Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 34


__ADS_3

Tadi malam, Farah mendengar Ryan membisikkan kata cinta kepadanya di alam mimpi, entah itu nyata atau tidak, Farah tidak yakin. Tapi, di ruang kosong di dalam jiwanya, Farah berdoa bahwa bibit ketertarikan Ryan terhadapnya akan berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar. Dan saat pagi hari adalah waktunya ia kembali pada akal sehatnya, Farah menyingkirkan semua harapan muluknya itu. Kebaikan apa pun yang tampak dalam tatapan Ryan saat ini, tidak ada apa pun yang semurni cinta atau setercela gairah, seolah Ryan telah memutuskan untuk mengabaikan gairahnya yang tak terpuaskan. Ryan membangun benteng di antara mereka, bukan karena itu akan melindungi Ryan dan Farah sendiri, tetapi karena itulah hal yang paling logis untuk dilakukan.


Di mata Ryan yang menatapnya dengan hangat, di garis bibirnya yang sensual, tidak ada tanda-tanda bahwa Ryan mengalami perang batin untuk menyangkal kenikmatan yang dirasakannya karena ciuman mereka kemarin dan perubahan Farah yang ikut larut dalam ciuman itu. Oh, tidak, hubungan mereka tidak memiliki harapan, Farah sudah menyadari itu bahkan sebelum ia tahu keterlibatan Ryan dalam militer negara tempat dia dilahirkan. Tidak ada harapan.


Setelah selesai mengamati Farah dengan saksama, Ryan berkata, "Jika aku boleh menebak, dan aku punya tebakan bagus... Tebakanku adalah Will tidak akan melayangkan tangan kepada Gio hanya karena Gio berusaha untuk merusakmu, jadi aku menduga yang terjadi justru sebaliknya. Kau membujuk Gi melakukan apa, yang tidak disukai oleh Will?"


Jika dalam urusan menebak, tidak ada yang lebih baik daripada Ryan. Farah berusaha untuk tidak menunjukkan emosi apa pun, tatapan Ryan tetap tenang dan membingungkan. Farah sama sekali tidak yakin sikap tenangnya apakah berhasil atau tidak. Tangan Ryan diulurkan ke bahunya, dan meremasnya dengan lembut. Farah merasakan belaian tangan Ryan, dan kehangatan pria itu yang menembus masuk dengan perlahan ke tubuhnya yang kedinginan. Itu adalah fakta yang jelas bahwa Ryan bisa menyentuh Farah dan tetap tidak menariknya ke dalam dekapan pria itu untuk melakukan sesuatu yang lebih. Saat Ryan berbicara lagi, suara pria itu terdengar sangat lembut, "Lupakanlah. Hanya saja, jangan melakukan hal yang bodoh, Farah sayang. Jika kau bukanlah seperti yang kau sangkal-dan aku bisa mulai memercayaimu, tidak ada yang perlu kau takutkan dariku. Kau tahu, aku sudah berubah pikiran. Aku akan memeriksa kebenaran ceritamu, dan jika apa yang kau katakan memang benar....., Hmmm kita akan melihatnya nanti."


"Apa maksudmu?" tanya Farah terlalu tergesa-gesa.


"Jangan khawatir," ujar Ryan. "Aku rasa kau akan bisa mele watinya."


Tidak, aku tidak akan bisa melewatinya, pikir Farah. Apalagi jika itu ada hubungannya dengan foto dirimu yang aku berikan untuk pemerintah negaraku. Apakah kau akan mengetahuinya? Aku tidak mau berada di sini saat kau mengetahuinya, Farah bergumam dengan perasaan tak menentu.


Meskipun dengan ragu-ragu dan wajah merona malu, Farah tetap berkata, "Tentang kemarin...." Senyuman menawan tersungging di bibir Ryan. "Butuh orang yang sangat terpelajar untuk bisa mendeteksi di mana akal sehatku saat itu, tapi kau mampu membangkitkan gairahku lebih cepat daripada yang pernah dilakukan wanita lain."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Aku pikir"-tangan Ryan meninggalkan bahu kiri Farah. "Itu ada hubungannya dengan caramu terjatuh di lantai kamar mandi." Kata-kata Ryan, meskipun terdengar ramah namun tidak serius. Farah berdiri dan mulai berjalan ke arah pintu.


"Ryan?". Farah berbalik ke arah Ryan, di tempat pria itu sedang berdiri, berupa siluet di dekat jendela. "Apa kau benar-benar akan kembali pergi dengan kapal ke daratan?".


"Kau mendengarkan dengan seksama, ya?" ujar Ryan dengan tersenyum. "Ya. Aku akan pergi. Kenapa?"


"Apa kau sedang menjalankan misi tertentu kali ini?". Tanya Farah dengan hati-hati.


"Memangnya, apa yang hendak dibicarakan para intelijen itu dengan para mafia seperti kalian?" tanya Farah.


"Hmm.. jika informasi Keith memang benar, intelijen itu memiliki informasi untuk sesuatu yang aku perlukan."


Farah menatap Ryan dengan berpikir keras, Tidak aman mengajukan terlalu banyak pertanyaan pada pria ini, meskipun begitu, Ryan tidak mungkin mencurigai rasa penasaranku, kan?, Farah bergumam dalam hati.

__ADS_1


"Apakah memang seperti itu cara kerja intelijen untuk negaranya? Selalu merangkul orang-orang yang bisa membawa keuntungan namun juga bisa menusuk mereka dari belakang?".


Ryan melangkah pelan dengan menatap lembut pada Farah. "Terkadang kita memang perlu gencatan senjata untuk mendapatkan sebuah kesepakatan, sayangku".


"Sebaiknya kau pergi meninggalkan kamar ini sekarang sebelum aku tidak bisa menahan diri lagi. Semoga harimu menyenangkan". Ujar Ryan dengan halus meminta Farah keluar kamar.


Sejam kemudian, dari balik pohon kelapa yang menjulamg tinggi di sekitar dermaga, Farah melihat Ryan yang terlihat tampan dan gagah naik ke kapal dengan sejumlah anak buah Dark Devil.


Hari itu cuaca semakin memburuk. Hujan gerimis turun di atas air laut yang berombak tinggi dan gelap, dan udara berkabut tebal. Hawa dingin tidak sampai ke Farah karena Ia mengenakan mantel bulu milik Ryan yang sangat tebal.


Farah baru saja hendak berhenti mengamati, saat ia menyadari ada perahu kecil lain yang bergerak seperti bayangan di antara ombak. Saat perahu itu mendekat, ia bisa mengenali penumpang di dalamnya yakni Pak Yanka, kepala teknisi markas Dark Devil. Tampaknya, Pak Yanka memanfaatkan kapal yang sedang berhenti untuk memancing. Namun, cuara yang buruk pasti telah membuat Pak Yanka putus asa, karena dia mengayuh dayung perahunya kembali ke kapal, mengikatnya di sudut kapal dan dengan cepat memanjat naik ke atas geladak. Selama lebih dari sejam, Farah terus mondar-mandir di bawah gerimis dari balik pohon kelapa. Perahu itu masih ada di sana. Farah heran kenapa mereka tidak membawa perahu itu naik, apalagi dengan badai yang sepertinya akan segera datang. Pak Yanka pasti lupa mengangkat perahu yang digunakannya untuk memancing. Pak Yanka sepertinya memiliki kecenderungan untuk mudah kehilangan minat terhadap semua hal yang tidak berhubungan dengan teknik. Jika perahu itu rusak karena terjangan badai, Kevin, sang kepala keamanan, mungkin akan menegur Pak Yanka. Dibebani oleh perasaan gelisah, Farah pergi untuk mengingatkan Pak Yanka tentang perahu yang terabaikan itu. Namun, Farah menghentikan langkahnya karena ada ide baru yang terlintas di dalam otaknya.


Dada Farah berdebar-debar, tangannya sedingin marmer, dan ia terus memikirkan ide tersebut, seolah ia tidak percaya ia mampu mendapatkan ide semacam itu.


...♤♤♤...

__ADS_1


Likeeee, komeeenn, hadiaaahh😅


__ADS_2