
Ada kalanya Farah menyadari bahwa anak buah Dark Devil memperlakukan Ryan dengan lebih istimewa. Namun kali ini untuk menghalau rasa pusingnya di tengah, Farah siap untuk berdebat dengan Mike, siap untuk melakukan apa pun selain memikirkan tindakan nekat yang dilakukannya.
Farah berkata, "Pria kaya raya?Apakah seperti bangsawan?". Farah mencoba mencibir. "Ryan memang berselera tinggi, berpendidikan, dan bossy. Tapi, itu tidak membuatnya menjadi seorang bangsawan."
"Aku tahu banyak hal tentang Ryan. Ada aura kebangsawanan yang terpancar dari dirinya, dan lagi pula, Pak Tua bilang dia memang seorang bangsawan. Si tua Yanka itu sudah ikut dengan Keith sejak Keith memiliki rampasannya yang pertama."
"Aku tidak yakin ada bangsawan Amerika yang mau berada di markas mafia."
"Kau salah." Mike tertawa terbahak-bahak. "Tentu saja, meskipun tidak banyak. Kau tidak tahu, ya, bahwa Keith dan Ryan adalah saudara tiri?".
"Iya, aku tahu," kata Farah. "Ryan adalah anak sah, dan Keith bukan. Aku sulit untuk percaya bahwa jika keluarga Ryan memang memiliki pengaruh sebesar yang kau isyaratkan, mereka akan mengizinkan Ryan bertemu dengan Keith Smith."
"Yah, tentu saja mereka tidak mengizinkannya," ujar Mike dengan sikap meremehkan. "Keith bertemu dengan adik kaya rayanya secara kebetulan."
Ada tatapan aneh di mata Mike yang memperingatkan Farah bahwa kisah itu mungkin tidak akan disukainya. Sepertinya, berdebat dengan Mike bisa lebih berguna daripada yang Farah harapkan.
Farah memiliki rasa penasaran yang besar terhadap semua hal yang berkaitan dengan Ryan, tetapi pengalaman telah mengajarinya bahwa ada hal-hal tentang Ryan yang sebaiknya didengarnya dalam keadaan tenang dan santai. Saat ini, ia merasa sangat lelah, ketakutan dan tidak dalam suasana hati yang baik, yang jelas sekali Mike juga menyadarinya. Sambil memalingkan kepalanya, Farah menatap cakrawala yang pucat, yang seolah memperlihatkan ekspresi ketidakpedulian. Farah bisa merasakan tatapan Mike mengamatinya. Kemudian, Mike berkata, "Kau jatuh cinta kepada pria itu?"
Kesunyian bertahan cukup lama. Akhirnya, sambil menghela napas, "Pria siapa?"
__ADS_1
"Ryan. Kau jatuh cinta kepada Ryan atau apa?"
"Apa-apaan pertanyaanmu itu...." jawab Merry dengan tidak acuh.
"Iya. Kau memang jatuh cinta kepada Ryan. Aku bisa lihat itu. Hehehehe."
"Mike," ujar Farah, "jika kau ingin berpikir begitu, aku tidak akan berdebat denganmu mengenai masalah itu. Aku hanya akan mengatakan ini sekali: Aku tidak jatuh cinta kepada Ryan."
Seolah Ryan tidak berbicara apa-apa, Mike berkata, "Iya. Aku bisa melihatnya. Kau tahu apa yang membuat pria seperti Ryan bisa jatuh cinta kepadamu?".
" Keajaiban."
"Hahaha. Kau tahu bagaimana cara mempertahankan pria seperti Ryan?". Mike menundukkan kepalanya sampai pria itu bisa mengetukan satu jari di bagian pelipisnya. "Untuk mempertahankan pria sepeti Ryan dibutuhkan ini".
Nasihat Mike terlalu umum untuk dianggap berguna. "Bagaimanapun juga, ada hal yang tidak boleh kau lakukan jika kau ingin pria seperti Ryan jatuh cinta kepadamu, yaitu melarikan diri, mencur surat-surat pentingnya, dan menolak mengatakan kepadanya tentang fakta yang ingin diketahuinya untuk membuktikan kau tidak memiliki hubungan dengan musuh terbesarnya." Ujar Mike.
Farah diam dan berharap serta takut, la tidak akan pernah bertemu dengan Ryan lagi. Sambil mengangkat lengan yang terasa sakit karena menghantam pintu ruang tengah markas Dark Devil, Farah mulai menggosok bagian belakang lehernya yang terasa kaku.
"Ryan," lanjut Mike, "Mereka bilang, di masa remajanya, Ryan adalah seorang pemberontak. Untuk mencegah timbulnya masalah, keluarga Ryan mengirimnya pergi mengawasi perusahaan di Asia, dan kebetulan dia naik pesawat yang di dalamnya terdapat Keith, yang saat itu menyabotase pesawat. Mereka bilang, Ryan adalah pemuda paling tampan yang pernah mereka lihat. Para anak buah berembuk untuk memutuskan siapa yang berhak memerkosa Ryan, dan Keith menyelamatkan pemuda itu dari takdir yang lebih buruk daripada kematian."
__ADS_1
"Kumohon, jangan lanjutkan!" seru Farah, yang merasa ngeri mendengarnya.
Mike justru semakin semangat bercerita, dan dengan ceria melanjutkan, "Tentu saja, tergantung siapa yang bercerita. Ada juga yang bilang Keith sengaja menyimpan Ryan untuk dirinya sendiri. Hei!" protes Mike, mendapati bahwa pria itu sedang memandang moncong pistol yang diacungkan oleh Farah. Dengan terburu-buru. Mike berkata, "Jauhkan jarimu dari pelatuknya, Nona. Aku hanya bergurau. Begini, jika kau menembakku, maka kau sendiri yang harus mengayuh dayung yang berat ini."
"Aku lebih suka mendayung daripada mendengarkan omong kosongmu yang menjijikkan. Berapa jauh lagi letak daratan yang hendak kau tuju?"
"Oh, masih cukup jauh, cukup jauh. Kita tidak bisa berhenti terlalu dekat, jika tidak, mereka akan menemukan kita dan menjadikan kita santapan makan malam. Meskipun bukan makan malam untuk malam ini. Hehehehee".
Mike mengamati Farah menurunkan pistolnya. "Ada apa sekarang? Kau berharap tidak melarikan diri dengan terburu-buru?" Mike tergelak. "Jika Keith menangkapku, maka aku hanya akan langsung dilemparkan ke laut, tapi kau-oh! Ryan mengancam akan memukulimu jika kau mencoba melarikan diri lagi darinya, iya kan? Semua orang mendengar Ryan mengatakannya, jadi dia harus benar-benar melakukannya atau menanggung malu. Kau tidak pernah dicambuk, ya? Tanya saja seperti apa rasanya pada temanmu Gio. Atau tanyakan kepada Gege. Dia tumbuh besar di sebuah rumah pelacuran. Dia dibawa Keith dengan punggung yang penuh dengan luka lecutan cambuk sehingga Keith mendapatkan potongan harga saat membelinya."
Mike mengamati dengan gelisah saat melihat moncong pistol dinaikkan lagi. "Hati-hati dengan pistol itu. Kau bisa saja tidak sengaja meletuskannya."
"Aku tahu itu," ujar Farah dengan jengkel, "dan kau tentu membuatku merasa gugup. Saat aku gugup, tanganku sering bergerak tidak terkontrol."
Kali ini, Mike bisa melihat Farah bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Sambil menatap pistol yang berisikan peluru itu, Mike bertanya dengan gelisah, "Apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu merasa tidak gugup?"
"Mendayung," tegas Farah. Kali ini, Mike mematuhinya. Tidak ada seorang pun yang bicara, dan satu-satunya suara yang terdengar hanyalah suara dayung yang membelah air, dan deburan ombak sekitar mereka. Suara pertempuran semakin memudar hingga akhimya sunyi sepenuhnya. Cahaya pertama matahari terasa hangat di pipi Farah. Hembusan angin bagaikan pijatan lembut di bahunya yang pegal, dan laut seolah membisikkan datangnya hari yang baru. Setelah yang ada di pangkuannya, Farag menjepit pistol di antara lututnya menggeser ember menyilangkan lengan di atas ember, dan meletakkan pipinya di atas lengan. Farah bermaksud memejamkan matanya sebentar saja. Namun dalam sekejap, ia sudah tertidur pulas. Membiarkan Mike mendayung perahu hingga ke darat.
...♤♤♤...
__ADS_1