
"Pergilah. Kumohon". Ujar Farah berusaha sangat keras untuk membuat kata-katanya terdengar meyakinkan. "Kumohon".
"Tidak." ucap Ryan dengan lembut dan menutup pintu dengan satu tangan.
Farah berlari secepat mungkin ke sudut kamar seraya menarik selimut dan menahannya di depan dada, namun Ryan tetaplah seorang pria yang tubuhnya terlatih dengan baik hingga tanpa Farah sadari, Ia sudah ditarik ke dalam pelukan tubuh Ryan. Kepalan tangan Farah dan selimut yang sedang digenggamnya terjepit di antara tubuhnya dan tubuh Ryan. Farah bisa merasakan kulit dan otot dada Ryan detak jantung yang seirama dengan napas lembut pria itu.
Satu tangan Ryan membakar punggung Farah, sebelum bergerak turun hingga ke bokong dan dengan cepat mengangkatnya hingga Farah berdiri dengan berjinjit. Farah mulai merasakan sakit akibat kebutuhan yang tak tereksplorasi Di semua tempat, yang disentuh oleh bagian tubuh Ryan, terasa bergelenyar.
Kepala Ryan menunduk, dan Farah bisa merasakan bibir Ryan menyapu sisi wajahnya, napas pria itu yang beraroma permen mint menerpa hangat wajah Farah. Bibir Ryan bergerak ringan hingga berhenti di bibir Farah. Mata Ryan terpejam, dan bibirnya mulai memberikan ciuman yang sangat lembut. Ryan menurunkan kepalanya sedikit, dan ciuman pria itu bergeser ke leher Farah, sebelum berkelana ke sepanjang rahangnya dan mengeksplor seluruh bagian wajah Farah hingga kembali ke bibir. Tekanan di bibir Farah semakin bertambah saat pria itu menggodanya untuk membuka lebih lebar dan menyeretnya untuk ikut aktif dalam ciuman itu. "Kenapa kau selalu malu dengan lidahmu?" ucap Ryan berbisik di sela tautan mereka berdua.
Farah mencoba mendorong tubuh Ryan agar menjauh darinya. Namun, yang terbaik yang bisa dilakukan oleh Farah hanyalah memalingkan wajahnya. "Lidahku? Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan."
Jari-jari Ryan menangkup dagu Farah, memaksa bibirnya kembali. Sebelum mulut Ryan menciumnya lagi, Ryan berkata dengan suara hampir berbisik, "Biarkan aku menunjukkannya padamu".
Andai jika Ryan tidak memeluknya, Farah pasti sudah jatuh lemas ke lantai. "Ini.... Ini..., Astaga, ada sesuatu yang salah denganmu. Apa kau tidak merasa malu sama sekali?".
"Hanya seperti ini, tidak cukup membuat kita malu". Ujar Ryan dengan nada yang lembut. "Bagaimana mungkin kita sudah merasa malu, ini bahkan hanya sedikit kegiatan pembuka".
__ADS_1
Jari-jari Ryan mulai menjelajah lagi hingga membuat bulu kuduk Farah meremang. Jari jemarinya membentuk pola sensual di seluruh garis leher. Dengan sangat lembut Ryan menghembuskan napas yang menyapu tengkuk Farah, lalu mulut Ryan kembali lagi ke mulut Farah dan dengan perlahan mulai memberinya ciuman yang panas.
"Ayo ikuti aku sayang, bergeraklah. Jangan takut. Aku tidak akan membawamu ke tempat tidur. Hanya di kursi, bagaimana?". Namun Farah tidak menjawab, karena pikiran warasnya sudah terbuai di gantikan dengan sebuah naluri asing yang mendesak. Tanpa sadar Farah sudah berada di pangkuan Ryan, bergelung di dada pria itu, tubuhnya menekan tubuh pria itu.
Wajah Ryan menyuruk ke lekukan pipi Farah, lalu terangkat, sampai mata Ryan yang dipenuhi gairah bisa mengamati sosoknya.
"Apa yang aku lakukan?" Tanya Farah, "Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku?".
"Anggap saja ini sihir sayang.. Ya. Sihir". Ryan menyeringai seraya menatap Farah dengan sangat lekat dengan menyusuri ibu jarinya ke atas bibir Farah yang bengkak, dan merasakan lidah Farah malu-malu menyentuh jarinya.
"Kau pernah bilang padaku, akan mengajariku cara menendang pria di tempat yang tepat. Aku... Aku harap aku sudah mengetahuinya, karena aku.tidak tahu bagaimana membuat semua ini berhenti".
Dalam jarak hangat yang memisahkan tubuh mereka, bola kenyal Farah menyentuh bahan kemeja Ryan. Gerakan sekecil apa pun membuat Farah gemetar. Ryan merasakannya dan mulut Ryan yang berada di pangkal tenggorokan Farah. Farah berusaha menjauhkan diri, tapi dengan tangan yang kuat, Ryan menahannya dalam dekapan pria itu, memberinya kenikmatan pada kulitnya yang sensitif. Bibir Ryan bergerak naik turun, melakukan penjelajahan.
"Bagaimana bisa kau semanis ini? Apakah kau ingin aku mencium seluruh kulitmu? Aku tahu tempat terbaik untukku memulai..."
Kata-kata itu membuat lengan Farah bergelayut di bahu Ryan, saat Farah mendapati dirinya melengkungkan tubuh saat Ryan mengisap bola kenyalnya. Panas terasa menyebar. Entah bagaimana Farah mulai membelai otot kokoh dan lentur di punggung Ryan. Farah mulai menyentuh Ryan dengan bibirnya, tidak peduli apakah itu rambut, alis atau pipi pria itu. "Ya sayang.. Jangan berhenti. Perlahan. Cium aku".
__ADS_1
"Kumohon, Ryan. Pergilah. Aku merasa aku akan pingsan. Lepaskan aku". Tangan Farah menangkup pipi Ryan dengan gemetaran, "Ryan, aku tidak bisa. Apa yang harus aku katakan agar membuatmu berhenti?".
Dengan perlahan, Ryan sedikit menjauhkan tubuhnya dan menatap Farah dengan fokus. "Apa kau tahu kalau sekarang kita terlihat seperti kucing yang sedang kawin? Apa kau benar-benar ingin aku melepaskanmu? Aku tidak tahu apa aku sanggup melakukannya. Kenapa kau ingin berhenti?".
Farah tidak bisa menjawab Ryan dengan kata-kata, hanya menggelengkan kepalamya seolah darah mengalir deras di otak hingga menyingkirkan akal sehatnya.
Ryan tahu lebih baik. Ryan ahli dalam membuat orang-orang melakukan apa yang diinginkannya, dan jika rayuan tak mengenal belas kasihan bisa menarik persetujuan dari tubuh Farah, apa salahnya? Ia bisa memaksa Farah, meskipun gadis itu berteriak menolak, tidak akan ada seorang pun yang akan menghentikannya.
Farah adalah miliknya. Dan anehnya Ia justru merasa bimbang, di saat Ia paling menginginkan Farah, tapi itu justru menjadi momen saat Ia sama sekali tidak ingin memiliki Farah di luar kehendak wanita itu. Semua kerapuhan dan kerentanan Farah terbayang di matanya, dan meskipun tubuhnya menuntut, masih ada sisa akal sehat di dirinya. Bagian dirinya yang paling menginginkan Farah justru menjadi bagian yang paling tidak ingin memaksa Farah. Ryan tahu jika Farah tidak siap secara emosional, dan hanya Tuhan yang tahu kerusakan apa yang akan timbul setelahnya nanti jika Ia paksakan. Ryan memeluk Farah selama beberapa saat, membelai rambut Farah yang berkilauan.
Tiba-tiba saja tanpa terdengar sebuah ketukan, pintu kamar Ryan terbuka dan Gege melangkah masuk. "Farah apa kau ada.........." Gege tidak melanjutkan ucapannya dan hanya membeku seperti pilar, wajah Gege terlihat sangat serius.
"Ah maaf." ujar Ryan. "Wanitamu menyerangku".
Gege menjawab dengan nada tidak ramah. "Apa kau ingin aku menjadi penonton?".
"Tidak. Bawa dia pergi dariku. Aku tidak yakin dia tahu apa yang terjadi" Sahut Ryan dengan kembali menutupi tubuh atas Farah dengan selimut.
__ADS_1
...♤♤♤...
Hadiah hadiah hadiah like like like🤣