Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 84


__ADS_3

Fajar membawa sinar matahari pertama yang memantul dengan aneka warna seperti prisma dan menyusup dari langit yang berwarna kemerahan. Terbangun oleh embusan napas hangat dan sensasi yang sangat menyenangkan.


Farah merasakan kehangatan tubuh Ryan di samping nya, telapak tangan Ryan menekan dua bola kenyalnya, meremas, membelai, menggodanya hingga terasa terbakar di bawah sentuhan Ryan. Ryan menarik selimutnya untuk membiarkan sinar matahari menerangi tubuh telanjang Farah dan tentu saja agar Ryan bisa memandanginya.


Saat itulah Farah teringat keliarannya semalam di bawah tubuh Ryan. Farah mendesah, bergelung menjauh dari Ryan, dan duduk dengan punggung menghadap Ryan.. Lengan Farah terlipat di atas bola kenyalnya yang bengkak, rambutnya tergerai seperti tirai di antara lututnya yang terbuka.


"Ada apa, Sayang?" Suara Ryan di belakangnya terdengar seperti bisikan lembut.


Ada sejumlah hal, termasuk rasa ringan yang tidak biasa di tubuhnya, yang masih menyimpan dengan lekat semua kenangan akan percintaan dengan Ryan dan ketidakyakinannya tentang kuatnya cinta Ryan terhadapnya serta ketakutannya terhadap kuatnya fondasi dari pernikahan mereka yang terburu-buru ini dan.... dan.... Farah merasakan tangan Ryan membelai lehernya, menyingkap bagian paling atas tulang punggungnya. Mulut Ryan menyapukan ciuman lembut di sana, kemudian diikuti dengan lidah Ryan menyusuri jejak ciuman itu, membentuk lingkaran yang basah dan menggelitik, yang mengirimkan kenikmatan ke sekujur tubuhnya.


Farah mengerang, mengeluarkan ******* panjang, dan ia merasakan napas Ryan berhenti, lalu menjadi semakin cepat di kulitnya, saat Ryan mendengar desahannya itu.


"Aku sangat menyukai ******* nikmatmu, Ryan. Aku menyukai suara yang kau keluarkan. Aku suka mendengar suaramu yang parau karena menginginkanku," bisik Ryan.


Jari-jari Ryan bergerak di sepanjang punggung Farah mengirimkan getaran nikmat ke sekujur tubuhnya, pengingat akan puncak kenikmatan tertinggi, tempat Ryan membawanya.... Salah satu tangan Ryan membelai lekukan pinggul Farah, sementara tangan yang lain menggoda kulit sensitif di tengkuknya, bergerak di bawah rambutnya untuk menangkupkan dan membelai lehernya, sebelum membelai mulutnya dengan ujung jari.


"Buka bibirmu, Mungil," gumam Ryan..


"Biarkan aku.... iya...." Ibu jari Ryan bergerak perlahan di bibir bawah Farah, masuk sedikit untuk merasakan kehangatan dan kelembapan yang ada di dalamnya, sementara tangan Ryan yang lain terus menopang dagunya. Kemudian, tangan itu meninggalkan wajah Farah berkelana turun melalui rambutnya yang tergerai melewati bahu, sampai tangan itu berada tepat di bawah bola kenyal, mengangkat gundukan itu dengan telapak tangan, dan ibu jarinya menekan puncaknya, membuatnya mengeras dan mendamba, hingga berkilauan dengan kelembapan.


"Hmm...," gumam Ryan, "oh, ya sayang peluk aku...", Bisik Ryan saat Farah melengkungkan tubuhnya di tangan Ryan.


Dengan satu gerakan lembut dan perlahan, tangan Ryan yang lain bergerak ke perut Farah, memijat dan membelainya hingga lentur. Farah bisa merasakan tarikan dan embusan napas Farah di kulitnya, tekanan dan gelitikan bibir Ryan yang menciumi bagian samping lehernya, lidah Ryan yang basah menjilati telinganya.


"Berbaliklah kepadaku." Ryan ingin membuat Farah berteriak nikmat lagi. "Kau menggambar diriku dengan jari- jari cekatanmu. Sekarang biarkan aku mencetaknya di hatimu." Napas Ryan yang terengah-engah menggoyangkan rambut yang tergantung di atas lubang telinganya, mengirimkan gelenyar hingga ke puncak bola kenyalnya. Sambil menangkupkan bahu Farah yang kemerahan dengan telapak tangannya, Ryan menarik Farah hingga berbaring lagi di atas selimut.


"Berbaringlah bersamaku untuk menyaksikan pagi bersinar dengan cerah. Berbaringlah bersamaku...." Bisik Ryan.


"Berbaringlah dengan diam..... Aku hanya ingin menyentuhmu." Tangan Ryan menjelajahi tubuh Farah dengan lembut dan bersemangat. Menyentuh dan membelai setiap inci tubuhnya.

__ADS_1


Ryan menyentuhnya dengan penuh cinta, yang membuat Farah merasa seperti manusia dan bukannya patung atau dewa yang diciptakan hanya dari tanah liat. Telapak tangan, jari, dan bibir Ryan melukis Farah apa adanya, nyata, menggoda, dan kehabisan napas akibat sentuhan sensual jari-jari Ryan.


Sambil terkesiap pelan, Farah berbisik, "Seberapa diam kau ingin aku berbaring?"


Suara tawa parau Ryan membelai puncak bola kenyal Farah saat bibir Ryan menunduk mencecap, memijatnya dengan lidah yang basah, rambut Ryan bergerak naik turun di permukaan bola kenyal yang berdenyut. Jari-jari yang sensitif dan berpengalaman membuat Farah panas-dingin, merasakan setiap kontur otot di pahanya, kemudian bergeser sehingga tangan Ryan menangkup daerah lembab di intimnya, menggoda dan membelainya hingga ia merasakan gelombang kenikmatan yang begitu kuat.


Ciuman basah Ryan menyelimuti bola kenyalnya lalu beralih ke bibirnya yang membuka dan bengkak, menciumnya dengan lapar, memasukkan lidah ke kelembapan mulutnya, Teriakan pelan dan suara nikmat terlontar dari tenggorokan Farah. Farah mencari-cari kehangatan Ryan, kakinya menekan selimut untuk dijadikan penopang, saat ia melengkungkan tubuh untuk menambah kedekatan dengan tangan dan mulut Ryan yang membuat gairahnya semakin terbakar dan berkobar.


Ryan berbisik, "Bola kenyalmu sangat indah. Aku sangat menyukai rasanya di atas telapak tanganku.... aku suka menyentuh semua bagian tubuhmu.... merasakan kelembutannya dengan lidahku.... di sini.... di sini," dengan perlahan, Ryan menindih tubuh Farah dengan tubuhnya, dan kenikmatan yang dirasakan Farah saat tubuh Ryan menempel intim di tubuhnya terasa begitu sensual.


"Ryan...." Suara Farah terdengar sangat pelan, seperti bisikan angin di dedaunan.


Tatapan mereka saling bertemu, begitu manis, tetapi tidak fokus, dengan perlahan membuka diri masing-masing untuk bersiap menerima satu sama lain, seolah mereka adalah dua tubuh yang menyatu dalam satu jiwa. Mulut Ryan menggantung tepat di atas mulut Farah, menghirup embusan napas Farah, dan tubuh Farah bergelenyar hebat merasakan sentuhan pertama Ryan di dalam selubung hangatnya. Dengan sangat lembut dan perlahan, Ryan memasuki Farah secara penuh, sedalam yang mampu dilakukannya.


Pola napas Farah berubah di kulitnya, saat bibir bengkak Farah menyunggingkan senyum, yang membuat mata Farah semakin berkilau, mata Farah menggetarkan hati Ryan saat melihat ekspresi yang tampak di dalamnya. Kemudian Ryan terseret oleh kebutuhan tubuhnya yang tak tertahankan untuk bisa memiliki Farah, kebutuhan yang menguasai setiap bagian jiwanya, dan Ryan tidak perlu lagi melihat ekspresi Farah karena mereka sudah menyatu sehingga ia bisa merasakan setiap pikiran dan setiap perasaan yang muncul dari dalam diri Farah.


Sebelumnya, saat ia pertama kali bercinta dengan Farah, pengalaman itu hampir terasa seperti pemujaan sehingga ia hampir tidak bisa merasakan kenikmatannya sendiri, tapi sekarang, kulitnya dan kulit Farah menyatu dalam kehangatan yang sensual, dan tubuh mereka terasa begitu pas dengan satu sama lain, hingga masing-masing bisa merasakan detak jantung dan denyut nadi satu sama lain.


•••••


Kepakan sayap burung terdengar di langit pagi yang cerah, seiring dengan matahari musim gugur yang tersenyum. Ryan dan Farah yang sedang bersiap-siap pulang kembali mendapati kenyataan bahwa berjalan santai bisa menimbulkan masalah yang memusingkan untuk mereka. Tidak peduli betapa rapinya jari-jari Ryan menyisiri rambut Farah, atau betapa cekatannya Farah membersihkan kemeja Ryan, mereka berdua tetap terlihat berantakan, kusut, dan meskipun mereka tidak pernah terlihat lebih cantik dan tampan di mata satu sama lain, tetapi tampak jelas sekali bahwa pasangan suami-istri yang sedang berbulan madu itu baru saja menghabiskan malam penuh cinta.


Tante Farah dan ibu Ryan tiba pada tengah hari itu juga dengan menaiki mobil sport beratap terbuka yang dicat dengan warna hitam-perak dan dikendarai sendiri oleh ibu Ryan.


Apakah itu benar- benar Tante Okta, dengan rambut ikal yang ditata dengan gaya bangsawan, embusan angin musim gugur membuat pipi tantenya merona, dan gaun berwarna lilac membungkus tubuh indahnya dengan Anggun. Memang sedikit ketat, tapi tidak terlihat murahan.


Farah berlari menghampiri Tante Okta dan mereka bertemu di tengah tangga. Mereka berpelukan dan menitikkan air mata. Dan ibu Ryan, seorang wanita cantik ikut menangis bersama mereka.


Sore itu dihabiskan untuk melepas kerinduan. Saat malam tiba, suara Farah serak, suara Tante Okta serak, suara Alice serak, dan dengan bergurau Ryan mengatakan bahwa telinganya juga serak. Tante Okta dan ibu Ryan sudah mendengar versi halus kisah Farah dari Zayn. Farah dan Ryan menambahkan detail lain yang bisa mendukung kisah rekaan Zayn bahwa Ryan menyelamatkan Farah dari dua orang bajingan yang menculik Farah dari bandara dengan niat untuk meminta tebusan. Kisah yang sama juga sengaja disebarkan ke masyarakat, yang dimaksudkan untuk melindungi Farah dari spekulasi buruk yang biasanya menyertai seorang wanita yang baru saja lepas dari tawanan.

__ADS_1


Selain melindungi Farah, kisah itu juga sekaligus melindungi Ryan, dan untuk itu Zayn meminta maaf dengan sepenuh hati, hingga membuat Farahbdiam-diam merasa senang karenanya. Ia bisa saja menceritakan yang sebenarnya kepada Tante Okta, Ryan menyerahkan keputusan itu padanya, tetapi apa gunanya selain membuat tantenya menderita karena perasaan bersalah?


Tante Okta sudah terlalu mengkhawatirkannya. Selain itu, ada sebagian kecil diri Farah yang merasa takut Tante Okta tidak akan bisa memaafkan Ryan dan ia tidak mau menggunakan tantenya untuk membalas dendam. Apalagi, saat malam itu Ryan menariknya ke kamar, menelanjanginya di tengah kabut cahaya bulan, mencium setiap bagian tubuhnya yang tersingkap dan membisikkan kata-kata cinta. Farah sama sekali tidak terpikir tentang balas dendam apa pun.


Ryan meninggalkan Farah saat fajar menyingsing, seperti yang sudah dikatakan Ryan sebelumnya kepada Farah karena Whitehall mengharapkan Ryan datang untuk menjelaskan setumpuk laporan dan kesimpulan yang dibuatnya, yang sama sekali tidak bisa dimengerti oleh siapa pun.


Dan meskipun Ryan idak mengatakannya secara langsung kepada Farah, Ryan terimpit oleh keputusasaan yang lebih besar daripada perasaan lain yang pernah dikenalnya untuk menemukan Andreas dan menjamin keselamatan Farah meskipun Ryan tidak lagi berpikir untuk membalas dendam. Ada titik hitam di dalam hati nurani Ryan tepat di bagian ia merasakan kebencian terhadap Andreas dan di sana pula muncul ketakutan ia mungkin akan kehilangan Farah.


Saat Farah jatuh sakit, Ryan tidak pernah mau percaya bahwa Farahakan mati, tidak peduli apa pun yang dikatakan oleh akal seharnya. Ryan meminum ramuan Gege untuk mengganti nyawa Farah dengan nyawanya, dan ia telah diselubungi oleh selimut kepercayaan diri yang mengalir di darahnya dari ayahnya, dari neneknya, dari kakak tirinya ia merasa yakin, amat sangat yakin, bahwa kebulatan tekadnya pasti bisa menyelamatkan nyawa Farah.


Sekarang, kearoganan yang buta itu membuatnya tercengang. Apa yang membuatnya berpikir ia lebih baik daripada pria lain?


Semalam, saat Farah tertidur, Ryan bergerak turun ke bagian bawah tempat tidur untuk memeluk pinggang Farah, merasakan kelembutan paha Farah di perutnya yang berkontraksi, dan membaringkan pipinya dengan hati-hati di gundukan bola kenyal Farah. Rasa kantuk menyerangnya setelah merasakan pusaran kebahagiaan selama dua hari terakhir ini, tetapi ia harus memaksakan dirinya agar tetap terjaga untuk mendengarkan detak jantung Farah.


Lengan Ryan memeluk Farahsemakin erat, bibirnya menekan kehangatan di atas bola kenyak dan jantung Farah. Ryan bukanlah pria yang terbiasa membuat imajinasi mengerikan menguasai dirinya, tetapi perasaan saat ide menakutkan terlintas di dalam pikirannya bahwa Farah akan direnggut darinya.


Ryan memanjatkan doa yang tiada henti berharap bisa langsung sampai ke telinga Tuhan, yang mungkin berpikir sambil tersenyum, bahwa sudah lama sekali tidak ada doa yang dipanjatkan oleh Ryan. Dalam kesunyian pikirannya, Ryan berjanji, memohon, meminta, sampai rasa kantuk menguasai dirinya, dan ia terbangun sebelum matahari terbit, dengan pikiran bahwa Tuhan sudah bosan mendengar omong kosongnya dan membuatnya tertidur.


Setelah membangunkan Farah dengan hujan ciuman lembut di kelopak mata, Ryan bercinta lagi dengan tubuh Farah yang hangat dan mengantuk, lalu pergi meninggalkan Farah dengan ciuman yang tak pernah terpuaskan. Ryan berhenti di kamar lapang, tempat ibunya tertidur, untuk menyentuh pipi ibunya dan tersenyum, melihat ibunya menggigiti renda di lengan gaun tidurnya, teringat gurauan ayahnya tentang kebiasaan yang aneh itu.


Syukurlah Zayn selalu ada di sini untuk menjaga ibunya selama ia pergi. Sambil berpikir bahwa ia tidak akan pernah lagi membiarkan orang-orang yang dicintainya menderita karena obsesinya sendiri, Ryan meninggalkan rumah dan berdoa semoga saat ia kembali nanti, ia tidak akan pernah pergi lagi untuk menjalankan tugas berbahaya.


Dan, di dalam kamar yang gelap, Farah duduk sendirian di tempat tidur Ryan yang lebar, memeluk lututnya yang ditekuk dengan lengan telanjang, dan mulai khawatir.


...♡♡♡...


Sebentar lagi sih.. Mungkin beberapa bab kedepan akan tamat. Tentang modus Andreas belum kuberesin😂


Dan aku juga sekarang sambil baca ulang novelku yg lain, aku lg nikmatin baca bang reynald (sungguh aku aneh.. Aku yg nulis aku yg kesemsem🤣) tapi, kebiasaanku begitu.. Aku gak pernah baca karyaku ketika on going dan bahkan setelah tamat. aku nunggu sampe berbulan2 baru aku baca sendiri agar feel ketika menulis karya itu menghilang dulu dan muncul feel sebagai pembaca murni bukan penulisnya😂

__ADS_1


Aku juga kangen sama bang satya, tp aku putuskan untuk tamatin yg ryan dulu deh baru aku tamatin yg satya😅


__ADS_2