Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 72


__ADS_3

"Pria itu adalah seorang mafia! Dia menculikku dan menawanku selama berbulan-bulan di sebuah pulau! Dia tidak mau membebaskan aku meskipun aku sudah berkali-kali memohon padanya!". Teriak Farah dengan frustasi.


Mungkin sebaiknya Farah menyimpan napasnya. Kebenaran terkadang tidak lebih meyakinkan daripada kebohongan, apalagi jika kebenaran yang dikatakannya terdengar tidak masuk akal.


Dengan putus asa dan tidak sedikit pun terkejut, Farah melihat Ryan dengan sangat meyakinkan menunjukkan sikap penuh kasih dan melindungi.


"Oh, omong kosong," ujar Ryan kepada Farah sambil tertawa. "Bisa-bisanya kau mengarang cerita seperti itu? Baiklah, kalau begitu. Seperti yang kau bilang, aku adalah seorang mafia, dan aku telah menculikmu."


"Tapi, itu memang benar! Dia memang mafia dan telah menculikku! Dia sudah mengakuinya!"


Tidak ada gunanya. Sama sekali tidak berhasil. Istri pemilik hotel mulai terlihat bingung, para petugas hotel terkikik, dan kedua wanita yang membawa anjing pudel mengeluh tentang kurang tegasnya pendidikan untuk wanita muda di zaman sekarang. Pemilik hotel menepuk punggung Ryan dengan ekspresi bersimpati. Olok- olok terhadap Farah masih berlanjut, dan dibiarkan saja oleh Ryan sampai pria itu merasa sudah cukup membalas perbuatan Farah.


Sekitar satu kilometer dari hotel, Ryan menghentikan mobil di samping sebuah jembatan batu, Farah bergeser menjauh dari Ryan, tetapi tidak memiliki sisa kekuatan untuk melawan saat Ryan mengeluarkan tali dan mengikat pergelangan tangannya.


"Aku terpaksa melakukan ini," tegas Ryan dengan dingin. "Kau sendiri yang memintanya."


Malam datang, langit hitam menutupi cakrawala. Mereka sering sekali berhenti dan Ryan sudah dua kali membawakan makanan ke dalam mobil, dan Farah harus memakannya dengan tangan yang terikat. Farah harus meminta Ryan berhenti lagi dengan harga diri yang remuk redam. Kali ini kamar mandi yang digunakannya adalah tempat tersembunyi di area stasiun bawah tanah dan Farah harus melakukannya dengan susah payah karena Ryan menolak untuk membuka ikatan tangannya. Jika mata kecokelatan Ryan yang tajam melihat sisa air mata di pipi Farah, yang sulit untuk diseka dengan tangan yang terikat saat Ia kembali ke dalam mobil. Ryan tidak memberikan tanda apa-apa. Dalam hati, Farah menarik anggapannya tentang Ryan yang masih memiliki dasar kesopanan, Farah merasa sangat marah sehingga ia hampir merasa lega karena bisa meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia membenci Ryan.


Farah tertidur, atau sepertinya begitu. Kabut abu-abu menutup pandangannya; suara gemuruh menutupi suara lain; pikirannya masih berada di alam mimpi. Tiba-tiba, kesadarannya kembali dengan sentakan kuat. Sebagian otaknya menangkap jalanan yang lebih besar, perubahan suara dan bau, dan jendela yang terang benderang terlihat oleh matanya. Farah terbangun sepenuhnya di dalam mobil yang berhenti. Punggungnya sekaku pipa besi, matanya terasa panas karena kurang istirahat, dan tenggorokannya kering. Ryan lalu membantunya berdiri, seolah dikelilingi oleh bintang yang berputar-putar. Sambil mengerjapkan mata dengan cepat saat melihat cahaya yang terang dan merasakan udara yang lebih segar, Ryan menyeretnya keluar. Farah menepiskan tangan Ryan dan menegakkan tubuhnya sendiri.


"Tidak perlu," cetus Farah. "Aku bisa jalan sendiri."


"Terserah," jawab Ryan dengan tidak acuh dan tidak melepaskan tangannya dari siku Farah. Mata Farah fokus pada sosok dingin Ryan lalu ke atas bahunya untuk melihat jalanan yang ramai dilalui oleh kendaraan yang lalu-lalang.


Bangunan besar berjejer di pinggir jalan besar, pilarnya yang besar dan jendela bergaya Venesia tampak di balik semak-semak.

__ADS_1


"Di mana aku?" bisik Farah.


"Di Manhattan. Grace Place," jelas Ryan, mengambil tas Farah dengan satu tangan dan membawa Farah melewati gerbang besi menuju ke bagian depan rumah besar bergaya mansion Palladian.


Merasa bingung karena kelelahan, Farah berkata, "Ini bukan penjara!"


"Aku rasa itu tergantung pada cara berpikir masing-masing orang," kata Ryan. tapi kemudian, saat melihat Farah terlalu lelah untuk berkomentar, Ryan menambahkan, " Secara umum tempat ini tidak bisa dikatakan sebagai penjara. Kau sudah ketakutan setengah mati, ya?".


Farah membiarkan amarahnya meledak dan bercetus, "Apakah itu akan membuatmu senang?"


"Mungkin. Semua orang suka dianggap serius. Itu sebabnya aku menambahkan"


"Orang harus menanggung hasil berbuatannya sendiri," sambung Farah. Air mata menetes ke hidung Farah dan ia langsung menghapusnya dengan salah satu bahunya yang diangkat.


Punggung Farah, yang sepanjang hari tadi masih sanggup la tegakkan di depan Ryan, mulai merosot. "Aku terlalu lelah untuk berdebat denganmu. Tunjukkan kepadaku tempat tidur mana pun, dan aku akan langsung tidur di atasnya tanpa banyak mengeluh."


Ryan tertawa. Selama berminggu-minggu, ini kali pertama Farah mendengar Ryan tertawa begitu lepas, dan Farah telah melupakan betapa menarik dan lembutnya wajah Ryan. Sudut mata Ryan terlihat santai dengan garis senyum, rambut cokelat tertiup angin malam yang sejuk.


"Semua akan kau dapatkan pada waktunya nanti," ujar Ryan. "Ada seseorang yang harus kutemui terlebih dulu."


Tangan Farah yang terikat diangkat, dengan telapak tangan menghadap ke atas, dan saat ia ditarik menuju pintu, ia bertanya dengan bingung, "Kau kenal seseorang yang tinggal di sini?"


"Iya. Ayolah, Farah. Jangan banyak bertanya."


Kelelahan dan kengerian membuat tenggorokan Farah tercekat. Ia mengamati Ryan mengangkat tangan di depan pintu mahogani dan menarik pengetuk pintu yang terbuat dari kuningan.

__ADS_1


Pintu langsung terbuka oleh seorang pria yang mengenakan seragam khusus, yang bisa dipastikan merupakan seorang kepala pelayan. Sapaan dinginnya 'Ada yang bisa kubantu?' berubah menjadi keterkejutan, saat pria itu melangkah mundur, menatap Ryan dan alisnya terangkat tinggi.


"Tuan muda!" seru pria itu.


"Selamat malam, Harris," sapa Ryan dengan suara yang tenang sambil menarik Farah ke aula depan yang besar. Ryan menoleh ke arah tangga marmer yang anggun. "Apakah Zayn ada di rumah?"


Si kepala pelayan sepertinya sudah bisa memulihkan diri dari keterkejutannya. "Ada, Tuan. Beliau baru saja pulang ke rumah dan sedang berganti pakaian di kamar." Sambil berjalan ke ambang pintu dengan sikap sopan, kepala pelayan itu melanjutkan, "Izinkan saya untuk menawarkan perpustakaan kepada Anda, Tuan muda. Di dalam sana, perapiannya sudah dinyalakan, dan saya pikir Anda pasti akan merasa nyaman di sana. Dan jika saya boleh berkata jujur, Tuan... saya ingin mengatakan betapa bahagianya saya melihat Anda sudah kembali dengan selamat dan akan segera berkumpul lagi bersama keluarga dan kenalan Anda. Ini saat yang membahagiakan. Tuan Zayn pasti ingin segera diinformasikan tentang kedatangan Anda tanpa ditunda-tunda lagi."


"Terima kasih." Dengan menggunakan tangan, yang sedang mencengkeram lengan Farah, Ryan menarik Farah ke arah pintu perpustakaan.


Mungkin Farah tidak akan bisa mengendalikan emosinya, sebaik yang diharapkannya jika dengan dipaksa, tapi pengalaman getir yang dialami belakangan ini telah melatihnya untuk tetap berpikir jernih.


Farah ditarik paksa ke dalam perpustakaan yang sangat rapi dan teratur, matanya terpaku menatap permadani Cina dan buku tua yang ada di meja perpustakaan. Ryan berdiri di depan pintu, dengan ramah menanyakan penyakit encok si kepala pelayan dan menolak tawaran untuk memberikan mantel mereka. Farah sedang bertanya-tanya apakah itu berarti mereka tidak akan berada di tempat ini terlalu lama, ketika sapaan Tuan muda perlahan teringat lagi olehnya. Dalam keadaan terkejut karena Ryan bertamu ke rumah seorang konglomerat Amerika pada tengah malam dan malu karena diperlakukan dengan kasar oleh Ryan di depan seorang kepala pelayan. Tuan muda... Tuan Muda...., Farah mengulang-ulang panggilang kepala pelayan untuk Ryan.


Siapa sebenarnya Ryan?


Suara pintu yang ditutup dengan perlahan membuat ketakutan dan kegugupan Farah meningkat, hingga bulu kuduknya merinding. Farah berbalik untuk mendapati Ryan sedang berdiri sendirian di ambang pintu. Ryan menatapnya dengan tajam, ekspresi wajah Ryan yang terlihat santai di tengah cahaya perapian, mendorong Farah menyuarakan pikirannya. Farah mendengar suara bisikannya sendiri.


"Hirundo poeciloma. Kau tahu banyak tentang burung walet. Dan, burung camar yang pernah kulihat di markas Dark Devil. Kau melatihnya untuk datang kepadamu. Karena kau adalah putra seorang naturalis, iya kan? Dan seorang seniman. Tidak ada seorang pun yang bisa memahami hasil gambarku sejelas dirimu. Dan-malam itu di pantai, aku mendengarmu....."


Ekspresi wajah Ryan tidak terlihat tertarik, seolah Farah hanya sekadar mengungkapkan teka-teki kecil seperti: Dia bisa memenuhi rumah; dia bisa memenuhi lubang; tapi dia tidak bisa memenuhi baskom. Apakah dia? Asap.


Dengan santai, tangan Ryan mulai membuka satu per satu mantel yang dipakai pria itu. Di tengah laut, di dunia Keith Smith, Ryan memiliki kekuasaan yang besar. Tadinya, Farah berpikir satu-satunya kesempatan yang bisa dimilikinya adalah pudarnya kekuasaan Ryan tanpa adanya dukungan dari Keith, tapi sekarang ia menyadari dengan frustrasi bahwa kekuasaan itu justru semakin besar, bahkan melebihi apa pun yang pernah dibayangkannya. Sambil menatap mata Ryan yang kecokelatan, Farah berkata, "Sekarang aku mengerti. Kau adalah Ryan Crandall. Iya kan?".


...♤♤♤...

__ADS_1


__ADS_2