
Mara hitam Keith, dengan rahasia tersembunyi di baliknya, menatap pria berambut kecokelatan yang sejak tadi menatap jendela. Setiap dorongan dalam dirinya menuntut untuk melakukan manipulasi terhadap situasi ini namun akal sehatnya menuntutnya untuk menahan diri.
"Untung saja kau tidak mudah percaya dengan ucapan gadis itu. Lalu apa yang akan kau lakukan dengannya?".
Ryan mengamati burung camar yang terbang di langit yang cerah, Ia lantas berucap, "Sepertinya Gege takut aku akan memintanya untuk memukuli Farah agar mau membuka mulut. Katakan pada Gege kalau aku tidak akan mendelegasikan kekejamanku".
"Oh" Hanya itu yang diucapkan oleh Keith.
Ryan berbalik dan menatap kakaknya dengan jengkel. "Apa tujuanmu hanya menggumamkan 'oh' kepadaku, huh? Apa kau berharap aku memperlakukan wanita itu dengan kejam?.
Dengan terkekeh Keith berkata jujur, "Tidak".
"Di mulutmu tidak tapi di pikiranmu lain. Apa kau berharap aku melemparnya ke laut atau membawanya ke daratan?".
"Oh Tuhan, Tidak!". Ujar Keith semakin tertawa. "Kenapa kau bertanya padaku? Toh, kau akan melakukan apapun yang kau inginkan. Apakah kau tetap akan pergi dengan kapal logistik malam ini?".
"Ya. Aku harus ikut dengan mereka. Gege sudah mengatur agar aku bertemu dengan seorang pria dua hari lagi". Ryan berjalan ke bagian tengah ruangan dan duduk di sofa. "Aku akan meninggalkan Farah pada Gege. Aku rasa keputusan itu akan membuat Gege senang. Menurutmu ada hal spesial apa dengan gadis itu yang membuat Gege bisa bersikap peduli padanya? Kau pasti juga syok melihat sikap Gege, kan?".
__ADS_1
Kepala Keith bersandar pada sofa. "Anak itu terlahir untuk mengurus sesuatu. Tampaknya Farah membangkitkan insting melindungi Gege. Kita lihat dalam satu pekan, dan dia pasti akan memanjakan gadis itu" Keith tersenyum lebar. "Kau tidak perlu kuatir. Apa pun pikiran Gege terhadap Farah, Gege memiliki selera yang berbeda".
Ryan terdiam. Pikirannya terfokus dengan hal lain. "Keith".
"Apa?"
"Menurutmu, apa ada kemungkinan Farah dipaksa oleh Andreas?"
"Tidak mungkin". Tegas Keith dengan tatapan seorang pria yang tidak sedikitpun meragukan keyakinannya.
...●●●...
Farah lantas mencoba membuka setiap lemari, laci meja, apapun benda terkunci di kamar Ryan. Farah bergerak dengan mantap menyusuri setiap sudut kamar, Farah terus mencari lebih dari satu jam dan akhirnya Ia sadar kalau usahanya sia-sia belaka. Farah merebahkan diri ke tempat tidur dan menatap ke atas, ke sebuah lampu gantung kristal kecil yang indah. Farah melamun, Ia membayangkan bahwa Zac mungkin berhasil menemukannya di sini dan datang untuk menembak Ryan. Namun Farah sadar, kalaupun itu terjadi, yang menjadi kenyataan kemungkinan besar adalah Ryan yang akan menembak Zac.
Perasaan Ferah berubah-ubah dari marah, takut, putus asa dan kembali lagi ke marah. Terlebih lagi saat Farah tahu, entah di sengaja atau tidak peduli, Ryan memberinya cukup waktu untuk merana sendirian. Terdengar suara keributan di luar kamar silih berganti. Farah menangkupkan kedua tangannya ke wajah. Apa mungkin Ia akan di tinggal di sini selama berhari-hari? Berminggu-minggu? Sampai Ia mati karena lemas kelaparan?
Pintu kamar tiba-tiba saja terbuka. Ryan kembali datang dan segera mengunci pintu kamarnya. Farah tidak bergeming. Ia tetap berbaring di tempat tidur seraya berpikir tentang hidupnya, mencari tahu apa yang harus Ia lakukan untuk terhindar dari takdir yang memaksanya menghabiskan hari-hari di markas mafia.
__ADS_1
Tatapan Ryan langsung tetuju pada sosok Farah. Farah menolehkan wajahnya pada Ryan tanpa bergeser satu inci pun. "Apa kau sudah membawa kapak? atau kau sudah memutuskan untuk melemparkanku pada semua anak buahmu?". Farah mengambil sebuah bantal dan menutup kepalanya. "Pergilah!". Teriak Farah.
"Bukankah di tengah lautan seperti ini biasanya terjadi badai? Apapun itu pergi dan lakukan apapun diluar sana!'
Butuh waktu lama baru senyuman menjengkelkan Ryan berubah menjadi sebuah senyuman yang ramah dan lembut. "Apa kau tidak lelah mempertahankan sikap keras kepalamu ini Farahku sayang?"
"Jangan panggil aku sayang! Itu terdengar menggelikan. Kau bukan siapa-siapa untukku!".
Dalam sekejap mata, Ryan sudah berada di samping tempat tidur, tangannya membelai puncak kepala Farah. "Aku memang bukan siapa-siapa untukmu. Dan aku memanggilmu sayang hanya sekedar memanggil saja tanpa ada makna di dalamnya. Lupakan tentang itu, harus tahu apa yang harus kau lakukan untuk bisa keluar dari sini. Buatlah keputusanmu, setelah itu kau akan melihatku membuat keputusan untukmu".
Farah menahan napas. Yang lebih berbahaya jika di dekat Ryan bukanlah ancaman yang keluar dari mulut pria itu, melainkan gerakan lembut tangan pria itu yang menyebarkan sensasi panas ke sekujur tubuh Farah. Farah segera bangun, melepaskan diri dari sentuhan Ryan dan berputar mengambil posisi yang lebih jauh. Ryan dan Farah di satu tempat hanya berduaan. Entah mengapa situasi semacam ini selalu membuat dada Farah terasa sakit.
"Jika masih ada sisi manusiawi dalam dirirmu, tolong hentikan! Aku tidak bisa mengatakan satu kata pun yang lebih untuk mengatakan tentang kejadian di club, singapura atau kepergianku ke Manhattan. Aku tidak sanggup menerima ancaman lagi dari mu atau siapapun di sini! Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan terhadapku dan lakukan dengan cepat! Apa yang akan kau lakukan untuk menyakitiku?!".
Ryan tersenyum tipis. "Kau mudah sekali menyerah, Farah". Suara Ryan terdengar lembut dan penuh perhatian. "Yang membuatku bertanya-tanya bagaimana bisa kau tahan dengan Andreas. Jika kau bukan kekasihnya, maka itu membuatku meragukan semua ceritamu. Aku harus mengakui bahwa kau memang bersikap layaknya seorang gadis perawan. Hmm.. Tapi mungkin karena kesucianmu bisa membantu menyelamatkan nyawamu, apakah kau bersedia membiarkan Gege untuk membuktikannya? Bahwa kau memang gadis perawan?"
Itu memang terdengar kejam, dan Ryan tahu itu. Ia membiarkan Farah memukulnya sekali, karena sepertinya itu adil, hingga akhirnya Ryan menangkap pergelangan tangan Farah dan menahannya. Mencengkeramnya dengan jari-jarinya dengan kuat. Ryan sedikit mengendurkan cengkramannya saat Ia melihat Farah menggigit bibirnya sendiri untuk menahan tangisan, Ryan menatap mata Farah yang sudah tergenangi air mata yang siap tumpah hanya dengan satu kedipan.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kau kecewa karena bukan aku yang akan membuktikan keperawananmu? Kau kecewa karena aku tidak berniat menjadi teman tidurmu yang menyenanangkan? Sebaiknya kau hentikan aksi tutup mulutmu sayangku".
...♤♤♤...