
Segala yang Farah lihat menjadi kabur. Selama beberapa waktu, Farah tidak bisa melihat atau mendengar apa pun. Ketika syarafnya kembali normal lagi, ia sudah berada dalam dekapan Gege. Kata-kata Gege terdengar lembut di telinganya.
"Farah, dengar! Jangan melawanku, Farah. Aku ingin kau ikut denganku. Cepat!"
"Iya. Aku............,"
"Ayo, ikut denganku." ucap Gege penuh penekanan.
Sepertinya tubuh Farah tidak mampu mematuhi perintah Gege. Farah berusaha untuk mengaktifkan kembali sel otaknya yang sebelumnya lumpuh. "Berapa lama aku..... Tidak, maksudku berapa lama Ryan pergi?".
"Beberapa menit. Ya Tuhan. Kulitmu sedingin es. Farah, kau harus membiarkan aku membawamu keluar dari sini, sebelum-"
"Sebelum Ryan kembali?"
Bergerak tanpa suara, Ryan muncul dari bayangan api unggun. Sosok sempurnanya tampak santai, ekspresi wajahnya setenang suara nya. Ryan bahkan tersenyum, yang membuat mata pria itu terlihat hangat dan sejernih kristal. Farah hampir melupakan senyuman itu. la tidak pernah lagi melihat senyuman itu sejak ia secara tidak sengaja menghancurkan surat-surat Andreas dalam usaha pertamanya untuk melarikan diri. Wajah Ryan mungkin hanya sekadar topeng menutupi apa yang ada di dalam diri pria itu. Tidak ada batasan harga untuk yang harus dibayar Farah di dunia ini untuk bisa melenyapkan kesinisan di mata Ryan.
"Farah lelah. Aku ingin membawanya ". Ujar Gege.
"Jika kau memang berniat begitu," ujar Ryan dengan suara tenang. "maka kau kupersilahkan membawanya setelah aku selesai berurusan dengannya."
Dalam kesunyian yang mencekam, Farah bisa mendengar jantungnya berpacu, berdetak sangat cepat. Tangan Farah menemukan lengan Gege dan meremasnya dengan erat. Ryan masih tidak mau menatap Farah secara langsung.
__ADS_1
"Dengar." Suara Gege kini kental dengan kesan dingin. "Jika
pertanyaanya adalah apakah kau akan menyakitinya atau tidak, bagiku sepertinya........"
"Pertanyaannya bukanlah aku akan menyakitinya atau tidak. Pertanyaannya adalah dia akan kupotong-potong menjadi berapa bagian?". Sela Ryan.
"Bisakah kau membiarkan aku menyelesaikan perkataanku dulu?" tanya Gege. "Kau sudah menunjukkan dengan sangat jelas apa niatmu. Aku sadar kau mengenal lebih banyak orang munafik yang cerdas daripada aku, tapi untuk kali ini, mungkin saja kau salah, jadi demi Tuhan, kenapa kau tidak mencoba memikirkannya dulu malam ini? Besok pagi, ada cukup banyak waktu jika kau ingin menjadi seorang bajingan."
Akhirnya, Farah merasakan serangan brutal dari tatapan dingin Ryan yang terarah langsung padanya. Dengan perlahan Ryan berjalan maju, sampai mereka berada sangat dekat, dan Farah bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh Ryan. Tatapan Ryan membuat Farah membisu, saat Ryan meletakkan tangan di leher Farah, dengan lembut merasakan denyut nadi lemah yang menjadi penanda hidupnya.
Gege menepiskan tangan Ryan dari Farah. "Oh, hentikan itu, dasar kau ular berbisa!" ujar Gege dengan marah. "Memangnya itu bisa membuktikan apa?"
"Aku pikir kau ingin aku menunjukkan kesopanan," kata Ryan dengan lembut. "Kenapa kau khawatir? Dia bisa membela dirinya sendiri."
Karena berada sangat dekat dengan Ryan, Farah bisa melihat mata Ryan membelalak, napasnya tercekat, dan bibirnya menegang. Emosi bergulung di mata Ryan seperti ombak laut, kemudian lenyap sepenuhnya.
"Oh, Tuhanku...." Tawa tampak di mata Ryan yang berbaur dengan amarah. "Hentikan itu. Kita mengarah ke wilayah yang semakin berbahaya. Apakah cinta yang membuatku menginginkannya? Kalau begitu, aku jatuh cinta pada semua wanita yang pernah bersamaku?"
"Ya ampun," cetus Gege. "Cepat sekali kau berubah. Belum lama ini kau mengatakan kepadaku bahwa Farah berarti lebih bagimu."
"Lebih tepatnya adalah lebih menjengkelkan. Lebih banyak membawa masalah. Dan sama sekali tidak memuaskan. Aku ingin berbicara dengan Farah Setelah itu, kau bisa melakukan apa pun yang kau inginkan dengan dirinya yang masih tersisa."
__ADS_1
Ryan menoleh ke samping, ke tempat Keith sedang bersandar santai di batu besar. "Singkirkan Gege, Keith."
Dengan patuh, Keith berkata, "Gege." Kemudian, setelah satu kata itu tidak mendapatkan respons apa pun. "Sudah cukup, babe. Ke sinilah."
Gege berbalik ke arah Keith dengan perlahan, hampir seperti enggan melakukannya. Dengan suara yang membuat bulu kuduk Farah berdiri, Gege berkata, "Kau memang bagian dari duniaku, Keith. Tapi bukan pusatnya".
Ada kesan kegembiraan tampak sekilas di mata gelap Keith.
"Ada cara untuk menyelesaikan ini, Gadis cantikku. Orang harus belajar untuk berhati-hati dengan perasaan mereka. Kalian berdua sudah mengacaukannya." Dalam sekejap, pistol buatan Jerman sudah tergenggam di tangan Keith. Moncongnya diarahkan langsung ke Farah. "Aku akan membuatnya menjadi lebih mudah. Jika tidak ada di antara kalian yang mau mundur dari gadis itu, aku akan menembus tubuhnya dengan peluru." Keith menggerakkan pistolnya. kepada Farah, Keith berkata dengan lembut. "Jangan banyak bergerak, Sayang. Kita tidak mau kau mengalami luka serius."
Kedua pria itu tahu Keith pasti akan menekan pelatuk pistolnya, jika tidak ada di antara mereka yang mau mundur, tapi Gege lah yang bergerak lebih dulu, mengambil jarak satu meter dari Farah, sebelum Keith selesai bicara. Gege berdiri sambil menarik napas panjang untuk mengendalikan dirinya.
Farah mendengar suara darahnya yang berdesir, saat Ryan memberi isyarat padanya untuk mengikuti pria itu menyusuri jalan, Sepanjang perjalanan menuju ke vila, Ryan sama sekali bicara ataupun menyentuhnya. Pulau itu memenuhi indra Farah dengan intensitas yang tidak natural. Dari semak-semak yang gelap, Farah hampir bisa merasakan gerakan setiap ranting di sana. Mata Farah terasa sakit saat mengamati kunang-kunang yang terbang dan menghilang seperti peri. Farah bisa mendengar suara daun yang terinjak kakinya, suara batu kerikil, dan suara desiran gaunnya saat ia berjalan. Pendengaran, penglihatan, dan penciumannya terasa lebih tajam karena syarafnya yang tegang.
Di dalam vila, Ryan membawa Farah menyusuri lorong yang sepi menuju ke kamar tidur Farah. Ryan memberi isyarat kepada Farah untuk masuk ke dalamnya dan menyusul kemudian, dengan menutup pintu di belakangnya. Hanya secercah cahaya bulan yang masuk melalui jendela kamarnya yang membuat kamar itu tidak terlihat gelap total.
Ketakutan dan berjalan cepat menaiki bukit telah menguras tenaga Farah. Napas Farah yang memburu bercampur dengan suara gerakan Ryan saat menyalakan lilin di samping tempat tidur Farah, yang kemudian membuat kamar lebih terang. Di atas seprai tempat tidurnya yang berwarna topaz masih tergeletak sisir dan gaun tidur yang tadi diletakkan Farah dengan terbun buru. Bukunya masih dalam keadaan terbuka di atas meja. Embusan angin membuat halaman buku itu terbuka. Ryan menutup buku itu dan berbalik untuk menghadap Ryan.
"Tanggalkan pakaianmu," ujar Ryan.
Farah berdiri, tidak bergerak, menunduk ke arah tangannya yang terjalin, menyadari napasnya yang cepat dan tidak beraturan.
__ADS_1
"Kau tidak mendengarku, kucing kecil? Tanggalkan pakaianmu. Tidak perlu merasa malu. Lakukan hal yang sama denganku seperti yang kau lakukan dengan Andreas."
...♤♤♤...