Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 30


__ADS_3

Keesokan paginya, Farah terbangun oleh paparan sinar matahari yang masuk melalui jendela. Ryan yang semalam tidur di atas sofa sudah lenyap.


Farah merentangkan tubuhnya lalu perlahan turun dari tempat tidur. Ia lalu merapihkan kemeja besar milik Ryan yang membuatnya seakan tenggelam. Farah lalu mengikat rambut panjangnya dengan ikatan asal, Ia membasuh mukanya lalu segera beranjak keluar kamar.


Farah berjalan menyusuri markas Dark Devil yang lebih cocok disebut mansion mewah. Saat Farah menuruni tangga, Ia melihat Gege sedang duduk santai di ruang tengah. Pria itu sedang membersihkan pedang dan deretan pistol kecil yang Farah yakini semua itu adalah milik Gege.


Farah ingin sekali mendatangi Gege dan menceritakan semua masalah serta kegelisahannya, tetapi Gege tidak pernah terlihat seasing itu sebelumnya. Gege menatap dingin ke arah Farah. Apa yang telah dilakukan Gege untuk membantunya kemarin dan apa yang mungkin akan dilakukan Gege untuknya di masa mendatang jelas bukan sesuatu yang ingin dibahas Gege dengannya


Karena sebuah harga diri, Farah tidak akan menghampiri Gege dan menunjukkan bahwa Ia kesepian. Dengan cepat, Farah menuju dapur, yang Ia yakini jika dapur adalah salah satu tempat dimana Ia tidak akan bertemu Ryan.


Selain Gege dan Gio, Koki di markas Dark Devil adalah satu-satunya orang di markas Dark Devil yang masih berusia dua puluhan tahun. Setahun di atas atau setahun di bawah usia Farah.


Farah mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru dapur yang mewah. Ya. Mewah. Tidak pernah Ia pikirkan bahwa dapur milik para mafia akan semewah ini. Dalam bayangannya dulu adalah tempat yang kotor dan bau. "Hi manis!" Sapa Wil, sang Koki. "Apa kau sudah lapar?".


Farah tersenyum, "Ya. Aku sudah lapar. Apa kau memiliki sesuatu untuk di makan?".


Wil lalu menunjuk ke beberapa asistennya yang sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing. "Kami belum selesai masak, apa kau mau makan roti selama menunggu menu utama jadi?".


Farah menggelengkan kepala, "Tidak perlu. Aku bisa menunggu, Wil. Kau santai saja".

__ADS_1


"Aku sudah selesai, Wil! Jangan coba-coba memintaku lagi untuk mengepel lantai dapurmu yang berlemak ini!". Teriak Gio dari balik pintu seraya mengangkat sebuah ember besar.


Farah melongo melihat Gio dengan keadaan seperti itu. "Dia aku hukum karena sudah menumpahkan satu gentong gula pasir yang kusimpan di gudang". ujar Wil, menjawab keheranan Farah.


Farah terkikik geli. Gio yang menyadari keberadaan Farah dengan salah tingkah mengelap tangan ke celana training yang dipakainya. "Wah ada wanita di dapurmu, Wil!" Ujar Gio pada Wil, lalu beralih pada Farah dan berkata, "Apa yang kau lakukan di sini?".


"Tentu saja kurasa dia menghindari Ryan. Dia takut pada pria itu. Benarkan?". Ujar Wil terkekeh pelan seraya mengaduk sup jagung di panci yang sangat besar.


Mata Gio menatap Farah dengan sorot kasihan. "Gadis yang malang. Aku berharap......."


"Jangan berharap apapun!" cetus Wil memotong ucapan Gio. "Farah milik Ryan, dan apa yang ingin dilakukannya terhadap Farah, itu adalah urusannya, dan pasti akan ada akhirnya".


Glek! Dengan susah payah Farah menelan ludah saat mendengar perkataan Gio.


●●●


Ryan duduk di sebuah kapal kecil. Ia. Memandang ke lautan lepas yang tenang di temani segelas wine di tangannya. Kaca mata hitam bertengger di wajahnya hingga semakin menambah ketampanannya.


Tiga minggu Ia pergi ke daratan. Mengurus banyak hal. Bukan urusan Dark Devil. Melainkan urusannya sendiri. Sekali lagi Ryan merasa marah pada campur tangan orang yang bermaksud baik, yang telah membuatnya harus pergi dari mansionnya yang nyaman di pusat kota dan memaksanya untuk tinggal di sebuah pulau terpencil di tengah laut.

__ADS_1


Banyak orang mengetahui bahwa Ia adalah adik dari Keith Smith, pimpinan mafia Dark Devil. Walau sekilas saja siapapun yang melihat tidak akan percaya karena tidak ada kemiripan satu sama lain, dan dengan bodohnya Keith justru melabeli dirinya dengan 'adik tiri tercinta' hingga membuat Ryan geli.


Keith Smith adalah orang yang melakukan segalanya dengan teratur dan terencana. Ada beberapa alasan kenapa Ryan bisa sampai di sini, melakukan pekerjaan yang tidak selevel dengan statusnya, tetapi sesuai dengan seleranya. Pekerjaan ini memberinya kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama Keith dan Gege. Ryan merasa Gege akan lebih baik di tangan Keith Smith. Keith tidak pernah memaksakan potensi seseorang, dia hanya memberi kesempatan agar potensi itu bisa berkembang.


Berada di lingkup Dark Devil pun bisa memberinya kesempatan untuk membalaskan dendam pribadinya pada Andreas. Dokumen Andreas yang berhasil Gege dapatkan dari tangan monster itu akan Ia gunakan di waktu yang tepat. Ryan harus melakukannya dengan rapi dan sehati-hati mungkin, seperti saat Ia menyimpan dokumen itu di dalam brankas besi yang akan meledak jika bukan dengan retinanya untuk membuka kunci. Ryan bersumpah suatu hari nanti, Andreas akan membayar pembunuhan yang telah dilakukan oleh pria itu. Andreas si manusia berhati monster.


Satu-satunya yang tidak berhasil didapatkan oleh Ryan adalah identitas Farah. Gadis muda yang sepolos anak kucing baru lahir. Farah yang manis dengan mata cokelatnya yang memukau. Ryan selalu yakin jika gadis itu bukanlah wanita yang biasa dengan mudahnya Ia tiduri. Gege bersumpah atas-bawah, kanan-kiri, jika gadis itu masih perawan.


●●●


Sore hari, Ryan telah kembali ke markas Dark Devil. Dengan mengulum senyum, Ia membayangkan wajah Farah yang jengkel sekaligus takut jika sedang berhadapan dengannya. Ryan membuka pintu kamar dan tidak mendapati gadis itu di dalam kamar. Namun terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi. Dengan langkah jinjit yang Ryan pun tak tahu kenapa Ia melakukannya, melangkah sangat hati-hati ke kamar mandi.


Ryan mendapati Farah sedang berdiri di sisi bathtub, hanya dengan mengenakan celana pendek miliknya, tetapi telanjang dari pinggang ke atas, kemeja putih milik Ryan teronggok di atas washtafel. Farah mematikan kran air lalu berbalik dan terkejut saat melihat Ryan hingga hampir terjatuh.


Ryan merangkul pinggang Farah. "Apa kau membutuhkan bantuan?". Perasaan yang saat ini Ryan rasakan adalah sebuah kehangatan tak diinginkan, yang terkadang dirasakannya saat Ia sedang bersama Farah. Ryan merasa gairah datang menerpanya, dengan cepat dan begitu kuat. "Atau....., Aku pikir akulah yang membutuhkan bantuan".


Farah dengan cepat meloloskan diri dari rangkulan tangan Ryan di pinggangnya dan dengan cepat menyilangkan tangannya di depan dada dengan sorot ketakutan.


...♤♤♤...

__ADS_1


Ayo like komen hadiaaah🤣


__ADS_2