
"Mengincar pria lain? Apa maksudmu adalah pria bertubuh besar yang mencoba berbicara dengannya?"
"Kau memang cepat tanggap ya?" Puji Ryan. "Pria yang kau lihat saat Keith menodongkan pistolnya adalah seorang penyelundup lintas negara, sialnya dia sempat berpura-pura menjadi bagian dari Dark Devil sampai memasang bendera khas pimpinan Dark Devil yaitu bendera Keith. Hal semacam itu membuat Keith cukup kesal walau Ia tak menampik sebenarnya aksi pria itu menambah reputasi Keith di mana-mana tapi tetap saja tidak menambah isi saldo bank Keith bukan?" Ryan terkekeh pelan saat menjelaskan pada Farah.
Tiba-tiba saja dari dalam club, terdengar suara jeritan yang mengerikan yang berhenti begitu saja. Dengan santai Ryan berucap, "Keith sangat benci dengan suara teriakan".
"Apa yang mereka lakukan padanya?". Ujar Farah dengan nada bergetar.
"Dia akan selamat, mereka hanya menakutinya." Jawab Ryan. "Katakan padaku, siapa kau sebenarnya?
Siapa aku? Aku saja sering bertanya pada diriku sendiri di depan cermin.. Siapa aku? Kini saat melihat seseorang menanyakan hal itu padaku, bagaimana aku bisa menjawabnya?
Farah bergumam seraya menatap Ryan. "Aku- aku bukan siapa-siapa". Ujar Farah akhirnya.
"Hmm.. Apa kau selalu menjadi bukan siapa-siapa, atau kau memang suka menjadi bukan siapa-siapa?". Ryan bersandar ke jendela mobil.
Farah tersenyum tipis. "Maksudku, aku bukan seseorang yang penting".
"Kau tidak perlu mengatakannya padaku. Begitu melihatmu, aku tahu kau bukan sekadar orang yang tidak penting. Apa kakakmu yang menyuruhmu ke luar? Apa dia yang memintamu memakai bantalan kaim agar kau terlihat hamil?".
Dengan wajah semerah tomat rebus, Farah menunduk malu. "Itu bukanlah ide yang bagus".
Ryan terkekeh. "Sebenarnya itu ide yang bagus jika kau tidak ketahuan olehku. Bantalan kain itu kurang bisa di ajak kerja sama ya?" Entah memang menyatakan simpati atau justru meledek Farah.
Ryan menatap sejenak pada Farah. Keduanya saling diam tak bersuara. Ryan menatap dua bola kenyal Farah dengan belahan yang tercetak.jelas. "Apa kau mau memakai jaketku? Kau terlihat kedinginan".
__ADS_1
Seketika itu juga Farah menggelengkan kepala. "Tidak, tIdak perlu. Terima kasih".
Ryan menatap Farah dan memegangj dagunya, lalu membelai bibir bawahnya dengan jbu jari. "Apa kau yakin? Ujar Ryan. "bahwa kau tidak kedinginan?"
Farah menatap Ryan dengan sorot malas dan sedikit bertanya-tanya apa yang akan di lakukan oleh Ryan jika pria itu tahu bahwa Zac, Ben dan Austin adalah seorang mata-mata yang sedang melakukan sebuah misi, dan apa yang akan di lakukan oleh Ryan jika pria itu tahu kalau Farah sudah mengambil gambarnya secara diam-diam melalui sebuah kamera yang ada di kalung Farah?
"Aku sangat yakin kalau aku tidak kedinginan". Ujar Farah.
Ryan menyusuri pipi Farah yang mulus. "Hmm.. Tapi kurasa kau sangat kedinginan.."
Farah berusaha menjauh sedikit, hanya sedikit karena pria itu tidak memberikan sjsa jarak yang banyak antara tubuh keduanya. Ryan berada sangat dekat dengannya hingga Ia bisa merasakan embusan napas Ryan di pipi serta belaian lembut jari-jari Ryan.
"Aku-aku tidak kedinginan"
Dengan perlahan, Ryan menempelkan bibirnya di bibir Farah, menyentuhnya dengan sangat lembut layaknya seorang pria yang mencium kekasih yang di cintainya. Lalu dengan pelan, Ryan meletakkan ibu jarinya di bibir Farah dan menekannya dengan lembut hingga akhirnya bibir Farah membuka sedikit saat Ryan kembali menciumnya.
Satu jari Ryan memainkan seuntai rambut di sisi kepala Farah dan menyusuri garis telinganya, lalu dengan cepat telapak tangan Ryan yang lebar mengangkat rambut Farah dari bagian belakang kepalanya. Ryan memiringkan kepala Farah dari satu sisi ke sisi yang lain, menyeret bibir wanita itu ke bibirnya.
Darah Farah terasa berdesir hebat. Bulu kuduknya meremang. Ia tidak tahu jika ada sensasi memabukkan semacam ini yang bisa di ciptakan antar dua insan manusia. Ini adalah dunia baru bagi Farah. Tanpa sadar Farah mengeluarkan suara yang Ia dengar memalukan. Ryan membelai bahu Farah dan dengan cepat menarik pinggang wanita itu agar lebjh dekat dengan tubuhnya.
Farah mulai terhuyung karena kuatnya sensasi yang di timbulkan Ryan di bibirnya. Lengan Ryan melingkarinya, telapak tangan Ryan menekan punggungnya dan mulut Ryan mencium dengan penuh semangat dan mendesak, Ryan lalu menangkup kedua peach Farah dan mengangkatnya ke tubuh pria itu. Farah terkejut bukan main dan seketika tersadar.
"Astaga.. Kumohon... Tidak.." Farah meracau saat bibir Ryan masih bergerak menyusuri rongga mulutnya.
"Hm?" Jawab Ryan dengan suara pelan. "Apa kau menyukainya?".
__ADS_1
Farah mengangkat tangannya ke bibirnya yang bengkak. Semua terasa terlalu membuncah untuk tubuhnya yang beluk berpengalaman. "Aku tidak seperti yang kau pikirkan".
Ryan terdiam cukup lama sementara Farah berharap pria itu memahami apa yang baru saja Ia katakan walau ambigu. Ryan lalu mengulurkan tangan untuk menyingkirkan rambut dari kening Farah, menangkupkan tangan Farah yang bergetar dengan tangan pria itu yang berusaha menenangkannya.
"Kau benar-benar takut ya? Kemarilah" Ryan mendekap Farah dengan erat di pelukan yang lembut.
Tiba-tiba dari belakang mobil, terdengar suara langkah kaki yang berlari, lalu suara Ben berbisik, "Farah! Farah! Apa kau ada di sini?"
Farah dan Ryan saling menatap dalam diam. Ben yang tidak mendapatkan jawaban, lalu berlari ke arah club seperti mau masuk ke dalam lagi. Melihat itu, Farah panik dan hendak berdiri saat Ryan bangun dan menghentikannya, menutup mulutnya begitu saja. "Ssssttt! Dia baik-baik saja. Tapi jika kau berlari seraya memanggil namanya, aku tidak bisa menjamin jika kau maupun dia tetap baik-baik saja"
Farah berusaha melepaskan bekapan Ryan seraya menggumamkan sesuatu.
"Jika kau berjanji tidak akan berteriak, aku akan melepaskanmu." Ujar Ryan. "Apa kau mengerti?".
Farah lantas menganggukkan kepalanya dengan kuat. Farah lalu bergegas keluar dari mobil namun Ia tersandung dengan roknya sendiri. Andai saja Ryan yang berada di belakangnya tidak sigap menahan tubuh Farah, bisa di pastikan Farah akan terjatuh kembali membentur tanah.
Ben membalikkan tubuhnya saat mendengar sesuatu dan matanya membelalak saat melihat tubuh mungil Farah yang membungkuk sedang di dekap erat oleh Ryan dari belakang.
"Jangan!"Seru Ben pada Ryan. "Kau harus melepaskannya! Demi Tuhan, dia terlalu muda. Oh astaga... Kasihanilah dia" Ujar Ben dengan suara tercekat.
Farah melirik Ben dengan memejamkan mata. Oh Tuhan.. Dia menolongku karena aku hampir terjatuh, Ben! Jangan memprovokasinya!"
Dan, tentu saja kalimat itu hanya bisa Farah teriakkan dalam hati.
...♤♤♤...
__ADS_1