Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 83


__ADS_3

[Bab ini sedikit menjelaskan asal usul Gege yg tetap berkaitan]


Di perpustakaan Zayn Crandall, Gege melihat sebuah buku sejarah Romawi di atas pangkuannya. Ia membuka halaman buku yang sangat tebal itu. Astaga, siapa yang sanggup membacanya? Gumam Gege.


Gege melihat halaman pertamanya. Untuk Zayn tersayang. Dari temanmu yang mencintai, menghormati, dan menghargaimu, Alice.


Alice. Ibu Ryan. Menarik sekali. Setelah bertahun-tahun memendam perasaan cinta kepada ibu Ryan, sekarang wanita itu memberi Zayn buku dengan ucapan cinta penuh basa-basi. Sebagai pendekatan, mungkin cara itu terlalu samar untuk Zayn. Alice bisa mencapai tujuannya dengan lebih baik jika menuliskan, 'Zayn tersayang. Aku basah dan mendambakanmu di tempat tidurku yang sepi. Singkirkan semua kekasihmu dan aku akan menjadi milikmu. Alice' Namun, pasti sulit bagi Alice untuk berterus terang seperti itu. Rumor yang tersebar mengatakan Alice adalah wanita terhormat dengan reputasi yang tidak pernah ternoda. Tentu saja, ada cukup banyak pria yang tertarik padanya, termasuk Zayn. Wanita malang, sekarang dia merasa kesepian dan berusaha mengirimkan sinyal samar pada sahabat baik mendiang suaminya.


Di luar, terdengar mobil berhenti dengan suara berderit keras di atas jalanan berbatu. Dengan emosi tak diinginkan yang menggeliat di dalam perutnya, Gege mendengar suara langkah kaki Zayn yang bergegas masuk ke rumah dan berbicara dengan cepat pada kepala pelayan. Pintu terbuka dan nampaklah Zayn masuk ke perpustakaan.


Mereka berdiri dalam kebisuan dan bertatapan. Ayah dan putranya. Pria yang telah memberikan darah dan daging padanya.


Pemuda itu memiliki sosok seperti ibunya-tulang yang kokoh, pinggul dan bahu yang kotak, pembawaan yang elegan dan santai, serta rambut yang telah memikat Zayn sejak lama. Rambut yang mirip seorang wanita.... Zayn bertemu dengan wanita itu di saat melakukan perjalanan panjang, meskipun wanita itu merupakan putri keluarga terhormat di Swedia, dan baru berusia dua puluh tahun, tetapi reputasinya sudah ternoda sehingga ada banyak sekali orang yang memperingatkan Zayn untuk tidak menikahinya. Namun, saat itu, Zayn masih muda dan naif, dan jiwanya masih dipenuhi jiwa muda yang bergelora, yang nantinya membuatnya menjadi seorang filantropis terkenal dan andal. Ia memercayai wanita itu sepenuhnya, mengabaikan dan memaafkan setiap tanda bahwa wanita itu mungkin tidak akan membalas cintanya dengan tulus, dan menyalahkan situasi lingkungan yang membuat wanita itu menjadi pecandu obat terlarang. Ketika wanita itu meninggalkannya setelah lima bulan mereka menikah, Zayn sangat terpukul dan terpuruk. hingga butuh waktu lima tahun sebelum ia bisa pulih sepenuhnya dan membiarkan ayah Ryan membujuknya agar menyewa pengacara untuk mencari tahu keberadaan istrinya, dan mencari bukti-bukti untuk mengurus perceraian. Pengacara itu adalah orang yang sangat berhati- hati; bukan salah pengacara itu jika saat menemukan jejak wanita itu di sebuah rumah pelacuran dan over dosis obat telah merenggut nyawanya, tidak ada seorang pun di sana yang berpikir untuk mengatakan pada pengacara itu bahwa wanita yang dicarinya mati dengan meninggalkan seorang anak. Mungkin tidak ada seorang pun yang peduli dengan anak yatim piatu yang kotor dan sering mengalami penyiksaan, yang harus tidur di kandang ayam dan dalam kondisi kurang gizi. Setelah tumbuh dewasa, baru anak itu diperhatikan karena bisa dimanfaatkan untuk kerja kasar atau mencari keuntungan.


Adalah Keith Smith, dengan sumber yang banyak tersebar di mana-mana, dan rasa penasarannya yang besar, setelah mendengar tentang kisah hidup Zayn dari Ryan dan akhirnya memutuskan. Kisah-kisah misterius dan tak terpecahkan sepertinya selalu menarik perhatiannya, dan menurut Keith, penyelidikan Zayn belum tuntas, dan jika memungkinkan ia sendiri yang akan turun tangan untuk mencari tahu. Pencarian Keitj itu membawanya kepada Gege, tempat semua dokumentasi yang berkaitan dengan tanggal dan bulan kelahirannya, menegaskan bahwa Gege diciptakan selama masa pernikahan ibunya dengan Zayn sehingga hampir tidak mungkin Gege adalah anak pria lain.


Empat tahun yang lalu, Zayn diberi tahu tentang keberadaan anak itu oleh Ryan yang menemuinya di sebuah hotel.. "Zayn kau memiliki seorang putra," ujar Ryan dengan hati-hati, dan mulai menjelaskan secara detail seluruh sejarah kehidupan Gege yang menyedihkan, dengan cara yang tidak menghakimi tetapi tetap tidak bisa menyembunyikan betapa mengerikannya kebenaran itu.


Cerita itu menghancurkan hati Zayn. Keith akhirnya mempertemukannya dengan anak itu, dan Zayn, yang mencoba mencari seorang anak yang menderita, hanya bisa melihat rambut serta mata yang selama ini selalu menghantui dirinya. Saat mencoba mengamati secara keseluruhan, ia mendapati Gege (ya Tuhan, nama itu ia bahkan tidak bisa memaksakan dirinya untuk menggunakannya) adalah seorang pemuda yang berkemauan keras dan sangat cerdas, yang terlihat bosan, tidak sabar, dan sama sekali tidak tertarik dengan hubungan yang ada di antara mereka. Jelas sekali Gege berada di sini atas perintah Keith, dan sudah menjadi kebiasaan pemuda itu untuk mematuhi Keith.


Tidak, ada sesuatu yang lebih dari sekadar kebiasaan yang membuat Gege patuh kepada Keith; ada sesuatu yang lebih dalam. Sudah seberapa intim hubungan di antara mereka? Hanya kekuatan hati dan kebutuhan untuk mempertahankan akal sehatnya yang mencegah Zayn untuk tidak melanjutkan pikiran itu.


Sudah dua kali, atas desakan Zayn dan persetujuan dari Keith, Gege datang untuk tinggal sementara dengannya di New York. Kedua kesempatan itu gagal total. Apa akibatnya kegagalan yang ketiga untuk mereka berdua?


Zayn mengamati pemuda itu meletakkan buku di meja dan berdiri, cahaya lampu membuat rambut pemuda itu terlihat berkilauan.

__ADS_1


"Aku di sini," ujar pemuda itu, ekspresinya kosong dan nada suaranya sopan. "Aku harap kau tidak keberatan."


"Tidak. Aku justru sangat senang." Zayn telah belajar untuk terbiasa berbicara singkat kepada Gege. Dulu, apa pun yang lebih dari itu akan dianggap tidak tulus oleh Gege, tidak peduli sekalipun ia mengatakannya dari dalam hati. Lebih sulit baginya karena cintanya terhadap putranya itu semakin lama semakin dalam, sementara Gege tidak membutuhkan seorang ayah. Dan, di markas Dark Devil, Gege memiliki banyak sekali figur ayah, jika memang Gege membutuhkannya, dan mereka lebih akrab dengan pemuda itu dibandingkan seorang bangsawan amerika. "Aku sangat menghargai surat- suratmu."


Hanya ada dua surat yang pernah dikirimkan Gege kepada Zayn, keduanya dikirimkan pada tengah malam oleh seorang pria bertampang berandalan, hampir empat bulan sejak ditulis. Surat yang pertama, delapan belas bulan yang lalu, hanya berisi. 'Masih hidup. Di Atlantik. Gege.' Surat yang kedua, pada Maret lalu, berbunyi. 'Ryan memberikan suratmu kepadaku. Aku tidak mengerti kenapa kau mengatakan kau harus bertemu denganku. Aku melihat apa pentingnya keberadaanku untukmu, selain hanya menambah masalah. Jika sekali lagi kau menyebut hubunganku dengan Keith sebagai 'keterpesonaan,' kau tidak akan mendengar kabarku lagi. Gege'. Kata-kata itu mungkin terdengar tidak ramah, tetapi hanya itu pembicaraan panjang yang pernah dilakukannya dengan putranya.


Gege membalas keramahan ayahnya dengan anggukan canggung. Kemudian, tanpa berbasa-basi, Gege berkata, "Apakah Ryan ada di sini?"


"Iya. Semalam."


"Apakah ada seorang gadis yang datang bersamanya?". Tanya Gege lagi.


"Iya. Farah Baldwin. Ryan menikahi Farah pagi ini."


Dengan perasaan tersentak saat mendengar pikiran putranya, Zayn salah menginterpretasikan keterkejutan Gege. Seruan keterkejutan Gege yang tidak biasa terdengar seperti ketidakpercayaan, seolah Gege tidak bisa membayangkan kenapa Ryan menikahi Farah.


Butuh waktu cukup lama bagi Gege untuk bisa menyerap informasi bahwa sekarang situasi Farah sudah berubah sehingga baru kemudian ia menyadari bahwa Zayn sedang mengamatinya dengan kesunyian yang janggal.


Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah, pikir Gege. Pasti begitu. Apakah karena seruan Ya Tuhan tadi? Gege berusaha mencari tahu apakah akan membuat situasi menjadi lebih baik jika ia meminta maaf, tapi saat itu Zayn berkata, "Kau mengenal Farah di markas Dark Devil?"


Nada suara itu. Gege terbiasa berpikir bahwa dirinya adalah pelindung Farah... sehingga butuh pemikiran panjang untuk menyadari bahwa pria asing di hadapannya ini, yang mengaku sebagai ayahnya hanya karena mereka pernah menghabiskan waktu selama satu atau dua menit di pangkal paha seorang wanita yang sama-dalam situasi yang sepenuhnya berbeda menganggapnya sebagai salah satu pria yang telah merusak Farah. Dan tentu saja, dengan cara yang berbeda, ia memang telah merusak Farah.


Sebelumnya, semua itu hanya membuat Gege jengkel. Harus menghabiskan waktu bersama orang asing yang terpelajar ini atas desakan Keith.Menjengkelkan; melihat para pelayan pria itu melongo menatapnya dan menggosipkannya, seolah ia hendak mencuri di rumah ini menjengkelkan: diperkenalkan pada teman-teman bangsawan Zayn yang menatapnya dengan takjub yah, baiklah, yang itu lebih dari sekadar menjengkelkan. Namun, kali ini-sebelumnya hanya Keith Smith yang mampu membuat Gege merasakan kemarahan yang menggelegak dan dingin seperti ini. Perasaan yang biasanya dirasakannya terhadap Zayn, perasaan bahwa ia ingin menghindar dan menghilang, berubah dengan sangat cepat.


"Apakah aku mengenalnya secara intim, itu maksudmu?" cetus Gege, matanya lebih tajam dan lebih terang daripada yang disadarinya.

__ADS_1


Hal terakhir yang diinginkan Zayn adalah membuat putranya marah. Sejujurnya, ia tidak pernah terpikir Gege bisa meluapkan amarah. Apakah Farah telah berhasil mengubah Gege menjadi lebih manusiawi, seperti yang dilakukan gadis itu terhadap Ryan?


"Tidak," ujar Zayn. Tuhan, bantulah aku untuk mengatakannya dengan benar, pikir Zayn dalam hati. "Ryan sudah meyakinkan aku bahwa Farah terlindungi dari hal semacam itu. Kita tidak perlu membahasnya."


"Kenapa tidak? Karena aku tidak sanggup mendengar kebenaran tentang bagaimana aku hidup? Karena kau tidak mau tahu bahwa aku membawa Farah ke markas Dark Devil dengan cara paksa, bahwa aku menyerahkannya kepada Keith untuk diberikan opium, bahwa aku meninggalkannya di tempat tidur Ryan meskipun aku tahu mungkin saja Ryan akan.............", Gege tiba-tiba terdiam, nyaris tidak mengenali suaranya sendiri. Suara yang bergetar dan penuh emosi. Pengucapan huruf vokal yang teredam. Tenggorokannya yang tercekat.


Apa ini? Rasa bersalah. Rasa bersalah untuk semua waktu, saat Farah membutuhkannya, tetapi ia justru mengabaikannya. Rasa bersalah untuk kata-kata kasar yang pernah diucapkannya kepada Farah saat hari-hari pertama Farah berada di markas Dark Devil padahal seharusnya ia bisa bersikap baik dan menenangkan kegundahan Farah. Dan seperti yang pernah sekali dilakukannya sebelum ini, ketika ia mengetahui Farah akan selamat dari serangan malaria yang mematikan, Gege menangis. Dari semua waktu, dari semua tempat, ia justru menangis sekarang. Gegs menguburkan wajahnya di balik telapak tangan yang kapalan, dengan suara yang terdengar seperti erangan dan terkesiap. Tidak berapa lama kemudian, Gege merasa tubuhnya ditarik ke dalam pelukan hangat ayahnya. Seharusnya, Gege menepiskan pelukan itu, karena biasanya ia tidak suka disentuh, tetapi pelukan ini terasa mengejutkan oleh kekuatan dan kelembutan yang terasa di dalamnya: dan kegelapan di sekelilingnya mulai memudar, meskipun isakannya terdengar semakin keras dan memilukan, hingga membuat dadanya sesak. Gege bergumam, "Ini amat sangat memalukan."


Zayn ingat dulu ia pernah bertanya kepada Ryan apakah Gege pernah tersenyum. Ryan menjawab, "Gege punya selera humor, tapi tidak, Gege tidak pernah tersenyum. Saat kau lebih mengenalnya, semua itu tidak akan menjadi masalah."


Ryan memang benar. Semua itu bukan masalah. Sehangat senyuman, ini adalah bentuk ketidakmampuan Gege untuk mengekspresikan perasaannya sehingga air mata-lah yang menjadi bukti ungkapan perasaannya. Sambil menyerap beban dari tubuh putranya yang berharga, menunduk untuk menatap Gege. "Apakah kau sangat peduli dan menyayanginya?" tanya Zayn dengan serius.


"Harus ada seseorang yang melakukannya. Farah sangat tidak berdaya......", Gege mendengar Zayn tergelak, bukan seperti yang biasa dilakukan oleh Keith. Ini adalah suara yang bersimpatik dan menenangkan.


"Farah bukan lagi gadis yang tidak berdaya. Semalam, ia melayangkan tinju ke bagian bawah rahang Ryan yang hampir membuat Ryan terjungkal," ujar Zayn sambil mengamati kepala putranya terangkat, dan bulu mata yang berwarna pucat terlihat lembap oleh air mata yang berkilauan.


"Benarkah? Gadis mungil yang malang, rahang adalah satu-satu- nya anggota tubuh Ryan yang bisa dicapainya, kecuali jika Ryan menunduk," ujar Gege dengan suara bergetar, dan mengerjapkan mata. "Belakangan ini, Ryan bertingkah sangat menyebalkan. Aku harap Farah bisa mengembalikan akal sehat Ryan."


"Aku pikir Farah sudah melakukannya." Zayn tersenyum. "Setelahnya, Ryan bersikap lebih masuk akal." Zayn merasakan ketegangan di bahu putranya, dan ia melangkah mundur, dengan lembut melepaskan pemuda itu, bukan dengan penyesalan, tetapi dengan rasa syukur, karena ia telah diberikan kesempatan singkat untuk bisa memeluk anaknya yang sudah bukan anak-anak lagi.


"Bisakah kau menginap? Kita mungkin harus memberi mereka waktu selama beberapa hari untuk berdua, dan setelah itu, jika kau mau kita bisa mengunjungi mereka."


Gege mengangguk. Saat Gege beranjak ke kursi nyaman yang ditawarkan oleh Zayn dan duduk di atas bantalannya yang empuk. Terpikir olehnya bahwa Zayn menawarkan sesuatu pada orang-orang di sekitarnya, yang tidak pernah diberikan Keith kepada siapa pun. Kedamaian.


...♡♡♡...

__ADS_1


__ADS_2