
Pria tua. Seseorang yang mampu menarik perhatian Farah di markas Dark Devil. Farah menebak pria tua itu berusia sekitar enam puluh tahun Kulit cokelat legam yang menandakan sudah begitu sering tubuhnya diterpa sinar matahari dengan kerutan halus. Di wajah pria tua itu terlihat seperti bekas luka yang menimbulkan jaringan parut. Namun Farah tak memungkiri tubuh pria tua itu masih cukup tegap di usianya yang memasuki senja. Sorot matanya pun memperlihatkan kebaikan hati dan keramahan.
"Ternyata kau yg di bicarakan oleh banyak pemuda di sini". Ucap pria tua itu seraya menatap Farah dengan tersenyum.
Farah lalu balas tersenyum dengan kikuk. "Ah. Kurasa aku cukup terkenal di sini hehehe".
"Kau memang terkenal. Walau memang menimbulkan pro dan kontra. Tapi, siapa yang sanggup menentang perintah Keith? Apalagi dengar-dengar kau adalah wanita-nya Ryan. Jadi, semua orang menahan diri untuk tidak mengusikmu, Nak".
Pria tua itu lalu menepuk kursi kayu di sebelahnya. "Duduklah di sini. Aku tahu kau baru diperbolehkan keluar kamar, kan? Aku senang bertemu denganmu. Kau bisa memanggilku Pak Yanka, namun Keith dan anak buahnya memanggilku dengan Pak Tua" Ujar Pak Yanka tertawa kecil.
Farah akhirnya duduk di sisi Pak Yanka. Gege yang masih berdiri di sisi Farah pun tak mengeluarkan satu patah kata pun terhadap Pak Yanka. "Ge, lebih baik kau pergi melakukan sesuatu daripada berdiri di sisinya seperti menjaga telur yang rapuh" Pak Yanka beralih menatap Gege. "Dia aman bersamaku di sini. Aku tidak akan mengajaknya ke tempat lain". Gege pun menghela napasnya dan berlalu begitu saja meninggalkan Farah bersama Pak Yanka.
"Kalau boleh aku tahu, apa yang anda lakukan di markas Dark Devil? Maksudku, apa pekerjaanmu di sini?". Tanya Farah akhirnya.
"Lihatlah tanganku.. Kapalan hehehe" Ujar Pak Yanka memperlhatkan telapak tangannya. "Aku adalah kepala teknisi di sini".
Farah mengerutkan kening. "Kepala teknisi?".
"Ya. Aku kepala teknisi di markas Dark Devil. Keith memberiku upah luar biasa yang tidak akan aku dapatkan di manapun". Ujar Pak Yanka dengan tertawa. "Suatu hari aku akan mengajakmu melihat betapa canggihnya keamanan yang di pasang Keith di bawah laut yang mengelilingi pulau ini".
__ADS_1
Farah menatap ke sekitar. Laut yang tenang. Markas Dark Devil dengan bangunan yang bertekstur indah. Farah juga melihat beberapa anak buah Keith yang sedang berada di dermaga dengan speed boat mereka.
"Mereka semua bertampang sangar, ya kan? Kebanyakan dari mereka adalah kambing hitam dari keluarga masing-masing, tapi sebenarnya mereka tidak sejahat kelihatannya. Mereka adalah anak muda yang tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua, tidak di anggap saat pembagian harta warisan, pekerja yang di perlakukan tidak manusiawi oleh para atasannya.. Yah, semacam itu lah".
Tak lama kemudian sebuah meriam dari atas mansion ditembakkan dengan suara yang memekakkan telinga, Farah terkesiap hingga menggigit lidahnya sendiri. Raut wajahnya seketika itu menjadi pucat. Pak Yanka yang menyadari bahwa Farah ketakutan, akhirnya berkata, "Tenang saja. Itu hanya sebuah tembakan peringatan untuk para anak buah Keith agar segera ke dermaga. Kami memiliki semacam sandi morse untuk berbagai macam situasi".
"Lalu tadi tembakan untuk apa?" Tanya Farah.
"Ayo berdirilah. Kau bisa melihatnya sendiri di dermaga". Pak Yanka beranjak berdiri diikuti oleh Farah dan segera mendekat ke dermaga.
Farah mengamati sebuah kapal yang cukup besar yang sudah mendekat ke dermaga. Lalu Farah melihat seorang pemuda yang mengenakan kemeja garis-garis berwarna biru dan putih melompat dari ketinggian yang lumayan membuat lutut dan kaki menjadi jelly. Farah mengenali pemuda itu. Pemuda yang berbicara dengan Gege di hari Farah di bawa ke markas Dark Devil.
"Pemuda yang melompat itu adalah Gio, dia pemuda yang ceria dan selalu membuat orang tertawa. Dia adalah pemuda yang baik. Suatu hari aku yakin dia akan menjadi pria yang gagah seperti Ryan."
Pemuda yang bernama Gio itu lantas dengan santai berjalan ke arah dirinya, mungkin lebih tepatnya menuju Pak Yanka. "Hi, Pak Tua!" Seru Gio seraya tersenyum lebar. Gio beralih menatap Farah. "Wah, kita bertemu lagi cantik".
Farah hanya bisa diam tak menyahut. Ia mengamati wajah Gio yang menarik. Mata yang indah dan alis yang tebal serta mulut yang selalu menyunggingkan senyum ceria. Farah mulai menyadari bahwa semua anggota Dark Devil memiliki tubuh yang gagah.
Lain hal bagi Gio, pemuda itu justru menangkap raut wajah Farah yang terlihat sama ketakutannya saat pertama kali wanita itu di bawa ke sini. Mata Farah menyiratkan kesedihan. Gio pernah melihat ekspresi semacam itu pada seorang wanita yang diperkosa, yang membuatnya bersimpati. Sekarang Ia mengerti kenapa Gege, yang selama ini tidak pernah peduli pada orang lain, tidak tega melihat wanita itu disakiti. Yang tak kalah mengejutkan, pemimpin Dark Devil pun mempertahankan wanita itu di markas. Namun, wanita itu sudah aman. Sangat aman. Karena Keith sudah mengumumkan bahwa dia akan mengebiri siapa saja yang berani menyentuh wanita di hadapannya sekarang ini.
__ADS_1
"Dia teman wanita Ryan, Nak" sahut Pak Yanka saat melihat Gio mengamati Farah dengan lekat.
"Bukankah semua orang di sini juga tahu siapa dia? Pikiranmu tidak akan menjadi kenyataan, Pak Tua. Apa menurutmu aku tega menyakiti wanita secantik ini? Kelihatannya dia sudah cukup ketakutan" Gio lantas beralih menatap Farah, "Ryan tidak menyakitimu, kan? Dia tidak memukulimu atau semacamnya, kan? Sepertinya tidak ya... Ryan bukan tipe pria seperti itu. Dia cenderung memiliki temperamen yang tenang".
"Sudah. Jangan mengorek keterangan apapun darinya. Dia sudah cukup menderita di sini. Kau bisa bersikap lebih baik dari itu".
Gio tersenyum miring. Dalam hatinya Ia bertanya-tanya, sikap yang lebih baik seperti apa. Pengalamannya dengan wanita jauh lebih banyak daripada pemuda lain seusianya, yah walaupun hanya terbatas pada wanita yang murahan, yang bisa Ia dudukkan di atas pangkuannya dan Ia tiduri di mana saja.
●●●
Hari demi hari berlalu hingga tidak terasa sudah tiga pekan Ryan pergi ke daratan. Entah apa yang di lakukan oleh pria itu, namun Farah justru sudah merasa cukup nyaman berada di markas Dark Devil.
Markas Dark Devil merupakan tempat yang tepat untuk seorang wanita muda sepertinya. Yang sepanjang hidupnya selalu dilindungi namun sebenarnya memiliki sisi liar dan rasa penasaran yang besar. Setiap kali Farah berkeliling markas Dark Devil, Ia akan selalu bertanya tentang banyak hal. Semakin banyak anak buah Keith yang menerima keberadaan Farah di sana. Farah adalah sesuatu yang asing untuk mereka, sama seperti mereka untuk Farah. Dan, Farah menyadari semua orang saling memperhatikan satu sama lain, dan Ia harus belajar dengan cepat untuk toleran dan hidup tanpa privasi.
...♤♤♤...
Yang kangen Ryan, next bab 😁
Komen, like dan hadiahnya yaaaa🥰
__ADS_1