
Di langit malam yang gelap dan transparan, lampu menara markas Dark Devil memancarkan cahaya keemasan yang terpantul di ombak laut yang berkilauan. Dari lampu darurat tersebut, terdapat dua lingkaran cahaya yang berkilau terang seperti mata monster laut yang besar. Pertarungan kapal asing yang disinyalir Farah merupakan musuh dari Dark Devil itu terlihat semakin jauh; rasanya seperti menyaksikan pertunjukan miniatur, dengan api menyala, asap membumbung hingga ke langit, dan suara teriakan serta ledakan. Semua itu terlihat seperti kecelakaan di laboratorium kimia. Farah meninggalkan semua itu seolah itu adalah pertunjukan yang dimainkan di sudut jalan yang ia lewati.
Dengan mengenakan celana selutut, kemeja putih, dan karet untuk mengikat rambutnya, Farah duduk di perahu dengan moncong pistol terus diarahkan ke asisten Will, yang akhirnya ia ketahui bernama Mike, sedang mendayung, dan Farah terus menyaksikan pertarungan kedua mafia itu dari jauh, saat perahu mereka terombang-ambing oleh ombak laut.
Mereka sudah pergi cukup jauh, sebelum Farah menyadari bahwa Ia melihat tiga set tiang pancang. Farah terkejut dan berseru, "Ada kapal ketiga!"
"Eh? Oh, iya. Kapal mafia Blue Razon, yang kemungkinan besar berlayar dari timur. Aku tidak akan terkejut jika kapal itu membawa biji kopi negara ini. Berani sekali, ya, kapal itu datang mendekat? Layar mereka menunjukkan bahwa mereka adalah kelompok mafia juga. Mereka pasti sudah lama mengincar markas Dark Devil"
Jadi, sekarang, Keith harus melawan kapal perompak lain.
"Mereka juga mafia?"
"Iya." Mike menoleh dari atas bahunya ke kapal yang berada jauh dari mereka. "Itu pasti kapal Greg. Pemimpin dari Blue Razon. Aku yakin. Kau lihat warnanya, yang ada di dekat lampu buritan kapal? Benderanya bergambar tengkorak berdarah. Kapal mafia itu terkenal sangat kejam. Jika Blue Razon menyerang mafia lain, dia akan memerintahkan anak buahnya menggeledah kapal atau markas tersebut, dan jika mereka menemukan ada wanita di sana, dia akan membiarkan anak buahnya memerkosa wanita itu secara bergantian, lalu mengurungnya di penjara. Setelah itu, dia akan memborbardir targetnya tersebut, menjadikannya sebagai tempat latihan, sampai kapal atau markas itu hancur tidak bersisa. Greg dan Keith biasanya tidak saling mengganggu, tapi kali ini pengawas markas Keith melihat ada seorang wanita di kapal, bersama seorang bayi di dalam gendongan, sementara dua anak balita lain bergelayut di roknya. Jadi, Keith melakukan voting: berapa banyak di antara anak buahnya yang ingin menyerang kapal Greg dan mencuri barang bawaannya? Yah, dengan cepat setiap orang di markas Dark Devil memiliki alasan untuk menyerang kapal Greg. Will beralasan mungkin ada emas batangan yang disimpan di kapal tersebut. Sementara Kevin mengatakan mereka harus mengganti perahu yang sudah kau tenggelamkan. Huh! Kau tahu apa alasan sebenarnya mereka ingin menyerang kapal mafia Blue Razon? Untuk menyelamatkan wanita dan anak-anak yang ada di sana! Aku yakin itu!"
__ADS_1
Fajar mulai menyingsing, menyebarkan warna pink keunguan di cakrawala. Sambil tersenyum ke embusan angin lembut, Farah berkata, "Aku pikir niat mereka mulia sekali."
"Kau berpikir begitu, ya? Bertindak nekat demi mendapatkan uang memang tidak masalah, tapi jika untuk bunuh diri, itu persoalan lain. Aku tidak bisa menyerahkan hidupku hanya untuk menyelamatkan seorang bayi. Toh, mereka akan tetap mati juga," ujar Mike dengan sinis sambil terus mendayung ke arah pantal. "Dua puluh tahun yang lalu, di Kalimantan, istriku melahirkan dua bayi dalam waktu tiga tahun, dan tidak ada satu pun dari mereka yang hidup selama lebih dari satu atau dua hari. Saat melahirkan bayi yang terakhir, istriku ikut mati juga. Mereka menyebutnya demam pasca melahirkan. Aku menyebutnya kelalaian dokter." Mike meludah ke samping perahu. "Usia istriku saat itu belum sampai tujuh belas tahun."
Farah langsung merasa bersimpati mendengar cerita Mike. "Aku turut berduka," ujar Farah.
Mike mengangkat bahu, menyeringai dingin melalui gigi yang hitam. "Istriku adalah wanita yang cerewet dan tidak pernah membiarkan aku menikmati ketenangan, tapi aku tetap sedih saat dia mati, dan itu adalah fakta." Mike membiarkan satu dayung menggantung di air dan meraih ke bawah kakinya mengambil sebotol vodka. Mike menenggaknya langsung dari botol, dan saat menurunkan kembali botolnya, Mike melihat ember yang ditempatkan Farah di antara kakinya. "Nah, lihat itu dia melakukannya lagi! Dia mengeluarkan salah satu lengan dan mengayunkannya."
Farah menoleh ke makhluk laut yang ada di dalam ember. "Dia tidak bisa mencegahnya," kata Farah, membela binatang peliharaannya, "Embernya terlalu kecil, lagi pula dia, kan, seekor ubur-ubur."
"Aku memang berniat melakukannya," kata Farah, "Segera setelah kita berada cukup jauh dari kapal."
"Omong kosong. Kau pikir meriam akan mengenai ubur-uburmu Buang dia sekarang-atau aku tidak akan mendayung lagi." Sebenarnya itu hanyalah gertakan kosong dari Mike.
__ADS_1
Langit yang terlihat semakin cerah dan matahari yang sebentar lagi akan keluar, keberadaan mereka akan mudah dilihat jika mereka masih berada di laut. Sisi manusiawi Farah menuntutnya untuk membebaskan ubur-ubur itu.
Farah meletakkan pistolnya di atas pangkuan, mengambil ember dan mencondongkan tubuh ke sisi perahu sampai mulut ember hanya tinggal beberapa inci saja dari air. Dengan lembut, Farah memiringkan ember dan mengamati dengan tenggorokan tercekat, saat ubur-ubur dan ikan nemo melompat masuk ke lautan yang gelap.
Satu lagi penghubung dengan Gio yang hilang. Gege. Ryan. Tangan yang dijadikan Farah pegangan terpeleset, saat ia berusaha menarik ember yang berat, dan hal itu menyebabkan perahu berguncang seperti ayunan yang tertiup angin.
"Hei! Hati-hati! Kau akan membuat perahu terbalik. Dan aku bisa mengacungkan pistol itu kepadamu," tambah Mike dengan jengkel.
"Kau jangan lupa, jika Ryan bisa sampai menangkap kita, aku akan mengatakan kau ikut denganku di luar kehendakku, sepanjang waktu kau terus mengacungkan pistol kepadaku."
"Aku akan mengatakan apa pun yang kau inginkan kepada Ryan, tapi dia tidak akan menemukan kita, jika kau bisa mengayuhkan dayung itu dengan mengerahkan lebih banyak tenaga."
"Huh." Mike mengambil dayung, dan perahu mulai bergerak maju lagi. "Wanita sialan. Kau senang melihat pria bekerja keras sampai mati. Dan hanya pria flamboyan seperti Ryan yang akan menyimpan wanita yang bersikeras melarikan diri dengan membawa ubur-ubur di dalam ember. Ryan adalah seorang pria kaya raya yang bodoh". Cibir Mike dengan raut wajah yang kesal.
__ADS_1
...♤♤♤...
Likeee, Komeeen, Hadiah nyaa dong oke oke 🤣