Takluk Di Bawah Pesonamu

Takluk Di Bawah Pesonamu
Bab 19


__ADS_3

Sesaat terjadi keheningan di kamar Ryan. Baik Farah, Gege, Keith dan Ryan hanya saling menatap satu sama lain. Manik mata Ryan menatap Farah dengan lekat. Menyadari sekilat rasa gugup yang ditampakkan oleh gadis itu. "Siapa nama belakangmu sayangku?" Ryan mengulangi pertanyaannya. Ryan menghela napasnya. Tadi pagi-pagi sekali Ryan sudah menemui Gege untuk menginterogasinya. Semua hal menyangkut tentang Farah memang mencurigakan untuknya. Dari gaya bahasa, sikap dan gestur gadis itu, Ryan menyadari jika Farah bukanlah gadis sembarangan yang biasa Ia tiduri dengan mudah. Bukan juga wanita penggoda atau hal semacam itu.


Tapi keberadaan wanita itu di tempat yang tidak biasa, membuatnya curiga. Pertama kali di club kumuh terpencil yang isinya adalah orang-orang terburuk yang pernah ada lalu sekarang Ia bersama dengan pria yang di benci olehnya, di tambah lagi info yang di berikan Gege menyebutkan bahwa Farah terlihat sangat akrab dengan Andreas. Ryan masih rancu dalam mengartikan kata 'akrab' dalam makna seperti apa dalam hubungan Farah dan Andreas. Sialnya, tidak ada lagi informasi yang bisa didapatkan oleh Gege saat membawa Farah ke markas besar. Dua begundal yang menculik Farah sama sekali tidak membawa koper ataupun identitas gadis itu


Keheningan Farah pada akhirnya memancing Keith. "Gadis yang misterius". Komentar Keith dari sofa. "Gege, ambilkan aku sebuah kapak".


Gege menjentikkan jarinya dengan pura-pura menyesal. "Aku tidak ingat di mana aku menyimpannya. Sudah cukup lama sejak terakhir kali aku memotong jari seseorang dengan kapak".


Keith menyeringai. "Terserah padamu boy". Keith menyandarkan punggungnya dengan santai ke sofa seraya menyilangkan satu kakinya. "Secara pribadi, aku bisa membayangkan mengikatnya di pohon kelapa dengan bertelanjang tanpa memakai sehelai kain. Tapi hmm... Aku sangat terbuka dengan sebuah pendapat yang kejam. Apa kita perlu mengumpulkan anak buahku dan meminta mereka mengemukakan pendapat?"


"Jangan dengarkan Keith". Ujar Ryan dengan lembut. "Siapapun di sini tidak berhak memutuskan sesuatu untukmu. Kalaupun Keith mengumpulkan suara, itu hanya untuk menggodamu saja karena aku yang memutuskan apapun tentang kau". Ryan membelai rambut Farah. "Jangan takut sayang. Untuk saat ini aku hanya ingin mencabut otakmu".


Sontak saja Farah membelalak kepada Ryan hingga Ryan terkekeh geli. "Maksudku, saat ini aku ingin menjernihkan otakmu".


Farah menghembuskan napas dengan kasar. "Silakan saja ancam aku, jika itu bisa membuatmu senang. Aku lebih suka.........."


"Lebih suka apa? Suka gairahku? Hm... Kita memang belum selesai dengan aktifitas semalam ya?".

__ADS_1


Ryan menyentuhnya dengan lembut dan membelai rambutnya hingga ke sisi lehernya. Farah masih belum mempelajari teknik mengontrol pernapasannya saat Ryan menyentuh Farah, Ryan mendengar suara napas Farah tercekat saat jari-jari Ryan membelai kulit Farah yang halus. Sentuhan Ryan membuyarkan pikiran Farah seperti daun yang tertiup angin. Jari-jari Ryan bergeser ke bibir bawah Farah sehinggga membuat Farah harus menelan ludah dengan susah payah.


"Apa kau yakin ini yang kau inginkan?.


Farah memejamkan mata berusaha mengendalikan diri dan memfokuskan pikirannya pada satu titik. Farah mendengar Ryan tertawa kecil hingga akhirnya Farah membuka mata dan menatap Ryan. "Apa yang ingin kau ketahui?" Tanya Farah, di sela-sela suara tawa Ryan.


Tangan Ryan menepuk pipi Farah dengan lembut dan melepaskannya. "Bagaimanapun situasinya, kau benar-benar aman, jika kau mau bekerja sama. Sekarang, katakan padaku kapan kau bertemu dengan Andreas?".


Farah tahu, cepat atau lambat, pertanyaan itu pasti akan diajukan. Dari sedikit informasi yang berhasil di dengarnya selama Ia diculik, Ia menyimpulkan bahwa Ryan meminta Gege untuk mengambil sebuah dokumen tertentu dari tangan Andreas, yang sialnya Gege justru membayar dua begundal jalanan untuk melakukannya. Farah bertanya-tanya, dokumen apa? Ini artinya si mafia dan sepupu sahabat Tante Okta memiliki hubungan, mungkin hubungan yang kurang baik, tetapi tentu saja Ia tidak tahu apa tepatnya.


Keith tersedak wine-nya dan tertawa terbahak-bahak. Ryan berbalik ke Keith dan berkata, "Aku berharap kau tidak tertawa, aku akan dengan senang hati menjawab "Iya" dan melihat akan kemana pembicaraan ini berujung". Ryan kembali menoleh pada Farah yang terlihat terkejut. "Seperti yang kau lihat, aku bukan seorang intel negara. Tapi, kau harus menjawab pertanyaanku".


Farah menatap Ryan dengan serius. Apakah Ryan bisa melacak identitas asliku melalui Andreas? Mungkin saja jika semakin jelas Ryan tahu hubunganku dengan Andreas akan memengaruhi nasibku di masa depan.


"Aku bertemu dengan Andreas saat ke singapura bersama tanteku".


"Baiklah". ujar Ryan. "Untuk sementara ini, anggaplah itu benar. Lalu, apa yang kau lakukan di club terpencil enam bulan yang lalu? Jangan menyia-nyiakan waktuku dengan berusaha meyakinkan aku bahwa kau datang ke sana hanya untuk bersenang-senang. Jika kau datang untuk bersenang-senang, kau tidak akan menyamar menjadi wanita hamilm Dan aku melihat tiga orang pria yang bersamamu. Aku menebak, jika peranmu pada malam itu di club tidak penting, mereka tidak akan membawamu kesana. Keberadaanmu memiliki suatu tujuan dan aku ingin tahu apa itu" .

__ADS_1


Farah terkejut dengan betapa akuratnya dugaan Ryan, Farah menyangkalnya dengan terlalu terburu-buru. Dengan mata bersorot dingin, Ryan memperhatikan Farah yang sedang berusaha menjelaskam dengan lebih logis.


"Jawabanmu sedikit kacau. Jika kau tidak keberatan, aku akan membantumu. Kau bilang kau bukan siapa-siapa padaku. Tapi aku bisa menilaimu dan tiga pria yang bersamamu malam itu. Kalian, memilki suatu misi pergi ke club kumuh itu. Masih banyak club elit di kota, dan mengapa kalian justru datang ke tempat terpencil?".


Farah menelan ludahnya dengan susah payah seraya menguburkan wajah di telapak tangannya yang ditangkupkan.


"Apapun yang kau pikirkan atau kalimat kebohongan apa yang berusaha kau rangkai di otakmu saat ini, aku tidak akan menikmatinya." Ujar Ryan dengan serius. "Jadi katakan, apa kau sudah siap memberitahuku siapa yang bersamamu di club itu?".


Farah mengendurkan kepalan tangannya dengan susah payah, meletakkannya di atas pangkuan dan menegakkan bahunya. Ia lantas menatap Ryan.


"Aku bersama suamiku dan dua orang temannya".


Wajah Ryan terkejut. Entah benar-benar terkejut atau hanya berakting. "Wow, dia sudah bersuami. Tapi tunggu... Bukankah kau berulang kali mengatakan padaku jika tubuhmu ini suci tak terjamah hm? Bagaimana bisa seorang wanita bersuami masih memiliki tubuh yang suci?" Tanya Ryan seraya menyeringai.


"Kau dengar, Keith? Setelah ini aku tidak akan merasa bersalah untuk menidurinya. Dia bukan sebuah berlian yang harus kujaga hahaha" Tawa Ryan memenuhi seluruh ruangan. Di belakang Ryan, Farah bisa melihat Gege menggelengkan kepala padanya dengan murung dan menggerakkan jarinya seperti hendak memotong leher.


...♤♤♤...

__ADS_1


__ADS_2