Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 32


__ADS_3

"Apa kau tahu bahwa Gege menggunakan krim itu untuk dioleskan ke wajahku? Aku senang sekali menyadari betapa Gege sangat mempedulikan aku".


"Ya. Kau memang memerlukan krim anti sinar matahari selama berada di sini, terlebih lagi jika kau sering bermain di pantai atau rooftop saat matahari terik" ujar Gio, seraya mengelap tangannya dan berdiri.


"Apa kau memerlukan bantuanku untuk mengoleskan krim itu di punggungmu?".


Farah menggelengkan kepala. "Tidak, terima kasih. Lagi pula, sekarang terlalu berawan."


"Baiklah kalau begitu, apa kau tidak ingin keluar? Kurasa kau lebih pendiam hari ini" Sahut Gio menatap Farah dengan lekat.


Sejak kemarin, saat Gege membawanya pergi dari dekapan Ryan, Ia sama sekali belum melihat Ryan. Di mana Ryan tidur semalam? Melihat tatapan aneh Gio padanya, jelas sekali Gio mengetahuinya. Kejadian kemarin sudah menunjukkan padanya sosok Ryan yang sama sekali baru dan mengejutkan. Ia menghabiskan sepanjang malam untuk merekontruksi gambaran karakter Ryan yang seperti puzzle.


"Gio", panggil Farah tiba-tiba. "Aku sudah sering diminta untuk tidak mengajukan terlalu banyak pertanyaan tentang Ryan, tapi... Gio, apa kau bisa memberiku sedikit informasi?".


"Aku bisa memberikanmu informasi tentang cara mengemudikan speedboat, menembak burung camar, tapi untuk informasi yang satu itu lebih baik kau tanyakan pada Gege". Ujar Gio menolak dengan halus.


"Gege sangan tertutup tentang hal itu".

__ADS_1


"Lalu kenapa kau tidak bertanya langsung pada orangnya?".


"Aku tidak bisa bertanya padanya. Aku tidak terlalu mengenal Ryan sehingga aku tidak tahu apakah aku cukup aman untuk bertanya. Gio, aku harus tahu lebih banyak tentang Ryan, aku bingung bagaimana menghadapinya." Keluh Farah dengan wajah memohon. "Gio, kumohon.... Siapa sebenarnya Ryan? Kenapa dia bisa datang dan pergi sesuka hatinya?".


Gio kemudian kembali duduk di sebuah kursi dan menatap Farah seraya berpikir cukup lama hingga akhirnya dia berkata, "Ryan adalah adik tiri Keith".


Merry terdiam. "Kau bercanda ya? Apa rumor yang kudengar benar? Tapi, mereka tidak mirip". Sahut Farah tak percaya.


"Tentu saja tidak semua kakak beradik memiliki wajah yang mirip, apalagi mereka hanya saudara tiri", ujar Gio. "Ryan lahir empat belas tahun setelah Keith lahir ke dunia, dalam keadaan yang sangat jauh berbeda".


"Ryan lahir di New York dengan kekayaan yang melimpah, sedangkan saat Ryan lahir, kondisi kehidupan Keith sangat miskin dan ditelantarkan. Keith lahir di Indonesia, dalam kondisi yang bertolak belakang dengan Ryan. Ibu Keith adalah putri dari seorang pemilik sawah. Baru berusia dua puluh tahun dan tidak pernah mengenal pria sebelumnya, jadi mereka bilang. dia menyerahkan dirinya kepada Ayah Ryan seperti makhluk liar di hutan yang belum terjamah dan terlalu takut untuk mengatakan kepada Ayah Ryan, sebelum pergi kembali ke New York bahwa dia sedang mengandung. Dia meninggal sebelum Keith berusia sepuluh tahun, dan keluarganya mengusir Keith, karena Keith hanya menjadi aib dalam keluarga sang ibu dan sang ayah juga tidak pernah mengetahui tentang keberadaan putra pertamanya...."


"Cukup untuk membuat orang bingung bagaimana harus menghabiskannya hehehhem.. Aku tidak bercanda. Aku serius. Dia. Sangat. Kaya." ujar Gio menegaskan tiap kata yang terucap. "Ryan pasti orang yang sangat penting, karena setiap orang di Dark Devil mendapatkan keistimewaan dari Amerika dan kami membawa surat izin resmi. Jadi, seluruh misi yang dilakukan Dark Devil itu dijalankan secara legal, Farah. Walau pada akhirnya, orang-orang lebih dulu menganggap kami semua adalah manusia yang paling kejam dan sepertinya Keith tak keberatan dengan hal itu".


Potongan puzzle mulai menyatu. Rambut halus di tengkuk leher Farah mulai berdiri, dan dengan suara yang bingung, Farah berkata, "Ryan bekerja untuk negara tempat dimana dia dilahirkan".


"Dia memang bekerja untuk negara itu," tegas Gio. "Kau tahu, saat kami berada di daratan, dan Ryan sedang tidak berada dengan kami, terkadang Keith kembali menjadi mafia kejam. Misalnya saja saat kami mengambil alih hasil bumi dari para tikus rakus minggu lalu."

__ADS_1


"Apakah Ryan tidak keberatan dengan hal itu?".


"Ryan lebih memilih mengabaikan tindakan Keith dan pergi ke kamar ini, kamar yang dia bayar sewanya, dengan begitu dia memiliki hak untuk mendapatkan privasi di sini, dan juga hak untuk kembali ke daratan jika dia ada urusan penting, dan terkadang karena ada urusan darurat. Dia juga memiliki hak untuk menyimpan tawanan, tanpa ada seorang pun yang boleh mengajukan pertanyaan. Aku rasa saat ini, tawanannya adalah dirimu, Farah. Aku minta maaf jika itu bukan berita baik untukmu. Kau terlihat sangat pucat."


Dengan sadar, Farah mengendurkan pelukan lengannya di perut. "Tidak. Hanya saja... Kau tahu, semalam Ryan...Yah, dia bersikap sangat baik kepadaku, yang membuatku berpikir bahwa mungkin aku harus mengatakan yang sebenarnya tentang.... Tapi itu mustahil. Mungkin saja dia seorang... mata-mata."


Farah lalu menatap Gio dengan rasa haru. "Aku senang kau mengatakannya kepadaku. Kau tidak tahu betapa leganya aku. Kau mungkin telah menyelamatkan nyawaku. Tapi, Gio.. Apa yang akan mereka lakukan kepadamu jika mereka tahu kau telah mengatakan semua informasi tadi kepadaku?"


"Tidak ada. Setidaknya, tidak banyak yang bisa mereka lakukan. Itu bukan sesuatu yang serius, seperti misalnya jika aku membantumu melarikan diri."


"Apakah kau mau melakukannya?" tanya Farah, dengan jantung yang berdetak cepat.


Tiba-tiba Gio tersenyum. "Kau tahu sweety, aku mungkin akan melakukannya. Jika aku pikir aku bisa menyelamatkan diri setelahnya." Kata-kata itu nyaris belum selesai terucapkan, saat terdengar suara langkah kaki yang menghentak di koridor. Will dan Dennis datang ke kamar dan dengan suara marah, Will membentak Gio, "Demi Tuhan, dasar kau bajingan yang menyedihkan. Aku dan Dennis sedang berada di koridor untuk menaruh beberapa kudapan yang baru saja kubuat, dan kami mendengar setiap kata yang kau ucapkan dengan sangat jelas, meskipun Dennis berpura-pura tidak mendengarnya, Bagaimana jika Kevin juga sedang bersama kami, hah? Setiap kata bodohmu itu akan sampai kepada Keith. Setidaknya.....", Will membanting pintu di belakangnya "Tutup pintu jika kau terus berbicara seperti orang dungu!"


Sambil berbalik di kursinya, Gio berkata, "Aku tidak boleh berada di ruangan yang tertutup dengan Farah. Kau tahu Gege tidak akan menyukainya. Maaf, jika aku membuatmu takut."


"Maaf, jika aku membuatmu takut!" tiru Will seraya mencengkeram bagian depan kemeja Gio, Will menyeret Gio dengan kasar dari kursinya, Kursi itu jatuh dengan suara berderak keras, beberapa kacang almond panggang melayang dari atas meja, dan Farah melompat dari kursi, menyebabkan Dennis terkejut. Setelah menyelipkan dirinya di antara mereka, Farah berteriak, "Tidak!" Farah nyaris saja terkena tinju yang dilayangkan Will pada dagu Gio.

__ADS_1


...♤♤♤...


__ADS_2