Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 63


__ADS_3

Saat matahari terbenam, Farah menemukan Gege sedang sendirian di beranda. Gege duduk di susuran beranda dengan santai. Di belakang Gege, Farah melihat hutan sudah berwarna hijau gelap, dan langit berubah warna menjadi magenta, yang membuat wajah pemuda itu terlihat transparan dengan cahaya oranye yang menerpa rambutnya.


Gitar di tangan Gege mengalunkan melodi cinta, dan Gege mengiringinya dengan nyanyian yang merdu meski tanpa emosi. Farah berdiri di tempat yang tidak terkena cahaya, mengamati matahari tenggelam dan mendengar nyanyian Gege, dan ketika nada terakhir mulai memudar, Farah tidak bisa bicara, karena lagu Gege selalu memengaruhinya dengan kesedihan dan keindahan melodinya. Farah juga tidak pernah mengatakan kepada Gege bahwa lagu itu menyentuh hatinya, karena ia tahu Gege tidak suka dipuji.


Kemudian Gege menurunkan kakinya, meletakkan gitarnya di pagar berana lalu menghampiri Farah.Dari jarak sedekat ini, Farah bisa mencium aroma yang menempel di rambut Gege dan melihat mata Gege yang tidak fokus.


Linda memang benar. Untuk pertama kalinya Gege terlihat mabuk. Dugaan Farah kondisi itu ada hubungannya dengan Keith, dan tidak ada seorang pun yang mau mengatakan apa-apa padanya, selain peringatan agar Farah tidak bertanya kepada Gege, kecuali jika ingin kepalanya melayang.


Farah menyentuh sebuah bunga anggrek yang berada di pot dengan jarinya dan tersenyum. "Bunga ini sangat indah, iya kan?"


"Tidak." ujar Gege.


"Tidak?"


Gege berkata, "Anggrek terlalu mengingatkanku pada fakta bahwa bunga adalah organ **** tanaman. Aku ingin bungaku lebih....", Gege menyentuh bunga anggrek tersebut kemudian menatap Farah, "terlindungi."


"Kau sama buruknya seperti Will," ujar Farah.


Pagi ini, saat Farah memiliki kesempatan untuk mengagumi keindahan pemandangan laut, Will berkata dengan tidak acuh, "Aku tidak mengerti apa yang bisa kau kagumi dari lautan. Memang ada apa di dalamnya selain kencing ikan? Jika kau memikirkan semua ikan yang ada di laut selama berabad-abad...." Saat melihat tatapan tajam dari Gege dan Gio, Will menambahkan, "Oh. Maaf, Farah. Maksudku urine ikan." Farah menggelengkan kepala saat mengingat ucapan Will.


"Mmm" hanya itu jawaban Gege untuknya. Gege naik lagi ke susuran beranda sambil mengulurkan tangan kepada Farah. "Ke sinilah, Manis," ujar Gege dan dengan lembut menarik Farah ke antara kakinya sehingga Farah bersandar dengan nyaman di tubuh Gege tapi menghadap ke arah belakang, dan tangan Gege mulai memijat bahu Farah. "Bagaimana rasanya?"


"Luar biasa," ujar Farah, dan dalam semenit Gege memutar Farah. Lalu menyingkap leher Farah, telapak tangan Gege bergeser untuk memijat otot-otot Farah yang tegang.


"Jadi Ryan tidak merenggut keperawananmu sore ini?"


"Bagaimana kau bisa tahu?".

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa tahu? Dia mungkin sudah melakukannya, karena aku tidak tahu apa-apa. Tidak ada seorang pun yang pernah mengatakannya kepadaku." ucap Gege.


Kemudian Farah bertanya dengan penasaran. "Bagaimana kau selalu tahu kapan aku ingin leherku dipijat?"


"Bahumu merosot." Jari-jari Gege yang lihai meredakan ketegangan di bahu Farah. "Kau pasti menyadari aku tidak sepenuhnya dalam kondisi sadar."


"Iya."


"Memangnya yang lain tidak memperingatkanmu agar menjauh dariku?"


"Iya," ujar Farah lagi. "Tapi aku tidak pernah melihatmu mabuk. Aku tidak bisa menahan diri untuk menyaksikannya sendiri." Dengan bergurau, Farah berkata, "Apakah kau akan menyerangku?"


Rambut Farah berkilau seperti ada permata yang terkubur di dalam rambut panjang Farah, dan Gege memasukkan jarinya ke dalam rambut Farah untuk mulai memijat kulit kepala gadis itu. "Pasti kau mengalami sore yang panjang, jika kau kembali dengan harapan untuk disiksa". Ujar Gege.


Gege tidak yakin Ryan sudah tidak berbahaya. Gege mencengkeram bahu Farah dengan kuat. Sambil menatap langsung mata Farah, Gege berkata, "Aku pikir, tidak peduli apa pun niat Ryan, pada saat dia selesai berurusan denganmu, kau akan merasa seperti seseorang telah menstrika tubuhmu."


Farah mengerjapkan mata dua kali karena ada debu yang menempel di bulu matanya. Kemudian Farah berkata dengan santai, "Aku juga berpikir begitu."


Gege duduk dengan nyaman sambil menggoyang-goyangkan kakinya. "Kita bisa membicarakan masalahmu sebentar," saran Farah dengan blak-blakan.


"Aku tidak punya masalah. Keith bilang aku hanya terlalu ikut campur dengan urusan orang lain.... Aku akan pergi nanti, jadi jika kaų ingin membahas masalahmu, sebaiknya kita melakukannya sekarang."


Siap untuk bercerita dan bisa melakukannya tanpa menangis ada lah dua hal yang berbeda. Sambil menoleh ke samping untuk menatap wajah Gege, Farah bertanya-tanya bagaimana ia bisa menjabarkan dalam bentuk kata-kata. Itu adalah topik yang hanya bisa disampaikannya secara tidak langsung. "Apa... apa pendapatmu tentang wanita yang jatuh cinta pada pria


yang telah menjadikannya tawanan?" tanya Farah.


"Menurutku dia sedang berusaha menyelamatkan lehernya," jawab Gege. "Jika wanita itu temanmu, sebaiknya kau menasihatinya bahwa cinta semacam itu tidak memiliki masa depan."

__ADS_1


"Dia sudah mengetahuinya," kata Farah sambil menopangkan ta ngannya di lutut. "Tapi.... dia semakin tidak berdaya untuk menghentikan perasaan itu. Dan sekarang, saat pria itu sepertinya akan melepaskannya, dia tidak sanggup membayangkan harus berpisah dengan pria itu."


Dari pohon jeruk yang ada di belakang mereka, terdengar nyanyian burung. "Kau pikir kenapa pria itu bersikap sangat baik pada temanku saat dia sedang sakit, tapi kemudian menghindarinya?"


Serbuk putih telah membuat mata Gege terasa perih, dan ia memejamkannya sambil bertanya-tanya bagaimana pecandu bisa tahan dengan efek serbuk yang tidak mengenakkan. Saat matanya sudah terasa lebih baik, Gege menyadari bahwa sekaranglah saatnya menjawab pertanyaan Farah.


Jelas sekali Ryan memilih untuk tidak membicarakannya dengan Farah, dan Gege lah yang terpaksa harus mengambil alih tugas untuk menjelaskannya. Tampaknya Ryanbsudah memutuskan untuk membebaskan Farah, karena Farah tidak mungkin berpikir begitu, jika Ryan tidak memberi gadis itu alasan untuk meyakininya. Dan ia tahu Ryan tidak akan mengubah keputusan, kecuali ada campur tangan dari takdir yang........., Gegemenghentikan pikiran itu. Keith bisa menjadi campur tangan takdir yang mengerikan itu, karena entah untuk alasan apa, Keith tidak ingin Farah dan Ryan berpisah.


Dorongan melindungi Farah terasa mengalir di pembuluh darah Gege. saat ia membuka mata dan melihat bahwa tangan Farah yang berada di lutut mulai gemetar. Gege harus berpikir sejenak untuk mengingat apa pertanyaan Farah tadi. Kemudian, Gege berkata dengan sangat hati-hati, "Jika pria itu memiliki keterikatan dengan temanmu, mungkin akan sulit bagi pria itu untuk melepaskannya. Akan lebih baik bagi mereka berdua jika keterikatan itu tidak sampai berkembang lebih mendalam."


Dengan suara bergetar, Farah bertanya, "Tapi bagaimana jika atas keinginannya sendiri temanku itu memutuskan untuk tetap bersama pria itu?"


Di tengah udara malam yang hangat, tangan Gege terasa sedingin es. Itu adalah tawaran yang tidak boleh diberikan Farah kepada Ryan. "Dan menghabiskan sisa hidupnya sebagai wanita yang tergantung pada pria itu?" Rasa kasihan telah membuat suara Gege terdengar kasar.


"Mengejar pria itu, mencari remah-remah yang ditinggalkannya, melakukan apa pun yang diinginkan pria itu, seperti wanita yang sebelumnya? Temanmu itu pasti tidak berharap menjalani kehidupan semacam itu-dan jika pria itu memiliki perasaan terhadap temanmu, dia juga tidak akan tega membiarkannya."


Tiba-tiba, Gege tidak lagi berbicara dengan merujuk pada teman Farah, "Tuhan tahu kau tidak memiliki kekuatan untuk menjadi pelacur Ryan."


Setelah beberapa saat penuh kesunyian yang menyesakkan, Farah berkata, "Apakah Ryan berkata begitu kepadamu?"


"Tidak persis seperti itu."


"Tapi sesuatu seperti itu?"


"Iya, sesuatu seperti itu," jawab Gege.


"Aku rasa," kata Farah dengan suara pelan, "pernikahan adalah suatu hal yang tidak mungkin."

__ADS_1


Pernikahan. Pikiran Gege menyerap kata-kata itu dengan syok. Farah tidak akan bertanya jika saja gadis itu tahu nama panjang Ryan. Oh. Tuhan, betapa polosnya Farah. Jika tidak ada ribuan hambatan, sikap terhormat yang dimiliki Ryan tidak akan membiarkan pria itu menyentuh tangan Farah selama Farah masih menjadi tawanannya. Rasa kasih adalah jebakan yang berbahaya.


...♤♤♤...


__ADS_2