
"Katakan saja kepadaku kenapa pria yang kau sebut kakakmu itu meninggalkanmu sendirian di sini" Ujar Ryan menatap Farah dengan jarak wajah keduanya yang sangat dekat hingga hembusan napas Ryan menyapu pipi Farah. "Kau bisa percaya padaku asal kau katakan dengan jujur." Bisik Ryan. "Bodyguard ku sangat menyeramkan.. Kesabarannya sangatlah rapuh kau tahu..."
Suara Farah bergetar. "Dia pergi untuk mengambil peniti agar aku bisa memasang kembali bantalan kain di perutku..."
"Cih! Menggelikan sekali!" Umpat Gege.
"Apa kau berpikir dia berbohong, Ge? Lihatlah.. Suaranya bergetar, wajahnya sangat pucat dan jari jemarinya....." Ryan meraih lengan Farah dan menyentuh jari jemari Farah yang mungil dan lentik. "Sangat dingin...." Ryan meremas jari jemari Farah dengan telapak tangannya yang hangat.
"Aku tidak berpikir dia berbohong kali ini, tapi jawaban jujurnya sangat menggelikan! Bagaimana bisa dia berpura-pura menjadi wanita hamil dan pergi ke bar kalau bukan untuk merencanakan sesuatu? Aku yakin wanita ini dan pria-pria yang bersamanya bukanlah orang sembarangan!". Ujar Gege menatap Farah dengan tajam . Farah hanya bisa menundukkan kepala. Dalam hatinya Ia menggerutu, bagaimana bisa seorang bodyguard justru lebih galak dari bosnya?!
"Sudahlah! Kau teruskan berjaga di sekeliling saja! Kita tidak boleh lengah. Kabar pimpinan Dark Devil datang kemari sudah tersebar, pasti banyak orang yang ingin menguji Keith." Ujar Ryan kesal.
"Baiklah! Aku akan berkeliling dengan yang lain dan segera mengirim sinyal jika ada yang mencurigakan!" Gege lantas beralih menatap Farah seraya tersenyum miring. "Jaga wanita itu baik-baik jika kau tidak ingin dia di sakiti, dan siapa tahu mungkin kali ini bayimulah yang akan mengisi perutnya".
Ryan menggelengkan kepalanya dan menahan tawa mendengar penuturan Gege yang sudah berlari meninggalkan mereka berdua. Farah yang masih berada dalam dekapan erat Ryan merasa kaku saat Ryan justru menatapnya lagi. Pria itu mendesah pelan. "Wajahmu pucat sekali".
Sontak saja Farah menyentuh sisi wajahnya, kulitnya terasa dingin. Jari jemarinya masih bergetar. Farah merasa malu dengan sikap pengecutnya. Dalam keadaan ini, Farah sadar akan dirinya yang hanyalah seorang gadis canggung dan pemalu.
Farah mengumpulkan keberanian untuk menghadapi pria yang ada di hadapannya. Ia menatap Ryan dengan mendongakkan kepalanya. Puncak kepala Farah tidak lebih tinggi daripada bahu Ryan. "Lepaskan aku, kumohon" Suara Farah bergetar bahkan Ia sudah berusaha sangat keras untuk mengumpulkan keberanian seperti ini dan hanya kalimat itu yang bisa terucap dari mulutnya. Menyedihkan, batin Farah.
Ryan melepaskan dekapan tangannya di tubuh Farah, keintiman antara dua orang berbeda gender yang belum pernah Farah rasakan dengan siapapun membuatnya tersentak hingga melangkah mundur dengan cepat hingga tidak sengaja Ia menginjak sesuatu. Farah menunduk untuk melihat apa yang Ia injak. "Oh ya ampun.. Aku merusaknya..." Gumam Farah.
__ADS_1
Terdengar suara tawa Ryan yang renyah hingga dengan cepat Farah mengambil papan nama club yang di rusaknya. "Hati-hati, bisa saja ada paku di papan itu" Ujar Ryan. "Berikan padaku. Aku akan memberikannya pada pemilik club untuk di perbaiki"
Farah lantas memberikan papan tersebut ke tangan Ryan. Namun tiba-tiba saja pikirannya tersentak, Farah Fransiska, seharusnya kau memakai papan itu untuk menghantam kepala pria di hadapanmu!!!
Ryan terkekeh pelan seraya membolak balik papan nama club di tangannya. "Kau tahu? Kau sangat menghiburku"
"Aku di sini bukan untuk menghibur siapapun" Ujar Farah dengan suara bergetar.
"Tentu tidak, aku tahu itu. Aku juga tidak mencari hiburan di tempat kumuh seperti ini"
"Tapi kulihat kau justru sangat terhibur dengan menciptakan rasa takut di wajah orang lain". Cetus Farah memberanikan diri.
"Apa aku menakutimu?" Tanya Ryan dengan wajah serius menayap Farah.
Ryan terkekeh kecil seraya mengusap perut Farah dengan tangannya. "Iya, kau wanita yang polos namun tidak terlalu polos".
Farah melangkah mundur satu langkah. "Jangan lakukan itu". Dengan suara bergetar.
"Maaf" Ujar Ryan tersenyum miring. "Tetaplah di sini bersamaku. Kau akan aman jika kau tidak berusaha lari dariku".
Ryan menatap wajah Farah lalu tertawa kecil. "Aku tahu kau tidak mempercayaiku, tapi tolong jangan buat aku lelah malam ini... Jika kau lari, aku harus mengejarmu, dan aku tidak mau kita berdua berlarian di lahan kosong penuh ilalang seperti sepasang kekasih".
__ADS_1
Farah memberengut kesal. Ia cukup tahu diri jika dirinya tidak akan bisa lari dari pria di hadapannya. Selama beberapa saat, Ryan mengamati wajah Farah, lalu memalingkan wajahnya ke arah barat, ada kilatan cahaya seperti sebuah sandi. Cahaya terang yang lain bermunculan di langit yang gelap.
"Rekan-rekanku datang". Ujar Ryan. Pria itu lantas mengulurkan tangannya ke arah Farah. "Ikutlah denganku. Aku yakin kau tidak ingin mereka melihatmu kan?"
"Ada lebih banyak mafia datang?!" seru Farah seraya menatap ke langit dengan cahaya yang seakan saling bersahutan
"Ada lima orang lagi, atau enam? Entahlah sekitar itu saja"
Farah menatap Ryan seperti anak ayam kehilangan induk. Farah tidak berani untuk memercayai Ryan begitu saja, namun sialnya satu-satunya harapan hanya pria itu.
"Ikutlah denganku". Ulang Ryan dengan sabar. "Kau harus berpikir seperti ini, lebih baik menghadapi aku yang seorang diri daripada menghadapi enam mafia berbahaya. Apa pun hal buruk yang kau takut akan kulakukan padamu, aku hanya bisa melakukannya sekali tapi mereka bisa melakukannya enam kali. Aku tidak bersenjata, sedangkan mereka bisa kupastikan bersenjata. Kau bisa menggeledahku jika tidak percaya" Ryan tak membuang waktu, Ia menarik Farah menjauhi club. "Aku berharap kau menggeledahku" ujarnya sambil menyeringai.
Dengan secepat kilat bahkan tanpa Farah sadari, tubuhnya terangkat seketika dan Ia dengan sekejap sudah berada di dalam mobil. Ryan masuk dan duduk di sisi Farah. Dengan kaca jendela yang gelap dari luar namun terlihat terang dari dalam, Farah mengintip barisan pria besar yang keluar satu per satu dari sebuah mobil SUV dan bergerak cepat masuk ke dalam club.
Farah lantas menatap Ryan yang justru terlihat duduk dengan santai, teramat santai. Dengan suara bergetar, Farah berkata, "Ka-kakakku berada di dalam"
"Tenang saja. Mereka tidak akan menyakitinya ataupun teman-temannya".
Tidak peduli benar atau tidak, Farah hanya bisa memercayai ucapan Ryan. Tidak ada yang Ia bisa lakukan untuk Zac ataupun Austin, bahkan Ia pun tidak bisa melakukan apapun untuk Ben yang keberadannya tidak Ia ketahui. Farah kembali mengintip ke luar, sedangkan Ryan terus mengamati Farah dengan lekat, "Jadi, apa yang kau tangkap dari hasil mengintipmu itu?". Ujar Ryan.
Farah kembali berbalik menatap ke arah Ryan dan memasang wajah jengkel. Ia jengkel dengan sikap tenang pria itu. Huh! Tentu saja dia tenang! Yang baru datang itu kan kawanannya!
__ADS_1
Ryan lalu terkekeh pelan. "Aku jujur padamu, Sayang. Kakakmu aman. Keith mengejar pria lain".
...♤♤♤...