
Zayn Crandall melihat pintu perpustakaan tertutup, dan di kini di hadapannya Ia melihat Ryan yang kembali lagi dalam keadaan uruh setelah setahun berkelana di tempat yang hanya diketahui oleh Tuhan. Amerika? Canada? Indonesia?
Rumor mengatakan Ryan berada di ketiga tempat itu, sering kali di waktu yang bersamaan. Dan, sekarang Ryan ada di sini, kembali dengan sama mendadak dan rahasianya seperti saat pergi. Hampir bisa dipastikan keluarga Ryan yang lainnya tidak tahu tentang kepulangannya ini. Belum sampai dua jam yang lalu Zayn duduk bersama ibu Ryan, Alice yang tidak berdaya menghadapi berondongan pertanyaan para kolega utama tentang ketidakhadiran sang pewaris. Zayn masih ingat bagaimana ia mengutuk Ryan dalam hati, atas kekhawatiran yang dirasakan oleh keluarganya. Mungkin akan lebih adil, pikir Zayn, jika ia mengutuk situasi yang membuat Ryan mengambil langkah itu.
Masih segar di dalam ingatannya sosok Ryan yang tampan, anak yang terlalu sempurna, yang berhasil menciptakan mesin generator listrik mengagumkan, yang hanya bisa dimengerti oleh bocah itu sendiri, dan menerbangkannya di sepanjang lapangan rumput, di bawah kepakan sayap burung elang peliharaan Ryan. Wajah Alice selalu memucat setiap kali hewan predator itu mendarat di atas lengan putranya, tetapi ayah Ryan hanya akan membelai rambut Ryan dan tertawa. Jazz Crandall memang jenis pria semacam itu.
Kematian Jazz adalah salah satu tragedi paling menyedihkan untuk orang-orang yang ditinggalkannya. Seorang ayah yang segar bugar. duduk bersama putra kesayangannya mengamati bagian daun di bawah mikroskop, Jazz Crandall meletakkan penjepit kecil, lalu tiba-tiba terkulai mati. otaknya mengalami pendarahan hebat.
Di malam yang sama, saat hendak beristirahat di kamarnya sendiri. Zayn mendengar suara dari kegelapan, "Matikan lampunya, Zayn."
Mata Zayn yang masih menyesuaikan diri dengan kegelapan menemukan Ryan duduk di atas tempat tidur, kepalanya menengadah ke arah bulan yang bersinar terang di langit.
"Kenapa ayahku mati?" Ada jiwa yang terguncang dalam suara serius yang kekanakan itu, dan Zayn, yang masih sangat sedih akibat kehilangan pria yang dihormatinya lebih daripada orang lain. mendengar dirinya sendiri menyerocos tentang kematian adalah takdir dari Tuhan. Ia menjelaskan panjang lebar, dengan sesederhana mungkin.
Pada saat jam porselen Prancis di atas perapian menandakan waktu tengah malam, baru ia menyadari bahwa diam-diam Ryan telah pergi dan sejak tadi ia menyerocos sendirian. Tampaknya, Ryan telah menemukan jawabannya sendiri. Setelah menegakkan tubuhnya lagi, dengan sorot sedih Zayn menatap saputangannya yang basah dan menyelipkannya ke bawah kursi penjaga pintu yang ada di aula depan.
.......
__ADS_1
Ryan sedang berdiri di samping meja, menuangkan wine untuk dirinya sendiri. Zayn melihat sekilas seorang gadis yang mengenakan mantel berdiri di samping perapian. Seorang wanita muda, begitu keterangan Harris tadi. Setelah beberapa kali memastikan pada Harris, apakah dia benar-benar yakin jika orang muda yang dibawa Ryan adalah wanita, dan menerima penegasan sabar Harris bahwa iya, tentu saja itu adalah seorang gadis dan bukannya putra Zayn yang hilang. Zayn kehilangan ketertarikan terhadap gadis itu, selain rasa jengkel sekaligus kagum karena Ryan berani membawa salah satu kekasihnya ke kediaman ayah angkatnya.
Ryan berbalik, meletakkan gelas dan botolnya, Zayn mendapati dirinya melupakan segalanya, dan hanya memfokuskan dirinya pada kehangatan yang ditimbulkan oleh senyuman lebar Ryan. Ryan melintasi ruangan dengan langkah yang cepat dan mantap, untuk memeluknya dengan erat dan hangat.
Saat mendorong anak angkatnya sejauh rentangan tangan, dan mengatasi sumbatan yang ada di tenggorokannya, Zayn berkata dengan canggung, "Jadi, kau kembali."
Ryan hanya mengangkat bahu dengan santai. "Seperti yang bisa kau lihat." Zayn terlihat sehat dengan kulit kecokelatan, penuh percaya diri, dan fisik yang terlihat bugar; rambut Ryan terlihat terlalu sering terbakar matahari.
Ryan telah tumbuh menjadi pria dewasa yang luar biasa tampan, yang memang sudah terlihat sejak masih remaja; kedewasaan pikiran Ryan telah terpancar hingga ke penampilan nya.
"Kau belum pulang ke rumah?" tanya Zayn, yang sebenarnya sudah tahu jawabannya, tetapi hanya ingin menguji Ryan,
"Iya, tentu saja mereka baik-baik saja. Tapi aku tidak perlu mengatakan kepadamu bahwa kau amat sangat dirindukan." Satu komentar, dan tidak lebih.
Zayn sudah belajar bahwa untuk menghadapi Ryan, cara terbaik adalah dengan tidak menguliahi. "Malam ini, aku bersama ibumu."
Ryan menatap celana selutut dengan seringaian jail. "Di Mansion utama?"
__ADS_1
Zayn merasakan wajahnya melembut saat menjawab sambil tersenyum. "Ya. Di Mansion utama." jawab Zayn.
Gerakan kecil dari sosok yang ada di samping perapian menarik perhatian Zayn. Dengan enggan, ia harus menghargai kehadiran gadis itu, dan berkata dengan sopan, "Apakah kalian berdua sudah makan?"
"Iya. Tadi." Seolah bisa membaca ketidaktertarikan Zayn, Ryan menoleh ke arah gadis itu dan berkata, "Ke sinilah, Farah. Pria tua yang baik ini ingin melihat siapa kau sebenarnya."
Punggung gadis itu, yang tertutup mantel dan tudung, menghadap ke Zayn. Ia mengamati bahu yang kecil itu. Mantel yang tebal dan berat terjulur hingga ke lantai, tuduhnya terdorong ke belakang dan memperlihatkan rambut panjang yang indah. Gadis itu berbalik di tempatnya berdiri. tatapannya yang tajam tertuju kepada Ryan.
Zayn bukanlah pria yang biasa terpesona saat melihat wanita. Ia menghabiskan sebagian besar masa dewasanya dengan menyimpan cinta mendalam terhadap ibu Ryan, Alice. Selama sepuluh tahun ia menikmati hubungan yang lebih intim dan rahasia dengan wanita yang cantik dan menyenangkan, yang selalu didukungnya dengan sepenuh hati. Semasa remaja pun ia bukanlah orang yang mudah merasa bergelenyar saat melihat wanita cantik, tapi Zayn tahu ia kini sedang menatap gadis muda itu. Tentu saja, setengah reaksi didasari oleh kekaguman, tapi setengahnya lagi adalah keterpesonaan terhadap kemiripan luar biasa yang dimiliki gadis itu dengan sosok wanita Indonesia yang sempurna.
Gadis itu mungkin baru saja melangkah ke luar dari dalam cangkang kerang mutiara. Di balik bulu mata yang tebal dan lentik, mata gadis itu berkilau indah. Dagu gadis itu kecil dan solid, seolah sengaja dibuat untuk pas di tangan seorang pria. Hanya hidungnya yang tidak terlalu proporsional meskipun tidak sampai mengganggu keindahan bagian yang lain. Pembawaan gadis itu terlihat lebih dewasa daripada perkiraan usianya, meskipun wajahnya terlihat lelah. Kau pasti merasakan dorongan untuk mencium aroma rambut yang mengagumkan itu. Apa yang sedang dilakukan oleh putri peri ini bersama pria yang memiliki reputasi seperti Ryan?
"Selamat malam, Miss-?", sapa Zayn dengan ramah.
"Namanya Merry," jelas Ryan, dengan nada suara blak-blakan. "Mungkin tidak sesuai dengan aturan kesopananmu, tapi kau harus memanggilnya dengan nama itu; aku tidak tahu nama keluarganya." Semangat gadis itu langsung berubah menjadi kebingungan, saat menatap Ryan dan Zayn secara bergantian.
Pada saat itu, terlihat jelas olehnya bahwa gadis itu lelah, sangat lelah. Kulit yang bercahaya membuatnya melewatkan kondisi itu tadi. Dengan penuh syukur, Zayn mengubah reaksi insting prianya menjadi sesuatu yang lebih kebapakan. Toh, gadis itu hanya sedikit lebih besar dari seorang anak kecil, dan dari tatapan gadis itu kepada Ryan dan begitu pula sebaliknya, jelas ada sesuatu di antara mereka, terlihat jelas bahwa Ryan memperlakukan gadis itu dengan kasar.
__ADS_1
...♤♤♤...
Mau 3 bab tapi inget ini malam minggu😅🙈