
Farah memutuskan untuk mencari keberadaan Ryan, Ia melewati koridor yang sangat panjang dan berbelok-belok. Lantai berwarna cokelat keemasan yang terbuat dari granit biasa dan karpetnya yang sederhana tidak sesuai untuk mansion seorang pewaris keluarga kaya. Tidak ada yang menyiratkan kemewahan sebuah mansion di sini, selain koleksi lukisan yang sangat berharga, yang tergantung di dinding. Ini adalah rumah tua yang sederhana dan hangat; pemiliknya sengaja menciptakan suasana yang nyaman dan informal, tapi tidak berkesan mewah. Jika saja rumah ini bukan milik Ryan, ia pasti sudah sangat terpesona. Ornamen yang menarik membuat Farah gatal ingin mengamatinya dengan lebih seksama, dan jendela yang dilewatinya memperlihatkan perpaduan warna yang cerah di taman. Farah merasakan kebahagiaannya bisa diraih di sini. Itu adalah pikiran yang sangat melankolis..
Setelah menenangkan dirinya dan menghirup napas dalam-dalam, Farah melangkah masuk ke ruangan yang lebar dan terang dan mendapati Ryan sendirian sedang duduk di depan meja kerja yang terbuat dari kayu jati.
Ryan terlihat segar, sesegar udara pagi. Ryan mengenakan dasi putih dan setelan mewah, yang memang menjadi pakaian khas para bangsawan, tapi bagi Farah, Ryan tetap terlihat seperti mafia, dan Farah masih merasa takjub saat mengetahui bahwa pelayan Ryan ternyata juga sangat mengagumi pria itu, dan melihatnya sebagai pria yang sempurna.
"Aku tidak tahu kenapa aku menikah denganmu," Interupsi Farah dengan suara lantang dari ambang pintu. "Sejak menikah, yang kurasakan hanyalah kebosanan."
Mata Ryan yang berkilau langsung teralih kepada Farah. Setelah terdiam sejenak, yang sepertinya digunakan Ryan untuk mengamati wajah Farah, Ryan menimpali, "Aku juga tidak tahu kenapa kau mau menikah denganku. Kenapa kau mau menikah denganku?"
'Karena aku mencintaimu'. Farah hanya bisa mengatakan kalimat itu di dalam hati. "Karena sepertinya hanya itu satu- satunya cara agar aku bisa tidur."
Farah melangkah masuk ke ruangan itu. Melalui sinar matahari yang masuk melalui jendela, Farah memiliki perspektif baru, karena ia bisa melihat wajah Ryan dengan lebih baik. Meskipun sudah beristirahat, Ryan tidak terlihat santai atau tenang.
Ryan menyingkirkan kertas yang ada di depannya. Jari-jari Ryan mengepal di samping kertas tersebut. "Jika alasan kau mau menikah denganku adalah untuk melindungi kakakmu, aku ingin kau tahu bahwa semua itu tidak perlu. Aku tidak akan pernah menyakiti kakakmu."
"Astaga, kau pikir aku bisa menebaknya dengan perlakuanmu setelah ini kepadaku." Penekanan pada kata terakhir terdengar getir, bahkanlebih getir daripada yang dimaksudkan oleh Farah. Ryan masih duduk di tempatnya, tidak bergerak, dan ia tidak yakin dari mana ia tahu- mungkin dari perubahan ekspresi Ryan yang hanya bisa dirasakan dan bukannya dilihat. Tetapi ia menyadari bahwa kata-katanya membuat Ryan tersentak. Hal semacam itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Atau setidaknya, jika pernah terjadi, Ryan tidak pernah memperlihatkannya. Kemungkinan lain bukan kata-katanya yang membuat Ryan terluka, tapi nada suaranya.
__ADS_1
Seberapa besar penyesalan (jika memang ada) yang dirasakan Ryan akibat penyiksaan yang dilakukan pria itu kepadanya? Farah berharap cukup besar, dan yang berbicara adalah kegetirannya lagi. Ada dua cara untuk mengatasi ini. Pertama, ia harus mencari tahu dengan pikiran yang rasional dan jelas, apa sebenarnya yang ia harapkan dari Ryan. Kedua, ia bisa berhenti berpikir dan mengikuti setiap emosi yang dirasakannya, sampai ia bisa mengungkapkan semua perasaan yang ada di hatinya kepada Ryan.
Farah melangkah semakin ke dalam, berusaha mengatasi kesunyian dengan berpura-pura mengamati sekelilingnya, yang untung saja merupakan ruangan yang menarik untuk diamati. Jika tidak, ia pasti akan terlihat konyol.
Ruangan itu berisikan ratusan proyek yang belum terselesaikan. Puzzle bergambar peta tergeletak di tengah meja dengan bagian sebelah kanan yang belum lengkap. Di atas kain kanvas yang ada di dekat kursi jendela, seseorang baru sama mulai mentranplantasi bunga geranium merah dan pink dari sebuah pot keramik ketiga buah pot yang lebih kecil; baru satu yang selesai dan terlihat sangat indah. Benang bergelantungan dari sebuah gendang yang sedang dihias. Sebuah kotak dipenuhi oleh buku-buku berada di meja samping dan ada setumpuk kertas berisi botol lem. resep tulisan tangan yang tergeletak di atas sebuah buku.
Tanpa benar-benar memutuskan, sepertinya Farah sudah berhenti membuat rencana. Rencana A, rencana B, rencana cadangan B jika rencana B tidak berhasil, rencana cadangan C, jika rencana A dan B gagal.... Kenapa ia menikah dengan Ryan? Penolakan pertamanya sangat tegas, sulit untuk mengerti kenapa ketegasannya bisa dengan mudah mencair. Setidaknya, ia bisa memaksa agar penikahan mereka ditunda satu atau dua hari.
Dengan memunggungi Ryan, Farah membuka penutup botol lem, membuka buku yang sudah ditandai halamannya, dan mulai mengolesi lem ke bagian belakang resep dengan jari manisnya. Farah lalu melihat itu adalah resep kue pie dan membuatnya tersenyum. Berteman dekat dengan Gio dan Will telah membuat cara berpikirnya berubah.
"Besok."
"Ibumu juga?"
"Ibuku juga."
Farah mengambil gunting kecil yang terlihat sangat tajam dari dalam keranjang dan mulai menggunting resep lain. "Seperti apa dia?"
__ADS_1
"Ibuku? Seorang gadis miskin. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencabut tanaman dari satu pot dan memindahkannya ke pot lain. Saat aku masih kecil, setiap kali aku ingin menemuinya aku akan mencarinya di rumah melalui jejak tanah yang tertinggal di lantai."
Terkejut oleh bayangan itu, Farah menempelkan resep yang ada di tangannya dan mulai menggunting resep ketiga, saat suara Ryan terdengar lagi.
"Farah.... aku mencintaimu."
Salah satu mata gunting menggores jarinya. Farah langsung melepaskan cengkeraman tangannya, dan gunting itu jatuh ke atas meja dengan bunyi berdenting keras. Darah berwarna merah tua dari jarinya yang terluka menetes ke atas halaman buku yang berwarna putih, seperti kelopak bunga yang jatuh di atas salju.
"Omong kosong!" Jantung Farah berdetak cepat, gemanya terdengar hingga ke telinga. "Kemarin kau tidak mencintaiku, saat kau pikir aku memiliki hubungan dengan, kau tahu siapa maksudku. Kemudian kau mengikatku sepanjang perjalanan."
Suasana berubah sunyi dan canggung. Kemudian, Ryan berkata, "Marah pada seseorang tidak sama dengan tidak mencintainya."
Jari Farah yang terluka mengepal dengan erat. "Kau melupakan apa yang sudah kau lakukan kepadaku. Orang yang jatuh cinta tidak akan menyakiti satu sama lain."
Suara Ryan yang terdengar dari belakang bahunya, sarat dengan kepedihan. "Ada beberapa hal yang harus kau pelajari tentang cinta, jika kau berpikir begitu. Cinta adalah pedang bermata dua, Farah. Aku tidak masalah jika kau adalah kekasih Andreas. Yang tidak bisa aku terima adalah bahwa saat kau berada di dalam pelukanku, mungkin kau hanya sedang berpura-pura."
...♤♤♤...
__ADS_1