Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 41


__ADS_3

Satu minggu kemudian...


Ryan yang sedang duduk santai di rooftop sedang menikmati segelas wine yang sudah disimpan selama lebih dari 75 tahun bersama dengan Keith dan Kevin.


Sementara Gio yang berjalan dengan Will nekat menemui ketiga pria itu untuk mengatakan sesuatu. Gio ingin membeli Farah. Pembelian wanita adalah hal yang umum di antara mafia. Gio dengan sangat hati-hati mengungkapkan tujuan utamanya pada Ryan dan pria itu mendengarkann permintaan Gio serta Will dengan tenang.


"Kenapa? Apa alasan kalian ingin membeli gadis itu?". Tanya Ryan terdengar biasa namun tanpa tersenyum.


Sudah jelas sekali Ryan akan menjawab tidak, seperti yang sudah mereka perkirakan, tetapi tetap saja mereka harus menjawab pertanyaan itu. Dan itulah masalahnya, Gio tidak tahu harus menjawab apa, meskipun tidak terlalu memalukan jika mengakui bahwa tujuan mereka sama sekali tidak mesum. Mereka tidak mungkin mengatakan bahwa mereka hanya ingin membebaskan Farah.


Saat Gio dan Will berbicara, Ryan menatap tajam pada keduanya hingga mereka tidak bisa menghindar untuk mengatakan pada Ryan kalau sikap pria itu pada Farah, yang menyanderanya sudah cukup lama sudah membuat gadis itu tersiksa. Bahkan Will yang berusaha menjelaskan dengan tegas, tetap saja masih ada kesan romantisme dan kekaguman yang mereka rasakan terhadap Farah.


Keith yang dari tadi menunggu penolakan Ryan pada permintaan Gio dan Will, justru tertawa terbahak-bahak. Kevin menghela napas dan menatap Gio serta Will dengan sorot mata jengkel dan berkata dengan ketus, "Jika kalian tidak berhenti menunjukkan perhatian yang berlebihan pada gadis itu, Keith akan dengan senang hati mempertahankannya di sini selama mungkin, hanya untuk menghibur dirinya sendiri dengan melihat tingkah konyol kalian".


●●●


Gio yang sedang pergi menyelam dengan Will dan Dennis dengan gesit menangkap ubur-ubur juga ikan nemo menggunakan jaring halus. Dengan cepat Ia segera naik ke atas speed boat dan memasukkannya ke ember untuk diperlihatkan kepada Farah.


Dua jam kemudian, dengan wajah yang riang Gio membawa ember yang berisi ubur-ubur dan ikan nemo ke kamar Ryan setelah mendapatkan kunci dari Gege. Tak disangkal, Farah juga sangat senang bisa bertemu dengan Gio karena Ia merasa sangat kesepian. Selama seminggu sejak Farah dikurung lagi di kamar Ryan, Gio datang menemui Farah sesering yang bisa dilakukannya, dan begitu pula dengan yang lain. Pak Yanka cukup sering mengunjunginya, dan juga Will, Dennis, Gege, dan sebagian yang lain tetapi mereka melakukannya diam-diam dan cepat karena meskipun Ryan tidak melarang mereka mengunjungi Farah, kemungkinan Ryan juga tidak akan menyukainya. Ryan masih tidur entah di mana. Gege yang pasti mengetahuinya, mengatakan bahwa pria kaya raya sama seperti manusia pada umumnya, tetapi setiap kali Gio menatap mata teduh Farah atau melihat gadis itu tersenyum, Gio bertanya-tanya bagaimana mungkin Ryan lebih memilih untuk tidur di tempat lain.


Ubur-ubur itu menarik sekaligus menakutkan untuk Farah dan ia sangat iri saat dengan santai Gio mengambil ubur-ubur dan membiarkan tentakelnya yang lengket menempel di pergelangan tangan pemuda itu. Farah memberanikan diri untuk melakukannya, berusaha sebaik mungkin untuk mengabaikan makhluk laut yang memelototinya, saat ia meletakkannya di tangannya, tetapi mereka diusik oleh teriakan Sanders dari koridor. "Gio!!! Ke mana bocah sialan itu? Jika dia tidak mau menggunakan speed boat untuk pergi menyelam, aku menggunakannya. Dia bilang dia akan menggunakan speed boat untuk menyelam sampai malam, tapi belum sampai sejam speed boat itu sudah kembali lagi. Dennis! Ke mana bajingan kecil itu pergi?!".

__ADS_1


Si ubur-ubur kembali ke dalam ember, dan Gio segera meninggalkan Farah dengan senyum menyesal dan ciuman jarak jauh. Selama satu atau dua menit, Farah mendengarkan perdebatan sengit di depan pintu kamar dan tersenyum saat Gio berhasil memenanginya. Farah lalu melangkahkan kaki menuju ke jendela. Kamar Ryan berada di lantai teratas deretan kamar bagi pimpinan Dark Devil, yang artinya cukup menakutkan bagi Farah untuk nekat terjun ke bawah. Farah mengeluarkan lengannya dari jendela, untuk melambai kepada Gio, saat Gio pergi lagi menuju ke dermaga. Saat berbalik ke arah kamar, tiba-tiba Farah menyadari bahwa Gio lupa membawa ubur-ubur serta ikan nemonya. Dan seperti yang bisa diduga, Gio juga lupa mengunci pintu.


Farah menyadari bahwa kecerobohan Gio tidak banyak berguna untuknya, dan ia sangat yakin Gege akan menyadari pintu yang tak terkunci saat membawakan makan malam untuknya. Namun, ketika malam tiba yang datang justru Will, yang sepertinya sedang membuat adonan, karena tatonya tertutup oleh tepung. Will meletakkan semangkuk sup daging dan sepiring lava cake cokelat di meja, dan menoleh bingung ke arah pintu, seolah hendak bertanya kepada Farah kenapa pintu tidak terkunci, tetapi saat itu Will melihat ubur-ubur di ember. Dalam sekejap, perhatian Will teralihkan, karena Will sibuk membujuk Farah untuk memberikan ubur-ubur itu padanya untuk dimasak menjadi sup yang Farah tidak bisa bayangkan bagaimana lengketnya air sup tersebut.


Farah sangat marah dengan permintaan Will sehingga pada saat pergi dengan tangan kosong, Will juga lupa mengenai pintu yang tidak terkunci.


Farah menghabiskan malam itu untuk mondar-mandir melihat ke dalam ember, sementara si ubur-ubur dan ikan nemo berenang tak beraturan, menatap Farah dengan sorot tajam, dan sesekali mengeluarkan tentakel ke arah Farah.


Kemudian tiba-tiba saja terdengar sebuah ketukan di pintu.


"Farah?", terdengar suara Gege dari balik pintu.


"Ge, aku sudah mau tidur."


"Iya." jawab Farah.


"Oh, demi Tuhan."


"Ukurannya sangat kecil."


"Farah... Kau tidak akan mau tidur dengan ubur-ubur itu di ruangan yang sama denganmu. Sebaiknya kau membuangnya ke luar".

__ADS_1


"Tidak!"


"Ubur-ubur itu akan mati dan mengeluarkan bau yang tidak


enak." ujar Gege.


"Tidak, dia tidak akan mati. Aku menempatkannya di ember mandiku. Ada cukup banyak air di sana."


Sunyi. Kemudian, Gege mengalah, "Oh, baiklah. Apakah ada yang bisa kubawakan untukmu?"


"Tidak, terima kasih. Aku sudah hampir tertidur.".


"Baiklah. Apakah Will yang menyimpan kuncinya?"


"Iya. Selamat malam, Ge."


"Selamat malam."


Farah sama sekali tidak yakin apa yang membuatnya berbohong kepada Gege tentang kunci itu. Yang pasti, ia tidak berniat untuk melakukan tindakan nekat dengan melarikan diri lagi, apalagi dengan ancaman hukuman yang pasti diterimanya; jadi, seharusnya ia mengatakannya kepada Gege. Mungkin kebenciannya karena dikurung di kamar yang mencegahnya mengatakan semua itu. Atau mungkin ia sudah terlalu lelah untuk memberikan penjelasan panjang-lebar. Bagaimanapun juga, itu adalah contoh yang jelas atas sikapnya yang terlalu berhati-hati bahwa ia harus mempertimbangkan apakah pengurungnya yang sengaja merancang semua ini.


...♤♤♤...

__ADS_1


Likeeee, komeeenn, hadiaaahh🤣


__ADS_2