Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 54


__ADS_3

Pada awalnya, suara mereka terdengar melankolis, tapi setelah mendengar mereka lebih lama, suara mereka terdengar seindah cuitan burung. "Ryan membelai anak rambut di kening Farah. "Apakah aku bisa mengambilkan sesuatu untuk kau minum?"


Farah membiarkan Ryan menopangnya dengan lengan, dan dengan penuh syukur menerima air yang ditawarkan pria itu, Ryan tidak pernah memeluknya lagi sejak malam itu di pulau asing. Rasanya sangat nyaman sehingga Farah tidak mau Ryan melepaskannya dan saat Ryan bergerak untuk membaringkannya. Farah mencengkerm kemeja pria itu.


"Memangnya kau tidak mau tidur?" tanya Ryan.


"Tidak," bisik Farah. Jadi, tanpa bicara, Ryan menarik selimut dan melilitkannya di tubuh Farah, sebelum menggendongnya ke kursi yang ada di depan jendela, tempat Ryan duduk dan memeluk Farah dengan erat.


Jendela besar yang terbuka memperlihatkan langit yang dipenuhi oleh bintang berkelap-kelip dan bulan yang menari. Ryan menyelimuti kaki Farah dengan sangat berhati-hati, karena meskipun malam ini terasa hangat, tapi sedikit saja kedinginan bisa membawa akibat yang membahayakan untuk kondisi tubuh Farah yang semakin lemah. "Jika kau lapar-" ujar Ryan.


"Tidak." Potong Farah. Aroma lembut kulit Ryan yang terpancar dari balik kemeja yang tidak dikancingkan sampai ke indera penciuman Farah, dan ia menarik bahan kemeja yang memisahkan pipinya dengan dada telanjang Ryan.


Saat Ryan melihat apa yang hendak dilakukan Ryan, ia membantu gadis itu dan menyapukan bibirnya dengan lembut di kening Farah, begitu gadis itu sudah bergelung dengan nyaman di dadanya.


"Aku bertanya-tanya apa yang sedang dibicarakan oleh paus-paus itu," kata Farah.


Lengan Ryan memeluk Farah semakin erat dan nyaman. "Hmm? Paus-paus? Sayangnya bahasa pausku tidak sefasih yang seharusnya." Malam ini suara paus yang mereka dengar terasa sensual dan hangat.


Dan Ryan hampir bisa merasakan kelembutan permainan cinta mereka, tarian balet yang anggun di atas air, saat dua tubuh menggeliat di udara yang lembap. Itu adalah pikiran sentimental untuk pria yang jarang sekali memikirkan hal-hal lembut seperti cinta dan percintaan. Tiba-tiba saja Ryan menyadari bahwa ia merasa lelah. Kontak dengan tubuh Farah pasti membuatnya merasa santai, dan hal itu membuatnya bertanya- tanya seperti apa rasanya tidur di samping Farah, untuk melayang- layang di alam mimpi dengan embusan napas Farah di bahunya. Dan itu adalah pikiran yang sama sekali baru untuknya, karena meskipun ia sering tertawa bersama dan bersentuhan untuk waktu yang lama dengan semua kekasihnya, ide untuk tidur di samping mereka selalu terasa tidak menarik. Ryan memiliki sejumlah teori mengenai hal itu, dan tidak ada satu pun yang menyenangkan.

__ADS_1


Farah menatap Ryan. "Paus-paus itu," tambah Ryan. "Dari tempat mereka di bawah sana, di dasar laut, mereka mendengar bahwa kau sedang sakit." Terdengar suara erangan panjang. "Kau dengar itu? Mereka turut bersedih, jadi mereka mengirimkan pesan pada penguasa Artic, di mana angin Utara menetap di gua es, untuk meminta mereka mengirimkan embusan angin dingin agar kau bisa merasa lebih nyaman selama masa penyembuhanmu. Dan, setelah kau pulih sepenuhnya, mereka akan mengajakmu untuk menunggangi mereka mengarungi lautan."


Farah tersenyum sedikit, dan memberikan tatapan skeptis, seperti seorang anak kecil yang mulai merasa ragu dengan cerita fantasi. Ryan bisa merasakan tarikan di kemejanya, saat Farah memainkan kancing yang terdapat di sana.


"Ryan?"


"Ya?"


"Sore ini, saat aku terbangun dari tidur siangku, aku mendengarmu berbicara dan-Apakah kau bertengkar dengan Keith tentang diriku? Aku tahu Gege berpikir kamar ini lebih baik untukku, karena sirkulasi udaranya lebih lancar, tapi jika Keith keberatan terusir dari kamarnya, aku pikir-"


"Jangan khawatir. Bisakah kau berhenti mengkhawatirkan kami selama beberapa hari? Justru atas perintah Keith lah kau ditempatkan di sini, dan jika memang ada motif lain di balik tindakan itu, tidak ada satu pun dari kami yang bisa menebaknya, sampai Keith mengatakannya sendiri pada kami. Aku tidak tahu apa yang kau dengar, sampai kau menganggapnya sebagai pertengkaran. Apakah Keith terdengar marah?"


"Oh. Itu." Tangan Farah menyentuh pipi Ryan, terasa gugup dan bingung, dan membuat Ryan bertanya-tanya apakah menjadi siksaan bagi Farah untuk merasa tergantung seperti sekarang kepada seorang pria, yang tidak selalu memperlakukannya dengan baik. Kali ini kejujuran akan lebih baik. "Aku mengalami masalah sulit tidur, dan Keith mengaitkan insomnia dengan melodrama. Dia bilang aku tenggelam seperti peluru dalam cairan rasa bersalah."


Kepala Farah bergerak, rambut Farah terasa seperti belaian di dada dan perut Devon, membuat darahnya berdesir di seluruh pembuluh darahnya. Saat Farah berbicara, Ryan memaksakan dirinya agar bisa menenangkan diri lagi.


"Apakah maksudmu," tanya Farah, "tentang aku?"


"Saat ini, akan lebih menyenangkan jika kau tidak ingat bahwa akulah yang telah membuatmu takut hingga mendorongmu untuk melarikan diri." Sambil memiringkan kepalanya sedikit, Ryan menyapukan ujung jari Farah ke bibirnya. Bukannya menarik tangannya karena malu, seperti yang diperkirakan oleh Ryan, jari-jari Farah justru menekan mulutnya, menjelajah dengan lembut, saat ia menyapukan lidahnya ke jari itu.

__ADS_1


"Saat aku mencuri surat-suratmu, aku tidak tahu bahwa surat-surat itu milik Andreas" bisik Farah.


Di balik jari-jari Farah, Ryan berkata, "Kapan kau mengetahuinya?"


"Setelahnya. Aku mulai menebaknya saat aku melihat ekspresi wajahmu di perahu."Kemudian, dengan putus asa, Farah menambahkan, "Bisakah kau memercayaiku?" Tapi sebelum Ryan bisa menjawab, Farah mengerang karena hujaman rasa sakit. Usaha untuk memikirkan masalah sensitif seperti Andreasbmembuat sakit kepalanya akibat malaria kembali kambuh dan kepalanya terasa seperti hendak pecah.


"Di mana yang sakit? Tunjukkan kepadaku, Sayang." Terdengar suara Ryan, dan Farah membawa tangan Ryan ke kepalanya. membiarkan tangan lihai Ryan memijat dan menenangkan rasa sakit yang menyiksa di kepalanya.


"Farah.... Saat ini, aku tidak peduli sekali pun kau mengambil semua surat yang kumiliki dan membakarnya".


Sambil memeluk Farah dengan erat, Ryan berkata dengan lembut, "Aku tahu tidak ada alasan bagimu berpikir kau bisa memercayai aku, tapi untuk kali ini, bisakah kau memercayaiku? Aku harus tahu siapa kau sebenarnya. Akan membutuhkan waktu yang cukup lama untukmu bisa sembuh sepenuhnya, dan kau bisa ditemani oleh seseorang yang sudah lama kau kenal. Kau bilang kau memiliki keluarga atau seingatku kakakmu? dan di club ada seorang pria yang bersamamu.... Biarkan aku meminta seseorang untuk datang."


Farah tidak sanggup memikirkan semua masalah itu lagi, dan godaan untuk bisa bersama Zac menjadi terlalu sulit untuk ditolak. Dengan menggunakan sisa kekuatan yang masih dimilikinya, Farah melingkarkan lengan di seputar leher Ryan, mengangkat kepalanya yang sakit, dan menempelkan bibirnya dengan lembut di atas bibir Ryan.


Farah merasakan tarikan napas terkejut Ryan, dan sisi *********** menempel dengan nyaman di dada Ryan yang tegang.


Untuk waktu yang cukup lama, mereka berpelukan di tengah sentuhan lembut itu. Tanpa melepaskan pagutan bibir, Ryan mengendong Farah ke tempat tidur dan menarik selimut hingga ke dagu gadis itu. Ketika akhirnya Ryan mengangkat kepalanya, ia menangkupkan pipi Farah yang merona dengan kedua telapak tangannya dan membelainya dengan lembut sambil menunduk dan tersenyum saat menyaksikan rasa kantuk menyeret Farah darinya.


...♤♤♤...

__ADS_1


__ADS_2