Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 74


__ADS_3

Zayn mengamati Farah dengan lekat lalu menghampiri gadis itu, dengan menampilkan ekspresi lembut di wajahnya karena sepertinya gadis itu takut kepadanya.


Astaga, apa yang telah dilakukan Ryan pada gadis itu?


Zayn tidak pernah melihat seorang wanita yang begitu ketakutan terhadapnya, dan hal ini membuatnya cemas. Dengan amarah yang semakin meningkat karena Ryan menempatkannya pada situasi ini, Zayn berkata, "Selamat datang di rumahku, Farah. Pasti kau merasa kepanasan berdiri di depan perapian dengan mengenakan mantel tebal. Jika kau mengizinkan aku....?" Farah menatap Zayn dengan sorot tercengang meskipun gadis itu tidak memprotes saat ia membuka ikatan mantel di bawah dagu dan melepaskan mantel itu dari bahu Farah yang kecil.


Tangan Farah yang kecil, bahkan untuk ukuran wanita, terlipat rapi di atas pangkuan. Dengan ngeri, Zayn melihat bahwa tangan gadis itu terikat.


"Ada apa ini!". Zayn mengangkat tangan Farah dan mengamati ikatannya. Kulit di bawah tali itu tergores dan dingin. Amarah terbaca jelas di kata-katanya, saat ia berbalik ke arah putra angkatnya yang luar biasa. "Apakah kau sudah kehilangan akal sehatmu?" Yang membuat Zayn semakin murka, Ryan sama sekali tidak terlihat malu; bahkan terlihat sedikit gembira.


"Aku minta maaf. Aku tahu kau pasti akan sangat syok. Tapi dia terus mencoba lari dariku."


"Aku rasa itu wajar, jika ini menjadi bukti caramu memperlakukannya."


Bukan maksud Zayn untuk membuat sang pewaris Crandall itu tertawa, dan saat Ryan melakukannya, hal itu membuatnya sangat murka. "Ini sangat keterlaluan! Bahkan untukmu!" lanjut Zayn.

__ADS_1


"Sudah berapa lama..........", Zayn menoleh ke arah Farah yang mulai merona. "Sudah berapa lama dia berada di bawah perlindunganmu?".


"Oh, benarkah dia berada di bawah perlindunganku? Itu adalah ungkapan yang sangat tidak tepat." Ryan menggoyangkan wine yang ada di gelasnya dan menyesapnya. Mata Ryan beralih ke wajah Farah. "Dia berada bersamaku di markas Dark Devil."


"Astaga Ryan! Kau tidak mungkin membiarkan iblis-iblis Keith Smith berada dekat-dekat dengannya?". Pekik Zayn.


"Iblis-iblis Keith Smith? Kau tahu hal-hal yang menarik terjadi di sana selama ada gadis ini? Dia pernah sakit, dan iblis-iblis Keith Smith menghabiskan waktu dengan menangis di lengan baju mereka sehingga tidak ada satu pun lengan yang kering di markas. Mereka tidak akan pernah membiarkan aku memerkosanya, sekalipun aku menginginkannya. Jangan biarkan imajinasimu berkembang terlalu liar, Zayn. Dan aku tidak tahu kenapa kau sesyok ini. Aku mendapatkan kesan dari ceramah- ceramahmu dulu bahwa kau berpikir aku mampu melakukan apa pun," ujar Ryan dengan mendekat untuk mengambil mantel wol gelap Farah dari tangan Zayn dan melemparkannya ke kursi. "Dia tidak sepolos kelihatannya. Aku mengambilnya dari tempat tidur Andreas."


Akhirnya, Zayn memahami situasi ini. Dengan sebelah alis dinaikkan dan suara yang lebih tenang, Zayn bertanya, "Dan seorang pria terhormat sepertimu menggunakan wanita untuk balas dendam?"


Kalimat yang terakhir diucapkan Ryan dengan lebih lembut. "Tidak ada yang bisa kau lakukan dalam hal ini, Zayn. Dia bukan bebanmu."


Namun, Zayn berbalik lagi ke arah gadis cantik yang kelelahan itu, meraih tangan gadis itu, dan menggenggamnya dengan tangannya sendiri. Setelah membiarkan ketulusannya terlihat jelas dari sikapnya. Zayn berkata, "Aku sangat menyesal, dan aku berniat melakukan apa pun yang kubisa untuk memperbaiki situasimu. Untuk saat ini, yang bisa kulakukan hanyalah membuatmu merasa nyaman. Tolong katakan kepadaku apa yang bisa kulakukan untukmu."


Bukannya merasa tenang, simpati yang ditunjukkannya justru membuat Farah bingung, dan Zayn mulai bertanya-tanya apakah gadis itu telah sangat terbiasa keinginannya tidak dipedulikan sehingga gadis itu lupa dengan situasi yang sebaliknya. Tatapan Farah beralih ke Ryan dengan sorot keraguan yang memilukan hati.

__ADS_1


Ryan berhasil untuk tetap terlihat tenang, bahkan santai, di bawah tatapan tajam Farah. Ryan berkata, "Jika kau ingin melakukan sesuatu untuknya, Zayn, mungkin kau bisa memberinya selimut agar dia bisa berbaring di sofa? Dia sudah setengah tertidur karena kelelahan."


"Ya Tuhan, kalau begitu, biarkan aku membawanya ke pengurus rumah," cetus Zayn. "Kamar tamu sudah disiapkan. Setidaknya dia bisa tidur di atas tempat tidur yang nyaman."


"Tentu saja tidak," tegas Ryan. "Aku tidak memercayainya. Dia sudah pernah nyaris tenggelam, terserang malaria, dan jatuh dari atap hotel dalam usahanya melarikan diri dariku. Tidak ada yang tahu cara baru apa lagi yang akan ditemukannya untuk membunuh dirinya sendiri di New York."


Dari posisi itu, Ryan tidak bisa dibantah. Zayn sendiri yang membawakan selimut wol serta salad sayur yang menjadi menu makan malamnya tadi, ditambah dengan biskuit dan susu. Akan lebih baik pelayan melihatnya mengobrak-abrik dapur daripada membiarkan mereka datang ke perpustakaan dan menemukan Ryan mengikat seorang gadis muda.


Sejak tadi, Farah tidak mengatakan apa-apa, hanya mengangguk dan menggelengkan kepalanya saat Zayn mengajukan pertanyaan langsung, bahunya yang mantap membuat rasa kasihan Zayn sedikit berkurang. Sepertinya, tidak pernah terlintas dalam pikiran Farah bahwa Zayn mungkin bisa membantunya. Farah tidak membuat permohonan padanya, dan semakin terlihat jelas oleh Zayn bahwa Farah sudah menerima situasi ini dan merasa yakin semua orang yang ditemuinya akan berkonspirasi untuk menahannya. Itu cukup menjelaskan ketidaklayakan kondisi hidupnya selama dalam masa penawanan sehingga tanpa mengeluh Farah menurut saat diperintahkan berbaring di sofa, di depan dua orang pria, salah satunya pria asing. dan mencoba tidur dengan mengenakan pakaian lengkap. Namun, saat sofa sudah disiapkan untuknya, Farah berdiri di depan sofa itu dengan gelisah, sepertinya tidak mampu melakukannya.


Ryan menghampiri Farah dan membaringkan gadis itu di sofa, melepaskan sepatunya dan mengurusnya seolah gadis itu adalah boneka.


"Jangan takut," ujar Ryan kepada Farah. "Zayn adalah seorang konglomerat terhormat." Seolah menjawab permohonan yang tampak di mata Farah, Ryan mengeluarkan belati tipis dari dalam sepatu botnya. Yang cukup mengejutkan dari tindakan yang tidak biasa dan membahayakan itu, Farah tidak bergidik saat belati itu ditempelkan ke kulitnya di antara pergelangan tangan, agar Ryan bisa membuka tali pengikatnya. Ryan melemparkan selimut ke Farah dan berkata, "Pergilah tidur, gadis nakal."


Cara Ryan menggunakan belati itu seharusnya cukup untuk membuat sebagian besar gadis menjadi histeris. Namun, makhluk mengagumkan di sofa itu hanya mengerjapkan mata dua kali, mengucapkan terima kasih kepada Ryan dengan suara pelan dan lembut, kemudian langsung tertidur pulas.

__ADS_1


...♤♤♤...


__ADS_2