Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 61


__ADS_3

Farah menatap Ryan yang sedang berjalan di sisinya. Dalam benaknya, Ia bertanya-tanya kenapa belakangan ini Ryan tidak pernah lagi menghabiskan waktu bersamanya? Satu-satunya cara aman saat ini adalah memberikan respons yang santai atau melontarkan guyonan agar situasi tidak canggung.


"Kau tahu? Sebenarnya aku adalah ubur-ubur yang dikutuk oleh penyihir menjadi seorang gadis, dan itu sebabnya kau bisa melihatku tembus pandang pada pagi hari yang cerah."


"Aku sudah siap untuk melihat ke dalam dirimu," ujar Ryan lembut sambil tersenyum kepada Farah, "Sekarang waktu yang tepat."


Perkataan Ryan menyiratkan janji. Ryan tahu cara yang tepat untuk mematahkan kutukan itu. Dan Farah ingin Ryan melakukannya. (Astaga! Meskipun ia tidak akan mengakuinya.) Karena merasa canggung dan tidak nyaman oleh pikirannya sendiri, Farah tertawa setengah hati dan mendapatkan balasan senyum dari Ryan, yang mampu membuat tulangnya selembek krim.


Dengan santai, Ryan berkata, "Maaf. Tapi kau tidak bisa berharap aku tidak tertarik dengan proyek mengagumkan seperti menemukan cara untuk mengubahmu menjadi-"


"Ubur-ubur," lanjut Farah. "Jangan khawatir. Tidak ada seorang pun yang memiliki bakat untuk melakukannya melebihi dirimu. Namun, nada suara Farah menyiratkan kesedihan.


Ryan adalah orang yang sensitif, dan mampu menangkap


kesedihan Farah, itu sebabnya Farah mengalihkan topik pembicaraan.


Karena semua terjadi dengan begitu cepat, Farah tidak bisa memutuskan apakah motif Ryan hanyalah kebosanan, kasihan, atau sesuatu yang lebih rumit.


Kano Ryan terikat di antara semak-semak di pinggir pantai, dan ada banyak sekali daun serta beri merah yang berjatuhan ke dalam kano, akibat hujan yang turun sepanjang sore kemarin. Ryan dan Farah bekerja sama untuk membersihkannya.


Begitu berada di atas air, setelah melewati ombak yang tinggi, kano mereka berjalan dengan tenang seperti sedang meluncur di permukaan kaca. Air jernih di bawah mereka berbisik lembut, selain suara dayung yang dikayuh Ryan, suasana sangat sunyi. Panas matahari menyinari secara langsung, saat mereka mengambang melewati burung camar. Burung pelikan sedang asyik mencari makan, tidak terusik dengan kehadiran mereka.


Sehari sebelumnya, Ryan sudah menurunkan keranjang khusus untuk menjebak ikan. Di kejauhan, sinar matahari yang terpantul di permukaan air membuat keranjang itu terlihat berkilauan, dan mereka menghampirinya dengan perlahan, menuju ke gua batu kapur yang di bagian depannya tertutup karpet rumput. Bintang laut menempel di tepi yang menjorok ke laut dan ikan dengan warna mengagumkan berenang dan berputar di bawah pantulan sinar matahari.


Will sudah membuatkan bekal makan siang untuk mereka, dan Farah memasukkan tangan ke keranjang piknik untuk mengambil batang tebu panjang yang sudah dikupas. Farah bersandar di ujung kano, mengabaikan gerakan kano yang tersapu ombak di bawahnya dan paparan sinar matahari yang masuk melalui lapisan pakaiannya untuk menghangatkan payudara dan kakinya. Farah membuat jalinan bunga dan meletakkannya di atas kepala, dan jalinan itu merosot ke depan saat Farah menunduk meraih batang tebu di tangannya. Farah membawa batang tebu itu ke bibirnya, lalu mengigitnya untuk mengeluarkan cairan manis, dan mengisapnya dengan perlahan. Cairan manis yang menyegarkan mengalir ke dalam tenggorokannya. Beberapa tetes mengalir ke samping bibir pink nya dan Farah segera menjilatnya dengan lidah.

__ADS_1


Di seberang Farah, Ryan mengamati sambil menarik napas, yang membuat Farah mengalihkan perhatiannya kepada Ryan. Mata Ryan diliputi api gairah, senyum yang terlupakan tersungging di bibir Ryan. Dengan ide yang tidak terlalu akurat mengenai apa yang ada di dalam pikiran Ryan, Farah balas tersenyum, menegakkan tubuh hingga membuat jalinan bunga di kepalanya terjatuh ke kening, dan berkata dengan santai, "Apakah kau mau berbagi tebu ini denganku?."


"Lain kali saja," jawab Ryan tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Farah.


Keranjang ikan yang disiapkan Ryan berupa kotak dari anyaman rotan dengan bagian mulut yang menyempit, perangkap untuk makhluk laut yang tidak hati-hati. Ryan mengangkat tali yang mengikat keranjang itu, dan saat keranjangnya keluar dari permukaan air, mereka bisa melihat di dalamnya ada empat ekor ikan. Ryan mendeskrpsikan ikan tersebut kepada Farah. Satu ikan berwarna putih dengan bintik merah, ikan berwarna pink, dan dua snapper. dengan perut berwarna emas dan sirip kuning. Farah bisa melihat dengan jelas bahwa ikan-ikan itu tidak suka dikeluarkan dari dalam air, sama seperti Farah tidak suka dilemparkan ke dalamnya.


"Apakah," ujar Farah dengan ragu-ragu, "setelah sekarang kau berhasil menangkap ikan-ikan yang cantik itu, kau akan melepaskan mereka?"


Seringaian Ryan menyiratkan pria itu berpikir Farah sedang bergurau. Sambil menggulung tali, Ryan berkata, "Rasa mereka seenak kelihatannya."


Farah mengamati tangan Ryan yang cekatan, saat mengambil ubur-ubur yang tersangkut di dalam keranjang dan mengembalikannya ke laut.


"Aku rasa aku tidak menikmati kelezatan ikan yang kutemui secara langsung," ujar Farah dengan murung sambil menjulurkan tangannya ke samping kano dan mencelupkannya ke dalam air laut.


Mata Ryan beralih ke jari Farah yang basah dan mengikuti garis lengannya yang anggun hingga ke lekukan bahu, sebelum beranjak ke wajah cantik dengan mahkota bunga, bulu mata yang diturunkan dan menyentuh pipi yang kemerahan-dan hidung yang mungil. Wajah Farah terlihat ceria, tapi itu bukanlah wajah yang Ryan pikir bisa memengaruhinya hingga sebesar ini.


Hidung kecil Ryan berkerut nakal. "Hah. Ukurannya hanya satu setengah kaki."


"Ya ampun, ikan itu berukuran dua kaki, bahkan mungkin lebih satu inci."


"Satu kaki sembilan inci," ujar Farah, "dan itu penawaran terakhirku."


Sikap Farah sangat santai, begitu ceria, tapi ada insting di dalam diri Ryan yang mengatakan bahwa bagi Ryan semua ini bukan permainan. Farah bermaksud mengujinya.


Sepertinya Farah menganggap ikan itu sebagai simbol penyekapannya. Ryan tidak pernah bertemu orang yang memiliki sentimental sebesar Farah. Yang lebih mengagumkan adalah bagaimana pikiran Farah yang polos itu bisa bertahan selama berminggu-minggu di markas Dark Devil dan bersinggungan langsung dengan pria kasar yang ada di markas seperti Eric dan Sanders.... dan tentu saja, dirinya sendiri.

__ADS_1


Ryan membawa pikiran itu melalui jarinya, saat membuka tutup kotak dan memasukkannya lagi ke dalam air yang tenang. Satu per satu ikan yang ada di dalamnya berenang keluar.


Sementara itu, Farah terus menahan dorongan untuk mengalungkan lengannya di seputar leher Ryan dan menghujani rambut cokelat Ryan dengan ciuman. Tapi tindakan itu pasti akan membuat kano berguncang dan mungkin terbalik. Seringaian Ryan terlihat tertahan. Sambil menggelengkan kepalanya dengan perlahan, Ryan mulai tertawa, dan Farah ikut tertawa sampai mahkotanya bergetar dan jatuh ke atas matanya.


Mendekati garis pantai yang menanjak dan dikelilingi oleh pohon kelapa serta tanaman pir yang sudah mulai berbunga dan berbuah, kano mereka bergerak perlahan. Saat menatap kagum ke pemandangan indah di sekelilingnya, Farah tersentak saat Ryan mengingatkannya bahwa panas semakin menyengat dan sebaiknya Farah menutupi lengan serta wajahnya, karena hanya Tuhan yang tahu apa yang akan dilakukan Gege kepada Ryan, jika Ryan membawa Farah pulang dalam keadaan terbakar sinar matahari. Sambil mengenakkan topi dan syalnya, Farah mengamati Ryan yang bersandar, menurunkan tali pancingan yang sudah dilengkapi dengan umpan ke dalam laut.


"Jika ada sesuatu yang memakan umpanku," ujar Ryan sambil menatap Farah dengan sorot santai, dan menjulurkan kaki yang jenjang dan panjang ke depan, "Bolehkan aku menyimpannya jika ternyata dia jelek?" sahut Ryan dengan ambigu.


...♤♤♤...


Keith : Pemimpin Dark Devil usia 42 tahun yg masih gagah dan rupawan.


Ryan: Adik tiri Keith usia 28 tahun (Beda 14 tahun dgn Keith ada di bab sebelumnya yg menjelaskan kisah singkat kakak beradik tiri ini).


Farah : 22 tahun.


Zac : 25 tahun (Kakak Farah).


Gege : 21 tahun


Gio : 21 tahun


Dennis : 25 tahun


Will : 20 tahun

__ADS_1


Biar gak bingung ya.. Beberapa tokoh yg sering disebutkan😆


__ADS_2