
Para wanita yang ada di pesta terlihat asing untuk Farah. Sebagian besar dari mereka, seperti halnya para pria, bertelanjang dada. Tubuh para wanita itu meliuk-liuk, dengan kulit yang berkeringat, dan rok mereka terangkat, saat mereka menari sesuai iringan musik. Tidak ada cukup pakaian yang menutupi tubuh mereka hingga membuat Farah merona hanya dengan melihatnya, tapi Farah menemukan kegembiraan dari kehangatan, air laut dan tubuh yang telanjang, seolah mereka adalah anak-anak bersemangat yang melepaskan pakaian mereka untuk menikmati musim panas.
Farah berdiri bersama Keith di bawah deretan pohon palem. Farah hanya samar-samar menyadari bahwa Keith sedang memberinya waktu untuk menyesuaikan diri dengan pemandangan tidak lazim di hadapannya. Tapi Farah tidak mampu melakukannya. Cintanya untuk Ryan telah menjadi dorongan yang paling murni dan paling besar dalam hidupnya. Sensasi, jika berasal langsung dari Ryan, terasa menyambar seperti badai ke dalam alam kesadarannya; tapi kepedihan yang disebabkan oleh cinta itu datang satu per satu dan tidak pernah berhenti.
Farah mencoba membayangkan sosok seorang wanita yang memiliki darah yang sama dengan Ryan, seorang adik perempuan, tapi ia tidak bisa. Farah mencoba mengingat wajah Andreas, ia juga tidak bisa melakukannya. Untuknya, mereka semua seperti gambar awan, objek yang berada sangat jauh; tapi Farah tahu, di masa lalu ada seorang gadis yang memiliki rambut kecokelataj dan mata cokelat yang dibunuh dan pantas dikasihani olehnya.
Peringatan Keith itu disampaikan dengan sangat serius sehingga hampir tidak mungkin Keith berbohong. Dan Farah sudah tahu sejak Gege membawanya ke markas Dark Devil bahwa kebencian Ryan terhadap Andreas lebih daripada yang bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kedukaan, yang dirasakannya untuk Ryan dan kesedihan yang dialami pria itu, begitu mendalam dan membuatnya merasa takut.
Saat melihat bintang yang berkelap-kelip secara bergantian di langit malam yang tampak berwarna keunguan, tanpa sadar Farah mulai bisa mengenali teman-temannya.
Farah bisa mendengar Will sebelum melihatnya. Will sedang duduk di atas tikar dengan kening ditekankan pada kening Linda. Farah melihat Ryan di atas bukit berumput tebal, menyandar kan tubuh sempurnanya yang bak seorang dewa ke samping kayu gelondongan. Gelas kristal dari koleksi terbaik Keith, setengah terisi dengan wine, diletakkan di tanah di dekat pinggul Ryan. Sambil tersenyum santai, Ryan berbicara dengan dua orang asing.
Seorang pria, yang sedang berbaring nyaman di atas batu besar, dengan bibir menyunggingkan senyuman puas. Topinya yang tinggi terlihat miring, dan pria itu melepaskan ikat pinggangnya agar tidak menahan perutnya yang buncit. Pria lain tampak pucat karena takut oleh mafia yang ada di sekelilingnya; wajahnya terlihat seperti ingin berada di tempat mana pun di dunia ini asalkan tidak di sini, saat duduk dengan tegang di atas batu, sesekali menyusuri tangannya yang kurus ke rambutnya dengan gugup.
Di atas bukit yang lebih tinggi lagi, terdapat sebuah pohon berukuran raksasa dengan ranting yang menjulur seperti tali dari dahannya yang lebar. Seorang pemuda berada di bawahnya, dengan posisi setengah berbalik dari Farah, tapi Farah bisa langsung mengenali kepangan rambut yang panjang dan kilau anting emas di telinga. Seorang wanita muda menunggangi paha pemuda itu, yang diselonjorkan ke pohon di belakang si wanita, dengan mata terpejam dan rambut cokelat tergerai ke bahu yang telanjang, wanita itu bergerak di atas pinggul pemuda itu, sementara tangan si pemuda dengan lihai meremas ***********, dan wanita itu memiringkan kepalanya untuk membiarkan pemuda itu menciumi lehernya.
__ADS_1
Sebagian dari pria di sana mulai menyadari kehadiran Farah. Dennis melihat Farah dan mengikuti arah pandangannya. Sambil memaki pelan, Dennis menghampiri Gege, dan saat Farah terus mengamati, Dennis menepuk bahu Gege dan membisikkan sesuatu. Gege langsung berbalik. Gege melihat tatapan terkejut Farah, sebelum mengalihkan pandangannya ke Keith, dan ekspresi wajah Gege memperlihatkan kemarahan besar.
Seketika itu juga yang lain mulai ikut berbalik, untuk menyapa Keith dengan sapaan khas mafia dan mengangkat botol, sementara sapaan kepada Farah dilakukan dengan lebih sopan. Tidak banyak dari mereka yang melihat Farah sejak ia jatuh sakit, dan dengan cepat ia sudah dikelilingi oleh orang-orang yang menggoda, menyapa, dan memujinya. Farah merespons secara otomatis, berusaha mencari kenyamanan dalam perhatian yang ia tahu tidak akan mendorong mereka untuk melindunginya dari Keith ataupun dari Ryan.
"Ah, Ryan, Ryan," ujar pria itu. "Kau tidak pernah pergi tanpa fasilitas. Demi Tuhan, sungguh dia wanita yang menarik! Tidak heran kau melewatkan pertemuan sebelumnya. Kau tidak tahan meninggalkannya. ya?." Di markas Dark Devil,, menjadi kekasih Ryan telah meningkatkan status Farah.
Tapi lain halnya dengan pria yang berasal dari kelas yang sama dengan Ryan. Jelas sekali, inilah alasan kenapa Ryan melarangnya datang ke sini. Seharusnya ia tahu bahwa keterkaitannya, sekali pun tidak secara sukarela, dengan Dark Devil, akan merusak nama baik Farah, tapi sampai saat ini, ia sama sekali tidak pernah menyangka betapa rendahnya anggapan orang terhadapnya atau berapa besar rasa malu yang dialaminya. Tentu saja, akan bodoh sekali jika ia menyangkal hubungannya dengan Ryan. Satu-satunya bahaya yang mungkin terjadi adalah jika orang-orang ini mengetahui latar belakangnya yang sebenarnya.
Farah melihat Gege muncul dari balik bayangan, untuk bergabung dengan Dennis dan Sanders, yang sedang bermain dadu tidak jauh dari tempatnya berada. Gege, dengan wajah bersih dan pucat terkena cahaya api unggun, duduk berlutut di samping Dennis, berbicara dengan suara yang sangat pelan, dan mulai ikut bermain dadu bersama yang lain. Mata Gege tidak pernah beralih ke arah Farah, yang sedang duduk dalam pelukan Ryan, merasa terkungkung dan terhina, sementara sebagian besar dirinya terikat kepada Ryan..
Maurer menelan wine nya. "Dan memang sudah waktunya! Kami bermaksud untuk mengajari pemberontak itu bahwa melawan hanya akan membawa kerugian untuk mereka. Aku sudah menyiapkan pasukan yang siap untuk melancarkan serangan".
Seorang pria lain yang tidak ikut ambil bagian dalam percakapan, tiba-tiba mencondongkan tubuh ke depan dan berkata kepada Ryan. "Andai saja kau mau kembali bersama kami ke New York. Aku tahu kau tidak mau terlibat, tapi jika kau bisa berada di sana dan mengorganisir mata-mata seperti yang dikehendaki oleh Zayn.... bukannya sekadar melapor padanya. Ryan, hanya pendapatmu yang didengar oleh Zyan."
"Itu tidak cukup," ujar Ryan, dengan santai menekankan gelas winenya ke bibir Farah yang gemetar dan menggigil. Ryan menunggu sampai Farah menelan cairan berwarna merah darah itu, menatap Farah dengan lekat, sebelum menoleh lagi ke Maurer dan berkata, "Sekarang Zayn bisa meminta pendapat Alex, Bersama-sama mereka bisa mengatur pengiriman mata-mata ke bagian penting pemerintahan, sampai seseorang bisa mengusahakan kesepakatan."
__ADS_1
"Nak, kau tidak tahu situasi di negara kita," ujar Maurer.
Pikiran Farah nyaris meledak. Ini seperti adegan dari kisah heroik yang sering didengarnya saat kecil: Farah Fransiska Baldwin Mendengar Rencana Paling Berbahaya Untuk Menyerang Negaranya!
Jauh sekali imajinasi Farah, jika ia berpikir bisa menghadapi semua rintangan, memasukkan pesan ke dalam botol yang akan mengapung ke laut dan dengan ajaib bisa sampai ke tangan Zac atau ia berhasil melarikan diri dari pulau pribadi Keith pada tengah malam, dengan mengayuh kano Ryan. Amarah yang dirasakan Farah saat mendengar rencana orang- orang itu bisa mendorongnya untuk berbuat nekat, jika saja hidup belum mengajarinya dengan keras bahwa mustahil seseorang bisa melarikan diri dari sekumpulan pria yang kejam dan berpengalaman, jika orang itu masih berusia dua puluh dua tahun, tidak memiliki kemampuan untuk bertahan hidup, tidak memiliki sepeser pun uang, dan berada di laut lepas. Ryan sudah berniat untuk melepaskannya. Bisakan Ryan tetap melepaskannya, setelah ia mengetahui rencana mereka menyusupkan mata-mata di inti negaranya?
Tangan yang lembut mengangkat dagu Farah. Sekali lagi mata Farah bertemu dengan tatapan Ryan. Wajah mereka hanya berjarak beberapa inci; kepala Ryan miring ke satu sisi sehingga sedikit saja gerakan dari salah satu mereka, pasti akan membuat bibir mereka bersentuhan. Dengan bodohnya, Farah merasakan kebutuhan akan ciuman Ryan bangkit dari dalam dirinya, seolah kelopak femininnya haus akan sinar matahari dari Ryan. Gege mengatakannya dengan blak blakan.
Jika kau mencintai seorang pria, begitu kata Gege, kau akan menginginkan dia berada di dalam dirimu, Farah.
Tentu saja Farah langsung membantahnya dengan sengit, tapi kemudian, di kamar tidurnya sambil menatap kosong ke arah jendela, Farah harus mengakui apa yang dikatakan Gege sangatlah tepat. Saat melihat tangan lentik Ryan bergelung di sekeliling gelas, tanpa sadar ibu jari Ryan membelai permukaan gelas yang mulus, Farah membayangkan belaian lembut itu di kulit lehernya yang sensitif. Saat mengamati lekukan bibir Ryan yang sensual, Farah merasakan dorongan kuat untuk menguburkan tangannya ke rambut kecokelatan Ryan dan menarik kepala pria itu dengan perlahan ke dua bola kenyalnya untuk berbaring di bawah Ryan, sampai bibir dan lidah Ryan membuat wajahnya merah dan tubuhnya menggeliat liar.
Farah mendapati bahwa gairah adalah dorongan yang aneh; menarik, sering muncul di waktu yang kurang tepat, dan sama sekali tidak bisa dikendalikan oleh akal sehat. Dan meskipun ia merasa tenang dengan dukungan Ryan, tapi jelas sekali bahwa Ryan memiliki posisi penting di militer negaranya. Farah masih belum tahu apa sebenarnya posisi Ryan... mata-mata, pengirim laporan, atau penasihat orang yang sangat membenci negaranya, Pria yang bernama Zayn, Orang itu memiliki posisi tinggi dan kekuasaan besar. Bagaimana mungkin Ryan akan melepaskannya setelah semua hal yang sudah didengarnya?
...♤♤♤...
__ADS_1