
Ryan terbangun tiga puluh menit kemudian, Ia menemukan Gege di padang rumput sebelah selatan yang berada di dekat vila, sedang duduk di bawah pohon yang rindang. Gege duduk bersandar di batang pohon, lututnya diangkat, dan diatasnya Gege melipat tangan dan menguburkan wajahnya. Tangan kurus Gege meremas daun besar yang pasti diambilnya dari dahan lebat di atasnya.
Ryan tahu lebih baik untuk tidak menunjukkan simpati kepada Gege.nIa justru duduk di atas rumput dan menunggu sampai Gege melihatnya. Ketika pemuda itu mengangkat kepala, Ryan melihat bahwa Gege tidak menangis. Namun, selama bertahun-tahun pertemanan mereka, baru kali ini Ryan melihat Gege terlihat seperti remaja yang sesuai dengan usianya. Sambil berbicara dengan santai, seolah ini hanyalah hari biasa dalam hidup mereka, Ryan kembali mengajukan pertanyaan yang sama seperti yang selalu mereka ulang setiap hari sejak Farah jatuh sakit: tentang obat yang mereka berikan padanya, dosisnya, frekuensinya. Bahkan di tengah keadaan panik, pikiran mereka mengikuti pola kebiasaan, dan setelah merasa lelah, Ryan berbaring di atas rumput dan menatap dahan pohon yang lebat.
"Bisakah kita memaksanya untuk menelan? Apakah itu mungkin?"
"Mungkin," ujar Gege," tapi sore ini aku rasa tidak."
"Apa yang akan terjadi jika kita melipatgandakan dosis semua obat yang kita berikan kepadanya?"
"Aku sudah pernah bilang kepadamu. Kejang-kejang. Kematian."
"Jika kita naikkan sepertiga?", Tanya Ryan lagi.
"Ryan, kita sudah melakukannya kemarin. Aku akan mem- bunuhnya dengan dosis yang-" Namun, Ryan sudah melompat bangun seperti cambuk, menarik Gege bersamanya sambil mencengkeram bagian depan kemeja Gege dengan kuat. Untuk pertama kalinya. tidak ada yang bertindak saat masing-masing dari mereka membaca kelelahan di mata satu sama lain.
Dengan suara yang tidak bisa dikendalikan, Ryan berkata, "Baiklah, kalau begitu. Sekarang kau tahu. Aku nyaris menghabisi bocah yang mudah putus asa seperti dirimu. Jangan memaksaku untuk melakukan sesuatu yang akan membuatku meminta maaf nanti. Gadis itu tidak akan mati."
Dengan amarah yang sama besarnya, Gege berkata, "Kenapa? Karena Keith mengatakan kepada Farah, dia tidak boleh mati? Tuhan dan iblis tidak akan mendengarkan Keith. Atau kau berpikir rasa bersalah yang teramat besar bisa menembus masuk ke kulitnya dan membuatnya tetap hidup? Apakah kau menyadari bahwa kau masih menyebutnya 'gadis"? Apakah dia harus mati dulu sebelum kau mau mengakui bahwa sejak awal dia adalah seorang wanita untukmu? Untukku dia lebih dari sekadar tubuh yang hangat. Singkirkan tangan sialanmu dari kemejaku!"
__ADS_1
Ryan melepaskan Gege dengan kecepatan yang pasti akan membuat takut orang yang tidak terbiasa dengan kekerasan, dan Gege mendapati dirinya sedang menatap mata dingin Ryan.
"Jangan menilai terlalu dalam perasaan yang kau rasakan terhadap Farah, Ge, ujar Ryan dengan lembut. "Kau mungkin akan terkejut."
"Iya! Silakan saja, bongkar semua kemunafikan orang lain. Apakah itu kemunafikanku? Kalau begitu, selanjutnya kita akan membongkar kemunafikanmu. Kenapa kau masih belum melepaskan Farah?". Sentak Gege berkilat marah.
Ryan membiarkan keheningan yang dingin menyelimuti mereka. Ketika akhirnya ia bicara, suara Ryan terdengar ringan dan sedingin es. "Setiap kali aku melihat Farah, aku tahu dia sudah mau mematuhiku".
"Kau tahu apa yang lucu? Kau sangat yakin Farahmemiliki hubungan dengan Andreas, tapi itu hanyalah alasanmu untuk tetap mempertahankannya." Gege melangkah mundur, gerakan mendadak itu membuat bahu Gege bergetar.
"Kau tidak melepaskan Farah karena kau menginginkannya. Bahkan, aku sudah bisa melihatnya sejak di club pinggir pantai itu. Perasaan itu menjadi penyakit yang menggerogotimu. Tapi, Farah masih sangat muda dan sensitif, berasal dari keluarga baik-baik, dan hal itu membuat keberanianmu menguap. Kau bisa saja memiliki Farah, tapi lebih mudah bagi hati nuranimu untuk mengabaikan kebutuhanmu untuk memilikinya, bahkan sekali pun itu berarti kau akan menjadi semakin terikat dengan Farah. Seorang pria yang jujur pasti akan memerkosa Farah, lalu melepaskannya."
"Apakah kau marah kepadaku," tanya Ryan dengan suara pelan, "karena aku ingin membawanya ke tempat tidur atau karena aku belum membawanya ke tempat tidur?"
"Aku marah kepadamu karena kau terus menjadikannya sebagai tawanan, selagi kau memikirkan apakah gairahmu lebih penting daripada kesombonganmu. Akan lebih baik jika kau memerkosa Farah dan melepaskannya, daripada terus membiarkannya tersiksa selama berminggu-minggu di dalam sekapanmu."
Daun yang sejak tadi dicengkeram Gege terlepas. Ryan menunduk untuk mengambilnya, dan menegakkan tubuh kembali sambil menatap daun yang mengilap itu, seolah warna terangnya membuat Ryan takjub dan mendorongnya untuk menyusuri jari di atas tulang daunnya. Saat menoleh ke arah Gege lagi, Ryan berkata, "Kenapa kau menduga aku bisa melakukan keduanya?Kau tidak mengenalku sebaik yang kau pikirkan."
"Sungguh?" Jawaban Gege terdengar sangat sinis. "Kalau begitu, coba jelaskan kepadaku siapa dirimu yang sebenarnya. Apa yang akan kau rasakan jika akhirnya Farah mati?"
__ADS_1
Gege terdiam. Meskipun Ryan tidak bisa merasakan perubahan ekspresinya sendiri, ia melihat Gege memejamkan mata dengan erat dan menutupi mata serta kening dengan lengan panjang, yang terlihat kurus kering.
Gege berbalik dengan cepat, mencoba untuk berjalan menjauh, tetapi ia mendapati bahwa otot kakinya tidak bisa berfungsi dengan baik. Syok yang dialami Gege sangat besar sehingga ia hampir menganggap dirinya sedang sakit. Hampir. Mencoba untuk bersikap praktis, Gege langsung berlutut, menopangkan tubuh dengan tangan saat ia terjatuh ke tanah. Gege berlutut, menahan gelombang mual yang dirasakannya. Beberapa menit kemudian, setelah semua itu mereda, Gege baru sadar bahwa lengan Ryan sudah menopang bahunya, tekanan tangan Ryan terasa hangat dan meyakinkan. Gege bergumam, "Aku minta maaf. Jujur. Aku tidak bersungguh-sungguh dengan apa yang tadi kukatakan."
"Tidak masalah," kata Ryan.
Ketika Gege berbalik ke arah Ryan, ia mendapati Ryan sedang menatapnya dengan sorot yang memancarkan kebaikan hati. Terpikir oleh Gege bahwa ia tidak pernah melihat Ryan terlihat selelah itu. Kelelahan membuat Ryan salah mengartikan ekspresi Gege.
Ryan berkata, "Aku minta maaf karena telah mengacaukannya. Seharusnya, aku berada di sana bersamamu saat Keith melakukan drama kecilnya."
"Tidak. Keith sengaja melakukannya saat kau tidak berada di sana. Kau tahu bagaimana metode Keith. Terbagi-bagi dan bantai hingga tuntas." Gegebmengamati wajah Ryan.
Dari semua hal yang diminta Ryan darinya, tidak ada yang untuk dirinya sendiri, baik itu rasa simpati, jalan keluar, atau bahkan kesempatan untuk tidur. Ini bukan pertama kalinya Gege menyadari betapa tidak egoisnya Ryan dalam berteman, dan jika ada orang yang berpikir berbeda, maka itu adalah ilusi yang diciptakan oleh kuatnya kesan yang ditinggalkan Ryan terhadap orang lain. Gege merasakan Ryan menepuk punggungnya dan menarik lengan pria itu dari sana. Berharap ia sudah cukup tenang dari kontak fisik tadi, Gege menatap Ryan dengan sorot yang setenang mungkin.
"Kau harus cukur rambut," ujar Gege. Dan, itu adalah lelucon di antara mereka. Tidak ada seorang pun yang masih mengingat konteks awalnya, tetapi sepertinya ada hubungannya dengan rambut Gege yang jauh lebih panjang daripada Ryan. Kemudian, tidak mampu lagi menyembunyikan keputusasaannya, Gegebberkata, "Kumohon. Bantu aku untuk membuatnya tetap hidup."
Ryan sedang duduk bersila di atas rumput, memutar daun di antara kedua jarinya. "Kau bisa mengandalkanku dalam hal itu.."
...♤♤♤...
__ADS_1
Buat mati aja si ngeyel?🥲