
"Katakan kepadaku, kenapa mencium Ryan bisa membuat bencana ini menjadi lebih buruk?".
Gege menghela napas dan menegakkan tubuhnya hingga terduduk di tepi tempat tidur ttanpa mengalihkan tarapan matanya dari Farah. "Sayang, pertama aku harus mengajarimu istilah untuk wanita yang kelihatannya mau, padahal sebenarnya tidak."
"Apa pun kata itu, aku yakin kaum pria lah yang menciptakannya," Timpal Farah.
"Memangnya aku pernah bilang bahwa istilah itu adalah istilah yang adil? Aku hanya berharap kau bisa memikirkannya dengan jernih dan berhenti melakukan hal yang bodoh. Demi kebaikanmu sendiri." Gege lalu beranjak dari tempat tidur dan melangkah menuju pintu kamar membuka pintu dan segera menutupnya kembali.
Tak lama, tiba-tiba terdengar suara lonceng lima kali, yang menjadi penanda waktu, sakit kepala yang kemarin Farah rasakan kembali lagi dengan kekuatan penuh. Pada saat terdengar lonceng tiga kali, sakit kepala itu menjadi semakin tidak tertahankan sehingga Farah hampir tidak bisa berpikir. Cahaya lampu terasa menyakitkan, dan suara orang berjalan di koridor terasa lebih menyakitkan.
Sebelumnya, Farah merasa yakin bahwa sakit kepala itu disebabkan oleh rasa takut terpendam tentang apa yang akan dilakukan Ryan terhadapnya, yang membuat kulit kepalanya terasa berdenyut hebat. Namun, saat rasa sakit itu semakin lama semakin memburuk, Farah mulai berpikir penyebabnya adalah panas yang menyengat, yang sama buruknya seperti musim dingin di kutub utara. Udara di sekitar Farah beruap, dan ia mulai berkeringat ,hingga butiran keringat yang mengalir di pelipisnya juga terasa sakit. Farah membasahi handuk dengan air yang ada di ember, dan tanpa berpikir untuk memerasnya, ia meletakkan handuk basah itu di wajahnya, hingga membuat pakaiannya basah dan tetesannya mengalir hingga ke lengan dan meja.
Ruangan itu terasa sepanas perapian, dan rasa sakit di kepala Farah semakin tak tertahankan, sebelum ia mulai memanggil Gege dengan suara lemah. Sambil berjalan ke pintu, Farahbmembisikkan nama Gege, dan ia meletakkan tangannya di kenop untuk menjaga keseimbangan, dan anehnya, pintu terbuka.
Kenapa mereka tidak mengunci pintu kabinnya?
Farah menemukan tangga dan merangkak naik ke rooftop. dimanabsinar matahari menyerangnya seperti amukan badai, dan suara serta wajah tak asing yang nyaris tidak bisa dikenalinya.
Di rooftop, Farah melihat Ryan bersama Kevin dan Pak Yanka. Ryan berdiri seperti seorang casanova dengan pakaian kebesarannya. Mata kecokelatan Ryan langsung menemukan Farah dan pria itu menghentikan percakapannya dengan yang lain untuk menghampiri Farah dengan langkah yang cepat dan anggun, lalu mengulurkan tangan kepada Farah.
__ADS_1
"Farah!"
Sinar matahari membingkai Ryan seperti aura yang mengagumkan. Bagi pikiran Farahbyang sedang kacau, kedatangan dan gerakan Ryan terasa seperti ancaman. Farahbmundur ke dekat meriam dan berkata, "Jangan sentuh aku."
Ryan berhenti sekitar dua meter dari Farah, ekspresinya terlihat semakin cemas. "Apakah ada yang salah kucing kecilku?"
Penggunaan nama panggilan yang diciptakan Ryan itu membuat Farah marah. Tuhan.... berani sekali Ryan bertanya dengan santai apakah ada yang salah. Kenapa Ryan tidak terlihat kepanasan seperti dirinya? Sambil menyandarkan kepalanya yang panas di sebuah tiang, Farah berkata, "Aku ingin kau melepaskan aku."
Suasana berubah sunyi, lalu Ryan berkata, "Tidak."
"Iya!" balas Farah, nyaris berteriak.
Mata kecokelatan Ryan menatap tajam. "Kau sudah membuat banyak masalah, apakah kau tahu? Beri aku satu alasan kenapa aku harus mengikuti kemauanmu?"
"Sudah terlambat, iya kan, untuk membahas nilai kemanusiaan? Kecuali jika kau pikir kita bisa memutar ulang waktu."
Farah memegang kepalanya dengan menggerutu pelan, sial.. karena bunyi lonceng itu kepalaku....
Farah menoleh lagi ke arah Ryan, pikirannya tiba-tiba kosong dan ia tidak lagi ingat apa yang sedang mereka bicara kan, kecuali percakapan mereka dibumbui dengan pertengkaran. Untuk suatu alasan, rasanya penting baginya untuk menutupi semua itu. "Apakah itu merupakan pertanda atas apa yang terjadi di antara kita kemarin?" ujar Farah, karena firasatnya mengatakan bahwa komentar itu relevan dengan pembicaraan mereka sebelumnya.
__ADS_1
"Tidak." kata Ryan dengan mata yang bersorot dingin. " Bagaimanapun juga, jangan sampai hal itu menghentikanmu jika kau pikir ada sesuatu yang harus kita pertengkarkan."
Gege sudah memperingatkan Farah akan hal ini, tetapi nasihat Gege disampaikan dengan sangat cepat sehingga Farahbtidak ingat apa isinya. la pikir, sesuatu tentang konsistensi.
"Aku tidak akan tinggal di sini untuk menjadi wanita simpanan mu," ujar Farah dengan putus asa. Ryan merespons dengan sangat cepat, hingga terasa sepertibtamparan. "Rasanya kau sudah terlalu sering mengatakannya, hingga menjadi membosankan. Apakah menurutmu kau bisa mencari kata-kata lain?".
"Mungkin. Jika kau memang sudah memahaminya." Kepala dan tubuh Farah terasa terbakar, "Memangnya aku kotak musik yang bisa kau mainkan dan matikan sesuka hatimu?"
"Sial. Aku harap sekali saja kau mau patuh kepadaku." Ada amarah yang tertahan di suara Ryan, mulut indah Ryan tersenyum sinis. "Tuhan mencegah kau dan aku melakukan sesuatu dengan cara yang sederhana, Farah ku, tapi mungkin akan menghemat waktu dan mencegah kita berdebat panjang lebar jika kau bisa mengatakan kepadaku apa yang membuatmu marah."
Farah terdiam. Mereka bertatapan, Farah terlihat marah, Ryan terlihat dingin, sampai embusan angin menyapu kemeja Farah dan mendinginkan kulitnya yang panas. Tubuh Farah gemetar hebat, membuat otot-ototnya tertarik. Gelombang panas menyapunya seperti embusan angin yang berasal dari oven. Semua itu hanya berlangsung selama beberapa detik meskipun untuk Farah rasanya terus berlanjut. Selama itu, Farah melihat Ryan berjalan menghampirinya. Merasa panik dengan kedekatan mereka, Farah menjauh dari Ryan, dan mencengkeram bagian depan kemejanya dengan tangan yang kering dan gemetar.
"Aku bukan binatang peliharaan. Aku tidak mau diurusi," ujar Farah.
Ryan tidak bergerak lagi untuk menghampiri Farah meskipun semua orang yang melihat Ryan, selain Farah, bisa melihat butuh usaha keras bagi Ryan untuk melakukannya. Saat Ryan berbicara lagi, suaranya terdengar lembut dan penuh perhatian.
"Sayang, aku tahu kau bukan binatang peliharaan. Tidak ada seorang pun yang akan menyentuhmu jika kau tidak menginginkannya, tapi kau harus pergi ke bawah dan....."
"Dan apa? Pergi ke bawah dan menunggu untuk disiksa?" Suara Farah tedengar bergetar. "Atau pergi ke bawah sampai kau siap mencambukku? Atau kau akan mencari cara untuk menggabungkan keduanya? Oh, aku sudah tahu betapa hebatnya dirimu."
__ADS_1
Meskipun melalui pandangan yang sepertinya dipenuhi oleh bintang yang berkilau, Farah melihat seorang pemuda berambut hitam mendekatinya dari atas menara. Pemuda itu berlari, dengan ekspresi khawatir menghiasi sosoknya yang masih seperti anak remaja. Butuh waktu beberapa detik bagi Farah untuk mengenalinya sebagai Gio, tetapi kemudian nama itu hilang dari ingatannya. Pemuda itu menoleh ke Ryan, lalu kepada Farah, dan berjalan menghampirinya. Di antara rasa panas dan sakit yang menyerangnya, Farah terpikir bahwa Ryan sengaja mengirimkan pemuda itu untuk mencambuknya, dan ia menjauhkan diri dari pemuda itu hingga menyentuh tali temali, Ryan menahan pemuda itu agar tidak mendekati Farah.
...♤♤♤...