Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 86


__ADS_3

"Apakah kau bisa berdansa?". Tanya Alice.


"Aku-yah, mungkin sedikit." ujar Farah.


"Sedikit tidak akan cukup. Nenek mertuamu akan mengadakan pesta untuk memperkenalkanmu pada masyarakat, dan kau tidak bisa membayangkan bagaimana mereka akan mencemooh dirimu jika kau tidak lihai di lantai dansa. Ada banyak sekali orang yang merasa iri kepadamu sehingga sekecil apa pun tindakanmu, pasti akan diamati oleh mereka." Alice terdiam, lalu tertawa senang, dan menarik Farah dengan kedua tangan. "Kau memiliki wajah yang unik! Sangat ekspresif Pertama, kita akan lihat apakah kau bisa berdansa waltz. Anggap saja aku seorang pria dan aku akan meletakkan tangan begitu di pinggangmu. Apa yang akan kau lakukan?"


"Kabur ke sisi lain piano," jawab Farah cepat..


"Dan juga tidak punya sopan santun," nilai ibu Ryan itu sambil menyeringai. Alice mengangkat gaunnya hingga sebetis. "Amati kakiku. Bisakah kau menirukan langkahku? Pertama-tama, lakukan dengan perlahan....Oh, itu bagus. Sangat bagus. Kemudian berbalik. Iya. Oh, Okta, apakah kau akan memainkan musik untuk kami? Sungguh ide yang luar biasa!"


Saat menyaksikan ibu Ryan mengangkat tangannya ke bahu, berpura-pura menjadi pria yang terpesona padanya. Farah menyeringai ketika ia melihat dari sudut matanya bahwa Tante Okta diam-diam membersihkan noda tanah di tuts piano dengan saputangannya. Mengikuti iringan musik dimainkan dengan indah oleh tantenya.


Farah berdansa waltz dengan kaku, roknya mengembang saat ia memutar dan merasa sedikit konyol, tetapi ia tidak peduli, dan membayangkan tangan Ryan lah yang sedang memeluk pinggangnya. Pinggangnya. Pinggulnya. Pahanya...

__ADS_1


Jarang sekali tiga hari bisa terasa begitu lama. Apalagi ia tinggal di tempat yang sangat indah, dan hari-harinya berjalan dengan menyenangkan tapi Farah tidak bisa meredakan rasa rindunya kepada Ryan. Membayangkan Ryan dikelilingi oleh para penjilat, teman, rekan, mantan kekasih.... Ribuan ketidakpastian berkelebat di dalam pikirannya seperti kepakan sayap, dan ia memiliki sepuluh pertanyaan untuk masing-masing ketidakpastian itu.


Melalui percakapan mereka, Farah tahu bahwa Alice memiliki seorang putri, Dian. Seorang gadis tomboi yang suka bermain pedang, berenang, dan menjadi kapten di tim bola. Setiap kali membicarakan Dian, mata Alice akan berkaca- kaca. Dian meninggal delapan tahun yang lalu, begitu cerita Tante Okta. dalam perjalanan mengunjungi seorang teman di Karibia. Jika Andreas terlibat dalam kematian Dian, sepertinya tidak ada seorang pun di sini yang mengetahuinya. Alice menyinggung Andreas dengan santai, sebagai sepupu mendiang suaminya, kesayangan nenek Ryan, dan mungkin itu sudah cukup bagi Alice untuk tidak percaya pada Andreas.


Ketidaksukaan Alice terhadap Keith justru lebih terasa. Alice tidak bisa membicarakan Keith tanpa membuat matanya berkilat marah, dan ketidaksukaan Alice terhadap nenek Ryan dipertegas dengan pengakuan bahwa neneknya lah yang menurut Alice, mendukung pertemanan Ryan dengan Keith. Meskipun Farah angat menyukai Alice, ia harus mengakui bahwa tuduhan itu sedikit terlalu ekstrem; kecuali nenek Ryan memang wanita yang kurang waras, dia tidak mungkin membiarkan Ryan yang jelas-jelas sangat disayangi oleh wanita itu, untuk terpengaruh oleh pria seperti Keith.


Memiliki seorang mafia terkenal sebagai bagian dari keluarga sepertinya menjadi situasi menarik sekaligus menggemparkan. Dengan penasaran bercampur simpati, Farah bertanya-tanya apakah Alice tahu bahwa Keith adalah putra mendiang suaminya, dan jika Alice tidak tahu, bagaimana dia menilai kedekatan Ryan dengan Keith. Mungkin sebagai jaringan mata-mata. Tidak heran keluarga Crandall terkenal sebagai keluarga yang sangat luar biasa. dengan rahasia dan kemampuan mereka. Dan sekarang, Farah menjadi bagian dari keluarga itu. Pikiran itu membuat perut Farah terasa diremas-remas.


Farah menatap Alice dengan lekat. Ingin bertanya sesuatu yang tidak terlalu penting. "Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?".


Farah terkekeh pelan. "Aku ingin tahu, apa yang menjadi alasanmu memilih tinggal di sini dan bukannya di kediaman asli keluarga Crandall? Apakah karena kau ingin anak-anakmu memiliki masa kecil yang lebih normal?"


"Iya." Alice duduk dengan kaki bersila, "Selain fakta bahwa kediaman asli keluarga Crandall memiliki tujuh puluh kamar tidur dan dua sayap besar, aku tidak bisa tinggal di bangunan yang sama dengan nenek Ryan. Dia sudah berkuasa di sana selama lima puluh tahun, dan rasanya terlalu kejam bagiku jika putra tertua membawa pulang istrinya untuk menggantikan posisi ibunya." Tiba-tiba, Alice berbaring dengan bertopang pada siku. "Aku harap kau tidak terganggu karena aku tinggal di sini terlalu lama." Mengabaikan protes Farah, Alice melanjutkan, "Katakan kepadaku, apa pendapatmu tentang Zayn?"

__ADS_1


Itu lebih dari sekadar pertanyaan iseng, Farah senang ia bisa menjawab dengan jujur. "Aku pikir dia pria yang baik dan menawan."


"Dan terlalu sopan," tambah ibu Ryan itu dengan murung. Alice melipat tangannya di belakang kepala untuk dijadikan bantal. "Aku tidak bisa mengatakan betapa dia menghormatiku. Selama bertahun- tahun ini, dia telah menjadi sahabat terbaikku." Dengan ekspresi yang lebih murung lagi, "Dia memiliki wanita simpanan."


Karena terkejut dan tidak tahu harus berkata apa, akhirnya Farah bertanya, "Apakah dia cantik?"


Tante Okta yang menjawab dari depan piano. "Jika kau menyukai wanita bertubuh tinggi dan gagah, yang mewarnai rambutnya dengan cairan kimia."


"Jangan begitu." Alice menyeringai. "Dia cantik. Aku pernah bertemu dengannya di opera. Orang bilang mereka tidak saling mencintai, tapi itu adalah hubungan yang saling menguntungkan." Alice meringis. "Aku sangat ingin membuat hubungan mereka berantakan. Sejak bulan Juni lalu, aku menyadari aku mencintai Zayn, tapi tidak ada yang berhasil. Jika aku pura-pura terhuyung di taman, dia justru khawatir dan membawaku ke dalam untuk beristirahat! Dan saat kami berteduh di sebuah pondok kosong karena terjebak hujan lebat, yang dilakukannya hanyalah menyakinkanku agar tidak takut karena menempatkan kehormatanku di atas segalanya. Aku bisa menangis jengkel jika mengingatnya. Aku yakin keadaannya akan jauh lebih mudah jika aku jatuh cinta pada seorang playboy. Wah, Okta apakah kau menertawaiku?" Alice menegakkan tubuhnya. "Berani sekali kau? Padahal aku tahu kau juga memiliki pria impianmu dari caramu yang sering melamun."


"Omong kosong." teriak Tante Okta, meskipun yang membuat Farah tercengang, pipi bibinya memerah.


Sambil tersenyum puas, ibu Ryan yang cantik dan kotor berbaring lagi. "Itu bukan omong kosong. Kita bertiga terinfeksi penyakit yang sama. Cinta."

__ADS_1


...♡♡♡...


__ADS_2