
Pelabuhan New York.
Bagi Farah yang berdiri di samping Gege di pelabuhan New York, USA adalah negara yang luar biasa menakjubkan. Meskipun hari masih sangat pagi, kota itu sudah bangun dan beraktivitas. Ada lebih dari tiga ratus kapal yang mengapung di teluk yang luas, sementara perahu kecil hilir mudik di antara kapal tersebut dan pelabuhan. Orang-orang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Dari tempat Farah berdiri, kapal utama Dark Devil tidak terlihat mengerikan dan berbahaya, tidak jauh berbeda dengan kapal lain di sana. Saat melewati lambung kapal, sekitar setengah jam yang lalu, Farah bisa melihat bendera baru berkibar dengan gagah di atas kapal, dan ada nama yang baru saja dicat di sana. The Lion Cargo, begitulah tulisan nama tersebut. Ryan memutuskan untuk membawa Farah melalui jalur laut karena Ia sangsi mengingat sistem keamanan yang lebih ketat di jalur udara. Siapa tahu keluarganya mencari Farah dan mendeteksi keberadaan gadis itu di setiap bandara?
Bagi orang yang baru melihat kapal Dark Devil, tidak ada yang curiga bahwa sebenarnya itu adalah kapal mafia yang beralih fungsi menjadi kapal cargo dengan membawa barang-barang hasil rampasan dan seorang pemuda berambut gelap yang dirantai di kabin bawah kapal.
Itu bukanlah perjalanan yang menyenangkan. Gio sudah dirantai sejak seminggu yang lalu, akibat insiden yang dilakukannya terhadap Ryan, tetapi tidak ada seorang pun yang mau menceritakannya kepada Farah, selain hal itu memang ada hubungannya dengan Farah, tetapi sebaiknya ia tidak ikut campur. Pada suatu malam, Farah mendengar suara Keith yang lewat di lorong depan kabinnya.
"Iya, Kev, aku juga tahu itu, tapi setidaknya dengan cara ini dia tidak akan terlibat masalah yang lebih besar. Meskipun belakangan ini dia sering membuat masalah, aku tidak mau mencambuk anak itu untuk yang kedua kalinya. Aku tahu Gio mengkhawatirkan gadis itu, tapi aku ragu jika Ryan memiliki cukup kesabaran untuk mendengar rengekan Gio lagi."
"Dan Gege?" Suara itu milik Kevin.
"Hm Gege..., syukurlah, dia tidak bodoh. Dia melakukan apa yang diperintahkan kepadanya."
Kevin mengatakan sesuatu dengan suara pelan yang membuat Keith tertawa.
__ADS_1
"Aku pikir kau kebal! Tidak, Ryan tidak mengatakan kepadaku apa rencananya terhadap gadis itu. Aku cenderung berpikir..." Pintu Keith yang tertutup ikut menutup kesempatan Farah untuk bisa mendengarkan pikiran Keith, yang mungkin sebaiknya begitu. Mereka juga tidak bisa banyak membantunya.
Farah hanya ingat dua kalimat yang diucapkan Ryan padanya sepanjang perjalanan, dan itu pun tidak secara langsung disampaikan padanya. Ia terjatuh dari tali temali yang dipanjatnya bersama Gio. dan meskipun tidak terlalu tinggi, ia mendarat dengan posisi yang salah dan membuat ibu jarinya keseleo. Itu adalah salah satu hari saat ia menghadapi lukanya dengan sikap yang tidak dewasa. Karena tidak bisa menahan rasa sakit, Farah meronta-ronta dan kabur dari Gege, sebelum Gege selesai memperbaiki posisi ibu jarinya yang keseleo. Pada akhirnya, Pak Yanka lah yang menangkap dan menahannya dengan lembut sambil membisikkan kata-kata menenangkan, saat Gege melakukan apa yang harus dilakukannya. Karena dikelilingi oleh orang-orang yang bersimpati padanya, Farah sama sekali tidak tahu bahwa Ryan datang ke geladak tepat pada waktunya untuk menyaksikan Gege mengobatinya sampai selesai. Kemudian, dengan ekspresi yang sulit dibaca, Ryan berjalan ke arah kerumunan yang langsung terdiam, lalu menatap Farah selama hampir satu menit, meskipun sebenarnya Ryan berbicara ke- pada Gio, "Aku tidak mau dia memanjat tali lagi. Apakah itu jelas?"
Di lain waktu, Ryan tidak pernah mengatakan apa pun padanya. Ketika ia bertemu dengan Ryan di geladak atau di lorong, tatapan Ryan terlihat tidak peduli dan tidak bertahan lama padanya. Ketika mengamati wajah Ryan di saat-saat seperti itu, Farah sulit untuk percaya bahwa ia pernah melihat kelembutan di sana. Mungkin selama ini Farah hanya menipu dirinya sendiri karena berharap bisa melihat kelembutan itu. Jika ada alasan baginya tetap hidup, itu adalah untuk menunggu hari, saat ia bisa menyingkirkan Ryan sepenuhnya dari hati, seperti Ryan telah menyingkirkannya dari hati pria itu.
Patah hati yang dirasakan Farah terhadap Ryan terus menghantuinya siang dan malam, bersama pertanyaan mengerikan tentang apa yang akan dilakukan oleh Ryan terhadapnya begitu mereka tiba di New York. Terlebih lagi, saat hari-hari pertama dirinya pergi dari pulau pribadi milik Keith, Farah merasakan kekosongan dan kehampaan karena merindukan Linda yang telah menjadi tempatnya bergantung dan berkeluh kesah.
Farah merayakan ulang tahunnya di kapal Dark Devil. Ulang tahun menjadi hal yang aneh. Kau terbangun di suatu pagi untuk mendapari bahwa kau menua setahun. Tentu saja, pagi itu ia sama sekali tidak memikirkannya. Bahkan ia tidak ingat sampai pada tengah hari, ketika Gege membuka jurnalnya dan menuliskan tanggal serta bulan saat itu. Tanggal itu menggantung di dalam pikirannya selama beberapa saat, seolah ada sesuatu yang tidak asing tentang tanggal itu, lalu ia teringat: hari ini usianya bertambah setahun.
Pagi ini, Gege membangunkannya dari tidur yang gelisah dengan sentuhan ringan di pipi.
"Farah? Aku membawakan sarapanmu. Ryan ingin aku membawamu menyusulnya ke pelabuhan."
Sejak saat itu, mereka sama sekali tidak bicara. Apa lagi yang bisa dikatakannya? Keith memang benar, Gege akan melakukan apa yang diperintahkan kepadanya.
Beberapa jam kemudian, Di depannya, Farah bisa melihat sebuah mobil mewah menunggu di jalanan sempit, Farah langsung berbalik kepada Gege.
__ADS_1
"Ryan akan membawaku pergi?"
Gege ragu-ragu sebentar. Kemudian, "Mobil itu akan mengantar kalian ke Manhattan, Farah-"
Wajah Farah menengadah untuk mencari tanda harapan atau kenyamanan di mata Gege. Hujan membahasi bulu mata Farah seperti butiran mutiara kecil dan jatuh ke lekukan tulang pipinya, sampai Gege menutupi wajahnya dengan wajah pemuda itu, untuk mengecup keningnya.
Saat itu, terdengar suara derap langkah kaki mendekat, "Sungguh menyentuh." Suara sinis yang terdengar dari belakang mereka adalah suara Ryan. "Apakah ini akan menjadi salam perpisahan yang lama, atau mungkin......... Terima kasih, Ge. Kau bisa meletakkan tasnya di kursi sampingnya."
Sulit untuk tidak merasa kehilangan saat Farah duduk sendirian di kursi belakang mobil sedangkan Ryan di depan dan pria itu selalu diam seribu bahasa. Farah menatap ke luar jendela.
Mereka melewati bangunan-bangunan pencakar langit, pepohonan yang basah dan dinding yang kokoh, meskipun sesekali ada cahaya matahari yang menyusup dari balik awan yang membuat tempat itu terlihat damai. Betapa asingnya tempat ini untuk Farah.
Farah memasukkan tangannya ke dalam tas dan mengeluarkan kantung berisi koleksi kerangnya, meletakkan satu per satu ke atas mantel yang menutupi pangkuannya, agar ia bisa menyentuh kontur khas tropikal mereka. Seperti biasanya, kerang terakhir yang disentuhnya adalah kerang besar yang ditemukannya di pantai pulau pribadi Keith bersama Ryan.
...♤♤♤...
Next 👉
__ADS_1