Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 77


__ADS_3

"Astaga! Semenyedihkan itukah hidupmu?".


Sengaja mengabaikan komentar Ryan, Farah menatap rambut Ryan yang berantakan, dan berkata, "Aku serius Ryan, aku sudah sangat beradaptasi dengan kehidupan terpencil dan terkucil."


"Aku tidak terlalu yakin," ujar Ryan. "Sayangku, dengan kehidupan semacam itu, aku heran kau tidak langsung berlutut dan mencium kaki orang pertama yang menawarkan diri untuk menculikmu."


Farah mengangkat tangannya ke pelipis, seolah mencoba membuat pikirannya tetap jernih. Dengan putus asa, Farah berkata, "Aku akan mencium bagian tubuh mana pun-yang masih masuk akal-dari orang pertama yang memberiku gaun tidur dan tempat tidur nyaman."


Melalui matanya yang lelah, Farah melihat Ryan berdiri, berjalan ke arahnya dan duduk di karpet di depannya. Dengan lembut, telapak tangan Ryan mengangkat dagu Farah yang tertunduk.


"Farah, aku akan memberikan apa pun yang kau inginkan di dunia ini," ujar Ryan dengan suara yang sangat lembut. "Mungkin termasuk satu atau dua hal yang tidak kau inginkan. Tapi, pertama-tama, aku akan memberikan namaku."

__ADS_1


Pada akhirnya, Farah berkata iya. Yah, mungkin tidak persis iya. Apa yang sebenarnya ia katakan (dengan jengkel) adalah, "Oh, lakukan lah apa pun yang kau inginkan. Toh, kau akan tetap melakukannya juga. Memangnya kapan kau pernah sedikit saja mempertimbangkan pendapatku?" Farah mengatakannya tidak dengan wajah merona atau bersembunyi di balik telapak tangan, tapi, toh, ini juga bukan pernikahan pada umumnya. Meskipun begitu, ada bagian dalam diri Farah yang memang ingin menikah dengan Ryan secepat mungkin sebelum salah satu dari mereka berubah pikiran.


●●●


Farah dan Ryan menikah di sebuah mansion milik saudara lelaki Zayn. Ryan membiarkan Farah duduk selama upacara berlangsung, yang menjadi suatu kesalahan adalah Farah langsung tertidur pulas. Bibir Ryan membangunkan Farah dengan tupan lembut di bawah telinganya.


"Sayang", gumam Ryan dengan lembut, "Bangunlah sebentar saja. Kau harus mengatakan 'aku bersedia. Ayo, Farah Hanya dua kata saja.".


...


Hari sudah pagi saat Farah turun lagi dari mobil. Farah hanya sekilas melihat kediaman yang megah dan terlihat hangat, dengan dinding terbuat dari batu, sebelum ia dibawa ke dalam dan diurusi oleh orang asing. Untunglah, wanita-yang mengenakan celemek, dengan ramah membawanya menaiki tangga kayu ek menuju ke kamar yang nyaman dan elegan dengan tirai sutra berwarna hijau mint. Di kamar itu, sudah ada Ibu Brenda, seorang wanita tua yang memakai baju sutra biru keabu-abuan, dan mampu membuat Farah merasa lebih tenang dan nyaman.

__ADS_1


Menurut keterangan pelayan yang lebih muda. Ibu Brenda adalah pengasuh ayah Ryan, hingga mengasuh Ryan sendiri. Selesai membersihkan diri, Farah melihat sebuah jubah tidur yang lembut dengan tali satin berwarna biru dan sulaman berbentuk berlian di bagian lengan yang Farah ketahui dan yakini kalau itu adalah miliknya yang tidak pernah lagi dipakainya sejak diseret dalam keadaan setengah sadar dari bandara. Karena bingung melihat pakaiannya ada di sini, Farah bertanya pada Ibu Brenda di mana Tante Okta berada dan diberi tahu bahwa tantenya itu sedang berada di mansion utama bersama ibu Ryan, tapi tidak diragukan lagi mereka akan bergegas datang jika mendengar kabar pernikahan Ryan dengan Farah!


Kebingungan dan penasaran berbaur menjadi satu di dalam otaknya, menuntut perhatian dan interpretasi, saat kepalanya direbahkan di atas bantal. Namun, aroma vanila dari seprai linen tercium olehnya, dan membuat seluruh indranya terasa tenang dan nyaman, sampai tidak ada lagi yang bisa dipikirkannya. Kemudian, Farah langsung tertidur pulas.


Farah terbangun di tengah pancaran sinar matahari sore yang masuk melalui jendela yang dihiasi tirai indah. Tempat tidur dialasi seprai berwarna cerah. Di samping tempat tidur, terdapat aneka bunga beraneka warna biru, salem, putih dan pink-ditata di atas vas porselen. Pera- botnya anggun dan elegan dengan warna gading, cokelat, dan hitam, dengan bantalan bermotif bunga-bungaan.


Tidak lama kemudian, seorang pelayan datang, dengan sikap ramah dan mungkin sedikit kagum, tapi dengan cekatan pelayan itu membawa Farah ke ruang ganti, tempat sisa pakaian Farah yang dibawa dari bandara tersimpan dengan rapi dan bersih. Farah memakan sup dengan krim, salad ketimun, kacang panggang, dan puding yang sangat lezat.


Farah mengenakan gaun satin warna pink, yang dibelikan Tante Okta, tetapi tidak pernah ia pakai. Butiran kristal menghiasi bagian lengannya yang bergaya Spayol. Di depan kaca besar, Farah bisa melihat bahwa gaun itu berayun dengan menarik di atas pinggulnya saat ia bergerak, meskipun hal sepele semacam itu tidak akan terlalu diperhatikan. Saat mengamati pelayan menata rambutnya, syok yang dialaminya selama dua hari terakhir ini mulai memudar seperti kabut yang ada di atas danau. Emosi pertama yang dirasakan dan dikenalinya adalah perasaan bersalah. Rasanya sayang sekali jika ia sama sekali tidak menunjukkan sikap histeris. Ada ribuan alasan kenapa ia harus marah kepada Ryan.Kemungkinan yang terbesar adalah Ryan menikahi nya hanya untuk membalas dendam pada Andreas, pria yang sekarang sangat dibencinya. Ia adalah seorang gadis Asia biasa. Kenapa ia bisa sampai menikah dengan seorang pewaris dari Amerika yang menghabiskan sebagian besar waktunya di markas mafia? Tidak masuk akal. Namun, toh, semua memang terasa tidak masuk akal, sejak Andreas memberi tahunya bahwa ia akan terbang ke New York. Dan tidak ada seorang pun yang peduli untuk memikirkan betapa tidak masuk akalnya semua itu.


Yang Farah yakini adalah perasaan terperangkap yang ditimbul kan karena mencintai Ryan telah lenyap. Ia merasakan perubahan di tubuhnya, terasa ringan. Seolah ia tidak lagi mengkhawatirkan situasinya yang tidak jelas. Kegembiraan yang berkembang di dalam diri Farah adalah bentuk perasaan yang dimiliki semua pengantin pada pagi hari. Setelah pernikahan,byang paling ia inginkan saat ini adalah berada di dalam pelukan Ryan. Malang sekali hatinya, terperangkap oleh Ryan meskipun ia sudah berusaha mencegahnya. Farah merasa sedikit malu untuk bertemu dengan Ryan. Namun, di saat yang sama, setiap momen yang harus dilaluinya sebelum bisa bertemu dengan Ryan terasa sangat lama.

__ADS_1


...♤♤♤...


__ADS_2