
Bagian pertama percakapan Ryan dengan Zayn terpusat tentang pemuda itu, yang sosoknya tidak pernah hilang dari Zayn. Waktu tidak lagi mereka pikirkan. Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi namun keduanya masih urung untuk berhenti mengobrol.
Zayn memperhatikan betapa seringnya tatapan Ryan beralih ke gadis yang sedang tidur. Beberapa kali sang pewaris keluarga Crandall berjalan ke sofa dan berdiri sambil menatap Farah, sepertinya tidak sadar dengan tindakannya sendiri, meskipun sekali, saat bibir gadis itu membuka dan mengeluarkan suara dengkuran pelan, yang menyiratkan kelelahan besar, Ryan menunduk di bagian belakang sofa dan tersenyum kepada Farah dengan sangat lembut. Selimut merosot jatuh dari atas bahu Farah, dan dengan lembut Ryan menariknya kembali, sementara Zayn, yang mengawasi mereka, sulit mengingat apa yang tadi mereka bicarakan. Jelas sekali di mata Zayn bahwa hubungan mereka tidak sederhana.
Kemudian percakapan beralih ke nenek Ryan. Secara tiba-tiba, Ryan berkata, "Sudah dua kali aku bertanya kepadamu rencana jahat apa yang dibuat oleh nenekku. Dua kali pula kau mengalihkan pembicaraan. Jika memang seburuk itu, apakah aku harus menuangkan wine lagi untuk diriku sendiri?"
Zayn tersenyum dengan ragu-ragu. "Aku tidak bermaksud untuk terlalu mendramatisasi. Tapi aku takut dia sedang merencanakan sesuatu untukmu."
Botol berwarna hijau di tangan Ryan berhenti di tengah jalan menuju ke gelas. Dalam kesunyian itu, Zayn melihat mata Farah terbuka, tapi gadis itu tetap berbaring tanpa bersuara, menatap kosong ke lukisan yang ada di dinding.
Botol wine itu bergetar sedikit di tepi gelas Ryan. Setelah meletakkan gelas tersebut, Ryan berkata dengan suara pelan, "Zayn......".
"Nenekmu kembali mengkhawatirkan penerus keluarga." ujar Zayn akhirnya.
"Itu bukanlah kejutan." Tawa renyah dan mata kecokelatan Ryan menatap Zayn. "Aku tahu dinasti Crandall tidak boleh putus. Tapi seseorang harus mengatakan padanya aku bisa menghasilkan anak tanpa bantuannya. Sudah lebih dari dua ratus orang gadis disodorkannya kepadaku. Aku tidak tahu apakah ada wanita lajang lain di New York yang belum diamatinya."
Menyadari bahwa gadis di sofa mengerjapkan mata. Zayn berkata, "Tepat sekali. Sejauh ini, dari jejak rencananya yang bisa kulacak, sepertinya dia berpikir istri dan anak akan membuatmu tetap berada di New York. Dia sudah tua, kesepian, dan-" Zayn terdiam, mengamati Ryan yang berjalan ke arah perapian. Ini bukanlah waktu yang tepat untuk menasihati. Tidak ada gunanya berdebat panjang lebar mengenai masalah ini, tapi Zayn terpaksa harus berkata, "Omong- omong, nenekmu menggunakan taktik baru untuk menemukan istri untukmu."
"Tidak ada gunanya," ujar Zayn. "Sebentar lagi posisi itu akan terisi,"
__ADS_1
Terkejut oleh pengumuman Ryan yang tidak terduga, Zayn menunggu anak angkatnya itu menjelaskan lebih lanjut. Ketika Ryan tidak mengatakan apa-apa lagi, Zayn berusaha menenangkan dirinya dan berkata, "Karena tidak mendapatkan informasi apa pun tentangmu, nenekmu berusaha mencarikan seorang gadis untukmu. Tidak ada yang pernah tahu apa yang ada di dalam pikiran nenekmu. Mungkin ide bahwa melalui istrimu, dia mungkin bisa memenangi kembali cintamu."
"Sial," cetus Ryan dengan jengkel. "Gadis apa?".
"Gadis Indonesia yang cerdas dan berasal dari keluarga terhormat"
Ryan menyandarkan satu bahunya di samping perapian. "Aki tidak tahu nenekku mengenal seorang gadis di benua lain."
Zayn tidak membuang-buang waktu dengan menanyakan apakah yang dimaksudkan Ryan adalah neneknya tidak mengenal gadis Indonesia atau gadis yang cerdas. "Dia tidak tahu. Keith Smith lah yang tertarik dengan gadis itu."
"Aku bisa meyakinkanmu," kata Ryan sambil menatap ayah angkatnya dengan tajam, "Keithtidak tertarik dengan gadis muda."
Sebagai seorang pria yang memiliki insting tajam, Zayn berusaha keras, terutama selama beberapa tahun terakhir ini untuk mencegah dirinya menjadi orang yang angkuh. Meskipun begitu, ada beberapa hal yang tidak akan pernah bisa didengarnya dengan ketenangan hati, dan salah satu di antaranya adalah tentang kebejatan moral Keith.
Ryan berpikir sejenak sebelum menjawab, "Andrew Baldwin. Sekretaris Pertahanan. Putranya adalah anggota dinas rahasia yang kehebatannya sudah dikenal luas mereka bilang, satu-satunya orang yang berotak di antara staf Archery. Dia memberikan pukulan telak untuk mata-mata di negara lain. Aku ingat nama itu pernah disinggung dalam percakapanku dengan Keith. Dia tidak pernah mengatakan kepadaku bahwa dia memiliki hubungan dengan mereka."
"Hubungan Keith adalah dengan ibu si anggota dinas rahasia itu, sebelum wanita itu menikah dengan Mr. Baldwin. Wanita itu orang Indonesia dan sudah lama meninggal. Bagaimana Keith bisa mengenalnya, atau kapan, aku tidak tahu, tapi Keith memiliki keterikatan yang cukup kuat hingga dengan sengaja dia menempatkan seseorang sebagai staf rumah tangga untuk mengawasi putri keluarga Baldwin yang sudah tidak memiliki ibu, seorang pria yang dulu menjadi anak buah Dark Devil bernama Henry, memang bajingan, tapi menurut penjelasan Keith pada nenekmu, dia orang yang bisa diandalkan."
Farah yang berada di sofa, seketika itu juga langsung memucat, dan matanya membelalak. Sejumput rambut menempel di keningnya yang basah. Ini terlalu kejam. Zayn berjanji kepada dirinya sendiri bahwa segera setelah ia menceritakan urusan yang tidak menyenangkan ini kepada Ryan, ia akan berkeras agar Farah tidur di kamar.
__ADS_1
Zayn melanjutkan, "Nenekmu berkoresponsdensi dengan tante gadis itu di Indonesia atas permintaan Keith, Sepertinya Keith tidak pernah mengatakan pada nenekmu bahwa dia berniat membawa Miss Baldwin ke Amerika, tapi itulah kesan yang didapatkan oleh nenekmu. Akibatnya dia mengambil inisiatif untuk terlebih dulu mengundang gadis itu untuk menemuinya.............."
"Itu tidak mungkin!". Sergah Ryan.
"Sepertinya dia berpendapat akan lebih baik dia mencarikan gadis yang tidak akan terlalu menimbulkan skandal jika kau menolaknya karena menganggapnya tidak....", Zayn sepertinya tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk menegaskannya.
"Tidak pantas untuk dinikahi?" sambung Ryan dengan dingin, "Miss Baldwin yang malang."
"Benar, Miss Baldwin yang malang," ujar Zayn sependapat.
"Nenekmu memiliki beberapa pilihan tentang cara membawa gadis itu ke Amerika. Dia menulis surat pada tante Miss Baldwin yang menyertakan janji untuk mengatur pernikahan yang baik untuk keponakannya dan memberikan surat itu pada Andreas dengan perintah agar Andreas sendiri yang membawa kedua wanita itu ke Amerika dengan pesawat penumpang biasa."
"Dan kau membiarkannya saja? Dengan Andreas ikut campur dalam usaha nenekku mencarikan istri untukku?!" Ada ketidakpercayaan di mata Ryan.
"Kau tahu aku tidak akan membiarkannya," balas Zayn dengan nada tersinggung. "Tapi surat menyurat dilakukan di tingkat tertinggi. Nenekmu memiliki hubungan yang dekat dengan pihak Whitehall. Aku tidak perlu mengingatkanmu bagaimana reaksi Whitehall mengenai masalah pernikahanmu."
"Tidak," ujar Ryan, beranjak dari samping perapian dan menurunkan wine nya yang belum tersentuh di meja samping dengan suara berdenting keras. "Kau tidak perlu mengingatkanku. Dari ekspresi wajahmu sepertinya kau menduga Andreas membunuh gadis itu!"
"Itu yang kutakutkan," ujar Zayn, penyesalan terdengar jelas disuaranya. "Memang tidak ada bukti, tapi gadis itu menghilang di bandara sebelum pesawat lepas landas. Tante gadis itu sekarang ada sini. Tinggal bersama ibumu dan pada awalnya sang tante berpikir gadis itu kabur untuk tinggal bersama ayahnya; tapi kami mendapatkan kabar gadis itu tidak ada di rumah ayahnya, dan sang ayah menegaskan bahwa tantenta itu tidak memiliki hak untuk memindahkan putrinya ke Amerika dan menuntut agar putrinya itu segera dikembalikan padanya. Masalah itu menjadi bagian dari pembicaraan perdamaian, karena pihak Indonesia tidak percaya dengan pengakuan Whitehall bahwa kita tidak tahu di mana keberadaan gadis itu...."
__ADS_1
Ryan tidak lagi mendengarkan. Ia berbalik untuk menatap Farah, yang menatap balik Ryan dengan tangan *******-***** selimut. Bibir Ryan membuka sedikit, dan di matanya yang membelalak lebar terlihat kesan tercengang. Zayn sulit untuk membaca ekspresi wajah Ryan, tapi tampaknya tidak demikian dengan Farah. Farah menggumamkan sesuatu, seruan yang tidak jelas, dan dengan cepat bangkit dari sofa berlari ke arah pintu.
...♤♤♤...