
●PESTA●
Saat digandeng Ryan menyusuri pilar, patung, dan orang-orang asing, Farah masih sempat menyisihkan waktu di sela-sela tersenyum dan menggumamkan sapaan basa-basi, untuk mengagumi sekelilingnya.
Aku tidak akan takut, aku tidak akan takut, ujar Farah berulang kali kepada dirinya sendiri sepanjang perjalanan ke pesta, dan sekarang yang membuatnya heran, ia mendapati bahwa ia memang benar-benar tidak merasa takut. Selama berbulan-bulan, ia sudah terbiasa dengan perkataan kasar dan temperamen pria yang tidak berpendidikan. Dibandingkan dengan mereka, para wanita pucat dan pasangannya yang bermulut manis, terlihat lebih buas. Farah terlalu santai untuk bisa merasa tersudut oleh tatapan tajam mereka; dia sudah terlalu banyak belajar dari Keithuntuk selalu waspada terhadap lingkungan yang tak dikenal ini.
Farah merasa takjub melihat betapa Ryan tidak peduli dengan semua ini. Ia pikir ibu Ryan hanya melebih-lebihkan ketidaktertarikan Ryan terhadap kehidupan bangsawan. Farah justru mendapati Alice hanya mengatakan setengah dari kenyataan yang sebenarnya. Percakapan basa-basi, pujian palsu, undangan menggoda dari bibir yang manja membuat Ryan bosan. Ketika mereka bertemu dengan nenek Ryan, baru Farah bisa merasakan semangat suaminya itu bangkit.
Nenek Ryan memang seorang wanita yang memiliki aura ke agungan. Tidak heran banyak orang yang takut padanya. Mata gelapnya yang tajam selalu menyorotkan sikap merendahkan, yang membuat Farah teringat pada Keith Smith. Wanita itu tidak tinggi, tidak pula cantik; tetapi dia memberikan kesan keduanya.
Kata-kata pertamanya kepada Ryan adalah "Sudah tiga tahun berlalu sejak terakhir kali aku melihat wajahmu. Dan sekarang, demi Tuhan, aku mengadakan pesta untuk memperkenalkan pengantinmu yang suka membuat masalah, dan apa ucapan terima kasih yang kudapatkan? Jika diserahkan pada ibumu yang tidak bisa apa-apa itu, mungkin istrimu baru diperkenalkan secara resmi saat dia sudah seusiaku. Aku rasa kau masih marah kepadaku karena tahun lalu aku menarikmu dari Indonesia. Seharusnya kau memberiku kesempatan untuk menjelaskannya, dan bukannya langsung pergi menemui Keith! Konyol sekali kau dan sikap heroikmu itu! Apakah kau pikir aku mau kehilangan keturunan Crandall yang terakhir?"
"Aku bukan saja tidak menyukai campur tanganmu, aku juga tidak menyukai metode yang kau pakai," ujar Ryan, dengan suara pelan tetapi matanya menyorot tajam. "Kau terlalu sibuk memaksakan bantuan dari semua mantan kekasihmu".
__ADS_1
Sebelah alis tipis berwarna abu-abu terangkat. Kipas di tangan bersarung kulit terbuka dan tertutup. "Aku tidak bisa disalahkan atas rumor yang tersebar tentang diriku. Lalu apa yang harus kulakukan tentang pernikahan mendadakmu yang dilakukan di tempat terpencil?". Ujar Nenek Ryan. " Pasanglah wajah bengis, jika itu yang kau inginkan! Coba bayangkan bagaimana perasaanku karena tidak bisa melihat satu-satunya cucu lelakiku menikah? Aku rasa itu caramu untuk membalas dendam kan? Semua karena si bodoh Zayn dan mulutnya yang tidak dijaga. Aku yakin, kau sudah mengetahui semuanya. Apakah kau sudah mengatakan kepada Keith bahwa kau menikahi gadis yang selalu dilindunginya?"
Dari sudut pandangnya sebagai pihak yang bisa melihat situasi secara objektif, Farah mengamati pertarungan antara Crandall melawan Crandall, melihat jiwa yang memiliki semangat kuat, yang pasti membuat mereka saling merindukan jika berpisah jauh. Jelas sekali mereka bukan jenis orang yang peduli dengan keharmonisan keluarga. Sepertinya mereka percaya bahwa mustahil mendapatkan kemandirian tanpa berjuang bukan berarti mereka berdua mau menganalisis motif lain. Ada terlalu banyak hal lain di dalam pikiran mereka sehingga tidak ada sisa ruang untuk memikirkan hal itu. Meskipun begitu, ia melihat masalah keluarga Crandall tidak sulit untuk diselesaikan. Yang mereka butuhkan adalah pihak yang netral, berpikir jernih, dan tertarik untuk memecahkan masalah mereka secara diplomatis tanpa harus mengancam harga diri mereka. Meskipun ia berpikir begitu, ia tetap merasa takjub karena menyadari bahwa Keith sudah tahu sejak awal bahwa dirinyalah yang akan menjadi pihak itu.
Meskipun lingkungannya terasa asing dan mencemaskan, tangan Ryan di lengannya terasa hangat, tekanan yang menenangkan melalui sarung tangan satinnya yang berwarna putih. Sambil menoleh ke samping, Farah memandangi Ryan dengan penuh cinta: wajah malaikat dengan mata iblis, tubuh yang gagah yang tidak terlihat berlebihan dalam balutan celana ketat dan mantel mewah berwarna biru. Tidak ada satupun di ruangan ini yang mengikat dasinya sesederhana Ryan. Ryan terlihat rapi dan luar biasa tampan, seolah apa pun yang dikenakan Ryan akan mampu menambah kharisma pria itu.
Alice pernah berkata sambil menyeringai bahwa Farah hanya perlu menunggu sampai pesta berikutnya untuk melihat setengah pria muda yang hadir di sana memakai dasi dengan gaya sederhana yang sama.
"Jika kau menatapku lagi seperti itu," bisik Ryan dengan suara parau, "aku bersumpah akan membawamu ke kamar kosong pertama yang kita temukan dan bercinta denganmu di sana. Sekarang, berdansalah denganku. Aku ingin mendekapmu dalam pelukanku."
Alunan musik yang dimainkan oleh dua puluh orang pemain biola terdengar merdu di seantero ruangan, membuat kaki Farah semakin lemas. Tangan Ryan melingkari tubuhnya dengan lembut. Sentuhan Ryan membuat terbang seperti debu yang terbawa angin musim panas. Tatapan Ryan terasa membelai sekujur tubuhnya.
Tiba-tiba, Farah berbicara. "Itu tipuan, iya kan?"
__ADS_1
"Maksudmu?".
"Kartu dengan... kartu yang kau minta agar kucabut hari itu. Kau tahu bagaimana mencabut kartu tertinggi."
Ryan mulai tersenyum. "Kau ingat anjing yang memakai topi kecil berwarna hitam? Pada kartu yang berangka tinggi, di bagian topinya ada garis tambahan. Memang sangat sulit untuk dibedakan," Ryan menatap Farah dengan sorot panas dan penuh gairah. "Jangan marah. Harus kuakui aku sengaja melakukannya. Kau tidak akan pernah bersedia dengan sukarela datang ke pelukanku jika kau tidak kalah dalam permainan itu. Itu adalah utang kehormatan." Ryan menarik napas tercekat. "Sayang... jangan tersenyum seperti itu. Kau menggodaku hingga tak berdaya."
Keintiman pelukan Ryan, gesekan gaunnya saat kaki Ryan bergerak di sana, sepertinya membuat darahnya memanas. Udara yang dihirupnya terasa manis, gabungan dari aroma parfum eksotik, kehangatan tubuh para tamu, yang bercampur dengan tawa dan alunan musik yang indah. Cahaya lampu kristal yang terang benderang menyinari para pedansa dengan sinar keemasan yang terlihat mengagumkan, dan Farah merasa seperti burung yang terbang di antara awan, tubuhnya terasa ringan, ototnya mengendur dan santai. Ini adalah kali pertama ia berdansa di dalam dekapan seorang pria. Kali pertama, Dan, di dalam dekapan Ryan.
...♡♡♡...
Sungguh menyebalkan...
Aku udah setor bab dari kemarin dan masih review!!! Bab ini aku tulis pagi dan kalau masih review sampe besok. Fix aku mogok! apaan sih kesel..Gak ada vulgarnya juga. lambat!
__ADS_1