Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 52


__ADS_3

"Kumohon, Ryan, biarkan aku membantunya," ujar pemuda itu. "Kau bisa lihat dia-"


"Aku tahu. Tapi, dia mungkin akan menyakiti dirinya sendiri jika dipaksa. Panggilkan Gege." Seekor burung camar bernyanyi di atas mereka, dan Farah mundur sekali lagi, kepalan tangannya menutupi telinga. Embusan angin yang membelai Farahbterasa semakin kuat, saat Farah mundur semakin dekat ke pinggir rooftop, dan Farah berdiri, terhuyung.


Lengan kuat menangkap dan menarik Farah ke tempat yang lebih aman, tetapi saat Farah membuka mata, cengkeraman di pinggangnya terasa semakin kuat dan menakutkan. Saat memutar lehernya yang tidak lagi lentur, Farah melihat Ryan memeluknya dan ia langsung menepiskan tangan pria itu. Pikiran Farah yang kacau selalu salah mengartikan tindakan Ryan, dan Farah lebih memilih bergelayut di tangga menara.


Di tengah suara ombak dan embusan angin, Farah mendengar suaranya sendiri bergumam tentang siksaan dan rasa sakit. Dengan kesulitan, Farah menyadari bahwa itulah yang dikatakannya. "Kau tidak perlu menyeretku. Apa lagi yang kau pikir bisa kuharapkan darimu selain sikap barbar? Kalau begitu, cambuk saja aku.... Kau ingin aku pergi ke mana? Tempat penyimpanan senjata, katamu? Di mana itu? Aku ingin menjadi sosok seorang wanita pemberani yang ideal."


Seorang pria, yang lebih tua dengan mata abu-abu tajam sedang berbicara kepada Ryan, dan setelah selesai, Farah mendengar Ryan berkata kepada pria itu, "Kau benar. Tapi aku tidak bisa melakukannya."


Si pak tua itu menjawab, "Iya, Nak. Lebih baik dilakukan dengan cara itu." Kemudian, "Will, jadilah anak yang baik. Lihat apa yang bisa kau lakukan. Itu tugas yang cukup mudah."


Rasa sakit yang seperti hujaman kalajengking menusuk tengkorak Farah, dan ia tidak bisa melihat pria muda berkulit gelap menghampirinya, dan ia nyaris tidak mendengar satu kata pun yang dikatakan pria muda itu kepadanya. la bersandar dengan lelah di tangga,bmerasakan cipratan air di lehernya. Kata-kata pria muda itu perlahan mulai terdengar olehnya.


"Farah, Dengarkan aku, Ini Will. Kau ingat? Will yang sudah seperti kakak lelakimu. Kau ingin berjalan ke tempat penyimpanan senjata, iya kan? Gandenglah tanganku. Kau mau ikut denganku, iya kan? Kau tidak mau kami bersikap... bersikap kasar kepadamu, kan?"


Akhirnya, Farah merasakan dirinya merespons perintah lembut itu, dan saat ia berada di samping meriam dan bersandar di sana, ia berujar, "Kau mau korbanmu seperti apa? Apakah aku harus berbaring di atas meriam, seperti pakaian yang sedang dijemur?",


"Tidak, Farah." Kali ini yang didengarnya adalah suara Ryan. "Duduklah di sana, rebahkan kepalamu, dan tunggu."


Farah jatuh berlutut, melingkari lengannya di atas meriam, memeluknya seperti korban banjir yang terombang-ambing, menempelkan wajahnya di besi yang dingin. Isakan mulai terdengar dari tenggorokannya yang sakit. Air mata yang terasa panas mengalir di pipi nya. Setelah beberapa saat, Farah teringat untuk mengangkat wajahnya, tapi pandangannya menjadi seperti potongan mosaik aneka bentuk dan warna, seperti pola pakaian, hanya saja polanya tidak bermakna. Warna itu memudar menjadi abu-abu lembut, lalu ia menyadari Gege datang dan berbicara kepada Ryan.


Saat Gege duduk di sampingnya, sebuah handuk kecil di saku celana Gege diambil oleh Farah membawanya ke pipi yang terbakar, dan menggunakannya untuk menyeka air matanya. Tangan Gege terasa dingin saat menyentuh Farah dengan kelembutan yang menenangkan. Meskipun begitu, Farah tetap terisak, "Jangan sakiti aku."


"Tidak akan pernah, Farah," ujar Gege. "Baringkan kepalamu di lenganku. Benar begitu... Farah, katakan kepadaku di mana kau merasa sakit."


Farah mencoba mendengarkan Gege, tapi setiap kata terasa hilang begitu ia mendengarnya. Suara di sekelilingnya membisu. Farah menatap bingung ke air yang menetes jatuh ke tangannya. Kain dingin diletakkan di lehernya, di telinganya, di pipinya, dan membuat pikirannya kembali.

__ADS_1


"Farah, di mana yang terasa sakit?"


Sambil berusaha sekuat tenaga untuk berkonsentrasi, Farah memeriksa kondisi tubuhnya. Sakit kepalanya sudah hilang. Butuh waktu yang lama, diikuti dengan pikiran yang bingung, untuk menyadari bahwa rasa sakitnya sudah menjalar ke bawah.


"Ge... Gege..mbaku dicambuki... aku pikir aku sudah dicambuki."


Ryan mengatakan sesuatu, seruan tajam, dan dari atas kepalanya, Farah mendengar Gege berkata, "Jangan mulai itu, Demi Tuhan. Dia meracau karena demam tinggi." Suara Gege tidak setenang tangannya. "Gio?"


"Di pulau yang aku dan Will datangi-pengucapan vokal dengan logat khas asing terdengar oleh Farah... Mereka sedang menguburkan dua mayat yang ditemukan di sana. Mereka semua terserang demam..."


Gege berkata dengan tajam, "Apakah gejalanya dimulai dengan rasa sakit di punggung?"


"Bukan. Dengan ruam." Farah dibawa turun ke bawah dengan kecepatan yang membuat pusing, dan Gege membuka kemejanya.


Amarah Farah tersulut oleh tindakan Gege, selama beberapa saat akal sehatnya kembali karena permukaan yang tidak rata menyakiti tulang bahunya, dan Farah berkata dengan suara serak. "Jangan memperlakukan aku seperti orang bodoh. Aku bisa mendengar kalian membicarakan diriku. Dan aku tidak mau lima puluh orang pria melihat ruamku."


Farah menyadari ia dibawa ke kamar Keith. Kain basah diletakkan di tungkai kaki dan tangannya yang sakit, dan jendela yang berbentuk berlian memantulkan cahaya ke kelopak matanya. Matahari yang terlihat sangat terang, saat Farah membuka matanya, terlihat memudar, dan saat Farah melihatnya lagi, ruangan berubah gelap dan panel jendela dipenuhi dengan bintang-bintang.


Terdengar suara lembut, apakah suara Ryan yang mengatakan? Gumam Farah. "Dia sudah jauh lebih dingin sekarang,"


"Aku sudah menduganya." Itu suara Gege. "Sial. Inilah yang kita takutkan".


Jika tubuhnya sudah mendingin, kenapa mereka menganggapnya buruk? Sebelum menemukan jawabannya, Farah sudah tertidur lelap.


Cahaya pagi yang keperakan membuat kamar terlihat berkabut saat terbangun. Ryan, yang harus bercukur, duduk di atas tempat tidur di sampingnya. Ryan menyelipkan lengan ke belakang bahu Farah dan membantunya bangun ke posisi duduk. Dengan perlahan, Ryan menyuapinya sup sayuran, yang kental, beraneka rasa, dan dilengkapi dengan potongan daging.


Setelah Farah menghabiskannya, Ryan meletakkan mangkuk kosong di atas meja. lalu meletakkan bantal dan membaringkan kepala Farah di atasnya.

__ADS_1


"Sebagian orang," ujar Ryan dengan tenang, "akan melakukan apapun untuk menarik perhatian."


Akal sehat Farah kembali untuk sementara waktu. Tidak masalah buatku, pikir Farah. Karena aku lebih lemah daripada toples kaca....


Farah kembali teringat akan tingkahnya yang menjadi bahan tontonan di rooftop. Farah menyeringai lemah dan berkata, "Hai...".


Ryan tersenyum miring, "Apakah hanya itu yang bisa kau katakan?".


"Sup yang enak."


Ryan tertawa, menekankan tangannya yang berjari panjang ke sisi leher Farah. Sepertinya Ryan sedang memeriksa demam Farah, tetapi Ryan tidak menunjukkan ekspresi senang ataupun lega, saat mengetahui bahwa Farah tidak lagi demam.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya Ryan.


"Baik. Tapi, aku merasa seperti burung yang direbus." Dengan kening yang berkerut, Farah bertanya, "Apakah aku sudah sembuh?"


"Kita lihat nanti." Senyuman Ryan diatur dengan hati-hati agar memperlihatkan kesan ceria. Ryan melakukannya dengan sangat baik sehingga Farah tidak terpikir untuk melihat lebih ke dalam. Dan masih ada masalah lain yang harus diselesaikan. Farah mengumpulkan keberaniannya.


"Aku tidak ragu kau merasa kecewa karena kondisiku terlalu sakit untuk dicambuk."


"Yaaahh kau tahu? Aku sakit hati. Aku terjaga sepanjang malam sambil ******* ***** cambukku."


Ada satu hal yang benar dalam perkataan Ryan. Ryan memang tidak tidur sepanjang malam. Kurang tidur, seperti halnya kondisi lain, membuat wajah Ryan tetap terlihat tampan. Bagaimanapun juga Farah bisa melihat kelelahan di sana.


Ryan bergerak untuk meraih tangan Farah, dan membawanya ke bibir untuk dicium dengan lembut. Percikan kecil muncul dari kulit Farah, di tempat yang tersentuh oleh bibir Ryan.


"Aku rasa kau pasti berpikir sakitku ini adalah balasan karena telah melarikan diri darimu?". Dengan tangannya yang bebas, Farah melilitkan sejumput rambut panjangnya di jari dan mengamatinya dengan saksama. "Itu memang sudah sepantasnya, dan akan lebih baik untuk harga dirimu jika kau menemukan aku dalam keadaan kacau."

__ADS_1


...♤♤♤...


__ADS_2