Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 26


__ADS_3

Burung camar berkeliaran di tengah cahaya matahari yang hangat, Farah merentangkan kedua tangannya ke samping dan memejamkan matanya. Menikmati hembusan angin laut yang menerpa tubuhnya. Para anak buah Keith kini sudah akrab dengan Farah. Tak di pungkiri, Kevin, sang kepala keamanan yang sempat ragu akan keberadaan Farah di markas Dark Devil, akhirnya menganggap Farah adalah sebuah hiburan yang memberikan warna berbeda. Bahkan semua anak buah Keith bergiliran mengajari Farah banyak hal untuk mengisi waktu.


Farah mengambil sebuah pisau kecil. Ia menghirup udara untuk meredakan kegugupannya. Sudah kesekian kalinya Ia berlatih dengan pisau dan berakhir gagal, dan kali ini Farah mencoba lagi. Dengan harga diri yang dipertaruhkan, Farah kembali melempar pisau ke sebuah tiang kayu. Tujuan utamanya adalah agar pisau yang Ia lempar menancap sempurna di tiang, namun nyaris.. pisau yang Ia lempar justru meleset satu inci dari tiang kayu dan membuat semua pemuda yang ada di sekitarnya langsung tiarap. Gege yang melihat aksi Farah menepuk keningnya dengan pelan. Entah bagaimana Ia harus menjelaskannya pada Ryan tentang kegilaan semua orang termasuk wanita nya saat pria itu kembali.


Malam hari, ada api unggun di nyalakan di pantai, dengan lidah api yang membumbung tinggi. Farah hanya di izinkan oleh Gege untuk melihat dari kejauhan, karena para anak buah Keith yang sedang berpesta api unggun bisa dipastikan sedang dalam pengaruh alkohol. Mereka tidak bisa membedakan siapa A, siapa B, siapa C. Dan Gege tidak ingin mengambil risiko apapun.


Gio menghampiri Gege dan Farah yang sedang duduk di sebuah gazebo. Farah melihat mata Gio yang merah karena mabuk. "Kau tahu apa ini cantik?" Ujar Gio seraya memberikan sebuah botol kecil.


Farah mengamati botol tersebut dengan mengerutkan kening. Botol kecil itu hanya berisi larutan berwarna putih keruh. Sangat keruh. "Apa ini?".


"Itu jus lemon yang di taburi bubuk mesiu hahahahaha"


Gege dengan cekatan meraih botol tersebut dari tangan Farah. "Kau berani membawa bubuk mesiu lagi dalam jarak 1 meter dengannya, akan aku tendang kau ke laut! Pergi sana ke bawah dan banjur kepalamu dengan air es!" Umpat Gege dengan emosi seraya menendang Gio.


Namun Gio hanya mematuhi perintah saat Ia sadar Ternyata jika pemuda itu mabuk, sangat menjengkelkan. Tangan Farah dicengkram dengan kuat oleh Gio dengan semangat dan Ia di tarik berlari dengan cepat lalu masuk ke gudang senjata yang berada tak jauh dari lokasi gazebo. Udara panas dan pengap begitu terasa. Lebih cenderung bau besi yang menyengat serta bubuk mesiu.


"Apa kau mau belajar menembakkan sesuatu lagi?" Tanya Gio.

__ADS_1


Farah menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Jangan gila! Ini gudang senjata dan ada banyak bubuk mesiu. Jika aku salah menembak, bagaimana jika markas Dark Devil meledak?".


"Hahahahahaa kau benar juga" Ujar Gio dengan seringaian lebar. Tiba-tiba saja pintu gudang senjata di dobrak dan Gege serta Dennis, sang master penempak di markas Dark Devil, masuk dengan muka merah menahan amarah.


Gege menarik Gio dengan kasar. "Kalau sudah mabuk kau benar-benar menjengkelkan brengsek!" Umpat Gege kesal. "Kau urus dia." Titah Gege pada Dennis. "Ayo kau harus segera keluar dari sini sebelum Keith dan Kevin melihatmu, Farah" Ujar Gege menarik Farah keluar dari gudang senjata.


"Hei! Aku lupa mengatakannya, Keith meminta kau bawa gadis itu ke rooftop!". Teriak Dennis.


Tak lama Gege dan Farah akhirnya sudah berada di rooftop menemui Keith yang sedang berdiri menatap ke lautan yang gelap. "Keith" Seru Gege. Keith berbalik badan. "Kemari gadis kecil". Ujar Keith. Farah dengan ragu menghampiri Keith.


"Apa aku mau mencoba menembakkan meriam ini?" ujar Keith yang tak ayal membuat Farah terkejut.


"Aku tidak suka penolakan. Coba kau berdiri dengan baik di belakang meriam ini" Titah Keith. Gege hanya memperhatikan dalam diam, sepertinya Keith butuh hiburan, pikirnya.


"Cepat tembakkan meriam itu"


Dengan tangan gemetar Farah berhasil menembakkan meriam tiga kali dan membuat kepulan asap dari mesiu. Tangannya yang menghitam karena asap berusaha mengangkat bola mesiu yang berat untuk menembakkannya kembali. Namun tatapannya terpaku pada seseorang di balik tubuh Gege.

__ADS_1


Ryan, berdiri diam dan terlihat santai, sedang menatap Farah dengan sorot mata yang lembut. Tanpa sengaja bola meriam terjatuh dari tangan Farah hingga menggelinding ke kaki Ryan, namun dengan cepat Ryan berkilah. Beberapa anak buah Keith berdiri membeku saat mendengar Ryan mengumpat dan memarahi satu per satu dari mereka semua. Farah tidak mendengar apapun karena telinganya berdenging, tidak terbiasa mendengar tembakan meriam yang memekakakkan telinga dari jarak dekat.


Ryan melangkah pada Farah yang berdiri terpaku tanpa bisa mendengar apapun. Farah melihat mulut Ryan yang berbicara padanya, namun Farah tak menyahut apapun. Dengan mengagumkan, Ryan cepat menyadari jika telinga Farah berdenging. Wajah pria itu berubah lembut. Kedua tangan Ryan menangkup wajah Farah dan berbicara padanya lagi. Farah memperhatikan gerakan bibir Ryan dan menyadari bahwa pria itu meyakinkannya jika pendengarannya akan segera kembali tak lama lagi. Namun bukan itu masalahnya, kini detak jantung Farah berdetak tak karuan. Ia merasa sangat senang bisa melihat Ryan lagi. Gila. Itulah kata yang tepat.


Ryan lalu melepaskan tangannya dari wajah Farah dan beralih menatap Gege. "Apa kau tidak tahu apa perintahku padamu, Ge?".


"Aku tahu perintahmu".ujar Gege. "Tapi dia tidak mau makan dan kau tidak ada di sini". Gege menghela napasnya. "Dia sangat cengeng kau tahu? Aku malas melihatnya selalu menyeka ingusnya dengan selimit setiap kali aku membawakannya makanan."


"Dan karena itu kau berpikir dia butuh udara segar dan akhirmya belajar banyak hal dengan berbagai macam senjata?".


"Bicarakan saja pada Keith, jika aku jadi kau, orang pertama yang aku tanya adalah dia". Sahut Gege.


Mata Ryan berubah lembut, "Keith sudah mengatakan alasannya padaku kalau dia ingin membuat gadis itu lebih tangguh. Tapi kau juga harus bisa memilah mana yang boleh dilakukannya mana yang tidak, Ge".


"Dia tidak terluka, Ryan" Gege memutar bola matanya jengkel. "Kau tidak perlu kuatir seperti itu. Dia justru sangat menikmatinya".


Sisa malam itu pada akhirnya berakhir dengan Farah di bawa kembali oleh Gege ke dalam kamar Ryan dan di minta untuk membersihkan dirinya sebelum tidur. Farah hanya mengikuti arahan Gege karena Ia merasa lebih baik menghindari Ryan untuk malam ini. Telinga Farah sudah kembali berfungsi, karena kelelahan dengan cepat Farah jatuh ke alam mimpi.

__ADS_1


...♤♤♤...


__ADS_2