Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 67


__ADS_3

Di garis pantai, Farah bisa melihat sebuah perahu sudah merapat dan dari sana turun seorang pemuda yang membawa kotak dokumen. Kancing emas dan pakaian sutra menjadi penanda bahwa pemuda itu adalah putra orang kaya raya. Berbahu lebar dan seragamnya disetrika dengan sempurna, pemuda itu melihat Maurer yang ada di samping Ryan dan mulai berjalan ke arah mereka melewati anak buah Keith yang sedang mabuk. Ekspresi wajah pemuda itu campuran antara ngeri dan kagum. Ketika pemuda itu sudah sampai ke dekat mereka, Farah melihat pemuda itu menatap Ryan dengan sorot memuja sebelum memberi hormat dan menyerahkan kotak dokumen pada Maurer.


"Aku sudah mengatakannya kepadamu tadi bahwa aku memiliki sesuatu yang ingin kutunjukan kepadamu," ujar Maurer sambil membuka tali pengikat kotak dokumennya.


"Jika tidak salah, kau bilang itu pengumuman hadiah untuk orang yang berhasil menangkapku?" tanya Keith.


Di depan mata Farah dunia seakan membeku, dan itu berlangsung selama beberapa saat, kemudian dunia itu jungkir balik. Tatapan mata gelap Keith beralih ke wajah Farah, kemudian sambil menyunggingkan senyum, tatapan itu kembali lagi ke Maurer yang sedang berbicara.


"Kami memutuskan akan lebih baik jika kau melihatnya sendiri, Ryan. Yang membuat pengumuman ini berbeda dari yang lain adalah bukan saja dilengkapi dengan ilustrasi dan foto. Tapi ilustrasi itu juga digambar dengan kemampuan yang mengagumkan. Terlebih lagi, ada gambar beberapa orang anak buah Dark Devil dan Keith Smith. Dan tiga orang agen kita yang paling efektif di wilayah negara ini." Ucap Maurer seraya menatap Ryan yang terkejut.


"Iya! Sudah sepantasnya kau terlihat terkejut. Bahkan kami sampai terperangah. Tapi sejujurnya, yang paling menganggetkan kami adalah mendapat gambarmu ada di antara mereka, Ryan. Aku tidak bisa menjabarkan besarnya kekhawatiran kami, saat kami menyadari bahwa kau beroperasi di wilayah negara ini dengan risiko yang sangat besar! Jika kau dilihat oleh orang yang mengetahui tentang pengumuman itu, mereka pasti akan menggantungmu lebih dulu dan baru mengajukan pertanyaan, Yah, itulah yang pasti akan terjadi," jelas Maurer sambil menyerahkan lembaran poster itu kepada Keith.


"Untung saja kami berhasil menyingkirkan semua poster itu. Asisten yang loyal di tempat percetakan memberitahukannya pada orang-orang kami, dan poster itu langsung dilenyapkan.... nah, Keith, bagaimana menurutmu?"


"Tapi gambar ini sangat memukau," komentar Keith seraya memperhatikan satu per satu poster tersebut. "Aku rasa orang yang mengambil foto ini sedang terburu-buru hingga hasilnya tidak sempurna, namun beruntungnya orang itu memiliki keahlian menggambar yang bagus. Ada satu gambar yang membuatku tertarik." Keith membaca poster itu, "Pemuda yang dikenal dengan nama Gege. Dicari untuk kejahatan perompakan, perampokan, penculikan, pencurian, dan penganiayaan. Hadiah lima puluh juta rupiah."


Di dalam diri Farah, seolah ada jejeran kartu yang semakin lama semakin banyak yang jatuh, saat Gege bangun dan berjalan ke arah Keith.

__ADS_1


Mustahil untuk menebak apa yang dipikirkan oleh Gege, saat pemuda itu mengamati poster tersebut, menyerahkannya kembali kepada Keith, dan berkata, "Senang sekali bisa diinginkan."


"Apakah kau memperhatikan gaya pelukisnya? Terasa tidak asing iya kan? Orang pasti bisa langsung mengenalinya jika pernah melihat lukisannya yang lain sebelumnya." Maurer menyerahkan poster itu kepada Ryan seraya berkata, "Bagaimana menurutmu?"


Mungkin ada petunjuk yang bisa dibaca Ryan pada seringaian Keith atau pada ekspresi wajah Gege yang tanpa emosi. Mungkin saat Ryan menarik tangannya dari sisi Farah dan bangun dengan perlahan, pria itu sudah mengetahuinya. Tangan Ryan yang panjang menerima poster itu. Mata kecokelatan Ryan mengamati gambar yang ada di dalamnya satu per satu, tidak sedikit pun terlihat lebih tertarik dengan potret dirinya daripada yang lain. Gambar itu sangat mengagumkan, gambar itu terlihat jelas merupakan hasil goresan tangan Farah.


Jantung Farah mulai berdetak dua kali lebih cepat, dan bergetar hingga ke paru-parunya. Meskipun kulitnya mati rasa, tapi Farah tahu wajahnya pasti pucat pasi. Farah bisa merasakan tatapan tajam Gege, saat ia mendengar rekan Maurer, Liker, berkata, "Jelas sekali pelukisnya adalah seorang pria tua. Tebakanku, dia seorang pelukis profesional, mungkin belajar di Italia. Orang yang sangat berbakat. Sayang. Kami mendapatkan perintah untuk mengakhiri kariernya."


"Maksudmu membunuhnya?" tanya Keith dengan nada suara tanpa emosi.


"Sangat disayangkan," komentar Maurer tidak senang, "Jika saja pelukisnya tidak terlalu berbakat, jika objek yang dipilihnya tidak terlalu penting, maka kita pasti bisa lebih menunjukkan belas kasihan." Sambil menoleh ke Ryan, Maurer melanjutkan ucapannya, "Seperti yang sudah kau tegaskan dengan sangat jelas dalam laporanmu, jaringan mata-mata kita sangat menyedihkan. Aku yakin kau memiliki kemampuan yang jauh lebih baik. Mengingat ada cukup banyak anak buah Dark Devil yang ikut dijadikan objek gambar, kami berharap kau mungkin mengetahui siapa pelukis itu. Apakah kau bisa mencari tahu siapa dia?".


"Aku yang akan mengurusnya," ujar Ryan. "Dengarkan kata-kataku, Nak," desak Maurer. "Perintah agar kau kembali ke New York datang langsung dari Whitehall. Tidak ada satu pun yang berharap kau akan turun tangan sendiri dalam masalah ini. Jika kau bisa memberi kami nama pelukis itu-" Ryan memberikan poster itu ke tangan Maurer, "Apakah aku memberikan isyarat bahwa aku ingin memperdebatkan masalah ini lebih lanjut denganmu? Serahkan kepadaku."


Setelah berdiri dan membersihkan sisa pasir di pakaiannya, Maurer berkata dengan ceria, "Baiklah, jika itu yang kau inginkan. Untuk masalah perdebatan, kau orang terakhir di dunia ini yang ingin kuajak berdebat. Kemungkinan besar, aku akan berakhir dengan otak yang lebih rumit daripada puzzle Cina. Kau terlalu cerdas untuk kulawan, dan kau juga tahu itu."


Suara berdengung di telinga Farah terdengar semakin keras sehingga ia nyaris tidak bisa mendengar percakapan terakhir mereka dan serangkaian basa-basi yang terlontar di antara mereka. Maurer mulai berjalan ke arah perahu, dengan pemuda berseragam di sisinya. Liker baru saja hendak mengikuti tapi Ryan menghentikannya dengan memberikan isyarat. Ketika Maurer sudah mendekati pantai dan terlalu jauh untuk mendengarnya, Ryan berkata, "Apakah kau berhasil mencari tahu apakah Andreas mensponsori seorang gadis untuk berpergian bersama nya?"

__ADS_1


"Iya". Liker menyisiri rambutnya dengan tangan dan memakai topinya. "Sayangnya aku hanya punya satu informasi berharga tentang gadis itu. Sulit untuk mencari tahu sesuatu tanpa menarik perhatian, dan kau secara khusus memintaku agar bekerja dengan sangat rahasia."


"Aku sangat menghargainya, Liker." ujar Ryan. "Terima kasih. Apa yang kau ketahui?"


"Kau benar. Andreas memang mensponsori seorang gadis bernama Farah untuk pergi ke Manhattan. Aku tidak bisa menemukan nama keluarganya, tapi salah satu petugas bandara ingat bahwa alamatnya di Bogor. Aku bisa melihat bahwa ini bukanlah informasi yang kau harapkan. Aku minta maaf."


"Tidak masalah. Tolong, lanjutkan." "Sepertinya wanita muda itu adalah kekasih Andreas," lanjut Liker..


"Dari mana kau tahu?".


Wajah Liker yang memerah terlihat jelas, meskipun di tengah cahaya redup. "Ada komentar di antara para petugas bandara pada hari wanita muda itu ke bandara, Wanita muda itu sangat cantik dan sikapnya menunjukkan bahwa dia berasal dari keluarga baik-baik. Andreas cukup ramah dengan petugas bandara di area ruang tunggu penerbangan kelas utama, jadi mereka mengobrol sedikit dan mengakui hubungannya dengan wanita muda itu."


"Liker. Berterus-teranglah." Ujar Ryan dengan serius.


"Baik, aku akan berterus-terang." Rona wajah Liker sudah menjalar sampai ke garis rambut.


"Andreas mengatakan pada mereka bahwa penampilan lugu gadis itu adalah taktik yang sengaja dikembangkan untuk menyelamatkan...... menyelamatkan-" Liker menoleh kepada Farah. "Ryan, ada kata-kata kasar yang tidak ingin kusampaikan di depan wanita muda mana pun, tidak peduli apa pun statusnya."

__ADS_1


Sambil melingkari lengan di seputar bahu Liker, Ryan mulai mengajak pria itu untuk berjalan menuju ke pantai. "Baiklah, kita pergi dari sini". Ujar Ryan seraya melirik Farah yang wajahnya seputih kapas.


...♤♤♤...


__ADS_2