
Sambil menggigit cookies, pikiran Farah berkelana kemana-mana dengan perasaan kuatir. Tadi malam, Ia sudah melihat bagaimana mereka memperlakukan Gio yang tidak berdaya. Gege mengatakan padanya kalau Gio terjun ke laut karena berusaha menyelamatkannya Tidak ada penjelasan lain yang diungkapkan Gege.
Setelah semuanya selesai, mandi, berpakaian, makan, merapikan tempat tidur, tidak ada lagi yang bisa dilakukannya selain merasa semakin gugup yang tak tertahankan. Pengadilan apa? Pengadilan seperti apa? Sidang apa yang dimaksud oleh Gege di surat itu?
Sejam lebih sudah berlalu. Akhirnya, Farah tidak sanggup lagi menanggung ketegangan yang menyiksanya, ia merasa yakin bahwa segalanya telah berjalan dengan sangat buruk sehingga ia tidak bisa memikirkan hal yang lebih buruk lagi. Farah mengambil kotak tisu dari kayu dan melemparkannya ke pintu. Seseorang pasti bisa mendengarnya, tetapi ia diabaikan. la bisa membayangkan mereka mendengarkan, seraya berkata, "Biarkan saja wanita itu membuat keributan. Dengan begitu, dia tidak akan menyebabkan masalah. Sebentar lagi dia juga akan merasa lelah."
Dan, itu memang benar, tidak berapa lama kemudian, Farah sudah merasa lelah, tetapi ia tetap melempari pintu dengan benda apapum atau mengentak-entakkan tangannya dengan irama yang tidak beraturan. Kali ini, ia akan membuat mereka kehabisan kesabaran. Farah terus mengentakkan kakinya sampai ia mendengar Pak Yanka berteriak dari balik pintu.
"Farah! Farah, Nak! Bisakah kau menghentikannya sekarang?"
"Aku akan berhenti jika kau membukakan pintu!". Teriak Farah dari dalam kamar.
"Nak, aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak punya kunci kamar ini." Suara Pak Yanka terdengar sangat lembut. "Kenapa? Apa kau mengkhawatirkan bocah pembangkang itu?"
"Di mana Gio? Apa yang mereka lakukan terhadapnya? Kenapa sampai diadakan persidangan? Persidangan macam apa?".
"Oh, tidak usah banyak bertanya. Tidak ada yang bisa kau lakukan. Bocah itu yang mencari masalah, dan mereka di aula sedang memutuskan apa yang harus dilakukan terhadapnya, dengan begitu dia akan ingat jika lain kali membuat masalah dengan orang yang lebih tua."
"Ma-masalah apa? Apakah maksudmu dia akan dihukum karena semalam dia berusaha menyelamatkan aku? Tidak! Aku tidak akan membiarkannya. Pak Yanka..., apakah kau mendengarku? Aku menuntut untuk dipertemukan dengan Keith! Katakan pada mereka untuk membuka pintu ini!"
"Nak, jangan lakukan.... Sekarang ini kau harus mulai gunakan akal sehatmu...."
__ADS_1
Namun, Farah nyaris tidak mendengar kata-kata terakhir Pak Yanka karena ia sudah memukuli pintu berulang-ulang kali. Farah tidak berhenti, atau mendengarkan penjelasan Pak Yanka. Pak Yanka mencoba meyakinkannya dengan cara yang paling halus, agar ia tidak melanjutkan kebodohannya.
Ketika situasi berubah, maka perubahan itu berlangsung dengan sangat cepat. Farah nyaris tidak sempat mendengar sebuah seruan di koridor, terdengar perintah tegas yang dilontarkan seseorang di luar pintu, dan kunci yang diputar di pintu. Yang ia tahu adalah tiba-tiba pintu terdorong, dan ia dengan spontan melompat ke belakang untuk mencegah wajahnya terhantam pintu.
"Cintaku, apakah kau memanggilku?"
Ryan berdiri di ambang pintu, tersenyum dengan sangat manis namun dengan seringaian yang terlihat menakutkan. Dari pinggul ke bawah, Ryan mengenakan celana denim ketat yang menyingkap lebih banyak otot kokoh dari yang Farah tahu boleh dilihatnya. Dari pinggul ke atas, Ryan bertelanjang dada, hingga menampakkan otot dada dan perut kotak-kotaknya yang berusaha sekuat tenaga untuk tidak ditatap Farah.
Farah merasa sangat marah terhadap Ryan meskipun ia tahu akan sedikit sulit untuk meluapkan kemarahannya kepada pria itu. Saat berhadapan dengan Ryan, kata sedikit sulit itu berubah menjadi mustahil. Dengan berusaha menahan dorongan untuk kabur ke balik meja, Farah berkata, "Tentu saja tidak. Aku ingin berbicara dengan Keith Smith."
"Benarkah? Aku minta maaf karena harus mengecewakanmu. Keith tidak bisa datang sekarang. Katakan kepadaku, apakah semalam kau bisa tidur nyenyak, Sayang?"
"Tidak," ujar Farah, dengan wajah memucat. "Tapi aku yakin kau sudah bangun selama berjam-jam, untuk menajamkan taringmu. Apa yang kau inginkan terlebih dulu, lengan atau kakiku? Atau kau lebih memilih untuk langsung mengincar leherku?"
"Kalau begitu, buka lehermu untukku, cintaku," ujar Ryan
"Aku datang untuk mengundangmu melihat Gio dicambuk,"
Farah sudah menyangka Ryan akan menyerangnya, tetapi tidak selangsung dan sekejam ini. Pikiran pertamanya adalah tidak memercayal satu pun perkataan Ryan, dan Farah berkata dengan ketus, "Selera humormu benar-benar tidak diinginkan hari ini."
"Aku setuju. Aku sarankan kau ingat terus itu. Semalam, saat Kevin memerintahkan Gio untuk tidak melompat ke laut untuk mengejarmu, Gio menodongkan pisau kepadanya."
__ADS_1
Dengan perlahan, Farah bisa memahami semuanya. Ia menggelengkan kepala, berusaha untuk tetap menyangkalnya. "Semalam Gio terluka. Setelah itu tidak mungkin...."
"Iya, mereka akan melakukannya. Terlebih, setelah dalam per-sidangan tadi, Gio mengumumkan dengan tegas bahwa dia tidak menyesali perbuatannya, dan akan melakukan hal yang sama jika memang perlu. Jika bocah itu tidak terlalu populer, dia pasti sudah mati. Datanglah ke aula bersamaku. Kau bisa menceritakannya pada anak cucumu nanti bahwa kau pernah melihat seorang pemuda dicambuk di markas mafia." Farah menghampiri Ryan, harga dirinya sudah terlupakan,
Ia bahkan nyaris tidak menyadari gerakan tubuhnya sendiri. "Ryan, jangan biarkan mereka melakukannya! Jangan!"
"Farah.... Kucing kecilku-" Suara Ryan terdengar sangat lembut. "Kau sudah mengetahui banyak hal di sini. Kau pasti tahu aku tidak memiliki hak suara di sini. Lagi pula kenapa kau mencuri surat-suratku?".
Dalam mimpi buruknya, Farah akan mengingat ekspresi wajah Ryan di perahu, saat bundelan surat merosot jatuh dari dalam kemejanya. Farah mengambil surat itu tanpa menyadari apa isinya. Sekarang ia tidak pernah mau tahu.
Farah mendengar dirinya sendiri berkata, "Berani sekali kau menghakimiku untuk itu? atau.... Tentu saja. Kau menyewa penjahat kacangan untuk mencurinya untukmu. Semua kejahatan yang kulakukan, kupelajari darimu."
Dengan suara pelan, Ryan berkata, "Farah, aku menawarkanmu pertemanan..."
Mual. Farah merasa akan segera muntah. "Kau menawariku penyanderaan."
"Yang aku janji akan kuakhiri." Timpal Ryan.
"Jika," ujar Farah, "Aku mau memenuhi tuntutanmu."
"Oh, Gadisku sayang," kata Ryan dengan lembut, "dan kau tidak mau memenuhinya, iya kan? Seharusnya, kau mengatakan yang sebenarnya kepadaku. Sebelum kemarin sore, apakah kau berpikir aku akan menyakitimu? Apa sikapku selama kau di sini tidak kau sadari? Apakah aku pernah menyakitimu?Bahkan sekarang......?". Ryan menghampiri Farah, langkahnya mantap dan tegas, tatapannya mengunci mata Farah. Ryan mengangkat tangan dan membaliknya, menggunakan punggung jarinya untuk membelai pipi Farah dengan sangat lembut.
__ADS_1
...♤♤♤...