasil. Atau tamatlah riwayatnya.


Dengan tangan yang gemetar, Farah menuangkan minyak tanah ke sebuah gelas lalu kemudian mengambil ember khusus baju kotor dan mengisi ember tersebut dengan beberapa barang dibawanya dari dapur, bersama sebagian peta yang diambilnya dari laci meja Ryan. Meskipun isi korek api masih kering, tapi butuh waktu bagi Farah untuk menciptakan api. Peta di dalam ember langsung terbakar, lidah api membuat kertas itu langsung terbakar menjadi abu hitam. Butuh waktu lima menit untuk melakukan percobaan agar ia bisa menciptakan asap hitam tanpa menyalakan api. Hawa panas menerpa wajahnya, saat ia menyelubungi tangannya dengan jaket dan mendorong ember menjauh dari barang-barang yang mungkin bisa menimbulkan kebakaran besar. Farah menunggu selama sanggup dilakukannya di tengah kepulan asap hitam. Ketika akhirnya matanya berair dan kulitnya panas, Farah membuka jendela, membuka pintu lebar-lebar, dan berjalan terhuyung sambil terbatuk-batuk di koridor. Begitu mencapai ruang tengah, Farah berteriak, "Kebakaran, kebakaran!" kepada seorang anak buah yang bertugas menjadi pengawas. Farah tidak perlu menjadi artis hebat untuk melakukan semua itu; asap hitam dari kamar di tambah dengan wajah Farah yang menghitam karena asap dan jejak air mata di wajahnya, sudah cukup menjadi bukti. Ternyata taktiknya berjalan dengan lebih sukses daripada yang diharapkannya. Api yang sangat ditakuti di daratan, menjadi momok menakutkan markas mafia yang berada di tengah laut.

__ADS_1


...♤♤♤...


Hadiaaahh, komeeenn, likeee


__ADS_2