Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 76


__ADS_3

Ryan menangkap Farah sebelum gadis itu bisa berlari ke luar dari ruangan dan dengan cepat membanting pintu hingga tertutup. Dengan putus asa, Farah berusaha menendang Ryan. Dengan lihai Ryan mengelak, tetapi selama beberapa minggu terakhir, Farah sudah menghabiskan banyak waktu bersama Gege untuk belajar membela diri, dan rasanya menyenangkan sekali saat melihat Ryan kewalahan menahannya.


"Aku menuntut untuk dipertemukan dengan Tanteku!" teriak Farah, berusaha memberontak dari cengkeraman Ryan, pergelangan tangan Farah meliuk-liuk di telapak tangan Ryan sambil berpikir bahwa ekspresi wajah yang disarankan oleh Gege agar diperlihatkannya jika bertengkar lagi dengan Ryan pasti tidak lagi efektif dengan adanya rambut yang menutupi wajahnya.


"Nanti, Farah. Oh, kau jangan mencoba melarikan diri lagi, atau kau akan sampai ke hadapan tantemu dalam bentuk potongan kecil. Kau pikir berapa banyak-Aww!" Ryan mengendurkan cengkeraman tangannya sambil meringis kesakitan, karena Farah menggigit lengan atasnya, dan setelah berhasil melepaskan gigitan Farah, Ryan melihat rahang Farah mengincar jarinya. "Kau ingin berbicara," tanya Ryan, "atau menggigit?"


Setelah melepaskan gigitannya, Farah terkejut saat tangan besar Ryan menangkap rahangnya dan memaksa wajahnya menengadah untuk menatap pria itu. "Cukup, Macan kecil. Katakan kepadaku sejauh apa konspirasi ini sudah berjalan?"


"Konspirasi apa?" teriak Farah. "Sejak awal aku sudah mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Setidaknya, sebagian di antaranya. Aku diseret dari toilet bandara oleh monster yang disewa oleh Gege! Aku sudah mengatakannya kepadamu! Aku bahkan menceritakan kepadamu"-suara Farah mulai gemetar.


"Memang kau sudah mengatakannya," balas Ryan. "Kau sengaja datang ke Amerika. Untuk menikah dengan pewaris Crandall?"


"Aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang rencana itu, dan jika aku tahu, kau bisa yakin mereka pasti harus mengikatku dulu seperti binatang untuk bisa membawaku ke bandara. Yang aku tahu hanyalah tanteku merindukan sahabatnya dan dia sangat ingin pergi ke Manhattan." Farah menyerah, tidak mampu melawan tatapan tajam dari mata kecokelatan Ryan. "Tapi tidak ada gunanya berbicara denganmu!"


"Ada banyak sekali gunanya berbicara denganku-jika kau mengatakan yang sebenarnya. Di club, pria itu adalah kakakmu. Itu sebabnya selama ini kau selalu menutup bibirmu yang indah itu untuk melindungi kakakmu? Hebat sekali. Apakah tahu apa yang mungkin kulakukan terhadapmu jika aku yakin kau adalah kekasih Andreas? Dan Keith...." Cengkeraman tangan Ryan di rahang Farah terasa semakin kuat. "Apakah Keith yang mengatur agar kau dibawa ke markas Dark Devil?"


"Aku tidak tahu. Tidak, aku rasa tidak," ujar Farah, "karena, jika benar begitu, Gege pasti tahu. Gege yang membawaku ke markas. Dan aku sangat yakin Gege tidak tahu apa-apa."

__ADS_1


"Apa yang membuatmu sangat yakin?"


"Aku tidak tahu." Farah gemetar, pikirannya kalut, seperti daun kering yang diterbangkan oleh angin kencang. "Ryan kumohon....sakit." Cengkeraman Ryan langsung mengendur. "Aku sangat lelah. Kau sudah mengetahui semuanya sekarang. Segalanya. Setidaknya tentang diriku, dan untuk masalah sisanya, dan tentang Keith yang mengenal ibuku.... aku tidak tahu. Aku sendiri tidak bisa memercayainya. Aku ingin bertemu dengan tanteku! Aku ingin bersama tanteku! Aku tidak bisa lagi berpikir. Bawa aku ke tanteku."


"Belum saatnya, Farah sayang. Ada hal lain yang harus kita lakukan lebih dulu." Dari atas bahunya, Ryan menoleh ke Zayn. "Siapkan surat izin khusus untuk kami, Zayn. Miss Baldwin yang malang akan menjadi bagian keluarga Crandall."


●●●


Farah Fransiska Baldwin yang berhasil bertahan hidup di dalam tawanan markas mafia dan selamat dari penyakit malaria yang mematikan. Ia sudah melihat pria yang menentukan takdirnya bertransformasi dari seorang mafia menjadi seorang pewaris keluarga konglomerat, dengan kecepatan yang mengerikan berubah dari pelindung menjadi penyiksa dan kembali lagi. Sekarang, pada pukul dua pagi, dan dengan motif yang sangat membingungkan, pria yang sama mengumumkan dengan gaya yang arogan bahwa dia berniat menjadikan Farah sebagai istrinya. Rasanya ada terlalu banyak kejutan untuk bisa diterimanya. Sisa kekuatannya seolah menjalar ke lengannya, setiap derajat amarahnya berkumpul di kepalan tangannya, saat ia melayangkan tinjunya ke dagu Ryan, Kuatnya tinju itu membuat ototnya tertarik, mulai dari pergelangan tangan hingga ke bahu, dan ruas jarinya seolah remuk, tapi tidak diragukan lagi siapa yang merasakan sakit paling parah. Dua inci lebih tinggi, ia mungkin bisa mematahkan hidung Ryan. Bahkan, api di perapian bergidik melihatnya.


Setidaknya setegah menit berlalu sebelum Ryan bisa bicara. Kemudian, awalnya dengan lemah, Ryan mulai tertawa meskipun sambil meringis kesakitan, karena sepertinya Ryan tidak bisa berhenti tertawa, pria itu menjatuhkan diri ke kursi.


"Tidak, Sayang," akhirnya Ryan bisa bicara, "semua ini terbalik. Kau menyerang pria jika dia bertindak kurang ajar kepadamu. Tapi, jika seorang pria memintamu untuk menikah dengannya, seharusnya kau merona dan menyembunyikan wajahmu di balik telapak tangan, seraya berkata, 'Tuan, aku sangat tersanjung-"


"Aku tidak mau menikah denganmu-" tegas Farah, matanya berkilat marah.


"Aku tahu," ujar Ryan sambil terengah-engah. "Sekalipun aku pria terakhir di Amerika. Sekalipun aku membayarmu."

__ADS_1


"Sekalipun hidupku tergantung kepadamu!" cetus Farah..


"Bersikaplah masuk akal." Mata Ryan melembut oleh tawa. Ryan menyentuh rahangnya yang sakit. "Aku sama sekali tidak menyangka betapa berbahayanya dirimu." Ryan berbalik, tersenyum pada Zayn, yang duduk di kursi seolah ada seseorang yang memaku pria itu di sana. "Tidak perlu merasa kau harus melindungiku, Zayn. Aku akan berusaha untuk tidak memancingnya menggunakan kekerasan untuk yang kedua kalinys."


Zayn menatap Ryan yang sedang berusaha mengendalikan amarah sekaligus dorongan kuat untuk tertawa. "Menurut pendapatku itu adalah pukulan yang memang pantas kau dapatkan. Aku tidak tega pergi dari ruangan ini dan membiarkanmu memaksa gadis malang ini agar menikah denganmu hanya karena alasan kepantasan."


"Jika ada satu kata yang tidak sesuai untuk semua ini," ujar Ryan dengan tulus, "itu adalah kata kepantasan. Kau tidak akan menggunakan kata kepantasan kepadaku jika kau yang harus bertanggung jawab terhadap gadis berusia dua puluh dua tahun yang berkelana di sebuah pulau bersama mafia. Kumohon, pergilah, Zayn. Kami tidak butuh pendamping."


Farah melihat bahwa ada sesuatu di nada suara Ryan yang pasti telah meyakinkan Zayn, karena pria itu berdiri meskipun dengan enggan. Saat berhenti di depan Farah, Zayn menatap mata Farah dan menyentuh pipinya dengan lembut.


"Jika kau berteriak memanggilku, aku pasti akan datang," ujar Zayn lalu melangkah pergi ke luar ruangan dan menutup pintu dengan perlahan.


Dalam kesunyian setelahnya. Farah mendapati dirinya sendin berkata, "Dia terlalu baik untuk menjadi ayah angkatmu."


"Aku rasa kau benar," ujar Ryan dengan santai. "Kau tahu atau mungkin tidak?-bahwa setelah kau menghabiskan waktu selama berbulan-bulan di markas Dark Devil, pernikahan adalah satu-satunya cara untuk mencegah reputasimu hancur tak terselamatkan."


"Aku tidak peduli dengan reputasi yang hancur. Aku tumbuh di kota kecil, penduduk sekitar berperilaku seolah kami tidak ada, Aku membuat sketsa, berlatih piano, dan belajar menyulam. Tante Okta membuat daftar di buku harian kami, dan aku akan mengatakannya kepadamu...... Bahwa hidupku membosankan dan aku tidak peduli dengan reputasi, lagipula aku harus menjaga reputasi dari siapa jika kehidupanku pun monoton seperti itu huh?".

__ADS_1


...♤♤♤...


__ADS_2